Tampilkan postingan dengan label sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosok. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Agustus 2017

Belajar dari Sosok Khadijah

13.52 3 Comments
Kalau kita meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah pemimpin kaum muslimin, maka kita pun harus mengakui bahwa para istri Rasulullah adalah Ibu kita. Mereka punya sebutan Ummul Mukminin. Sudahkah kita mengenal sosok semua Ummul Mukminin itu? Saya termasuk yang belum mengenal mereka. Karena itu saya mulai mencari tahu tentang mereka.


Ada 4 perempuan yang paling sempurna akhlaknya di dunia yaitu Siti Asiyah, Maryam, Khadijah, dan Fatimah. Makin penasaran, mengapa Khadijah binti Khuwailid, istri pertama sekaligus paling dikasihi Rasulullah termasuk perempuan yang sempurna. Semoga kita, para muslimah, bisa meneladani akhlak beliau sehingga bisa menjadi penghuni surga.

Saya mencoba merangkum apa yang sudah saya baca dan saya dengar dari ceramah para ustadz tentang sosok Khadijah. Inilah 7 fakta tentang Khadijah:
1. Khadijah yang menawarkan diri menjadi istri Rasulullah.
Khadijah ketika itu berstatus janda dengan 3 anak. Beliau adalah perempuan yang cantik, dari kalangan menengah kaum Quraisy, dan merupakan saudagar yang kaya. Banyak laki-laki yang melamar tapi beliau tidak bergeming. Ketika mengenal sosok nabi Muhammad yang jujur dan pintar dalam berdagang, beliau tertarik lalu meminta tolong saudaranya, Nafisah, untuk melamar Rasulullah.
2. Khadijah menikah dengan Rasulullah di usia 40 tahun, sementara Rasulullah 25 tahun.
3. Khadijah mempunyai 6 anak dari Rasulullah.
Dari semua istrinya, hanya 2 istri yang melahirkan keturunan Rasulullah. Dari Khadijah ada Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Fatimah, dan Abdullah. Sementara dari Mariah Al Qibtiyyah lahir Ibrahim. Tapi qodarullah, semua anak lelaki Rasulullah meninggal saat masih kecil. Mungkin ini cara Allah menunjukkan bahwa Nabi Muhammah adalah nabi yang terakhir.
4. Khadijah adalah orang pertama yang masuk Islam.
Beliau yang paling tahu apa yang dialami Rasulullah ketika pertama kali menerima wahyu. Dan beliau percaya dengan ajaran yang dibawa suaminya dan segera masuk Islam.
5. Khadijah itu perempuan super.
Rasulullah tidak pernah ta’adud (poligami) selama menjadi suami Khadijah. Ini karena semua kebutuhan Rasulullah dipenuhi oleh Khadijah. Walaupun cuma 1 orang , beliau seperti layaknya 4 istri. Jangan ditanya bagaimana kesetiaannya, kecerdasannya, cara mendidik anak, dan selalu ada saat dibutuhkan Rasulullah.
6. Khadijah meninggal dunia di usia 65 tahun.
Sejak diangkat menjadi Rasul, kehidupan Nabi Muhammad dibuat Allah menjadi miskin. Harta yang ada habis untuk dakwah dan Khadijah tidak pernah sekali pun protes. Khadijah mulai sakit-sakitan sejak terjadi blokade terhadap orang Quraisy selama 3 tahun, hingga akhirnya meninggal dunia. Saking sedihnya Rasulullah, tahun kematian Khadijah disebut Amul Huzni (tahun kesedihan).
7. Khadijah merupakan istri yang paling disayangi Rasulullah.
~ Aisyah sampai cemburu saat Rasulullah menyebut-nyebut nama Khadijah, berbuat baik dengan teman dan saudara Khadijah. Padahal Aisyah belum pernah bertemu Khadijah.
~ Rasulullah pernah bermalam di makam Khadijah hanya untuk curhat dan menangis seusai pembebasan kota Mekkah.
“Ya, Khadijah, kamu benar. Allah telah menunaikan janjinya seperti yang kau katakan dulu.”
Ketika sedang berjuang menyebarkan Islam, Khadijah pernah meyakinkan Rasulullah bahwa Allah pasti akan memenangkan agama Islam.
~ Rasulullah menangis ketika melihat kalung Khadijah akan dijadikan tebusan Zainab untuk suaminya, Abil Ash. Beliau meminta sahabat untuk membebaskan menantunya itu dan membiarkan kalung Khadijah kembali pada Zainab. Melihat barang milik Khadijah, membuat Rasulullah mengingat semua kenangan manis saat bersamanya.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia



Sabtu, 20 Juni 2015

Angeline, Bidadari yang Malang

09.38 0 Comments
Selama sebulan terakhir media nasional dipenuhi berita tentang Angeline, gadis cantik 8 tahun yang kisah hidupnya tragis. Terlahir di Bali dari pasangan suami istri asal Banyuwangi yang ekonominya pas-pasan. Bapaknya buruh bangunan, ibunya pramuwisma. Karena tak sanggup membayar biaya persalinan di klinik, sang bayi pun berpindah tangan. Diadopsi pasangan bule dan perempuan lokal.

Nasib gadis berwajah cantik itu sangat tragis. Sejak sang bule meninggal, kisahnya bak Cinderella lengkap dengan dua saudari angkatnya. Setiap hari diberi tugas memberi makan binatang peliharaan sang ibu angkat yaitu ayam, anjing, dan kucing. Tubuh semakin kurus, bau tak sedap selalu tercium dari baju sekolahnya yang lusuh. Dan yang paling nelangsa, Angeline yang dilaporkan hilang sejak pertengahan Mei, akhirnya ditemukan sudah tak bernyawa 3 minggu kemudian. Jenasahnya ditanam di halaman belakang rumah sang ibu angkat yang (katanya) seorang psikopat.

Ya, Robb, hujan air mata negeri ini. Mulai dari penyidik, wartawan, artis, sampai masyarakat awam pun menangis saat berita ini terkuak. Begitu kejamnya orang-orang di sekitar memperlakukan sang bidadari mungil ini. Apa sih motifnya? Apa pun itu, seorang anak yang belum dewasa harusnya disayang dan dilindungi. Bukannya diperlakukan tidak manusiawi, disuruh mengerjakan pekerjaan orang dewasa, dan tidak diberi makanan yang layak.

Kekerasan terhadap anak-anak sebenarnya sering sekali kita jumpai di sekitar kita. Upaya pencegahan sebaiknya dimulai dari yang terkecil, dari diri kita sendiri, dan mulai dari sekarang. Belajar menjadi orang tua yang baik dan sholeh. Bersikap peduli terhadap kekerasan yang terjadi di lingkungan terdekat kita, dengan cara menegur dan mengingatkan.


Kita semua pasti tak mau ada kekerasan terhadap anak yang berujung kematian di negeri ini. Sudah cukup kisah Arie Hanggara puluhan tahun lalu. Dan semoga kasus Angeline ini, menutup kisah tragis kekerasan terhadap generasi penerus bangsa ini. Beristirahatlah dengan damai, wahai Bidadari cantik. Kehidupan di dunia ini terlalu kejam untukmu. Bermainlah sepuasnya di taman surga dengan senyum manismu.





Jumat, 22 Mei 2015

Mengenang Oom Pepeng

12.59 0 Comments
Pagi itu, 6 Mei 2015, saya lagi maen ke rumah teman. Sambil utak atik hape saya liat ada yang BC tentang berpulangnya komedian Ferrasta Soebardi alias Oom Pepeng. Innalillahi wainnailaihi roji’un...rasa penasaran membuat saya browsing sana sini hingga yakin memang itulah kenyataannya. Selain dapat kepastian, saya juga nemu tulisan Mbak Helvy tentang Oom Pepeng seperti ini:

Betapa Indah Cara Allah Mencintaimu

Sungguh indah cara Allah mencintaimu
Ia menghadirkanmu ke dunia lewat rahim seorang ibu yang bersahaja, dan kekal dengan tawakkal
Ibu yang menjadikan anak sebagai sahabat, guru, dan matahari
Ibu yang sanggup hadirkan sosok dan petuah ayah yang tiada lewat cerita
Betapa indah cara Allah mencintaimu
Ia beri sifat jenaka yag menjadikanmu sang penghibur dalam segala musim dan cuaca
Maka tawa yang kau cipta membuat hidup sekitar lebih bermakna
Allah mencintaimu
Ia beri ketinggian nalar dalam mencerna
Kau pun masuk ke dalam buku-buku tanpa pretensi dan selalu kembali sebagai orang yang mengerti dan memberi pengertian

Begitu indah cara Allah mencintaimu
Ia anugerahkan ketenaran nan memancar
Agar berlimpah rizkimu
Agar tiap orang mengenal sosokmu hingga ke jari-jari mereka
Lalu tiba saat yang tak akan pernah kau lupakan itu
Ketika Allah memberikan sakit yang mengiris-iris, perih dan nyaris membuatmu tak berdaya : multiple sclerosis
Mengapa?
Mengapa saya?
Mengapa tidak?
Pertanyaan-pertanyaan yang kau jawab sendiri
Di dalam kamar putih lengang pasi
Mungkinkah dalam sakit ada sesuatu yang lebih berharga dari yang pernah dikira manusia?
Begitulah. Kau sakit namun dalam sakitmu yang divonis langka, parah dan menahun
Kau menjelma orang yang membaca lebih banyak
Kau mengamati lebih detail, merasakan lebih dalam bersabar tanpa lagi kenal tepi meski kau hanya bisa terbaring

Namun begitulah cara Allah mencintaimu
Dalam sakit Ia bahkan menjadikanmu lebih banyak jalin silaturahim
Orang berbondong-bondong mengunjungimu untuk berbagai alasan
Mereka ingin menghibur namun mereka yang kau hibur
Mereka ingin menyemangati, namun mereka yang tersemangati
Mereka ingin memberi informasi tentang dokter, tabib, dan obat bagi penyakitmu tapi kau menjelma penyembuh paling mujarab bagi jiwa-jiwa yang lalai, luka, dan hampa syukur
Bahkan di antara berbagai suntikan, luka-luka nganga, darah, dan nanah kau masih sempat berpikit tentang keadaan sekitar, tentang bagaimana memberdayakan masyarakat negeri ini dan mencari cara menghapus lara mereka
Allah telah memberimu daya yang membuat kamu terperangah
Maka percik-percik cahaya kisahmu pun menjelma inspirasi tanpa batas

Begitulah cara Allah mencintaimu
Dengan menguji dan mengasahmu hingga kilau sampai tiba masa berjumpa kelak tapi yang pasti, seperti katamu
"Sebelum ajal pantang mati!"
Maka duhai,
Betapa indah cara Allah mencintaimu
Dia karuniakan empat Mohammad sebagai cahaya mata dan sukma
Dan untuk menjagamu selamanya
Ia tak kirimkan pendamping dari kalangan biasa tetapi seorang bidadari yang dalam dirinya berpadu ketulusan Maryam, serta cinta dan kecerdasan Aisyah
Bidadari yang tertidur setelah yakin kau lelap dan bangun sebelum kau terjaga diselimutinya kau dengan doa-doa yang tak henti getarkan langit
Begitu indah cara Allah mencintaimu
Begitu indah... sampai di airmataku

(Helvy Tiana Rosa, Perjalanan Rawamangun - Depok, 26 November 2014)

Masya Allah, bagus banget puisi Mbak Helvy. Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu pernah berkunjung ke gua Oom Pepeng di Komplek Bumi Pusaka Cinere Jl. Bumi IX no. C 98, Cinere, Depok. Orangnya baiiik banget. Semangat hidupnya luar biasa! Dalam kondisi sakit masih tetap bercanda, masih memikirkan orang yang nasibnya kurang beruntung, bahkan melanjutkan kuliah S2 Psikologi di UI.

Oh ya, waktu itu saya datang bersama Komunitas IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) Jakarta plus foundernya, Teh Indari Mastuti. Juga Teh Lygia (yang waktu itu masih jadi marcom IIDN) yang sudah lebih dulu kenal Oom Pepeng. Kami membawa surat cinta dari ibu-ibu IIDN yang ditulis dalam rangka ulang tahun Oom Pepeng. Saat menyerahkan segepok print out surat cinta itu, beliau berkata akan membacanya nanti. Tapi ketika dalam perjalanan pulang ke Bandung, Teh Gia dan Teh Indari sudah di bbm Oom Pepeng. Beliau senang dan terharu, meski baru membaca sebagian surat-surat itu * hmmm...termasuk surat saya yang cuma selembar itu nggak ya?

Meski bertemu sekitar 3 jam, tapi kesan mendalam saya rasakan hingga detik ini. Saya ingat bagaimana beliau menyapa saya sambil membubuhkan tanda tangan di buku dan tersenyum, “Kamu mau pulang juga?” Ketika itu kami berpamitan untuk pulang, seusai sholat Maghrib di rumah beliau. Bener kata Mbak Helvy, harusnya kita yang menghibur beliau, eh...malah beliau yang menghibur dan menyemangati kami.

Bahagianya saya bisa bertemu dan mengenal Oom Pepeng. Dari beliau, banyak pelajaran hidup yang bisa diambil. Bahwa manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di dalam hidupnya. Oom Pepeng divonis menderita MS di usia 50 tahun. Bahwa manusia harus bisa berdamai dengan kondisi yang tidak diharapkannya. Meski sakit beliau tetap berpikir dan melakukan hal positif. Bahwa kita tak perlu mengeluh pada semua orang tentang apa yang kita rasakan. Sebenarnya beliau merasakan nyeri luar biasa di sekujur tubuh hingga insomnia tiap hari. Bahwa hidup ini hanya sementara, semua yang bernyawa pasti akan mati dan kembali kepada-Nya.

Beberapa saat sebelum Oom Pepeng meninggal sang begawan puisi, Sapardi Djoko Damono, sempat membuatkan puisi yang rencananya akan dijadikan buku antologi bersama sahabat-sahabat Oom Pepeng lainnya. Inilah puisinya:

Empat Kwatrin Buat Pepeng

Hidup kita ini, kata Pak Kiai
Adalah sekeping uang logam
Satu keping tapi dua sisi
Selalu serasi, tak salah paham

Nasib kita ini, kata Pendeta
Susul menyusul siang dan malam
Dua-duanya disaput rahasia
Kadang terbuka, kadang terpendam

Takdir kita ini, kata Pak Guru
Memang tak mudah dipantau
Kadang pasti seperti dipaku
Kadang bagai angin mendesau

Ingat selalu perangai air, kata Penyair
Meskipun begini, tetap saja begitu
Dari hulu mengalir ke hilir
Berkelok terjun, menuju
Yang Satu

Selamat jalan, Oom Pepeng, kami semua mengenangmu sebagai orang yang baik. Dan insha Allah surga sudah menantimu.

Oom Pepeng, Irhayati Harun, dan saya

Bersama founder IIDN, Teh Indari Mastuti


Selasa, 21 April 2015

Ibu Mertuaku, Sang Ekonom Handal

22.29 0 Comments
Perempuan yang melahirkan suami saya bernama Ratidjah. Perempuan desa yang hanya lulus Sekolah Dasar. Tapi jangan ditanya kehebatannya dalam menjalani peran sebagai istri dan ibu bagi keenam anaknya. Sejak muda sudah harus mendampingi suami yang menjabat sebagai Kepala Desa. Aktif di berbagai kegiatan ibu-ibu di tingkat desa, kecamatan, bahkan kabupaten.

Keenam anaknya diasuh sambil tetap aktif berorganisasi. Karena itu bila tidak ada kegiatan keluar rumah, waktu dicurahkan untuk keluarga. Membuat masakan ala kampung yang super lezat, sampai-sampai keenam anaknya selalu merindukan masakan dari tangan Ibunya hingga dewasa. Ketika Lebaran atau pertemuan keluarga, pokoknya masakan Ibulah yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya.


Saat baru melahirkan anak pertama dan menumpang di rumah mertua, saya sempat merasakan kecerewetan beliau. Tidak boleh makan ini itu, tidak boleh melakukan ini itu, karena baru melahirkan. Sebagai ibu baru, saya sempat berpikir, “ Ih, cerewet banget sih, emang Ibu itu dokter. Tahu mana yang boleh dan tidak boleh untuk perempuan yang baru melahirkan.”

Tapi seiring berjalannya waktu, saya semakin menyadari bahwa itu adalah tanda kasih sayang dan perhatian beliau pada kami. Semakin lama saya semakin mengenal dan bisa memahami karakter Ibu. Beliau berbicara dengan suara keras, tapi hatinya lembut. Beliau juga sangat keras dalam mendidik anak, hingga keenam anaknya berhasil dalam pendidikan dan karier.


Satu hal yang saya perhatikan dari Ibu adalah kelebihan beliau dalam hal pembukuan dan hitung menghitung. Beliau punya buku batik kecil memanjang yang berisi catatan keuangan. Semua hal yang berhubungan dengan keuangan komplit tercatat di sana. Mulai dari pemasukan dan pengeluaran harian, biaya pengolahan sawah dan hasil panen, sampai hutang piutang dengan orang lain. Termasuk hutang saya kepada beliau, hahaha…

Dalam satu buku berisi catatan keuangan selama satu tahun. Dan buku-buku yang sudah terisi penuh beliau simpan dengan rapi. Jadi kalau ingin tahu tentang keuangan di tahun sekian, tinggal dibuka saja. Wow…saya terkagum-kagum dengan kelebihan beliau yang satu itu. Bahkan suami dan kakaknya sering bercanda, “ Ibu itu kalau dapat gelar sarjana pasti gelarnya Sarjana Ekonomi.” Hahaha…benar juga.

Ibu sering mengingatkan pada anak perempuan dan menantu perempuannya untuk selalu rajin mencatat pemasukan dan pengeluaran keluarga. Menurut beliau itu penting, karena manusia tempatnya salah dan lupa. Kadang ditegur suami, kok uang yang diberikan cepat habis. Nah, tinggal tunjukkan catatannya saja. Hmmm...pemikiran luar biasa dari perempuan yang tidak pernah merasakan bangku sekolah SMP.

Soal hitung menghitung, beliau juga canggih. Tanpa menggunakan kalkulator beliau bisa menghitung prosentase bunga bank dan harga-harga barang. Saat ngobrol dengan saya beliau sering bercerita sambil menantang kemampuan saya dalam berhitung. Misalnya, "Sawah yang di sana itu harganya sekian juta per rhu (itu satuan apa ya?), berarti semeternya berapa?" Tik...tok...tik...tok...*sunyi senyap. Itulah kerennya Ibu mertua saya.


Tulisan sederhana ini saya tulis khusus untuk orang yang sudah melahirkan, mendidik, dan membesarkan lelaki yang saya cintai. Saya sudah menganggap beliau seperti ibu kandung saya sendiri. Saya tidak pernah sungkan bercerita apa saja dengan beliau. Kepada suami, saya juga sering mengingatkan, bahwa seorang ibu adalah tanggung jawab anak lelakinya. Karena itu saya sering meminta suami untuk membantu di saat Ibu membutuhkan sesuatu. Semoga Ibu selalu sehat dan bisa terus beraktifitas mengurus kebun dan ternak-ternaknya.


Senin, 22 Desember 2014

Sosok Pengganti Ibuku

21.49 1 Comments
Alhamdulillah, saya terlahir sebagai anak bungsu dari 6 bersaudara. Itu membuat saya bisa belajar banyak dari kelimanya ketika memutuskan untuk menikah. Ya, jujur saya sering meniru gaya mereka dalam menjalani rumah tangga. Mulai dari cara berkomunikasi dalam keluarga, maupun cara membimbing anaknya hingga ada yang pinter ngaji, jago main musik, jago nyanyi, dan lulus sarjana.

Dari kelima kakak, saya merasa paling “dekat” dengan kakak kelima. Umur kami selisih 2 tahun. Mungkin karena sama-sama perempuan, jadi saya bisa leluasa curhat padanya. Sejak menikah, secara fisik jarak kami semakin jauh. Tapi komunikasi tetap lancar dan kami saling mengunjungi bila ada kesempatan.

Kadang saya kesal, kenapa sih bakat memasak almarhumah Ibu tidak menurun ke saya. Kedua kakak perempuan saya jago masak. Sementara saya hanya pinter menjahit pake tangan. Almarhumah Ibu itu multi talent, masak oke, menjahit pinter, bikin kreasi untuk seserahan jago. Makanya, kalo pas saya berkunjung ke rumah kakak, saya minta dimasakin ini itu. Nginep di Bekasi seminggu bisa naik berat badan saya.

Berhubung kakak kuliahnya di ilmu kependidikan, saya sering menirunya dalam mendidik ketiga anak saya. Misalnya tidak mengharuskan mereka jadi rangking 1 di kelasnya karena tiap anak punya kecerdasan masing-masing. Memberi reward sesuatu yang sederhana dan bermanfaat. Misalnya kalo dapat nilai 10 waktu ulangan di sekolah, dapat es krim. Sampai-sampai si sulung pernah berkomentar, “ Ih, Ummi kok niru-niru Budhe sih?”

Iya, saya memang sering meniru dia. Menurut Pak Jamil Azzaini dalam bukunya, “Tuhan, Inilah Proposal Hidupku”, harus ada mentor dalam hidup kita. Yaitu orang yang punya kelebihan 4 ta ( harta, tahta,kata, dan cinta) dibanding kita. Dan saya sudah mantap menjadikan kakak saya itu sebagai mentor hidup saya.

Di mata saya, kakak adalah sosok perempuan yang cantik, cerdas, lembut, penuh kasih sayang, dan selalu positif thinking. Persis seperti sosok Ibu kami. Sejak SD sampai kuliah selalu rangking 1. Dia multi talent, main gitar bisa, olah raga oke, masak juga jago. Selalu jadi kesayangan murid-murid di tempatnya mengajar karena sangat telaten. Di rumah, apalagi, selalu jadi primadona keluarga. Ketiga anaknya sering bilang, pengin home schooling sama Mamanya aja. 

Si bungsu saya ketika mau diajak pindah ke Jawa pernah berujar, "Aku nggak mau pindah, aku mau ikut Budhe aja di Bekasi." Pernah juga, si bungsu liburan di Bekasi, nggak mau diajak pulang ke Jakarta. Itu karena Budhenya sangat sabar mengurusnya. Di Hari Ibu tahun ini, saya ingin menuliskan sosoknya di blog saya. Saya ingin dia dan semua orang tahu, bahwa saya menyayangi dan menghormatinya.


Ditulis dengan penuh cinta dan kerinduan. I miss you, Mbak. Tunggu kami di Bekasi ya…

kenangan jalan-jalan di Kota Tua