Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Klepto...Oh...Klepto...

09.17 2 Comments
Malam itu Nabila cerita kalo hampir semua teman di kontrakan pernah kehilangan uang, kecuali dia. Saya sih cuma komen, “ Lha iya lah, wong kamu nggak pernah punya uang.” Hahaha...kita berdua ngakak bareng. Waktu itu kami berdua ngobrol soal tuyul yang ternyata di jaman milenium ini masih ada. Soalnya banyak banget teman FB saya yang posting kalo isi celengannya nggak sesuai perkiraan. Terutama, banyak uang merah dan biru yang raib.

Sepekan kemudian, Nabila cerita, kalo dia telat pulang karena ada sebuah peristiwa unik dan langka di kontrakan. Jadi begini, malam sebelumnya, ada teman KKN Dea ( teman sekontrakan plus teman dekat Nabila), datang ke kontrakan. Mereka maksa untuk membongkar isi lemari Dea, karena curiga banyak barang yang hilang selama KKN.

Dan terjadilah kehebohan itu. Saat dibuka lemari Dea, banyak ditemukan barang-barang milik temannya yang hilang. Bahkan ada laci yang isinya aneka make up mahal. Wow...malam itu juga Dea langsung diinterogasi. Mau tau reaksinya? Ekspresinya tenang, diam, nggak ada penyesalan, bahkan nggak ada kata maaf. Yang bikin Nabila nyesek, selama ini dia paling dekat dengan Dea. Pernah dikasih lipstik dan dompet, bahkan sering ditraktir makan. Saya cuma bisa nasehatin,” Yaudah, buang aja lipstiknya. Soal traktiran, karena kamu nggak tau, istighfar aja. Semoga Allah mengampuni kesalahanmu.”

Selama di rumah, Nabila terus memantau grup WA teman kontrakan dan cerita sama Emaknya. Ternyata esok harinya Dea langsung hengkang dari kontrakan dan nggak mau ngasih tau pindah ke mana. Mau menenangkan diri, katanya. Trus, Ibunya Dea juga marah-marah sama Mbak Ketua kontrakan, karena dianggap sudah menfitnah anaknya. Mungkin beliau lebih percaya pada laporan anaknya yang diputar balik.

Selama 3 tahun kuliah di UGM, Nabila menempati 3 tempat tinggal berbeda. Dan baru kali ini mengalami hal menghebohkan seperti ini. Apalagi di tempat terakhir ini sebuah kontrakan muslimah yang aturan masuknya lumayan ketat. Kata Mbak Ketua kontrakan, “Berarti tahun depan harus dites psikologi dulu ya, Bil.” Hihihi...iya, kali, Mbak.

Bagi yang masih awam, Kleptomania itu sebuah gangguan ketidakmampuan diri untuk mengambil barang milik orang lain. Bisa di tempat ramai seperti mall, bisa juga di tempat sepi seperti asrama. Entah apa pemicunya, yang pasti kalo ingin sembuh ya harus berobat ke dokter atau psikolog. Oh ya, selama tinggal di situ Nabila pernah kehilangan kamera. Padahal tuh kamera dibeli suami untuk keperluan saya kalo bikin buku masakan dan craft, hiks...Tapi ketika diinterogasi, Dea nggak ngaku kalo dia yang ngambil. Entahlah, hanya Dea dan Allah yang tahu, ke mana raibnya tuh kamera.


Kabar terakhir, Dea ditemukan di sebuah gerai donat sama Mbak-mbak kontrakan. Dia mau tanda tangan perjanjian, kalo dia mau ngganti barang-barang yang sudah dia ambil. Entahlah, semoga nggak bohong. Yang pasti anak saya, Nabila, nyesek banget, nggak nyangka orang terdekat di kontrakan, yang sering nyuruh dia ini itu, ternyata pengidap Kleptomania. Saya cuma bisa menyuruh anak saya untuk mengikhlaskan, memaafkan, dan mendoakan semoga dia segera sembuh.

gambar diambil dari Google

Rabu, 20 September 2017

Tahun Baru, Semangat Baru

12.50 0 Comments
Puji syukur kehadirat-Mu ya Robb. Saya dipertemukan dengan orang-orang baik, yang mengajak berhijrah. Saya jadi banyak belajar tentang Islam. Mulai belajar ngaji tajwid, belajar mengaenal angka Arab, bulan-bulan Islam, nama istri  dan anak Rasulullah, dan hal-hal lain yang saya belum tahu. Kadang malu, Hello ke mana aja Lu, Mbakbro? Kok baru jelang 50 tahun baru belajar mengenal agamamu. Segala sesuatu atau setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa diambil. Mungkin cobaan yang saya alami beberapa waktu lalu, inilah hikmahnya * ups, bikin kepo aja.

Jelang tahun Baru 1 Muharram 1439 H tiba-tiba ingat workbook Pak Jamil Azzaini yang berjudul "Tuhan, Inilah Prosposal Hidupku" dan pengin ngisi. Enaknya isinya diupload nggak ya? Tahun baru Masehi kemarin saya sudah buka kartu tentang Resolusi tahun 2017. Dan banyak resolusi yang terwujud. Sungguh Allah Maha Baik...

Bismillah, saya ingin memulai tahun baru ini dengan hal-hal yang baik dan positif. Saya ingin terus bertumbuh jadi pribadi yang sukses mulia. Hehehe...akhir-akhir ini suka liat video motivasi Pak Jamil jadi terpacu untuk jadi insan sukses mulia. Punya kelebihan 4 ta (harta, tahta, kata, dan cinta) dan mau berbagi pada sesama.


Pojok rumah, 20 September 2017



Sabtu, 05 Agustus 2017

Jagoanku Dikhitan

20.19 0 Comments
Kedua jagoan kami jarak umurnya 8 tahun. Dulu si Mas khitan di umur 10 tahun, saat naik ke kelas 5. Sementara si Adik maunya saat liburan naik kelas 6. Sebagai orang tua kami nurut saja, yang penting mereka sudah siap fisik dan mental. Saat melihat kalender, wow...ternyata pas libur sekolah sekaligus libur Lebaran, Abinya anak-anak hanya libur sepekan. Maka begitu nyampe rumah beliau langsung nanya si kecil.
“Bil, kapan mau khitan? Pokoknya dalam sepekan depan.”
“Hmm...yaudah tanggal 28 ya?”
“Oke, deh.”
Oke, fix, ya...Rabu tanggal 28 Juni.

Selasa malam, suami ngajak Nabil ke rumah sekaligus tempat praktek Pakdhenya. Kakak suami kebetulan dokter umum yang sudah biasa praktek khitan. Maksudnya sih mau ngobrol-ngobrol dulu, persiapannya apa, gitu. Eh, sama Pakdhe disuruh kihitan malam itu juga. Bukan Nabil namanya kalo nggak konsisten. Pokoknya harus tanggal 28, hehehe...yaudah lah.

Rabu pagi, semua sudah siap. Nabil berangkat ke rumah Pakdhe diantar Abi dan Mas. Saya nggak ikut, milih di rumah aja. Dulu waktu Mas khitan saya juga nggak ikut. Yang nganterin si Abi dan teman-teman Mas aja. Kata Abi, Nabil nggak nangis, nggak ngrepotin pokoknya. Usai khitan dengan metode laser, Nabil pake celana khusus dari Pakdhe. Waah...baru lihat model kayak gitu. Tapi ternyata saya yang kudet. Banyak Olshop yang jual celana dalem khusus khitan seperti itu, hehehe...

si ganteng Nabil

maen hape biar gak grogi

Pakdhe Budi in action

3 lelaki kesayangan


Oh, ya, sejak masuk SDIT Nabil terbiasa mandi sendiri, nggak pernah memperlihatkan aurat pada yang lain. Jadi ketika harus merawat luka setelah khitan, Abi dan si Mas yang bantuin.
“Mi, sembuh itu kayak gimana? Kering tuh kayak gimana?”
Si Emak pun gelagapan. Pas Abi dah balik Makassar, si Mas yang ngerawat. Bahkan nganterin kontrol ke tempat praktek Pakdhe. Alhamdulillah, ada untungnya juga umurnya jauh, jadi bisa ngerawat adiknya.


Setelah 10 hari, lukanya kering dan siap berangkat sekolah dengan nyaman. Oh ya, seperti Mas dulu, Nabil juga syukuran bagi-bagi nasi boks ke tetangga se RW. Yang namanya walimah itu khusus hanya untuk pernikahan, nggak ada istilah walimatul khitan. Tujuan syukuran untuk meminta doa agar Nabil diberi kesehatan,  jadi anak sholeh, dan bisa jadi penolong kedua orangtuanya di akhirat nanti. Aamiin...Sebagai orang tua, kami sudah plong bisa menuntaskan kewajiban kami. Selamat memasuki dunia remaja, Jagoanku...

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Sabtu, 07 Januari 2017

Tujuh Resolusiku di Tahun 2017

09.44 3 Comments
Seperti tahun lalu, jelang tahun baru 2017 saya corat coret membuat rencana resolusi di tahun mendatang. Tapi ada yang spesial kali ini. Berhubung dua bulan terakhir ini saya gabung jadi reseller produk busana muslimah itu tuh *nggak usah sebut merk. Maka membuat rencana resolusi kali ini adalah PR alias tugas wajib yang harus dikerjakan semua reseller, marketer, maupun leader. Wow...

Ini dia Resolusi saya di tahun 2017:

1.      Resolusi Ibadah
~ sholat wajib tepat waktu
~ rutin sholat Dhuha dan tahajud
~ rutin tilawah usai sholat Maghrib dan Subuh
~ rutin puasa Senin Kamis
~ sedekah nasi bungkus setiap Jumat
~ Qurban
~ Umroh

2.      Resolusi Family
~ lebih perhatian sama suami, anak-anak, dan mertua
~ menemani si bungsu belajar setiap malam
~ lebih baik dalam manajemen waktu
~ memasak sendiri setiap hari
~ berhemat demi uang kuliah dan sekolah anak-anak

3.      Resolusi Sosial
~ lebih banyak sharing ilmu ketrampilan pada orang lain
~ lebih banyak sharing ilmu bisnis pada teman-teman grup
~ rajin datang di majelis ilmu

4.      Resolusi Binis
~ omzet bisnis 50 juta/ bulan
~ komisi 5 juta/bulan
~ tetap bisa menjalankan 2 usaha (profit dan passion sama pentingnya sih)

5.      Resolusi Kesehatan
~ olah raga 3 X seminggu
~ banyak makan sayur dan buah
~ banyak minum air putih
~ kurangi kopi
~ kurangi gorengan (ingat kolesterol, Buk)

6.      Resolusi Piknik
~ lihat pameran Inacraft di Jakarta
~ mengunjungi suami di Makassar

7.      Resolusi untuk Diri Sendiri
~ rutin ngisi blog
~ baca semua buku-buku yang sudah dibeli tapi belum dibaca
~ tampil rapi, wangi, dan rutin ngecat rambut seperti keinginan suami

Oh ya, soal angka-angka itu, awalnya saya ragu-ragu, tapi Marketer saya kasih semangat. Resolusi itu kan doa dan harapan; permintaan kita kepada Allah, Sang Maha Pemberi. Yang penting kita berdoa dan berusaha, soal hasil serahkan pada Allah saja.

Dan karena mimpi itu gratis maka bermimpilah setinggi mungkin. Kalo cuma bermimpi omzet satu juta per bulan, maka semangat, usaha, dan kerja keras kita hanya akan sebatas  satu juta saja. Coba kalau kita menetapkan ingin omzet 100 juta, maka kita akan berusaha mengejarnya. Kalau pun tidak tercapai 100 juta, dapat setengahnya masih 50 juta, seperempatnya 25 juta. Beda kalau cuma menetapkan omzet hanya satu juta, kan? Oke deh, Mbak Marketer yang keren dan powerfull, saya nurut deh.

Tapi jujur saja kalau ditanya apa yang paling ingin terwujud di tahun 2017, saya ingin bisa ibadah Umroh. Saya ingin menumpahkan segala beban pikiran saya di depan Ka’bah. Saya ingin berdoa dan memohon ampunan di sana. Dua tahun terakhir kehidupan saya naik turun tajam seperti naik jetcoaster. Mungkin itu teguran Allah buat saya yang banyak dosa ini. Semoga dengan saya tulis di blog, banyak yang mengaminkan doa dan harapan saya di tahun 2017. Aamiin...

di tempel di depan meja kerja biar semangat

tabungan buat Qurban


#Resolusiku2017





Jumat, 05 Agustus 2016

Siapa yang Akan Pindah?

09.05 0 Comments
Hari ini, Kamis, malam Jumat Kliwon ada ular masuk rumah. Sebenarnya sejak pagi saya sudah merasa. Ketika mencuci piring ada suara krusak krusuk tas kresek tergesek sesuatu di bawah rak piring. Ketika saya intip, eh ada kepala nongol dikit. Saya panggil Fawwaz yang lagi asyik menikmati mimpi.
“Le, bangun bentar, kayaknya ada ular di bawah rak piring.”
Waktu dicari-cari anak lanang, binantang misterius itu ngumpet.
“Paling cuma kadal, Mak.”
Dia pun melanjutkan lagi mimpinya, jiah...

Siang hari tetangga ngasih tau kalau tadi pagi melihat ada ular di bawah mobil kami. Hmm, saya cuma manggut-manggut mendengar info dari beliau. Padahal dalam hati juga mulai deg-degan, berarti benar dugaan saya, ada ular masuk rumah. Berarti yang tadi pagi krusak-krusuk itu....ular.

Sore harinya saat masak di dapur, tiba-tiba Nabila teriak-teriak manggil adiknya.
“Dik...dik...turun sini, kayaknya ada ular masuk kamar Ummi. Tadi aku lihat ekornya.”
Fawwaz pun turun dari kamarnya. Dengan sigap menyiapkan sapu dan senter. Dan benar saja, saat diterangi lampu senter, ular itu jalan-jalan di kolong tempat tidur saya. Nggak butuh lama, ular bisa digiring ke depan rumah. Palu pun disiapkan untuk memukul kepala si ular. Thok...thok...thok...dalam hitungan detik, ular tewas di tangan anak saya.

Ah, jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat rumah ini baru setengah jadi, ada ular masuk lewat pintu dapur. Kata Pak Min, tukang bakso yang kerja di rumah kami, ular itu membawa pertanda. Bahwa akan ada orang yang pindah di rumah ini. Dan nggak lama setelah kejadian itu suami dapat Skep mutasi dari Kalijati, Subang ke Jogja.

Trus, ular kali pertanda apa ya? Siapa yang akan pindah? Saat ini ada 3 orang di rumah yang ada kemungkinan pindah. Pertama si Bebeb ganteng yang sejak Mei dinas di Makassar. Bisa aja beliau pindah ke Jawa. Kedua, Nabila yang lagi nunggu hasil tes beasiswa ke negeri sakura. Ketiga, Fawwaz yang lagi nunggu pengumuman ujian mandiri Unnes. Kalo ini mah cuma pindah dari rumah ke Gunung Pati, Semarang, karena kudu ngekost, hehehe...

Ular masuk rumah hanyalah firasat atau pertanda bagi orang yang tahu dan percaya. Apa pun itu saya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk keluarga ini. Manusia boleh punya banyak keinginan, tapi Allah yang paling tahu mana yang terbaik untuk ummat-Nya. Semoga dalam waktu dekat Allah tunjukkan semua itu.


Jumat, 29 Juli 2016

Kisah di Balik Foto Lama

10.07 0 Comments
Awal tahun saya bikin resolusi  mau rajin ngeblog. Qodarullah, sebulan kemudian tiba-tiba PC sekarat dan akhirnya saya pensiunkan. Ditambah kesibukan saya sebagai pengangguran yang luar biasa padat. Dilanjut 2 bulan lalu foto-foto di hape ke-delete. Maka sempurna sudah alasan saya untuk nggak nulis di blog.


Karena kasihan melihat istrinya tiap hari bermuram durja akibat nggak ada komputer, maka si Bebeb pun beliin saya laptop seken yang masih layak pakai. Hari ini, saya pindahin foto-foto lama dari penyimpan data yang selama ini dibawa Nabila ke Jogja. Hmm...tiba-tiba kok pengin nulis tentang kehidupan saya di Jakarta dulu yang penuh liku-liku dan mengharu biru * halah. Foto memang menyimpan banyak cerita. Rasanya nggak tahan pengin berbagi cerita. Bismillah, semangat...semangat...semangat...

Jadi begini, terutama bagi yang baru kenal saya, tahun 2009 saya memutuskan pensiun dini dari BUMN tempat saya menghabiskan waktu selama 17 tahun. Saya pun hijrah dari Kendal ke Jakarta. Semuanya berubah, ya...harus berubah. Saya yang biasanya ngantor nine to five sekarang jadi Upik Abu yang kerjaannya berkutat di seputar dapur, sumur, dan kasur. Nggak papa lah, lha wong niatnya mau ngurus suami dan anak-anak, full 24 jam. Saya sempat diketawain teman dan saudara. Mereka ragu bisa nggak ya saya menjalani kehidupan sebagai full time mom.

Enam bulan ngendon di rumah, saya mulai jenuh. Mulailah browsing di internet nyari kegiatan yang cocok dengan passion, cie...Wah, melihat foto-foto ini saya jadi sadar kalo ternyata saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Ibu macam apa saya ini , plakk * tampar mesra pipi sendiri.


ketemu Mbak Helvi di acara sang adik

kopdar IIDB Jakarta yg pertama


syuting O Channel with WSC

launching buku 101 Perempuan Menulis

workshop travel writer with Teguh Sudarisman

kopdar IIDB di Sarinah Plaza

jadi model di Nova Ladies Fair

workshop bikin boneka with Ndandut Doll


kopdar komunitas IIHC

ke pabrik teh Sosro

kopdar Komunitas Caem Nobar

ketemu Artika dan Baim

di acara milad Teh Pipit Senja

workshop nulis with Bang Aswi dan Teh Indari

touch of blue di acara Downy

gabung di FLP Jakarta angkatan 17 
workshop nulis with Asma Nadia

workshop nulis with Boim Lebon

maen ke goa (alm) Oom Pepeng

rumah baca Asma Nadia, Depok

Foto-foto di atas cuma sebagian saja. Wuih kebayang kan rempongnya saya. Oh ya, hanya bertahan 4,5 tahun saya hidup di rimba ibukota. Saya melambaikan bendera putih dan balik lagi tinggal di kampung. Nggak usah tanya alasannya. Adaaa deh. Banyak orang yang (lagi-lagi) menyesalkan keputusan saya dan ada yang bodoh-bodohin saya.

Saya jawab semua itu dengan senyuman. Asal tahu saja, saya tidak pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Rasulullah saja mengajarkan umatnya untuk hijrah, berkelana, atau travelling. Banyak pelajaran berharga yang kita dapatkan selama tinggal di tempat lain. Tambah saudara iya, tambah ngerti banyak budaya iya, tambah terbuka pikirannya juga iya. Coba perhatikan teman atau saudara kita yang pernah tinggal di luar negeri. Pasti lebih open mind.

Syukur alhamdulillah selama tinggal di Jakarta saya bertemu dengan banyaaak orang hebat. Dari merekalah saya belajar tentang hidup dan kehidupan. Sekarang saya tinggal ATM buah pikiran mereka. Sampai detik ini saya masih berhubungan dengan para mentor saya itu via media sosial. So, mari kita jelang usia 50 tahun dengan hidup lebih tenang dan lebih bisa memberi manfaat untuk orang lain. Semangat pagi!

Sabtu, 09 Januari 2016

Resolusi oh Resolusi

13.01 2 Comments
Selamat Tahun Baru 2016. Wah, baru nyadar kalo udah lama nggak pernah update blog. Biar nggak ketinggalan dan tetap kekinian, ikutan bikin resolusi untuk tahun 2016 ah. Kan hampir semua teman update tentang hal yang satu itu. Menurut Kang Dewa Eka Prayoga, sang mastah bisnis dan copywriting, resolusi dibagi jadi 7 area. Nah, pas banget dengan angka favorit saya 7. Makanya saya ngikutin cara Kang Dewa. Saya memang rada latah, suka ikut-ikutan gitu. Bukan anggota geng anti mainstream soalnya.

Dengarlah, Dunia, inilah resolusi saya...
1.    Spiritual => kembali bikin agenda ibadah kayak pas jaman ikut liqo’ dulu. Jadi jelas dalam sepekan berapa kali harus sholat dhuha, sholat tahajud, tadarus, puasa, dll. Sst...soal agenda ini biar jadi rahasia saya, mosok ibadah disebarluaskan.
2.    Family/ Realtionship => lebih perhatian pada suami dan ketiga anak. Belajar parenting lebih banyak ya, SW. Hidup lebih praktis, buang yang nggak penting.
3.      Social => menjaga Komunitas Kendal Crafter biar terus exist.
4.      Business => omset NaFa Souvenir harus mencapai 25 juta/ tahun.
5.      Health => treatmill rutin sepekan 3 x (Selasa, Jumat, Ahad).
6.  Leisure => jalan2 sama keluarga ke Jogja dan Malang. Ingat ternak modal dulu, SW. Entar senang2nya kalo dah sakses.
7.     Personal Growth => ikut kursus sulam pita, ikut kelas bisnis online yang bisa support, rajin posting di 2 blog 2 FP 2 Instagram, baca buku2 yang masih segelan.


Semoga semesta mendukung. Aamiin...

Senin, 21 September 2015

Perceraian dan Hijab

08.34 0 Comments
Hampir tiga tahun tak bersua, saya terkaget-kaget melihat penampilan Qi, sahabat Nabila. Saat SMP dulu Qi paling istiqomah, nggak pernah lepas jilbab kayak Nabila yang kadang labil, buka tutup buka tutup. Hari itu Qi pakai kaos agak pendek, celana panjang, dan rok mini di atas celana jeans-nya.

“Dia habis latihan dance.”
“Oh…”
“Sejak masuk SMA dia aktif ikut ekskul dance di sekolahnya.”
“ Berarti pas ngedance lepas jilbab dong?”
“ Iya lah. Sampai suka diledekin teman-temannya. Elu tuh kemarin jingkrak-jingkrak, hari ini kayak cewek alim aja. Ummi tahu nggak kalo Bapak Ibunya Qi udah cerai?”
“ Hah, cerai?”
“ Iya, dan sekarang keluarganya tercerai-berai. Adiknya yang masih kecil diasuh oleh keluarga saudaranya.”

Ternyata yang namanya perceraian itu dahsyat ya dampaknya. Untuk anak-anak, pasti, secara psikologis. Untuk para istri, iya juga. Yang saya amati ada beberapa artis Indonesia yang lepas hijab usai perceraian mereka. Sebut saja Tya Subiyakto, Tri Utami, Dewi Hughes, dan….Marshanda.

Entah apa yang ada di benak mereka hingga memutuskan melepas hijab. Bukan saya bermaksud menghina atau merendahkan. Sama sekali bukan, siapa sih saya, cuma sepatu teplek butut yang nggak punya Hak. Memakai hijab atau tidak itu urusan pribadi masing-masing muslimah. Cuma menyayangkan keputusan melepas sesuatu yang sudah dipakai selama beberapa tahun sebagai bukti ketaatan pada Allah.


Kembali ke soal Qi, saya cuma bisa mendoakan semoga setelah lulus SMA bisa istiqomah dalam berhijab. Memang berat beban hidup yang harus dijalani, Nak, tapi kembalikan semua masalah itu hanya pada Allah. Cobalah contoh Peggy Melati Sukma, usai bercerai malah pakai hijab syar’i plus dakwah ke mana-mana. Peggy dan Qi punya kesamaan: sama-sama cantik dan cerdas. Berarti harusnya Qi bisa dong…Maaf ya, anakku Qi, kalau Tante mendoakan seperti itu, itu karena Tante sudah lama mengenal kamu dan tentu menyayangimu sebagai sesama muslimah.

Kamis, 10 September 2015

Poligami Boleh, Asal...

09.26 0 Comments
Beberapa waktu terakhir ini teman-teman lagi ramai membahas tentang yang super sensitif yaitu Poligami. Hal ini tak lepas dari beredarnya film layar lebar berjudul Surga Yang Tak Dirindukan, yang bersumber dari novel karya Mbak Asma Nadia, Istana Kedua. Ceritanya tentang suami yang menikahi perempuan lain secara diam-diam. Ditambah lagi, muncul perempuan muda di FB yang memprovokasi para suami agar jangan puas tidur hanya dengan 1 perempuan. Duarrr…semakin rame nih dunia persilatan, hahaha…

Ngomongin soal yang satu itu emang bisa bikin para ibu kebakaran jenggot * eh tapi perempuan kan nggak punya jenggot yak? Pokoknya bisa bikin perempuan yang lemah lembut tiba-tiba berubah menjadi garang. Bahkan sampai terjadi pertumpahan darah demi mempertahankan suami tercinta dari perempuan lain. Wow…serem ya?

Menurut saya, Poligami itu sah-sah saja kok, Islam juga tidak melarang. Dalam surat An Nisa ayat 3 Allah jelas-jelas berfirman, “...dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.”

Tapi saya pribadi belum siap menjalani hidup berbagi suami dengan perempuan lain. Pertanyaan itu pernah disampaikan Nabila pada saya.
“Ummi, kalo misalnya Abi mau menikah lagi gimana?” Huaaa…pertanyaan macam apa ini, Nak? Sebagai ibu yang baik saya harus menjawab pertanyaan putri saya itu.
“ Ehm, begini, kalo misalnya Abi mau menikah lagi, Ummi memilih berpisah dengan Abi. “
“Kenapa? Kan dalam Islam boleh berpoligami.”
“Iya, Ummi rela dipoligami asal Abi bisa bersikap adil dan tahu aturan poligami.”
“Seperti apa contohnya?”
“Seperti nasehat Ustadz Arifin Ilham, bahwa lelaki yang memiliki 2 istri haruslah punya ilmu agama yang cukup dan istiqomah menjalani kebiasaan hidup yang islami. Contohnya menjaga wudhu, rutin sholat Dhuha dan Tahajud, rutin membaca Al Quran, dan seterusnya.”
“Lha emang Abi gimana?”
“Hhmm…gimana ya.” Nggak tega ngomongnya.
“Kalo Abi dah kayak Aa Gym atau Ustadz Arifin Ilham, Ummi mau?”
“Iya, insha Allah Ummi siap.”


Hidup adalah pilihan. Nggak usah ngurusi orang lain, belum tentu mereka mau kurus * hehehe…garing yak? Biar saja orang mau berpoligami, silakan, mau menentang poligami monggo. Ada keluarga yang poligami, nyatanya tetap bahagia. Ada yang poligami tapi nggak bahagia karena sang suami tidak adil. Ada yang nggak poligami, tapi tiap hari bertengkar terus * siapa ya? Yang diinginkan banyak perempuan ya nggak poligami dan hidup bahagia. Betul? *Aa Gym mode on.

Ini dia kompor-kompor itu:





Minggu, 07 Juni 2015

Ternyata Saya Bisa!

20.04 1 Comments
Kadang masih suka nggak percaya. Kok bisa ya, saya yang orangnya dulu minderan, susah ngomong, dan nggak gaul ini bisa jadi founder komunitas. Iya, di awal bulan Desember 2014 saya nekat mendirikan komunitas para crafter di Kendal dengan nama Kendal Crafter. Anggotanya para perempuan yang punya hobi bikin kerajinan tangan. Baik yang saat ini domisili di Kendal maupun orang asli Kendal yang saat ini tinggal di kota lain.

Lucu juga kalo ada yang tanya motivasi saya mendirikan Kendal Crafter (KC). Jadi gini,beberapa bulan sebelum saya pulang kampung ke tanah air tercinta, saya dilanda ketakutan hebat * serius. Nanti di rumah lama, teman saya siapa. Teman tempat kerja dulu jelas semakin sibuk dengan pekerjaannya. Dengan tetangga, saya nggak begitu akrab. Teman sekolah TK, SD, SMP, dan SMA pasti juga sudah menyebar ke berbagai kota.

Maka mulailah saya mencari nama teman di komunitas yang tinggalnya di Kendal dan Semarang. Kalo Komunitas IIDN jelas sudah ada korwil Semarang. Nha, kalo teman sesama crafter? Alhamdulillah, waktu ada beberapa komunitas yang juga membagi para crafter sesuai domisili. Saat nyari yang dari Kendal, ketemulah nama Lope Lope Craft. Ownernya: Nur Diana Aningsih. Dialah orang pertama yang saya inbox FB-nya.

Mulailah saya keluarkan jurus SKSD (sok kenal sok dekat). Ngenalin diri, curhat mau pindah ke Kendal, trus tanya tinggal di mana, bla...bla...bla...Terakhir bilang, “ Kalo dah pindah ke Kendal, nanti aku maen ke rumahmu, ya?” Jurus yang sama juga saya lancarkan ketika menemukan orang kedua yaitu Mbak El Qibty. Hahaha...norak banget pokoknya saya waktu itu.

Setelah benar-benar balik kampung ke Kendal, saya sibuk menenangkan diri sampai berbulan-bulan. Hingga akhirnya menjelang Ramadhan saya benar-benar bertemu muka denga Diana. Saya main ke rumahnya dan sempat beli gamis dagangannya juga * biar lebih akrab. Sementara Mbak El Qibty, malah dia yang datang ke rumah saya saat mau nganterin orderan ke Mbak Octa, sesama crafter. Hmm...tambah satu lagi teman crafter saya.

Dari hasil ngobrol sana sini lewat FB akhirnya kita janji ketemuan di Kolam Renang Tirto Arum tanggal 7 Desember 2014. Hanya dengan mengandalkan saling colek, terkumpullah 8 orang perempuan, para crafter Kendal yang luar biasa. Kelak di saat kita bingung menentukan tanggal berdirinya KC, temen-teman ini sepakat menjadikan tanggal 7 Desember, saat pertemuan pertama itu, sebagai tanggal berdirinya Kendal Crafter.

Lima bulan berjalan, anggota KC bertambah menjadi 30-an orang. Kami rutin bertemu setiap bulan, beranjangsana di rumah anggota, dan saling berbagi ilmu. Dan tepat di hari ulang tahun saya ke-44, taggal 10 Mei 2015, saya mengumpulkan teman-teman di Tirto Arum (lagi). Rasa haru menyeruak di dada, saya nggak ketakutan lagi karena nggak punya teman. Mereka adalah teman-teman saya, mereka kini jadi saudara saya. Mereka yang membuat saya yakin dan percaya diri bahwa ternyata saya bisa! Bisa mengawal mereka menjadi crafter yang lebih produktif. Semoga kita nanti sukses berjama’ah ya, Saudariku.


 
Pertemuan pertama, Desember 2014

Pertemuan Mei 2015

Sabtu, 25 Oktober 2014

Ih...Kecil-kecil Kok Kayak Preman

16.29 2 Comments
Beberapa waktu lalu di sosmed ramai berseliweran video bullying seorang anak SD oleh teman sekelasnya. Dalam video berdurasi 1 menit 52 detik itu, tampak seorang anak perempuan berjilbab berada di sudut ruangan dipukul dan ditendang oleh beberapa temannya. Hampir semua yang membully laki-laki, hanya tampak seorang teman perempuan yang ikut menendang.

Miris melihatnya. Beberapa teman blogger perempuan malah menangis melihat video itu. Membayangkan, seandainya anak mereka yang menjadi korban bullying temannya. Saat berdiskusi dengan teman sesama pengajar KI tentang bullying pada anak-anak, curhatan seorang teman cukup membuat saya terkejut.

Ternyata, putri teman saya ada yang pernah dibully teman-temannya. Sebut saja namanya Sasa, kelas 4 SD di sebuah SD swasta terkenal di Semarang. Suatu hari, seorang temannya mengajak ke kamar mandi. Sementara itu di dalam kelas teman lainnya memasukkan air cabe dan garam ke dalam botol minum Sasa. Sang Ibu yang seorang psikolog tentu tidak terima saat putrinya mengadu tentang bullying itu. Beliau menemui pihak sekolah dan meminta kasus ini diusut.

Yang membuat saya mengelus dada, tersangkanya ada 6 orang, semuanya perempuan. Mereka tidak suka dengan Sasa yang terlalu patuh dan taat peraturan. Dan ide memasukkan air cabe dan garam ke tempat minum itu mereka tiru dari sinetron. Yang membuat teman saya ingin menangis lagi, mereka ternyata juga menyiapkan tali. Untuk apa coba? Astaghfirullah hal adziim…

Melihat fenomena semakin maraknya anak SD yang suka melakukan kekerasan terhadap temannya, tentu membuat kita semua prihatin. Lalu salah siapa semua itu? Banyak orang yang menyalahkan gurunya. Sedang apa dan di mana sang guru saat bullying itu terjadi. Karena menurut beberapa sumber, kejadian itu berlangsung di mushola. Bapak Guru Agamanya ada, murid-murid lain juga tampak sedang mengerjakan tugas di lantai.

Ada lagi yang menyalahkan orang tuanya. Gimana sih cara mereka mendidik anak, kok jadi kayak preman gitu. Sebagian lainnya menyalahkan tayangan sinetron remaja yang isinya tidak mendidik sama sekali. Juga adanya game online yang sarat dengan unsur kekerasan. Oke, itu hasil pengamatan saya lewat komentar-komentar di bawah tayangan video itu.

Sementara di video lain yang judulnya Children See Children Do (https://www.youtube.com/watch?v=8AcWo3gbtBk), saya jadi mengangguk-anggukan kepala sendiri * seperti burung pelatuk. Ya, anak itu memang peniru ulung. Dia suka meniru apa saja yang dilihatnya. Di video itu tampak seorang anak kecil yang berjalan persisi di belakang orang tuanya. Saat si Bapak membuang sampah sembarangan, si Anak mengikuti. Saat si Ibu merokok, si Anak juga mengikuti. Ketika orang tuanya bertengkar sambil mengeluarkan kata-kata kasar, si Anak pun meniru. Ckckc...

Sudahlah, tidak usah saling tunjuk hidung mencari siapa yang salah. Jangan-jangan anak kita seperti preman karena kelakuan kita juga. Kita asyik nonton sinetron dan anak mengikutinya. Kita membiarkan anak mengakses game online yang isinya orang berkelahi hingga darah berceceran di mana-mana. Atau kita terlalu asyik dengan pekerjaan kita hingga tak peduli saat anak butuh perhatian dan bingung mencari solusi atas masalah yang dihadapinya.

Yuk, terus belajar agar jadi orang tua yang smart, panutan yang baik bagi anak-anak di rumah. Belajar dari pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain yang sukses mendidik anaknya. Tak ada sekolah formal untuk menjadi orang tua. Saat kita punya anak, saat itulah kita menjadi orang tua. Kalau ingin punya anak yang baik ya harus memulai dari diri sendiri menjadi orang baik. Jadi, yuk kita mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang paling kecil, dan mulai dari sekarang.


Selasa, 08 Juli 2014

Merawat Orang Tua

21.42 0 Comments
Hari itu, saya dikejutkan suara telepon. Dari kakak perempuan saya yang tinggal di Semarang! Katanya, “Tolong kamu cek, aku dapat kabar kalo tetangga kita dulu, Pak M, meninggal. Katanya bla…bla…bla…”

Tanpa menunggu waktu, saya meluncur ke kampung tempat tinggal saya dulu. Nggak jauh sih dari rumah saya sekarang. Lho kok sepi. Nggak ada tenda, kursi, atau bendera kuning seperti layaknya rumah orang meninggal dunia. Hanya ada police line di bagian pintu belakang * tanda tanya.

Saya balik badan dan segera saya buka FB. Ternyata beritanya sudah masuk beritakendal.com. Judulnya: Tinggal Sendirian, Ditemukan Tewas Membusuk. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Ternyata benar, itu Pak M, tetangga persis sebelah rumah saya dulu. Menurut berita itu, sejak hari Senin, Pak M yang berumur 60 tahun, mengeluh nggak enak badan sama tetangganya. Hari Rabu pagi, seorang ART yang mau belanja kebutuhan sehari-hari (oh ya beliau punya warung kecil di rumah) mencoba memanggil-manggil. Tapi, penghuni rumah tak jua muncul. Dia curiga karena mencium bau tak sedap. Segera ART itu meminta tolong tetangga untuk mengecek. Karena kesulitan, mereka pun lapor polisi.

Maka polisi pun datang untuk mendobrak rumah Pak M. Dan ternyata Pak M ditemukan di kamarnya sudah tak bernyawa. Televisi di kamar itu juga masih menyala. Jenasah segera dibawa ke RSUD Kendal untuk didiperiksa. Setelah terbukti tak ada tanda-tanda penganiayaan, jenasah dikuburkan sore harinya.

Sekedar info, istri Pak M belum 100 hari meninggal. Anak perempuannya ikut suaminya tinggal di Cilacap. Jadi, sejak istrinya meninggal, Pak M tinggal sendirian di rumah. Ketika saya datang takziah esok harinya, saya kok merasa si anak ini santai saja. Dalam arti ketika dimintai pendapat kerabatnya, malah mengatakan, “Terserah, saya manut saja. Saya repot. Minta pendapat saja sama kakak Bapak saja.” Mudah-mudahan penilaian saya salah. Bisa saja dia kecapekan karena perjalanan yang jauh dengan membawa 3 anak yang masih kecil-kecil.

Saya jadi ingat Ibu. Setelah Bapak meninggal, Ibu tinggal di rumah sendirian. Ibu kekeuh nggak mau ikut salah satu dari ke-6 anaknya. “Ibu mau di sini saja, nanti kalo Bapakmu pulang, gimana?” Kami mengalah, tak bisa memaksa Ibu. Kami pun patungan membayar orang yang mau nemani Ibu. Kejadian paling dramatis adalah ketika Ibu sendirian karena pembantu berhenti bekerja, kondisi Ibu pas drop. Kakak ipar menemukan Ibu dalam keadaan tidak sadar dengan badan belepotan * maaf Ibu mengalami pendarahan lambung.

Sebagai satu-satunya anak yang tinggal sekota, saya shock dan merasa bersalah. Sepulang dari rumah sakit Ibu langsung saya boyong ke rumah. Sejak itu kondisi Ibu benar-benar turun drastis, tak pernah sekali pun turun dari tempat tidur. Meski tinggal serumah, saya tak bisa merawat Ibu dengan tangan saya. Ada orang yang khusus merawat Ibu. Saat itu selain masih kerja kantoran, saya baru punya bayi. Tapi paling tidak saya merasa tenang, bisa melihat dan berbincang dengan Ibu setiap hari. Saat beliau tiba-tiba mengalami koma, saya sempat membacakan surat Yaasin di telinganya.

Ya, Allah semoga saat saya tua nanti, anak-anak mau merawat saya. Saya tidak ingin mengalami kejadian tragis seperti tetangga saya itu.