Rabu, 09 Mei 2018

Raudhah Malam itu

22.28 0 Comments
Usai sholat Maghrib dan makan malam, kami jamaah umroh perempuan berkumpul di lobi hotel. Sesuai jadwal, malam ini kami akan ke Raudhah didampingi muthowifah yang saya nggak sempat mengingat namanya. Yang pasti dia orang Sunda, terlihat banget dari logatnya. Sejak awal dia terlihat kurang ramah, soalnya ngomel sendiri karena ibu-ibu belum kumpul semua.

Akhirnya, kami berangkat juga begitu ibu yang paling sepuh muncul. Dengan berpakaian serba hitam, kami serombongan berjalan setengah berlari, mengikuti Teteh muthowifah. Kami masuk melalui pintu 25 dan langsung cari posisi karena sholat Isya’ akan segera dimulai.

Begitu sholat selesai, si Teteh langsung kasih instruksi kami untuk bergegas antri di tempat menuju Raudhah. Saya yang mendorong Ibuk sampai salah jalan saking paniknya. Dan...si Teteh langsung ngomel panjang. Sabar...sabar...Begitu tahu kalo yang mau mendorong kursi roda Ibuk adalah Mak Pik, si Teteh bilang sambil menunjuk saya,”Jangan...yang ndorong Mbak aja yang lebih muda.” Hmmm, saya? Baiklah, mungkin ini emang yang terbaik untuk saya.

Jalur untuk yang naik kursi roda terpisah. Saya harus ngantri bareng rombongan lain yang nggak saya kenal sama sekali, bahkan dari berbagai negara yang beda bahasanya. Perjuangan ini luar biasa...semua berdesak-desakan ingin cepat sampai tujuan. Kaki belakang saya entah berapa puluh kali tertabrak kursi roda di belakang. Duh, perih. Saya juga beberapa kali (tak sengaja) menabrak kaki orang di depan saya. Dengan bahasa tubuh, saya paham mereka berkata, “ Hei, woles, jangan tabrak gue dong!”

Melihat antrian yang seperti ular naga panjangnya, saya hanya bisa berbisik pada Ibuk, “Sabar nggih Buk, kita sudah terlanjur di tengah antrian panjang ini.” Untuk balik jelas nggak mungkin, ini kan kesempatan langka. Akhirnya, setelah sekitar 5 jam ngantri, sampai juga saya dan Ibuk di Raudhah. Masya Allah, inilah salah satu tempat yang katanya makbul untuk berdoa.

Tempat untuk yang naik kursi roda hanya sedikit. Yang mengantar disuruh nunggu tak jauh dari barisan kursi roda. Saking sempitnya ruangan yang dibatasi tirai-tirai itu, saya nggak dapat tempat sholat. Akhirnya hanya bisa pasrah, berdiri sambil merapal doa, “ Ya, Robb, hamba datang untuk memohon ampunan dari-Mu. Tunjukkan hal-hal terbaik menurut-Mu ya Allah. Apa pun itu, hamba ridho menerimanya.”

Ada sekitar setengah jam kami berada di Raudhah, sebelum akhirnya kembali balik ke pintu 25. Sungguh perjuangan yang luar biasa. Tengah malam saja antrian kursi roda masih panjaaaang. Mungkin Subuh baru kelar antrian itu. Begitu keluar dari pintu 25, beberapa orang meneriaki kami berdua. Ternyata ada Mas Tri ( tour leader), muthowif, muthowifah, dan Mas Bambang. Wajah mereka tampak cemas.

Kembali si Teteh nerocos, “ Ini gimana sih, yang lain dah balik ke hotel jam 10. Harusnya selisihnya 2 jam aja. Saya sampai harus balik ke sini lagi karena dikabari ada 3 orang yang belum balik.” Hah, 3 orang? Eh, ternyata Mak Pik belum balik hotel. Saya dan Ibuk langsung ke kamar, sementara yang lain nyari Mak Pik di halaman masjid Nabawi. Karena ketika saya nggak nemui beliau saat pulang tadi.

Akhirnya jam 2 dini hari, Mak Pik ditemukan, alhamdulillah. Beliau bingung dengan suasana masjid di malam hari. Padahal sudah sampai di pintu 15, eh...malah muter-muter sampai kuburan Baqi’. Ya, Allah, Mak Pik.

Apa pun yang terjadi malam itu saya ridho dan ikhlas. Saya maafkan si Teteh yang ngomelin saya, mungkin sudah terkontaminasi budaya Arab, hingga lupa budaya ramah tamah, hihihi...Semoga suatu saat saya diberi kesempatan ke Raudhah melewati jalur biasa, bukan jalur kursi roda. Kata teman-teman, suasana malam itu crowded. Untuk bisa sholat aja, si Teteh harus menghalangi orang lain. Tapi minimal antriannya tidak seperti yang di jalur kursi roda.

Ya, Allah, sampai detik ini hamba masih punya keinginan sholat di atas karpet hijau tuanya Raudhah. Memohon ampunan dosa dan meminta agar diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah. Semoga dimudahkan...aamiin...




#ceritaumrohku

Senin, 07 Mei 2018

Madinah, I’m Coming

23.17 0 Comments

Setelah 10 jam lebih duduk di pesawat (sudah plus isi bahan bakar di Aceh), akhirnya tibalah saya dan rombongan di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Saat itu adzan maghrib baru berkumandang. Begitu turun dari pesawat dan merasakan aura tanah haram, masih ragu antara percaya dan tidak...saya sudah sampai di Arab Saudi. Masya Allah...


Dari bandara, kami harus menempuh perjalanan lagi sekitar 5 jam dengan bus menuju Madinah. Di atas bus itulah kami berkenalan dengan muthowif kami, Mas Wildan, asal Lombok yang sudah tinggal di Arab sejak lulus SMA, sudah 10 tahun lebih pokoknya. Beliaulah nanti yang akan memandu perjalanan umroh ini, bersama TL kami, Mas Tri.

Setelah menikmati makan malam berupa nasi dan ayam bakar, kami singgah di masjid untuk sholat Maghrib dan Isya’. Perjalanan dilanjut hingga akhirnya tengah malam kami tiba di hotel tempat kami menginap. Namanya Hotel Concorde Dar Al Khair, letaknya hanya selemparan batu dengan pintu 15 Masjid Nabawi. Oh ya, saya menempati kamar berempat dengan 2 ibu-ibu dari Kendal, plus satu dari Jogja.


Esoknya kami bergantian mandi untuk segera melaksanakan sholat Subuh pertama di Masjid Nabawi. Puji syukur tak henti-henti saya ucapkan atas kemurahan-Nya membawa saya ke salah satu tempat yang diupayakan untuk dikunjungi muslim paling tidak sekali seumur hidupnya. Masya Allah, betapa nikmatnya sholat Subuh kali ini.

Sesuai jadwal, kami berada di Madinah selama 2 hari, yaitu Jumat dan Sabtu. Acara kami lebih ke ziarah, menelusuri jejak Nabi dan para shahabiyah, belum ke acara inti umroh. Detailnya nanti saya tulis tersendiri soal kami jalan-jalan ke mana saja.

Saya cuma ingin menceritakan sedikit tentang tempat penginapan kami. Benar apa yang sudah dipaparkan pihak travel tempo hari, bahwa pelayanan hotel di sini nggak ada ramah-ramahnya. Jauuuh banget dengan di Indonesia. Menurut Mas Wildan etos kerja orang Arab emang beda banget dengan bangsa lain. Negara mereka kaya dengan tambang minyaknya, hingga banyak yang ogah-ogahan kerjanya, karena hidupnya sudah dijamin negara.

Mereka dibayar lebih kalo mau kerja  jadi pegawai, tentara, atau polisi. Sudah bukan rahasia, gaji orang asing nggak boleh lebih dari gaji orang lokal. Padahal kemampuan mereka biasa-biasa saja. Kata Mas Wildan, liat aja petugas di bandara, mau ngetik aja masih nyari-nyari huruf di keyboard, hahaha...

Trus soal makan, kami makan seperti di tanah air, 3 kali sehari dengan menu ala Melayu. Karena memang tempat makan kami khusus untuk orang Indonesia dan Malaysia. Sementara untuk bule tempat makannya beda lantai. Tiap kali makan yang pasti ada itu sambal, irisan mentimun, dan buah. Sementara minuman air putih, jus jeruk instan, kopi, teh, dan krimer. Tinggal pilih sesuai selera.

abaikan foto yg bawah, hihihi...

Oh ya, teman sekamar saya, Ibu dari Kendal satu-satunya anggota rombongan yang pake kursi roda karena beliau stroke. Tubuh bagian kanan nggak bisa digerakkan, sehingga kalo makan harus pake tangan kiri. Ibu dari Kendal satunya adalah besannya. Dialah yang selalu membantu kebutuhan beliau seperti ganti baju, makein kaos kaki, nyuci baju, sampai mengambilkan makanan.

Dan sudah diingatkan dari awal oleh pihak biro travel, bahwa kita satu tim, harus kompak. Harus saling bantu dan mengingatkan sesuai jadwal yang sudah ditetapkan. Alhamdulillah, kita saling gantian dorong kursi roda si Ibu kalo lagi jalan. Nggak harus putranya, Mas Bambang, atau besannya. Ada cerita seru yang nggak bakal saya lupakan saat harus dorong kursi roda Ibu di Raudhah. Tunggu cerita lengkapnya ya...


Yang pasti saya takjub dengan keindahan Masjid Nabawi, apalagi di hari terakhir bisa menyaksikan payung itu terbuka usai sholat Subuh dan tertutup usai sholat Maghrib. Masya Allah, itu bikin kangen pengin ke sana lagi dan lagi.

#ceritaumrohku


Sabtu, 05 Mei 2018

Memilih Biro Perjalanan Umroh

11.05 0 Comments


Jujur saja, saya hanya mengandalkan feeling saat menentukan biro perjalanan umroh. Alasan utama jelas biayanya yang terjangkau kantong, karena budget saya pas-pasan. Hasil browsing sana sini ketemulah saya dengan Al Fajr, Solo. Segera saya hubungi CP yang tertera dan segera direspon. Setelah menentukan tanggal keberangkatan, saya diminta transfer uang muka sebesar 3 juta.

Beberapa hari setelah transfer DP saya dimasukkan ke grup WA yang isinya calon jama’ah Umroh tanggal 19 April. Dari situ saya tau kalo ada 3 jama’ah yang berasal dari Kendal. Segera saya hubungi beliau, Mas Bambang, untuk kenalan sekaligus numpang kalo harus ke Solo, hihihi...Hasil ngobrol beberapa kali saya akhirnya tau alasan beliau memilih biro travel Al Fajr.

Ternyata beliau sering ada urusan ke Solo. Dari sana beliau mencari info tentang biro travel yang terpercaya dan biayanya terjangkau. Di Solo ternyata ada banyak biro travel, bahkan di depan biro Al Fajr ada biro travel lain. Hasil tanya teman-temannya akhirnya beliau memutuskan memilih Al Fajr. Alhamdulillah, Allah ternyata memudahkan urusan saya ke tanah haram dengan memilihkan biro travel yang tepat.

Tapi ada patokan yang benar saat memilih biro travel umroh, yaitu:
1. Terdaftar di Kemenag, bisa dengan browsing di internet
2. Cek alamat kantornya, beneran ada atau fiktif
3. Perhatikan track record-nya. Kalo saya sih lihat dari komen di FB dan IG nya
4. Biaya sesuai standar Kemenag yaitu 25 juta. Kalo di bawah itu perlu dipertimbangkan lagi
5. Cari tahu fasilitas yang diberikan. Apa yang kita dapatkan dari biaya yang kita setorkan. Biasanya biaya pembuatan paspor dan suntik meningitis ditanggung sendiri.
6. Cek cara pembayaran, perlu curiga kalo nama rekening nama pribadi bukan nama perusahaan
7. Cari informasi dari berbagai pihak, misalnya dari mereka yang pernah menggunakan jasa biro travel tersebut.

Nah sudah jelas kan? Nggak boleh niru cara saya yang asal-asalan lho ya. Lha wong kondisi saya tuh pasrah banget. Kalo misalnya biro travel pilihan saya tuh abal-abal dan nggak jadi berangkat, berarti Allah belum mengijinkan saya umroh. Toh, biaya yang saya keluarkan bukan uang saya, tapi uang dari Allah. Tuh kan pasrah banget.


Oh, ya, saya pertama kali tau kantor Al Fajr, Solo, usai acara manasik di Komplek Donohudan, Boyolali. Itu juga sekalian ambil koper, tas, mukena, dan baju seragam (batik). Yang kepo berapa kira-kira biaya umroh saya, bisa dilihat di flyer yaitu 21, 7 juta. Ditambah biaya perlengkapan dan manasik ( 1 kali) 950 rb, bikin paspor 355 rb, suntik meningitis 310 rb. Nggak ada 25 juta kan? Tapi alhamdulillah, saya bisa berangkat tepat waktu, 19 April 2018. Yang mau tahu cerita umroh saya, besok saya tulis lagi ya, sambil mengumpulkan memori dan menyusun kata-kata.

#ceritaumrohku

Kamis, 03 Mei 2018

Ini Bukti Nyata The Power of Doa

23.42 0 Comments

Alhamdulillah, puji syukur tak terhingga saya ucapkan pada Allah Azza Wajalla yang akhirnya mengabulkan keinginan saya mengunjungi tanah haram. Iya, betul, Saudara-saudara, Allah ijinkan saya berangkat umroh. Apakah saya termasuk beruang eh, maksudnya orang yang banyak uang? Tidak. Bahkan awal Februari 2018 tabungan saya saldonya sangat minim sesuai selera saya yang minimalis, yaitu 50 ribu. Kok bisa?

Wah, ceritanya panjang, kalo dibuat sinetron bisa berjilid-jilid, bisa session 1 sampai 10. Baiklah, saya buat ringkasannya aja ya? Jadi begini, sejak awal tahun 2015, pokoknya sejak tahun baru itu, saya dikasih cobaan Allah secara bertubi-tubi. Nggak perlu saya ceritakan secara detail seperti apa cobaannya. Tapi saya yakin, kalo nggak kuat menghadapinya bisa gila. Alhamdulillah, saya nggak gila karena saya salurkan energi negatif itu ke kegiatan positif bersama teman-teman crafter saya.

Jangan tanya perasaan saya saat itu. Hampir tiap malam saya nangis dan curhat sama Allah. Waktu itu saya sempat bertanya,” Ya, Allah, kenapa hamba harus menghadapi cobaan seberat ini?” Ah, saya malu kalo inget waktu itu. Betapa ceteknya ilmu dan iman saya. Seiring berjalannya waktu, saya mulai berubah, mulai belajar tentang Islam, dengerin aneka ceramah di Youtube. Dan dari sekian ceramah itu ada salah satu yang menusuk jantung hati saya.

“Orang seperti Rasulullah yang sudah dijamin masuk surga, cobaan hidupnya berat. Lha Anda siapa? Sahabat Nabi bukan, belum ada jaminan masuk surga, amal sedikit, dosa menumpuk, siksa kubur sudah menanti. Lha dikasih cobaan kok nggak mau. Anda sehat?” Bener-bener mak jleb.

Sejak itu timbul rasa penyesalan yang luar biasa. Kalo malam saya masih tetap nangis dan curhat sama Allah, tapi isi curhatnya beda. “Ya, Allah, ampuni hamba yang berprasangka buruk pada-Mu. Ijinkan hamba datang ke rumah-Mu untuk memohon ampunan. Dan hamba ingin Kau tunjukkan jalan keluar dari permasalahan ini.” Hampir tiap hari saya meminta jalan keluar tapi belum juga ada jawaban. Mungkin kalo saya datang langsung ke rumah-Nya, Allah baru tunjukkan jalan terbaik.

Jadi, Saudara-saudara, saya berdoa minta dimudahkan untuk ke baitullah itu selama 2 tahunan. So, buat yang belum dikabulkan doanya, sabar ya. Yakinlah bahwa Allah selalu mendengarkan doa hamba-Nya. Soal kapan akan dikabulkan itu terserah Allah, bisa cepat, bisa lama, bisa juga ditangguhkan dan akan diberikan di surga kelak.

Dan, akhirnya berita baik itu datang. Rekening tabungan saya dapat kiriman dari perusahaan tempat saya bekerja dulu. Ada hak saya yang belum saya ambil. Jumlahnya? Cukuplah untuk berangkat Umroh. Dan inilah waktunya....waktu yang paling tepat. Eh, tapi begitu uang itu masuk ke tabungan pekan pertama Februari 2018, saya sempat galau dan mikir sebentar. Setan mulai mengganggu. Oh, tidaaaak, saya harus segera memutuskan. Selama 2 tahunan saya meminta pada Allah untuk dipanggil ke baitullah. Lha sekarang uang dah ada, masak mau dilewatkan.

Pekan kedua, saya langsung menghubungi pihak travel di Solo. Saya tanya, kursi yang masih tersisa untuk bulan Maret dan April tanggal berapa. Ternyata Maret dah full, adanya tanggal 1, 19, dam 30 April. Setelah mikir dan timbang sana sini, saya langsung memutuskan untuk berangkat yang tanggal 19 April. Salah satu pertimbangannya, kalo ambil yang tanggal 30, entar saya bisa dimarahin keluarga besar, karena kakak perempuan saya mantu tanggal 6 Mei.

Oh, ya, banyak yang kepo, saya berangkat pake biro travel apa, karena sekarang banyak kasus biro abal-abal. Trus apa pertimbangannya milih biro travel itu? Sabar...sabar...nanti saya tuliskan di postingan berikutnya ya...

Moral cerita dari postingan ini adalah jangan abaikan kekuatan doa. Bila kita menginginkan sesuatu mintalah langsung pada Allah. Dan berdoanya jangan setengah-setengah, mintalah dengan serius kalo perlu sambil nangis-nangis. Allah tuh senang dengar rintihan dan tangisan hamba-Nya di sepertiga malam. Bukankah sudah jelas hadistnya. “Siapa yang berdoa pada-Ku, akan Kukabulkan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni” (HR. Bukhari no. 6321 dan Muslim no. 758).

selfie di depan Ka'bah



#ceritaumrohku

Selasa, 01 Mei 2018

Al Qur'an itu Mukjizat

15.57 0 Comments

Ada seorang dosen UI bilang bahwa kitab suci itu fiksi. Publik pun heboh. Orang Islam jelas nggak terima kalo Al Qur’an disebut fiksi. Perang di medsos pun terjadi. Masing-masing mempertahankan pendapatnya, baik yang setuju maupun yang menentangnya. Sebagai orang yang fakir ilmu, saya memilih diam.

Sependek pengetahuan saya Al Qur’an itu luar biasa, ajaib, atau lebih tepatnya mukjizat. Mana ada buku atau tulisan yang kita nggak ngerti artinya tapi terus-terusan dibaca. Dan uniknya ketika dibaca bisa menimbulkan ketenangan. Mendengarkan orang membacanya juga bisa membuat orang lain terharu bahkan menangis.

Saya teringat kata Kang Abik alias Habiburrahman El Shirazy, penulis buku best seller “Ayat-ayat Cinta” di acara FLP Jakarta, bahwa Al Qur’an itu sumber ide tulisan yang nggak ada habisnya. Dalam “Ayat-ayat Cinta”, ada penggalan adegan Fahri yang dikejar-kejar 4 perempuan karena kesholehan dan kegantengannya. Salah satunya bahkan menfitnat telah diperkosa. Mirip kayak kisah Nabi Yusuf kan?

Kata Ustadz, yang berhubungan dengan Al Qur’an itu mulia. Diturunkan pada manusia termulia di dunia (Nabi Muhammad), di kota yang mulia (Mekah dan Madinah), pada hari yang mulia (Jum’at), bulan mulia (Ramadhan), pembawanya malaikat Jibril, pemimpin para malaikat. Manusia yang mengajarkan dan menghapalkan Al Qur’an akan dimuliakan Allah. Termasuk orang yang  memberi fasilitas pada mereka.

Akhir-akhir ini, entah kenapa ada dorongan dalam diri saya untuk mempelajari Al Qur’an. Mungkin karena faktor U ya, apalagi yang dikejar di dunia ini. Toh, dunia hanya sementara, akhirat itulah kehidupan yang kekal selamanya. Katanya yang akan menemani kita di alam kubur adalah amal dan Al Qur’an. Lha kalo nggak pernah berinteraksi dengan Al Qur’an, trus siapa yang akan menemani di alam yang katanya gelap gulita itu. Astaghfirullahal adziim...

Beberapa bulan ini saya mulai belajar tahsin di dekat rumah. Betapa kacaunya bacaan saya. Singkirkan rasa malu, toh ada Ibu yang lebih sepuh juga baru memulai Iqro 1 bareng saya. Saya juga mulai beli Al Qur’an yang ada terjemahannya, setidaknya biar tahu artinya. Anak saya juga jadi penyemangat untuk menghapal Al Qur’an. Si sulung bahkan bilang setelah selesai kuliah, mau mondok menghapalkan Al Qur’an selama 1 tahun. Saya sih seneng banget, bahkan terharu saat dia bilang ingin memberikan mahkota pada saya di akhirat nanti. Masya Allah, Nduk, semoga Allah memudahkan niat muliamu itu.

Kalo dia ingin hapal 30 juz, saya juga pengin, tapi sementara juz 30 aja dulu deh. Saat disungkemi ketiga anak saya, saya bilang, mau jadi apa pun nanti, Ummi pengin kalian jadi sholeh/sholehah dan jadi hafidz/hafidzah. Bismillah, semoga Allah memudahkan keinginan saya menjadi keluarga Allah di dunia.

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya” (HR. Ahmad).




Selasa, 27 Februari 2018

Klepto...Oh...Klepto...

09.17 2 Comments
Malam itu Nabila cerita kalo hampir semua teman di kontrakan pernah kehilangan uang, kecuali dia. Saya sih cuma komen, “ Lha iya lah, wong kamu nggak pernah punya uang.” Hahaha...kita berdua ngakak bareng. Waktu itu kami berdua ngobrol soal tuyul yang ternyata di jaman milenium ini masih ada. Soalnya banyak banget teman FB saya yang posting kalo isi celengannya nggak sesuai perkiraan. Terutama, banyak uang merah dan biru yang raib.

Sepekan kemudian, Nabila cerita, kalo dia telat pulang karena ada sebuah peristiwa unik dan langka di kontrakan. Jadi begini, malam sebelumnya, ada teman KKN Dea ( teman sekontrakan plus teman dekat Nabila), datang ke kontrakan. Mereka maksa untuk membongkar isi lemari Dea, karena curiga banyak barang yang hilang selama KKN.

Dan terjadilah kehebohan itu. Saat dibuka lemari Dea, banyak ditemukan barang-barang milik temannya yang hilang. Bahkan ada laci yang isinya aneka make up mahal. Wow...malam itu juga Dea langsung diinterogasi. Mau tau reaksinya? Ekspresinya tenang, diam, nggak ada penyesalan, bahkan nggak ada kata maaf. Yang bikin Nabila nyesek, selama ini dia paling dekat dengan Dea. Pernah dikasih lipstik dan dompet, bahkan sering ditraktir makan. Saya cuma bisa nasehatin,” Yaudah, buang aja lipstiknya. Soal traktiran, karena kamu nggak tau, istighfar aja. Semoga Allah mengampuni kesalahanmu.”

Selama di rumah, Nabila terus memantau grup WA teman kontrakan dan cerita sama Emaknya. Ternyata esok harinya Dea langsung hengkang dari kontrakan dan nggak mau ngasih tau pindah ke mana. Mau menenangkan diri, katanya. Trus, Ibunya Dea juga marah-marah sama Mbak Ketua kontrakan, karena dianggap sudah menfitnah anaknya. Mungkin beliau lebih percaya pada laporan anaknya yang diputar balik.

Selama 3 tahun kuliah di UGM, Nabila menempati 3 tempat tinggal berbeda. Dan baru kali ini mengalami hal menghebohkan seperti ini. Apalagi di tempat terakhir ini sebuah kontrakan muslimah yang aturan masuknya lumayan ketat. Kata Mbak Ketua kontrakan, “Berarti tahun depan harus dites psikologi dulu ya, Bil.” Hihihi...iya, kali, Mbak.

Bagi yang masih awam, Kleptomania itu sebuah gangguan ketidakmampuan diri untuk mengambil barang milik orang lain. Bisa di tempat ramai seperti mall, bisa juga di tempat sepi seperti asrama. Entah apa pemicunya, yang pasti kalo ingin sembuh ya harus berobat ke dokter atau psikolog. Oh ya, selama tinggal di situ Nabila pernah kehilangan kamera. Padahal tuh kamera dibeli suami untuk keperluan saya kalo bikin buku masakan dan craft, hiks...Tapi ketika diinterogasi, Dea nggak ngaku kalo dia yang ngambil. Entahlah, hanya Dea dan Allah yang tahu, ke mana raibnya tuh kamera.


Kabar terakhir, Dea ditemukan di sebuah gerai donat sama Mbak-mbak kontrakan. Dia mau tanda tangan perjanjian, kalo dia mau ngganti barang-barang yang sudah dia ambil. Entahlah, semoga nggak bohong. Yang pasti anak saya, Nabila, nyesek banget, nggak nyangka orang terdekat di kontrakan, yang sering nyuruh dia ini itu, ternyata pengidap Kleptomania. Saya cuma bisa menyuruh anak saya untuk mengikhlaskan, memaafkan, dan mendoakan semoga dia segera sembuh.

gambar diambil dari Google

Selasa, 12 Desember 2017

Menikmati Makanan Tradisional di Tengah Kebun Karet

13.32 4 Comments
Waktu menunjukkan pukul 7 lebih. Jalanan dari Kaliwungu ke arah Boja lumayan lengang. Cuaca yang cerah pagi itu membuat perjalanan motoran kami terasa lebih asyik. Bisa menyaksikan pemandangan kiri kanan yang masih perawan dan udara yang sejuk segar.


Oh, ya, pagi itu empat perempuan perkasa niat banget mau ke Pasar Karetan, destinasi wisata yang baru diresmikan Bupati Kendal dan Kemenpar Semarang tanggal 5 November 2017. Lokasi wisata Radja Pendapa sebenarnya masih di wilayah Kendal, tepatnya Dusun Segrumung, Desa Meteseh, Kec. Boja. Tapi dikelola oleh Kemenpar Kota Semarang dibantu teman-teman GenPI.

Karena masih baru, petunjuk arah ke lokasi masih sederhana, berupa tampah dicat putih trus ditulisi, hihihi...Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di lokasi. Dari lapangan parkir mobil masih harus naik kereta mini melewati rumah penduduk menuju Pasar Karetan. Karena baru pertama kami nggak tau, ternyata ada penitipan motor yang dekat banget dengan TKP. Motor kami sudah terparkir di SD Meteseh 5 dengan uang parkir 2.000, standart lah.

Turun dari kereta mini, kita disuguhi pemandangan hutan karet, sebelum masuk loby. Dan begitu masuk ada tempat penukaran uang dengan girik. Jadi kalo mau menikmati makanan tradisional di dalam, kita pakai uang kayu dengan pecahan 2.500, 5.000, dan 10,000. Biar nggak tercecer, uangnya dimasukin ke dalam kantong belacu. Unik, ya?

dhuwit kayu dan wadhahnya




Kayaknya semua spot di sini instagramable, cucok banget buat foto-foto. Mulai dari pintu masuk sampai arena Pasar Karetan. Di dalam kita bisa menikmati sarapan pagi yang tradisional banget seperti  lontong pecel, gendar pecel, tahu gimbal, lontong opor,  bubur ayam, dan sego jagung. Sementara kalo pengin yang agak ringan ada aneka jenang (baca: bubur manis). Ada juga bakso yang mangkuknya bathok kelapa. Untuk minuman, bisa menikmati dawet atau minuman rempah yang wadahnya juga unik.

Karena anak-anak GenPI ikut mengelola, maka kami menyapa di tengah kesibukan mereka, seperti Agustina yang jadi bendahara, Zain yang hari itu jadi MC, dan yang lainnya. Dari salah satu dari mereka, yang bantu jualan pecel, kami dapat info kalo Pasar Karetan itu sangat membantu para pelaku UKM. Mereka tinggal menempati lapak yang sudah disediakan, tanpa uang sewa hanya dikenai fee 20%. Dari pengamatan kami, hampir semua dagangan yang digelar ludes, bahkan sebelum jam 11 saat penutupan.


aneka jenang

bakul pecelnya diajak ngobrol biar dikasih banyak



Oh, ya, tadi di pintu masuk, kami nukar uang 200 ribu. Maksudnya sekalian, biar nggak bolak-balik. Toh kalau sisa bisa diuangkan lagi. Dua dari kami makan lontong pecel yang dipatok 12.500/porsi, aneka gorengan seribuan. Trus es dawet, bubur, air mineral, dan singkong goreng. Ternyata masih sisa 100 ribu, lumayan irit nih emak-emak.

Puas makan-makan, jalan- jalan, tiduran di pendopo di tengah kolam, plus foto-foto, kami pun berniat pulang. Waktu menunjukkan pukul 11 lebih sedikit ketika MC menyatakan bahwa pasar akan ditutup. Eh, tapi ternyata anggota rombongan masih ada yang ngobrol saat ketemu temannya. Yaudah yang lain pun mencoba permainan tradisional dan foto-foto di panggung yang sudah kosong. Duh, tepok jidat tenan. Ayo, Mak, ingat anak-anak di rumah.

naik panggung tanpa penonton

nyoba maen bakiak

Hujan pun turun dengan derasnya. Semua menunggu di loby, ada juga yang nekat naik kereta mini menuju tempat parkir. Kita milih nunggu, maklum awak tuwo, bisa remuk kalo kehujanan. Akhirnya begitu hujan berhenti kita langsung cap cus. Sampai ketemu lagi ya, Mak, kapan-kapan kita jalan-jalan lagi.