Kamis, 03 Mei 2018

Ini Bukti Nyata The Power of Doa

23.42 0 Comments

Alhamdulillah, puji syukur tak terhingga saya ucapkan pada Allah Azza Wajalla yang akhirnya mengabulkan keinginan saya mengunjungi tanah haram. Iya, betul, Saudara-saudara, Allah ijinkan saya berangkat umroh. Apakah saya termasuk beruang eh, maksudnya orang yang banyak uang? Tidak. Bahkan awal Februari 2018 tabungan saya saldonya sangat minim sesuai selera saya yang minimalis, yaitu 50 ribu. Kok bisa?

Wah, ceritanya panjang, kalo dibuat sinetron bisa berjilid-jilid, bisa session 1 sampai 10. Baiklah, saya buat ringkasannya aja ya? Jadi begini, sejak awal tahun 2015, pokoknya sejak tahun baru itu, saya dikasih cobaan Allah secara bertubi-tubi. Nggak perlu saya ceritakan secara detail seperti apa cobaannya. Tapi saya yakin, kalo nggak kuat menghadapinya bisa gila. Alhamdulillah, saya nggak gila karena saya salurkan energi negatif itu ke kegiatan positif bersama teman-teman crafter saya.

Jangan tanya perasaan saya saat itu. Hampir tiap malam saya nangis dan curhat sama Allah. Waktu itu saya sempat bertanya,” Ya, Allah, kenapa hamba harus menghadapi cobaan seberat ini?” Ah, saya malu kalo inget waktu itu. Betapa ceteknya ilmu dan iman saya. Seiring berjalannya waktu, saya mulai berubah, mulai belajar tentang Islam, dengerin aneka ceramah di Youtube. Dan dari sekian ceramah itu ada salah satu yang menusuk jantung hati saya.

“Orang seperti Rasulullah yang sudah dijamin masuk surga, cobaan hidupnya berat. Lha Anda siapa? Sahabat Nabi bukan, belum ada jaminan masuk surga, amal sedikit, dosa menumpuk, siksa kubur sudah menanti. Lha dikasih cobaan kok nggak mau. Anda sehat?” Bener-bener mak jleb.

Sejak itu timbul rasa penyesalan yang luar biasa. Kalo malam saya masih tetap nangis dan curhat sama Allah, tapi isi curhatnya beda. “Ya, Allah, ampuni hamba yang berprasangka buruk pada-Mu. Ijinkan hamba datang ke rumah-Mu untuk memohon ampunan. Dan hamba ingin Kau tunjukkan jalan keluar dari permasalahan ini.” Hampir tiap hari saya meminta jalan keluar tapi belum juga ada jawaban. Mungkin kalo saya datang langsung ke rumah-Nya, Allah baru tunjukkan jalan terbaik.

Jadi, Saudara-saudara, saya berdoa minta dimudahkan untuk ke baitullah itu selama 2 tahunan. So, buat yang belum dikabulkan doanya, sabar ya. Yakinlah bahwa Allah selalu mendengarkan doa hamba-Nya. Soal kapan akan dikabulkan itu terserah Allah, bisa cepat, bisa lama, bisa juga ditangguhkan dan akan diberikan di surga kelak.

Dan, akhirnya berita baik itu datang. Rekening tabungan saya dapat kiriman dari perusahaan tempat saya bekerja dulu. Ada hak saya yang belum saya ambil. Jumlahnya? Cukuplah untuk berangkat Umroh. Dan inilah waktunya....waktu yang paling tepat. Eh, tapi begitu uang itu masuk ke tabungan pekan pertama Februari 2018, saya sempat galau dan mikir sebentar. Setan mulai mengganggu. Oh, tidaaaak, saya harus segera memutuskan. Selama 2 tahunan saya meminta pada Allah untuk dipanggil ke baitullah. Lha sekarang uang dah ada, masak mau dilewatkan.

Pekan kedua, saya langsung menghubungi pihak travel di Solo. Saya tanya, kursi yang masih tersisa untuk bulan Maret dan April tanggal berapa. Ternyata Maret dah full, adanya tanggal 1, 19, dam 30 April. Setelah mikir dan timbang sana sini, saya langsung memutuskan untuk berangkat yang tanggal 19 April. Salah satu pertimbangannya, kalo ambil yang tanggal 30, entar saya bisa dimarahin keluarga besar, karena kakak perempuan saya mantu tanggal 6 Mei.

Oh, ya, banyak yang kepo, saya berangkat pake biro travel apa, karena sekarang banyak kasus biro abal-abal. Trus apa pertimbangannya milih biro travel itu? Sabar...sabar...nanti saya tuliskan di postingan berikutnya ya...

Moral cerita dari postingan ini adalah jangan abaikan kekuatan doa. Bila kita menginginkan sesuatu mintalah langsung pada Allah. Dan berdoanya jangan setengah-setengah, mintalah dengan serius kalo perlu sambil nangis-nangis. Allah tuh senang dengar rintihan dan tangisan hamba-Nya di sepertiga malam. Bukankah sudah jelas hadistnya. “Siapa yang berdoa pada-Ku, akan Kukabulkan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni” (HR. Bukhari no. 6321 dan Muslim no. 758).

selfie di depan Ka'bah



#ceritaumrohku

Selasa, 01 Mei 2018

Al Qur'an itu Mukjizat

15.57 0 Comments

Ada seorang dosen UI bilang bahwa kitab suci itu fiksi. Publik pun heboh. Orang Islam jelas nggak terima kalo Al Qur’an disebut fiksi. Perang di medsos pun terjadi. Masing-masing mempertahankan pendapatnya, baik yang setuju maupun yang menentangnya. Sebagai orang yang fakir ilmu, saya memilih diam.

Sependek pengetahuan saya Al Qur’an itu luar biasa, ajaib, atau lebih tepatnya mukjizat. Mana ada buku atau tulisan yang kita nggak ngerti artinya tapi terus-terusan dibaca. Dan uniknya ketika dibaca bisa menimbulkan ketenangan. Mendengarkan orang membacanya juga bisa membuat orang lain terharu bahkan menangis.

Saya teringat kata Kang Abik alias Habiburrahman El Shirazy, penulis buku best seller “Ayat-ayat Cinta” di acara FLP Jakarta, bahwa Al Qur’an itu sumber ide tulisan yang nggak ada habisnya. Dalam “Ayat-ayat Cinta”, ada penggalan adegan Fahri yang dikejar-kejar 4 perempuan karena kesholehan dan kegantengannya. Salah satunya bahkan menfitnat telah diperkosa. Mirip kayak kisah Nabi Yusuf kan?

Kata Ustadz, yang berhubungan dengan Al Qur’an itu mulia. Diturunkan pada manusia termulia di dunia (Nabi Muhammad), di kota yang mulia (Mekah dan Madinah), pada hari yang mulia (Jum’at), bulan mulia (Ramadhan), pembawanya malaikat Jibril, pemimpin para malaikat. Manusia yang mengajarkan dan menghapalkan Al Qur’an akan dimuliakan Allah. Termasuk orang yang  memberi fasilitas pada mereka.

Akhir-akhir ini, entah kenapa ada dorongan dalam diri saya untuk mempelajari Al Qur’an. Mungkin karena faktor U ya, apalagi yang dikejar di dunia ini. Toh, dunia hanya sementara, akhirat itulah kehidupan yang kekal selamanya. Katanya yang akan menemani kita di alam kubur adalah amal dan Al Qur’an. Lha kalo nggak pernah berinteraksi dengan Al Qur’an, trus siapa yang akan menemani di alam yang katanya gelap gulita itu. Astaghfirullahal adziim...

Beberapa bulan ini saya mulai belajar tahsin di dekat rumah. Betapa kacaunya bacaan saya. Singkirkan rasa malu, toh ada Ibu yang lebih sepuh juga baru memulai Iqro 1 bareng saya. Saya juga mulai beli Al Qur’an yang ada terjemahannya, setidaknya biar tahu artinya. Anak saya juga jadi penyemangat untuk menghapal Al Qur’an. Si sulung bahkan bilang setelah selesai kuliah, mau mondok menghapalkan Al Qur’an selama 1 tahun. Saya sih seneng banget, bahkan terharu saat dia bilang ingin memberikan mahkota pada saya di akhirat nanti. Masya Allah, Nduk, semoga Allah memudahkan niat muliamu itu.

Kalo dia ingin hapal 30 juz, saya juga pengin, tapi sementara juz 30 aja dulu deh. Saat disungkemi ketiga anak saya, saya bilang, mau jadi apa pun nanti, Ummi pengin kalian jadi sholeh/sholehah dan jadi hafidz/hafidzah. Bismillah, semoga Allah memudahkan keinginan saya menjadi keluarga Allah di dunia.

Ø¥ِÙ†َّ Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ Ø£َÙ‡ْÙ„ِينَ Ù…ِÙ†َ النَّاسِ Ù‚َالُوا : Ù…َÙ†ْ Ù‡ُÙ…ْ ÙŠَا رَسُولَ اللَّÙ‡ِ؟ Ù‚َالَ : Ø£َÙ‡ْÙ„ُ الْÙ‚ُرْآنِ Ù‡ُÙ…ْ Ø£َÙ‡ْÙ„ُ اللَّÙ‡ِ ÙˆَØ®َاصَّتُÙ‡ُ

Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya” (HR. Ahmad).




Selasa, 27 Februari 2018

Klepto...Oh...Klepto...

09.17 2 Comments
Malam itu Nabila cerita kalo hampir semua teman di kontrakan pernah kehilangan uang, kecuali dia. Saya sih cuma komen, “ Lha iya lah, wong kamu nggak pernah punya uang.” Hahaha...kita berdua ngakak bareng. Waktu itu kami berdua ngobrol soal tuyul yang ternyata di jaman milenium ini masih ada. Soalnya banyak banget teman FB saya yang posting kalo isi celengannya nggak sesuai perkiraan. Terutama, banyak uang merah dan biru yang raib.

Sepekan kemudian, Nabila cerita, kalo dia telat pulang karena ada sebuah peristiwa unik dan langka di kontrakan. Jadi begini, malam sebelumnya, ada teman KKN Dea ( teman sekontrakan plus teman dekat Nabila), datang ke kontrakan. Mereka maksa untuk membongkar isi lemari Dea, karena curiga banyak barang yang hilang selama KKN.

Dan terjadilah kehebohan itu. Saat dibuka lemari Dea, banyak ditemukan barang-barang milik temannya yang hilang. Bahkan ada laci yang isinya aneka make up mahal. Wow...malam itu juga Dea langsung diinterogasi. Mau tau reaksinya? Ekspresinya tenang, diam, nggak ada penyesalan, bahkan nggak ada kata maaf. Yang bikin Nabila nyesek, selama ini dia paling dekat dengan Dea. Pernah dikasih lipstik dan dompet, bahkan sering ditraktir makan. Saya cuma bisa nasehatin,” Yaudah, buang aja lipstiknya. Soal traktiran, karena kamu nggak tau, istighfar aja. Semoga Allah mengampuni kesalahanmu.”

Selama di rumah, Nabila terus memantau grup WA teman kontrakan dan cerita sama Emaknya. Ternyata esok harinya Dea langsung hengkang dari kontrakan dan nggak mau ngasih tau pindah ke mana. Mau menenangkan diri, katanya. Trus, Ibunya Dea juga marah-marah sama Mbak Ketua kontrakan, karena dianggap sudah menfitnah anaknya. Mungkin beliau lebih percaya pada laporan anaknya yang diputar balik.

Selama 3 tahun kuliah di UGM, Nabila menempati 3 tempat tinggal berbeda. Dan baru kali ini mengalami hal menghebohkan seperti ini. Apalagi di tempat terakhir ini sebuah kontrakan muslimah yang aturan masuknya lumayan ketat. Kata Mbak Ketua kontrakan, “Berarti tahun depan harus dites psikologi dulu ya, Bil.” Hihihi...iya, kali, Mbak.

Bagi yang masih awam, Kleptomania itu sebuah gangguan ketidakmampuan diri untuk mengambil barang milik orang lain. Bisa di tempat ramai seperti mall, bisa juga di tempat sepi seperti asrama. Entah apa pemicunya, yang pasti kalo ingin sembuh ya harus berobat ke dokter atau psikolog. Oh ya, selama tinggal di situ Nabila pernah kehilangan kamera. Padahal tuh kamera dibeli suami untuk keperluan saya kalo bikin buku masakan dan craft, hiks...Tapi ketika diinterogasi, Dea nggak ngaku kalo dia yang ngambil. Entahlah, hanya Dea dan Allah yang tahu, ke mana raibnya tuh kamera.


Kabar terakhir, Dea ditemukan di sebuah gerai donat sama Mbak-mbak kontrakan. Dia mau tanda tangan perjanjian, kalo dia mau ngganti barang-barang yang sudah dia ambil. Entahlah, semoga nggak bohong. Yang pasti anak saya, Nabila, nyesek banget, nggak nyangka orang terdekat di kontrakan, yang sering nyuruh dia ini itu, ternyata pengidap Kleptomania. Saya cuma bisa menyuruh anak saya untuk mengikhlaskan, memaafkan, dan mendoakan semoga dia segera sembuh.

gambar diambil dari Google

Selasa, 12 Desember 2017

Menikmati Makanan Tradisional di Tengah Kebun Karet

13.32 4 Comments
Waktu menunjukkan pukul 7 lebih. Jalanan dari Kaliwungu ke arah Boja lumayan lengang. Cuaca yang cerah pagi itu membuat perjalanan motoran kami terasa lebih asyik. Bisa menyaksikan pemandangan kiri kanan yang masih perawan dan udara yang sejuk segar.


Oh, ya, pagi itu empat perempuan perkasa niat banget mau ke Pasar Karetan, destinasi wisata yang baru diresmikan Bupati Kendal dan Kemenpar Semarang tanggal 5 November 2017. Lokasi wisata Radja Pendapa sebenarnya masih di wilayah Kendal, tepatnya Dusun Segrumung, Desa Meteseh, Kec. Boja. Tapi dikelola oleh Kemenpar Kota Semarang dibantu teman-teman GenPI.

Karena masih baru, petunjuk arah ke lokasi masih sederhana, berupa tampah dicat putih trus ditulisi, hihihi...Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di lokasi. Dari lapangan parkir mobil masih harus naik kereta mini melewati rumah penduduk menuju Pasar Karetan. Karena baru pertama kami nggak tau, ternyata ada penitipan motor yang dekat banget dengan TKP. Motor kami sudah terparkir di SD Meteseh 5 dengan uang parkir 2.000, standart lah.

Turun dari kereta mini, kita disuguhi pemandangan hutan karet, sebelum masuk loby. Dan begitu masuk ada tempat penukaran uang dengan girik. Jadi kalo mau menikmati makanan tradisional di dalam, kita pakai uang kayu dengan pecahan 2.500, 5.000, dan 10,000. Biar nggak tercecer, uangnya dimasukin ke dalam kantong belacu. Unik, ya?

dhuwit kayu dan wadhahnya




Kayaknya semua spot di sini instagramable, cucok banget buat foto-foto. Mulai dari pintu masuk sampai arena Pasar Karetan. Di dalam kita bisa menikmati sarapan pagi yang tradisional banget seperti  lontong pecel, gendar pecel, tahu gimbal, lontong opor,  bubur ayam, dan sego jagung. Sementara kalo pengin yang agak ringan ada aneka jenang (baca: bubur manis). Ada juga bakso yang mangkuknya bathok kelapa. Untuk minuman, bisa menikmati dawet atau minuman rempah yang wadahnya juga unik.

Karena anak-anak GenPI ikut mengelola, maka kami menyapa di tengah kesibukan mereka, seperti Agustina yang jadi bendahara, Zain yang hari itu jadi MC, dan yang lainnya. Dari salah satu dari mereka, yang bantu jualan pecel, kami dapat info kalo Pasar Karetan itu sangat membantu para pelaku UKM. Mereka tinggal menempati lapak yang sudah disediakan, tanpa uang sewa hanya dikenai fee 20%. Dari pengamatan kami, hampir semua dagangan yang digelar ludes, bahkan sebelum jam 11 saat penutupan.


aneka jenang

bakul pecelnya diajak ngobrol biar dikasih banyak



Oh, ya, tadi di pintu masuk, kami nukar uang 200 ribu. Maksudnya sekalian, biar nggak bolak-balik. Toh kalau sisa bisa diuangkan lagi. Dua dari kami makan lontong pecel yang dipatok 12.500/porsi, aneka gorengan seribuan. Trus es dawet, bubur, air mineral, dan singkong goreng. Ternyata masih sisa 100 ribu, lumayan irit nih emak-emak.

Puas makan-makan, jalan- jalan, tiduran di pendopo di tengah kolam, plus foto-foto, kami pun berniat pulang. Waktu menunjukkan pukul 11 lebih sedikit ketika MC menyatakan bahwa pasar akan ditutup. Eh, tapi ternyata anggota rombongan masih ada yang ngobrol saat ketemu temannya. Yaudah yang lain pun mencoba permainan tradisional dan foto-foto di panggung yang sudah kosong. Duh, tepok jidat tenan. Ayo, Mak, ingat anak-anak di rumah.

naik panggung tanpa penonton

nyoba maen bakiak

Hujan pun turun dengan derasnya. Semua menunggu di loby, ada juga yang nekat naik kereta mini menuju tempat parkir. Kita milih nunggu, maklum awak tuwo, bisa remuk kalo kehujanan. Akhirnya begitu hujan berhenti kita langsung cap cus. Sampai ketemu lagi ya, Mak, kapan-kapan kita jalan-jalan lagi.


Rabu, 29 November 2017

Duhai, Muslimah, Menulislah

22.58 26 Comments
Akhir-akhir ini banyak sahabat dunia maya saya yang curhat di FB tentang prahara rumah tangganya. Ada yang mengalami KDRT, ada pula yang diselingkuhi suaminya. Mungkin maksudnya agar hati jadi lega karena nggak tahu harus curhat pada siapa ( padahal curhat terbaik kan hanya sama Allah saja). Ada yang curhatnya enak dibaca dan bisa diambil hikmahnya. Ada pula yang curhatnya termehek-mehek, sudah tiap hari nyetatus, statusnya lebay, lagi, maklum mamah muda.

Jaman memang sudah berubah. Kehadiran internet dan media sosial tak bisa dihindari. Bagi Emak-emak seangkatan saya, mau tak mau, suka nggak suka ya harus menyesuaikan diri. Kalau nggak bisa ngikutin perkembangan jaman, siap-siap jadi dinosaurus....alias punah, hihihi. Itulah makanya saya bikin akun FB, Twitter,Instagram, dan WhatsApp, biar nggak punah.

Ingin rasanya saya memberitahu Saudari saya yang suka curhat di FB tentang kegalauan hatinya. Bahwa ada yang namanya Blog, tempat menuliskan isi hati layaknya kita ngisi diary * ups, ketahuan lagi deh umur saya. Banyak loh manfaat nulis di Blog, di antaranya:
1. Berbagi ilmu yang kita punya pada pembaca. Misalnya blog kita fokus berisi resep masakan, maka tentu sangat berguna bagi mereka yang lagi belajar masak, nyusun menu, atau sedang diet.
2. Melatih diri yang sebelumnya jarang nulis jadi semakin terampil. Tak jarang semakin lama tulisan jadi semakin lancar, mengalir, dan enak dibaca. Ada beberapa orang yang tulisan di blognya menjadi sebuah buku, bahkan diangkat ke layar lebar. Salah satunya Raditya Dika.
3. Menuliskan pengalaman pribadi kita yang bisa diambil ibrohnya bagi pembaca. Tuliskan yang baik-baik saja, agar tidak terjebak dalam ghibah atau menjelek-jelekkan orang lain. Kalau pesan orang bijak, simpan dulu cerita sedih atau buruk. Nanti ketika waktunya tepat, barulah kita tuliskan semuanya. Contohnya kisah orang-orang sukses, pada saat di puncak kesuksesan, orang pasti akan ternganga ketika tahu perjuangannya yang berdarah-darah.

Menulis hal-hal yang bersifat pribadi harus hati-hati. Jangan sampai ketika menceritakan tentang suami kita, seperti sedang membuka aib sendiri. Ingat, suami adalah pakaian untuk istri dan sebaliknya istri pakaian untuk suami. Pakaian kan fungsinya untuk menutup aurat, jadi jangan buka aib pasangan hidup kita. Karena itu luruskan niat, bahwa kita menuliskan kisah sedih yang kita alami agar bisa jadi pelajaran bagi pembacanya dan untuk membersihkan kerak hati.

Kerak hati? Ya. Setiap orang pasti punya kerak di dalam hatinya, terutama yang berhubungan dengan masa lalu. Entah rasa takut, malu, sedih, atau trauma. Tanpa disadari, kerak hati itu bisa muncul sebagai penyakit fisik seperti pusing, sakit perut, dan sakit kulit. Agar bisa menjadi pribadi yang positif dan sehat lahir batin, maka kerak itu harus dibersihkan. Nah, menulis bisa menjadi salah satu cara untuk membersihkan kerak hati.

Menurut pakar, menulis itu bermanfaat untuk kesehatan jiwa raga loh, di antaranya:
1. membantu memulihkan emosi
2. semangat hidup lebih meningkat
3. kualitas tidur lebih baik
4. membuat bicara lebih lancar
5. membuat beberapa penyakit hilang

Nah, tunggu apa lagi. Duhai Muslimah, apa pun kondisimu, menulislah. Kalau mengalami kepedihan, tulislah. Kalau punya ilmu, berbagilah dengan menuliskannya. Kalau punya pengalaman berharga, juga menulislah. Dari Blog bisa berubah menjadi Buku. Jadikan tulisan sebagai rekam jejak hidup kita di dunia. Biarkan teman, saudara, dan anak cucu kita tahu siapa kita. Buat mereka bangga punya teman, saudara, ibu, atau nenek yang hebat seperti kita.




#PostinganTematik
#BloggerMuslimahindonesia


"Tulisan ini diikutkan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia"

Senin, 25 September 2017

WS Jualan Via Sosmed oleh Orisinal Indonesia

20.30 0 Comments
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Saya dan solmed saya, Mbak Ismi nggak sadar kalau hari Ahad di seputar Simpang Lima Semarang ada Car Free Day. Kami lumayan bingung saat diturunkan BRT di Kampung Kali. Alhamdulillah, duo abang ojol yang ganteng aka dua ponakan kesayangan, segera datang. Maka diantarkanlah kami ke Noormans Hotel, tempat akan dilangsungkan acara workshop bertajuk “Sosmed Menggigit, Omzet Melejit” yang diadakan oleh Orisinal Indonesia.


Saat menikmati snack sambil ngobrol dengan teman semeja, panitia mengumumkan bahwa semua harus pake kaos hitam yang barusan dibagikan. Beruntung saya pake gamis hitam, jadi nggak perlu pake kaos pendek kayak Mbak Ismi. Satu round table ada 8 kursi dan di meja kami berisi 7 orang, 3 Emak2, yang 4 mahasiswa Unisula.

Jam 10 acara dimulai dengan pembicara pertama yang nggak lain Foundernya OI, Mas Ikhwan Saefulloh. Dengan gayanya yang khas, santai dan kocak, beliau membawakan materi tentang Branding. Nggak terasa, karena yang dibahas ringan dan lucu (haiyah...kok kayak tagline acara komedi jaman dulu), 2 jam nggak terasa. Hingga akhirnya tibalah saat ishoma.


Usai rehat 1 jam dilanjut Pak Firdaus Adinegoro, founder Komunitas Kuliner Semarang bercerita tentang komunitasnya. Eh, tapi sebelumnya ada founder dan owner Jamu Borobudur, yang bersedia hadir di meja peserta dan share sedikit ilmu. Beliau bercerita sejarah dan jatuh bangunnya perusahaan jamu yang terkenal dengan iklan”...kulit manggis kini ada ekstraknya...”


Usai coffebreak, materinya tentang fotografi. Keren dan asyik banget cara Mas Bayu Sakti Pamungkas ngasih materinya. Karena terbatasnya jumlah fotoboxnya, maka harus gantian foto produknya. Ditambah peserta bisa jalan-jalan, suasana jadi santai, nggak spaneng. Bisa liat cara Mas Bayu bikin foto intip goreng (cemilan dari nasi kering) jadi cakep dan menggiurkan.



Foto-foto hasil motret diupload ke IG Orisinal Indonesia, yang bagus dapet souvenir dari sponsor. Punya saya? Masih kurang memuaskan hasilnya, hehehe...Gapapa, masih harus banyak belajar berarti. Sebelum pulang, para peserta dikasih sertifikat dan mini photobox dari kardus. Tapi karena susah bawanya (maklum, saya dan Mbak Ismi kan ngangkot), kardus itu nggak kami ambil. Yang pasti saya jadi semakin yakin bahwa ini jaman medsos. Kalo mau sukses yang harus tau tips dan triknya jualan via medsos.



Rabu, 20 September 2017

Tahun Baru, Semangat Baru

12.50 0 Comments
Puji syukur kehadirat-Mu ya Robb. Saya dipertemukan dengan orang-orang baik, yang mengajak berhijrah. Saya jadi banyak belajar tentang Islam. Mulai belajar ngaji tajwid, belajar mengaenal angka Arab, bulan-bulan Islam, nama istri  dan anak Rasulullah, dan hal-hal lain yang saya belum tahu. Kadang malu, Hello ke mana aja Lu, Mbakbro? Kok baru jelang 50 tahun baru belajar mengenal agamamu. Segala sesuatu atau setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa diambil. Mungkin cobaan yang saya alami beberapa waktu lalu, inilah hikmahnya * ups, bikin kepo aja.

Jelang tahun Baru 1 Muharram 1439 H tiba-tiba ingat workbook Pak Jamil Azzaini yang berjudul "Tuhan, Inilah Prosposal Hidupku" dan pengin ngisi. Enaknya isinya diupload nggak ya? Tahun baru Masehi kemarin saya sudah buka kartu tentang Resolusi tahun 2017. Dan banyak resolusi yang terwujud. Sungguh Allah Maha Baik...

Bismillah, saya ingin memulai tahun baru ini dengan hal-hal yang baik dan positif. Saya ingin terus bertumbuh jadi pribadi yang sukses mulia. Hehehe...akhir-akhir ini suka liat video motivasi Pak Jamil jadi terpacu untuk jadi insan sukses mulia. Punya kelebihan 4 ta (harta, tahta, kata, dan cinta) dan mau berbagi pada sesama.


Pojok rumah, 20 September 2017