Tampilkan postingan dengan label tulis menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulis menulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 November 2013

Launching Buku “101 Perempuan Berkisah”

11.40 1 Comments
Tahun 2012 lalu, sebenarnya saya sudah bersumpah (dalam hati), bahwa saya tidak akan menulis buku antologi. Kecuali yang mengadakan penerbit keren. Bukan apa-apa, saya pengin naik kelas jadi penulis solo *tsahh…Tapi hati saya luluh juga saat ada proyek menulis untuk charity. Tujuannya untuk membantu kaum perempuan marginal, lagi. Langsung saja saya tunjuk tangan, ikuuut…

Tulisan opini saya yang dikumpulkan pada panitia, bersama dengan puisi, cerpen, dan kisah inspiratif karya 101 perempuan lainnya, akhirnya menjadi wujud buku di tahun 2013. Memang bukan perkara mudah, mengumpukan 101 macam tulisan dengan beragam tema dan bentuk. Yang paling pusing tentu editornya, si penulis buku serial Detektif Imai, Mbak Diah P Rinni. Eh, tapi dia kan dah pengalaman lama jadi editor. Jadi katanya prosesnya hanya satu bulan saja *prok…prok…prok…good job, Mbak Di.

Acara launching buku berjudul “101 Perempuan Berkisah” pun digelar hari Sabtu, 16 November 2013. Bertempat di resto Rempah Iting, Jl. Sunda no.7, samping Plaza Sarinah, Thamrin, yang letaknya agak masuk ke dalam. Tepatnya di belakang Harvest. Meski agak masuk, tapi suasananya cozy banget. Begitu masuk nuansa pink sangat terasa. Bayangkan backdrop warna pink, sampul buku pink, kaus yang dipakai hadirin juga pink.
sebelum acara dimulai, foto2 dulu

penampakan buku "101 Perempuan Berkisah"


Meski bintang tamu, Oki Setiana Dewi, batal hadir karena acara khitbah, tak mengurangi kemeriahan acara launching itu. Jam 11 acara dimulai dengan sambutan dari ketua panitia, Mbak Dwi Wuryan, dilanjutkan dengan bedah buku oleh ketua WSC, Mbak Deka Amalia, wakilnya, Mbak Ade, dan Mbak Diah selaku editor. Mendengar cerita di balik kelahiran buku “101 Perempuan Berkisah” itu memang tidak segampang membalikkan tangan. Tak heran buku itu prosesnya memakan waktu 1 tahun.

Buku itu sengaja diterbitkan secara indi, dengan berbagai pertimbangan. Panitia menjual buku setebal 375 halaman itu seharga Rp 79.000 dan seluruh hasil penjualan akan digunakan untuk proyek charity. Rencananya di hari Ibu nanti, WSC akan mengadakan bakti sosial pada perempuan marginal di Jakarta. Jadi acara launching ini baru langka awal menuju ke sana. Usai bedah buku, Mbak Tris Anova membacakan puisi karya Mbak Deka Amalia yang ada di buku itu.



Jam 12.00 sampai jam 13.00 acaranya ishoma. Resto Rempah Iting menjadi sponsor dengan menyediakan makan siang dengan menu nasi bakar iga. Wow, rempahnya terasa banget.Habis makan dilanjut dengan sholat Dzuhur. Mushola yang letaknya di seberang resto, membuat saya sadar kalau di luar ternyata hujan. Itulah yang menyebabkan saya terkantuk-kantuk di sesi berikutnya *penyakit lama, kalo habis makan pasti kenyang dan ngantuk.

Gimana nggak ngantuk, acara berikutnya adalah pesan-pesan sponsor. Alias satu per satu pihak sponsor mempromosikan produknya, mulai dari bank, asuransi, produk kecantikan, sampai CD lagu anak-anak. Makanya ketika ada sesi kuis, saya sama sekali tidak berminat. Pikiran saya sudah ke rumah, mengingat tadi pagi Nabil sudah menghitung berapa jam saya berada di luar rumah. Maafkan Ummi ya, Nak, kalau terlalu lama meninggalkanmu.


Akhirnya, jam 14.00 saya dan beberapa teman di sebelah, pamit pada panitia. Maaf ya, saya mendahului, saya sudah terlalu lama meninggalkan rumah, dari jam 08.00 loh. Tadi Nabil sudah menghitung, ”Jadi Ummi perginya 6 jam, ya?” Wah, kalau ditambah waktu nunggu dan naik Trans Jakarta, jadi lebih deh. Tapi, yang pasti hari ini saya senang, sudah bersilaturrahmi dengan teman-teman WSC, tambah ilmu, dan tambah teman. Ini salah satu cara “me time” versi saya. Semoga masih ada kesempatan untuk bertemu lagi di acara berikutnya.
foto bareng di akhir acara
secuil aku

Sabtu, 28 September 2013

Mendadak Jadi Editor

11.40 0 Comments
Hanya seminggu setelah ikut kelas editing online-nya Galaregia Project, saya dapat job. Hore…! Klien pertama saya tak lain putri saya sendiri, hihihi…Ceritanya, Nabila mau ikut lomba nulisnya Rohto *gubrak, emaknya aja minder denger lomba yang jurinya Naning Pranoto itu. Yaudah lah, sebagai emak yang baik saya terima pekerjaan itu.

Hmmm…pertama buka naskah saya langsung teriak, maklum saya di ruang tengah Nabila di kamarnya.
“Ini judulnya apa, Sayang?”
“Terserah Ummi aja deh. Baca dulu semua nanti baru dikasih judul.” Emak cantik mulai senyum-senyum.
Setelah saya baca keseluruhan barulah saya edit sesuai dengan ilmu yang baru saya dapatkan.
“Nama tokohnya boleh diganti nggak? Masak yang lain namanya Merry dan Michelle, kok satunya Yuni? Yang kerenan dikit lah, Yuki atau Yully, gitu. Jangan-jangan nama panjangnya Sri Wahyuni, lagi.”
“Enggak boleh diganti, pokoknya Yuni aja.”

Oke, deh. Beberapa kata dan kalimat sempat saya ganti. Masak, menggambarkan suara orang ketakutan kayak tikus mencicit. Kata Nabila, dia pernah baca penggambaran kayak gitu, tapi si emak cantik nggak terima. Ganti! Cara nulis paragraf juga masih berantakan. Percakapan banyak ditulis menjorok, seperti ganti paragraf baru gitu. Yang ini juga mesti dibenerin. Apalagi ya? Pokoknya ada deh yang saya ganti susunan kalimatnya karena nggak enak dibaca.

Setelah selesai proses editing, saya panggil Nabila. Tugas saya sebagai editor sudah selesai. Sekarang dia yang harus melengkapi syarat lainnya seperti biodata dan berbagai lampirannya. Yah…masih dapat tugas satu lagi, besok sebelum ke kantor pos mampir dulu ke mini market beli produk Rohto sebagai salah satu syarat. Oke deh, apa sih enggak buat anak Ummi yang paling cantik ini.
Sebelum saya masuk kamar karena sudah ngantuk berat, saya sempat nanya, “Kenapa sih namanya harus Yuni?”
“Itu kan nama teman sekelasku yang jahat.”

Gubrak, ternyata begini cara dia melampiaskan kekesalannya. Nabila pernah curhat ternyata ada beberapa teman sekelas yang nggak suka kalau Nabila jadi ketua kelas. Kelewat imut kali kamu, Nduk, hihihi…Nah, Nabila bilang kalau dia sering dibully sama teman-temannya itu, salah satunya bernama Yuni. Pas banget dengan cerita yang dia tulis, yaitu tentang adanya praktek bullying di sekolah.


Oke, deh, mudah-mudahan cerita kamu lolos jadi 10 besar. Amin. Kalau pun kalah juga nggak papa. Ummi acungi jempol buat keberanian kamu menjajal ajang nulis cerpen yang menurut Ummi tingkat tinggi alias nyastra banget. Good luck, My Daughter!


Selasa, 10 September 2013

(Akhirnya) Ketemu Bang Boim

20.46 0 Comments
Sudah lama saya pengin ketemu Bang Boim Lebon, penulis komedi senior yang baik hati dan imut (dibaca: item mutlak) itu. Alasannya simple aja, pengin menimba ilmu dari beliau. Saya tuh pengin banget punya buku bergenre komedi. Entah, apa motivasinya. Pokoknya pengin dan suka aja. Pernah sekali bikin novel komedi. Dikirim ke Penerbit Bukune, setahun kemudian baru dikasih jawaban: naskah ditolak! Hiks…* maklum masih garing, krik…krik…

Dan, ternyata Allah mendengar suara hati saya terdalam itu. Dijembatani oleh IIDN Jabodetabek, akhirnya saya bisa bertemu dengan beliau. Hore…! * joget-joget pake pom-pom. Hari Sabtu, 7 September 2013, jam 9 pagi (kurang dikit) dengan semangat membara saya naik Kopaja 57 ke Gedung KINDO, Jalan Duren Tiga Raya. Nyampe di TKP ternyata masih sepi, karena masih jam 9 lebih dikit. Di luar perkiraan, ternyata wilayah Kalibata nggak macet kayak biasanya.

Langsung nyari kantornya IIDN di lantai 3 nomer 303. Eh, ketemu Teh Lygia dengan pakaian serba ungu, seperti biasanya. Tak lama kemudian datang Tia Marty, Mbak Etty Budiharjo, Mbak Erma, dan Mbak Irhayati Harun. Walau yang datang cuma 6 ibu-ibu, acara tetap berlangsung. Kalau sampai batal, beneran saya mau nangis guling-guling di situ, hehehe…*lebay.

Kira-kira jam 11-an, Bang Boim datang berdua dengan istrinya. Saya dah pernah dengar sebelumnya dari teman-teman FLP Jakarta, kalau ngundang Bang Boim pasti satu paket. Ternyata benar juga. Begitu datang Bang Boim langsung memperkenalkan diri dengan membacakan biodata beliau di layar LCD. Dilanjut dengan sharing ilmu kepenulisan cerpen, novel, dan drama komedi. Ini dia yang saya tunggu-tunggu.

Menurut Bang Boim, ide menulis cerita komedi bisa datang dari mana saja. Bisa dari pengalaman lucu masa kecil, bisa juga dari memotret kejadian sehari-hari. Nah, kalo judul Bang Boim suka mlesetin judul film atau novel yang sedang booming saat itu. Lihat saja judul bukunya, ada Suster Ngepot, Cemburu Berdarah Dingin, dan Ayat Amat Cinta. Tahu, kan, itu plesetan film atau novel apa?

Karena itu, pasang mata dan telinga, cari tahu apa yang sedang trend saat ini. Mulai dari film, novel, atau berita yang sedang ramai dibicarakan orang saat ini. Cari sesuatu yang mirip dengan hal itu. Misal saat booming film Badman Begins, Bang Boim bikin novel Badman Bidin. Pokoknya cari yang kedengarannya mirip, gitu.

Hampir semua ibu-ibu yang datang mengeluh soal sulitnya membuat cerita komedi. Bang Boim sendiri mengakui, teman seruangannya saja sampai berkeringat sebiji jagung kalo disuruh membuat cerita komedi. Tips dari beliau, buat aja dulu ceritanya, nanti kita cari celah di mana dimasuki unsur komedi. Misal tokoh utama ganteng tapi oon kayak novel Sotoy, atau cerita percintaan, orang tua si cewek pendengarannya terganggu kayak Bolot, atau tokoh utama berbadan kekar tapi takut pada sesuatu yang kecil seperti kecoak.


Terakhir Bang Boim cerita, kalau beliau punya jam biologis menulis, yaitu setelah sholat Subuh dan sebelum berangkat kerja. Kira-kira 2 jam-an lah, setiap pagi. Rutin! Makasih banyak ya, Bang, sharing ilmunya. Bermanfaat banget. Dan mudah-mudahan setelah pertemuan ini saya jadi semangat membuat novel komedi lagi. Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin saya utarakan langsung, tapi saya nggak enak sama Mbak Ade, istrinya, hehehe…*apa seeeh? Saya cuma pengin bilang, “Bang Boim, maukah kau menjadi mentorku?”



Selasa, 03 September 2013

Anggota Tertua Yang Paling Eksis dan Narsis

22.11 0 Comments
Alhamdulillah, akhirnya saya diberi kesempatan bergabung di komunitas penulis paling populer di negeri ini yaitu Forum Lingkar Pena (FLP). Sudah lama saya memang ingin bergabung di komunitas ini. Saya takutnya di akhirat nanti, ada pertanyaan dari malaikat, “Dulu di dunia pernah gabung dengan FLP apa belum?” Hehehe…just kidding!

Di FLP Jakarta syarat menjadi anggota lebih mudah daripada di FLP Cabang lain. Tinggal bayar Rp350.000, ikut studium generale, datang di pertemuan rutin 12 kali, trus terakhir, ikut inaugurasi. Di FLP lain malah harus menyertakan karya sastra seperti cerpen atau puisi. Studium generale dilaksanakan pada tanggal 13 Januari 2013, jam 13.00 dengan pembicara Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik di Aula Besar Museum Mandiri, Kota Tua.

Sebulan dua kali, hari Minggu jam 10.00, kami para Pramuda FLP Jakarta Angkatan 17, mendengarkan kajian sastra dari para pakar di serambi masjid Amir Hamzah, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta. Saya merasa seperti emak-emak di tengah ABG. Memang iya…rata-rata teman saya masih kuliah atau baru lulus kuliah. Sementara saya dan Mbak Nuke sudah menikah dan punya anak masing-masing 3 dan 5.

Eits…jangan salah, biarpun sudah berumur, kami berdua dinyatakan sebagai peserta terbaik kedua dan ketiga, loh. Kalau terbaik pertama, Isti memang hebat. Bahasa Inggrisnya cas cis cus, pernah jadi nominator lomba menulis internasional, jago bikin puisi, jago story telling, dan apa lagi ya…pokoknya hebat deh. Lha, saya sama Mbak Nuke? Nggak salah tuh panitia milih kita berdua?

Apa karena saya dan Mbak Nuke pernah nraktir para senior makan siang di kantin TIM waktu itu ya? Hehehe…Tapi yang pasti kita berdua memang rajin datang di pertemuan rutin. Saya kayaknya cuma bolos satu kali deh, waktu pertemuan di Taman Ayodya, sekitar Blok M. Habis, jauh sih *ngeles. Kalau Mbak Nuke nggak pernah bolos kayaknya, kalau datang telat pernah sih * itu mah biasa.

Ya, sudah lah, apapun keputusan para pengajar, saya terima saja. Tapi cukup jadi beban buat saya, karena itu artinya saya harus membuktikan kelebihan saya dalam bentuk karya sastra. Padahal ilmu saya masih cetek, belum ada apa-apanya dibandingkan para senior. Bahkan di kalangan teman Pramuda 17, saya juga termasuk pas-pasan. Dan, mudah-mudahan saya dipilih sebagai salah satu peserta terbaik bukan karena usia saya yang sudah tidak muda, jadi mereka sungkan dengan saya, hehehe…


Mau lihat bukti kenarsisan saya? Ini dia penampakan saya di acara inaugurasi di Kebun Raya Bogor, 25 Agustus 2013…

si manis jembatan merah

7 bidadari di tengah hutan

persiapan sebelum pentas

sertifikat plus hadiah berupa novel

liat kamera langsung pada bergaya