Tampilkan postingan dengan label Sillaturrahim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sillaturrahim. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Juli 2017

Menikmat Ikan Bakar di Kampoeng Rawa

08.43 0 Comments
Bila melewati jalan arteri Ambarawa menuju Jogja, kita akan menjumpai plang yang menunjukkan kawasan wisata apung Kampoeng Rawa. Tepatnya di Jalan Lingkar Ambarawa KM 03 Kec. Ambarawa, Kabupaten Semarang. Untuk mencapai lokasi kita harus melewati jalan beberapa meter dulu dari jalan raya. Dan dengan membayar uang parkir 15 ribu/ mobil, kita akan dipersilakan masuk.


Apa saja sih yang bisa nikmati di sana? Banyak...mancing ikan, terapi ikan, permainan anak-anak, atau mau naik perahu menikmati Rawa Pening juga bisa. Itu yang saya lakukan sesaat setelah tiba di lokasi. Cukup bayar 100 ribu untuk sewa satu perahu, yang bisa dinaiki 8 orang dewasa. Lumayan lama lho perjalanannya, sekitar 15 menit. Di tengah rawa kita bisa melihat karamba, orang sedang memanen ikan, juga tanaman eceng gondok. Kawasan itu merupakan daerah OVOP ( one village one product), dengan produk andalan ikan nila.




pemandangan di tengah rawa

Oh ya, kunjungan saya hari itu dalam rangka Halal Bihalal RT tempat tinggal saya. Jadi saya datang bersama rombongan orang sekomplek. Panitia memesan pendopo ageng Dewi Tara yang bisa menampung 200 orang untuk acara itu. Dengan uang sewa 750 ribu selama 4 jam dari jam 10 sampai jam 14. Padahal kami tiba di sana jam 8, jadi sambil menunggu waktu, kami naik perahu dan menikmati pemandangan yang ada.

Saya sempat meninjau rumah makan apung. Untuk mencapainya harus naik semacam perahu tambang yang dijalankan petugas. Semua ruang makan berada di atas air, di bawahnya dipasang drum-drum plastik, dan jalan antar dangau ada jembatan kayu. Saya menyebutnya jembatan goyang, karena kalo ada yang melewati di atasnya (apalagi orangnya padat berisi) jembatannya jadi goyang-goyang, rada ngeri euy...

fokus ke hiasan kukusannya ya...

jembatan goyang

jembatan tambang

Oh ya , ada beberapa meeting room yang bisa kita pesan bila ingin mengadakan acara di sana. Selain Pendopo Ageng Dewi Tara, ada Hall Apung ( muat 250 orang, sewa 500 ribu), Joglo Alit Kumambang (lesehan 70 orang, sewa 400 ribu), Lesehan Arjuna dan Semar ( lesehan 25 orang, sewa200 ribu). Info komplit tentang menu dan lain-lain, silakan dilihat di www.kampoengrawa.com aja ya...

Tepat jam 10, acara halal bihalal dimulai. Semua warga duduk lesehan di pendopo khusyuk mengikuti acara sambil menikmati bekal yang disiapkan ibu-ibu. Ada rujak, kerupuk goreng pasir, dan cemilan ringan seperti keripik. Usai mendengar tausiyah, tibalah saat makan siang. Wow...menunya nasi, ayam bakar, ikan bakar, oseng genjer, trancam, tempe tahu, sambel lalapan, dan kerupuk. Minumannya ada teh dan air mineral botol. Nikmat sekali makan bareng-bareng kayak gini. Saya pilih ikan bakar dan trancam...saat mo nambah trancam dan oseng genjer, wah...sudah habis tak bersisa. Kata ibu-ibu, oseng genjernya enak. Duh, jadi tambah penasaran...

Jangan komen no photo= hoax ya, maklum udara di sana dingin, bikin perut cepet empty. Jadi begitu tutup makanan dibuka oleh Mas-mas pramusaji, dalam hitungan menit meja prasmanan bersih tak bersisa. Hehehe...nggak ding, masih ada sisa ikan bakar jatah yang batal hadir, termasuk anak-anak saya. Adzan Dhuhur terdengar sesaat setelah kami usia santap siang. Sebagian warga ada yang pamit pulang duluan karena ada acara lain. Sebagian lainnya langsung menuju mushola, yang lagi-lagi melewati jembatan goyang, hehehe...Saya pilih duduk-duduk sebentar, biar makanannya turun * alasan nggak mutu.


Nah, setelah sholat Dhuhur, barulah saya dan rombongan semobil pulang. Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang kau dustakan? Alhamdulillah, untuk keseruan hari ini, semoga ada kesempatan jalan-jalan lagi bareng tetangga komplek, biar menambah kerukunan dan keharmonisan.

para lelaki

para emak2

sambutan ketua panitia

salam2an dulu yuk

maaf lahir batin ya...

trio macan (emak cantik), mekso...

Rabu, 02 Oktober 2013

Suatu Hari di Taman Suropati

20.37 0 Comments
Saya baru tahu, ternyata di Jakarta ada taman yang sejuk dan nyaman untuk sekedar bersantai ria. Hihihi…ketahuan nggak pernah jalan-jalan. Namanya Taman Suropati. Letaknya di daerah Menteng. Siang itu saya punya kesempatan datang ke sana, karena undangan dari komunitas penulis untuk ketemuan dan halal bihalal (kebetulan masih bulan Syawal).



Kami duduk santai di salah satu bagian trotoar. Terasa adem, karena banyak pepohonan tinggi di sekitar taman. Di sekitar kami banyak orang yang sedang berolah raga dan bersantai bersama keluarga. Di pertemuan itu kami hanya berbincang santai sambil memperkenalkan diri satu per satu peserta yang hadir. Sayang, suara para senior terganggu oleh suara gesekan biola.

para senior sedang berbagi ilmu

yang ini kok malah narsis foto2an


Ya, tak jauh dari tempat kami lesehan, ternyata merupakan tempat latihan biola. Mereka tergabung dalam komunitas Taman Suropati Chambers (TSC). Setiap Minggu pagi berkumpul di Taman Suropati untuk latihan bersama. Memang saya perhatikan, di sekitar kami duduk mobil satu per satu parkir, lalu keluarlah satu keluarga. Sang anak belajar biola, sementara kedua orang tuanya menunggui. Yang belajar bukan cuma anak-anak, ada juga remaja bahkan dewasa.



Kata teman saya, Mbak Nuke, dulu belajar di situ gratis. Tapi lama-lama seiring bertambahnya peminat, tiap peserta kursus biola harus bayar sekitar 150 ribu per bulan. Iya, sih, hari gini mana ada yang gratis. Semakin siang suasana semakin gerah. Oh, ternyata mau turun hujan. Saat terdengar adzan Dzuhur, gerimis mulai turun. Kami segera berlari menyeberangi jalan dan sampailah ke masjid Sunda Kelapa.



Kami istirahat sejenak untuk sholat, sambil menunggu hujan reda. Ternyata, jam 2-an masjid mau dipakai untuk acara akad nikah. Di tempat sholat pria sudah tersedia meja akad nikah yang sudah dihias bunga-bunga. Selesai sholat, kami duduk melingkar di serambi dalam masjid untuk melanjutkan pembicaraan tadi yang sempat terputus.

sebelum pulang, foto dulu di tangga masjid



Jam setengah tiga, acara ditutup. Sebagian dari kami, makan siang di depan masjid yang merupakan tempat jajan. Berbagai menu makanan di tawarkan mulai dari siomay, sate padang, bakso, rujak buah, dll. Saya sendiri tadi sehabis sholat sudah menikmati secobek tahu gejrot yang yummy. Jadi ya…pamitan dulu deh. Sampai jumpa lagi di sebuah taman yang asri di Jakarta. Eh, tapi di mana ya…

Selasa, 20 Agustus 2013

Cerita Mudik (Terakhir) Kami...bagian 2

14.03 0 Comments
Rabu, 7 Agustus 2013

Sesuai kesepakatan bersama, sore sehabis sholat Ashar, saya dan kedua kakak saya yang tinggal di Semarang ketemuan di bawah pohon kamboja. Ya, kami mengunjungi makam kedua orang tua kami. Ketika rombongan keluarga kami datang, Mas Win, kakak pertama saya sudah berada di makam dengan istri dan ketiga anaknya. Tampak pula Bulik Mamik, adik Bapak satu-satunya yang masih ada, berada di makam suaminya. Kami berdoa bersama dipimpin Mas Win. Tak lama kemudian rombongan keluarga kakak kedua datang.

Saat melihat pusara Bapak dan (terutama) Ibu, air mata rasanya sulit dibendung. Kangen dan sedih jadi satu. Apalagi saat ramadhan kemarin, saya pernah mimpi bertemu dengan mereka berdua. Rasanya seperti nyata, kami sekeluarga berbincang hangat, entah apa yang sedang kami bincangkan. Bapak, Ibu, maafkan kesalahan anakmu, maafkan kalau anakmu tak sempat membuatmu bahagia. Semoga kalian berdua tenang di sisi-Nya, mudah-mudahan kita nanti dipertemukan di surga-Nya. Amin.

makam Bapak

makam Ibu


Pulang dari makam, kami langsung menuju rumah Bulik Mamik untuk sungkeman. Suasana haru menyeruak saat kami (kakak pertama, kakak kedua, dan saya) bersimpuh di kaki Bulik kami satu-satunya itu. Sebelum pulang kami berfoto bersama di depan rumah. Oh, ya, Bulik tampak senang saat suami mengatakan kalau kami akan balik lagi tinggal di Kendal.

tiga saudara


Kami tiba lagi di rumah mertua pas adzan Maghrib. Alhamdulillah, menu buka puasa terakhir ini sangat....istimewa * Cherrybell mode on. Mbak Tri dan Mas Bayu membuatkan lontong tahu campur pesanan suami. Beberapa hari ini suami memang pengin banget makan tahu campur buatan Pak Amin, favoritnya. Tapi kami nggak tau lagi keberadaan Pak Amin, warungnya sudah tutup. Rasa sambal kacang buatan Mbah Kakung nggak kalah lezatnya dengan buatan Pak Amin kan, Beib...

Mbak Tri dan Mas Bayu juga bikin rica-rica menthok pesenan Dik Bambang, adik iparnya. Hihihi...dasar adik-adik tak tau diri, sukanya ngerjain kakaknya. Salah sendiri sang kakak pinter masak, baik hati, dan penurut. Maaf ya, Mbak, Mas *sungkem.

Tiba-tiba Mas Budi, kakak kedua suami mengabarkan kalo mau sungkeman malam ini. Tumben...biasanya, dia kan ke rumah keluarga istrinya dulu, baru pagi hari setelah sholat Ied sungkeman sama Bapak Ibu. Ya, sudah, kami nurut saja. Mas Budi kan yang paling sibuk, pasiennya mengalir nggak pernah berhenti.

Jam 8 lebih, barulah pasukan dalam formasi lengkap. Acara sungkeman pun dimulai. Satu per satu dari anak pertama sampai ke-5 (yang ke-6 nggak mudik), sungkem pada Bapak Ibu. Acara berikutnya, yang paling ditunggu anak-anak: bagi-bagi angpao. Hore...! Untuk mendapatkan angpao dari Mbak Tri dan Dik Tutik ternyata nggak mudah, perlu perjuangan. Bayangkan, anak-anak ditanya: siapa nama asli Mbah Kakung, Mbah Putri, bapaknya Mbah Kakung, bapaknya Mbah Putri, sampai siapa pacar Kak Shelvi. Hahaha...ada-ada saja.

sungkeman

lima saudara



Kamis, 8 Agustus 2013

Masjid di samping rumah, kalau sholat Ied, jamaahnya hanya untuk laki-laki. Yasudah...lagipula saya dan Nabila sedang berhalangan. Jadi acaranya hari ini hanya makan, tidur, dan menemui tamu yang masih kerabat dan saudara. Bapak kan dulu mantan Kepala Desa yang lama berkuasa. Saudara dari Bapak dan Ibu juga banyak, jadi tamu yang datang juga banyak.

Malam hari, suami mengajak saya mengunjungi teman seperjuangannya saat datang ke rimba Jakarta dulu, Mas Dayat. Kebetulan adik Mas Dayat, Imron, adalah teman SMA kami. Jadi kami berbincang hangat bersama malam itu. Tiba-tiba, suami ngajak pulang karena ada sms dari rumah, kalau Ibu ngajak silaturrahim ke rumah saudara-saudaranya.

Sempat bete karena harus menunggu Ibu yang masih nyiapin ini itu dulu. Saya pikir ketika sampai di rumah, Ibu sudah siap berangkat ke rumah saudaranya. Tapi kata suami, “Aku pulang kan ingin menyenangkan Bapak Ibu. Jadi ya nurut saja, apa mau mereka. Sabar, ya.” Sudah bisa ditebak, karena sudah jam 9, beberapa rumah yang kami kunjungi sepi, penghuninya sudah tidur. Beberapa, masih ada yang belum tidur, jadi kami sempat berbincang-bincang sebentar.

Jumat, 9 Agustus 2013

Rencana reuni dengan teman-teman SMA batal, koordinatornya masih berada di luar kota, di rumah mertua masing-masing. Jadilah suami tidur aja seharian. Saya sih, ngerjain kain felt dan katun yang saya bawa dari Jakarta. Alhamdulillah, jadi beberapa bros dan boneka felt karakter.

Menjelang Maghrib, Ibu mengajak kami ke rumah saudara-saudara Bapak. Dilanjut, setelah sholat Maghrib, ke rumah Kakak Ibu yang tinggal terpencar dari saudara lainnya. Anak-anak biasa memanggilnya Mbah Mami. Dia merupakan favorit anak-anak karena selalu memberi angpao paling banyak dibandingkan saudara Bapak Ibu lainnya, hahaha...

Pulang dari Mbah Mami, kami mampir ke alun-alun kota Kendal tercinta. Menikmati bakso dan mie ayam di pojokan, dilanjut ngajak para balita naik odong-odong berbentuk angsa yang menyala karena ada lampu di sepanjang rangka besinya.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Pagi, lagi asyik-asyik jahit kain, tiba-tiba Siti (teman SD sampai SMA saya), mengabarkan kalau di sedang berada di rumah Mas Budi. Anak sulungnya dikhitan. Saya dan suami segera menemuinya. Ngobrol-ngobrol sebentar, kami pun berpisah.

Tiba-tiba, datang kabar lagi kalau anaknya Yuni (keponakan yang pernah bekerja di rumah saya dulu), anaknya juga dikhitan. Uniknya lagi, ketika kami bersama Ibu mengunjungi rumah mertua Yuni, saya bertemu Siti. Oh, ternyata suami Yuni dan Siti saudara kandung. Anak mereka berdua dikhitan bareng, yang mengkhitan ya Mas Budi. Jadi....? Bingung, kan? Pokoknya, sekarang saya dan Siti ada hubungan saudara, meski jauuuuh. Titik.

Sebelum Maghrib, kami pamitan pada Bapak Ibu untuk balik ke Jakarta. Kami mampir dulu ke RSS, ke rumah Pak Dadang dan Pak Suko. Pada keduanya, kami mengutarakan niat kami untuk tinggal lagi di rumah kami. Alhamdulillah, sambutannya baik. Pak Dadang mau membantu kami mengecat dan memperbaiki bagian rumah yang rusak. Pak Suko yang sekarang bukan Pak RT lagi, tak sabar menunggu suami kembali ngumpul di gardu RT. Kalo cuma ngumpul boleh, kalo main kartu jangaaaan, Pak.

Usai sholat Maghrib di Masjid Agung Kendal dan makan mie ayam di pojokan, kami balik ke Jakarta. Selamat tinggal, Kendal tercinta, beberapa bulan lagi kami akan kembali ke sini. Seperti kata Pak Bibit Waluyo, bali deso, mbangun deso *halah.




Rabu, 14 Agustus 2013

Cerita Mudik (Terakhir) Kami...bagian 1

07.19 0 Comments
Sabtu, 3 Agustus 2013

Ini adalah mudik ke-5 yang mungkin juga mudik terakhir saya ke kampung halaman. Kenapa mudik terakhir? Karena saya dan suami berencana awal tahun 2014 akan balik lagi tinggal di kampung. Ups...nggak usah dibahas dulu, tunggu cerita pastinya aja nanti.

Mudik kali benar-benar seperti berada di Lost World* hihihi...lebay. Bayangin, saat berusaha lewat jalur pantura, selalu dialihkan petugas ke jalur alternatif. Awas kau, Pak Polisi, bikin kami nyasar nggak karuan. Kami harus melewati Sumedang dan Majalengka, sebelum akhirnya ketemu tol Palimanan. Mending kalo tengah kota, ini seperti lewat di sisi bukit atau gunung. Jalannya berkelok-kelok, naik turun, kanan kiri cuma ada sawah, ladang, dan hutan. Untung ada GPS di mobil, kami percaya aja meski medannya sulit. Bayangin, jalannya sempit dan rusak, nggak ada petunjuk jalan, lagi. Bahkan di GPS kadang terlihat posisi mobil di tengah lapangan hijau, bukan di jalan yang warnanya merah. Sampai saya berkomentar, ”Jangan-jangan, jalan ini sebenarnya nggak ada alias jalan horor.” Bukannya takut, Nabila malah ngakak mendengar komentar saya.

Alhamdulillah, pas adzan Maghrib, kami pas tiba di kota Tegal. Dan itu artinya, kami bisa mampir ke rumah Mbak Tri, kakak kandung suami yang tinggal di sana. Asyik...makan gratis. Mana Mbak Tri dan Mas Bayu, suaminya, sama-sama jago masak lagi. Maka dalam hitungan menit, es teh, sup jagung, bakwan jagung, dan tahu asin, tandas tak bersisa karena pindah posisi ke perut kami.

Kami sholat Maghrib dan istirahat sebentar, sebelum berlanjut ke kota Kendal tercinta. Sampai di rumah mertua tepat jam 12 teng! Dibanding tahun kemarin yang 30 jam, mudik kali ini lebih lancar. Kami berangkat dari Jakarta usai sholat Subuh. Coba hitung sendiri berapa jam?

Senin, 5 Agustus 2013

Nabila minta dianterin bukber sama teman SD-nya di Taman Garuda. Saya dan suami sih oke-oke aja, sekalian menikmati suasana alun-alun kota tercinta. Jam 5 menuju TKP dan ketemulah Nabila sama 4 temannya. Waktu lulus SD, ceweknya memang cuma 4 orang, jadi sampai sekarang mereka kompak banget, meski beda sekolah. Satu orang lagi, Wardah, hanya sempat setahun sekolah di SDIT Robbani saat bapaknya tugas belajar di Semarang. Setelah itu dia balik lagi ke Makasar.

Kami nungguin kelima ABG buka bersama, sementara saya, suami, dan Sakroni ( bapaknya Wardah), buka tak jauh dari mereka. Oh ya Sakroni itu teman SMA sekaligus teman suami kuliah di APRO dulu. Jadi mereka berdua asyik banget ngobrolnya. Saya mah ngobrol aja sama si kecil, Nabil.

Usai makan takjil, sholat Maghrib di masjid Agung Kendal, dilanjut foto-foto di alun-alun. Karena Nabil teriak-teriak minta makan, kami bertiga lanjut makan nasi kucing di seputar alun-alun. Sementara kelima ABG masih ingin reuni mengenang masa lalu dengan ngobrol-ngobrol di lapangan. Ya sudah, lanjut aja, Gals...

5 muslimah keren



me & Nabil


Selasa, 6 Agustus 2013

Kali ini, Dik Tutik, adik suami, yang ngajak kami semua buka bersama. Berhubung tahun ini liburnya lebih banyak sebelum Lebaran, ya...makan-makannya menyesuaikan, sebelum Lebaran juga. Setelah berdiskusi sana sini dipilihlah Rumah Makan Lik Di yang letaknya di jalan tembus sebelum perempatan Patebon, sebagai tempat reuni keluarga. Jam 5 teng, pasukan dengan 2 mobil menuju TKP. Berhubung pasukannya banyak, sengaja pesan tempat yang lesehan, biar bebas dan leluasa.

Ketika sirine tanda buka puasa berbunyi, pasukan kami terutama anak-anak langsung berdoa dengan keras, “Allahumma lakasumtu....” Sampai pengunjung lain menatap kami dan mungkin dalam hati mereka teriak, “Woi...ini rumah makan, bukan TK atau play group.” Hahaha...yuk ah, buka puasa dulu. Aneka sea food sudah menanti untuk disantap.


Pasukan udah segini banyak ternyata belum formasi lengkap. Rombongan kedua datang, 4 ABG naik sepeda motor menyusul. Tak lama kemudian Mbak Tri dan Mas Bayu, dari Tegal langsung menuju tempat bukber juga. Maka Mbak Kakung (bapak mertua saya) pun segera memberi ular-ular alias wejangan alias nasehat kepada istri, anak, menantu, dan cucu-cucunya. Intinya, anak harus berbakti kepada orang tua, agar hidupnya berkah dan sukses. Tuh, dengerin, Nak, betul nasehat Mbah Kakung, keenam anak Mbah Kakung dan Mbah Putri sukses karena mereka taat dan berbakti pada orang tuanya.

nunggu formasi lengkap

cucu-cucu Simbah

trio ABG galau

Nabila & emaknya

nah...ini formasi lengkap

Ceritanya belum kelar ya, to be continued, gitu. Tunggu, jangan ke mana-mana, saya akan kembali setelah pesan 4 mangkuk bubur ayam buat sarapan.

Rabu, 24 Juli 2013

Indahnya Ramadhan Tahun Ini

17.35 0 Comments
Sudah jadi agenda tahunan anak FLP Jakarta, setiap Ramadhan mengadakan ifthar jama’i alias buka bersama. Biasanya bertempat di panti asuhan atau rumah singgah di seputar Jakarta. Tahun ini saya berkesempatan mengikuti acara itu, meski belum resmi menjadi anggota FLP Jakarta (kan belum mengikuti inagurasi).

Jadilah hari Minggu, 21 Juli 2013, saya diantar suami berangkat ke Yayasan Sekar (Setia Kawan Raharja) di Jl. Pakin no.1 Penjaringan, Jakarta Utara. Sebelumnya mampir dulu ke Museum Mandiri, karena udah janjian sama beberapa teman FLP Pramuda 17. Bersama Mbak Nuke, Mbak Mimi, Nanis, dan Purwanto, jam 3-an mobil menuju ke TKP.

Ternyata, Yayasan itu berada di sebuah ruko berlantai 3, tepatnya Komplek Ruko Mitra Bahari 2 Blok E no.23. Mereka menampung anak yatim dan anak jalanan usia SD dan SMP. Lantai bawah tempat belajar dan administrasi, lantai 2 asrama putri, lantai 3 asrama putra. Sampai di TKP kami langsung sholat ashar di asrama putri diimami Mbak Yusi, ketua FLP Jakarta. Benar-benar seperti yang pernah saya lihat di sinetron, kamar itu penuh berisi tempat tidur susun dua.

Usai sholat, kami sempat berbincang sejenak dengan Mbak Sri, pengurus yayasan itu. Ternyata, yayasan mendapat bantuan dari Dinas Sosial, juga dari pihak lain seperti Artha Graha, dll. Artha Graha? Tiba-tiba muncul celetukan, “Punya Arthalita kan itu? Punya Bakri juga, kan? Ah, gapapa, buat mereka itu mah kecil nggak ada 2,5 % penghasilan mereka.” Hehehe...itulah reaksi spontan perempuan FLP.

Sementara di aula belajar semuanya sudah berkumpul. Usai sholat ashar, saya bantu-bantu petugas konsumsi, jadi nggak begitu tahu apa saja yang terjadi di aula. Kadang terdengar tenang, kadang terdengar rame dan heboh. Dipandu oleh Mas Ervan, acara dimulai dengan pembacaan kalam Illahi oleh Dani Achmad Ramadhan. Dilanjutkan dengan pelatihan menulis oleh Mas Sokat Rachman, Mbak Fira, dan mendongeng/ story telling. Sebagai tugas dan latihan, anak-anak diminta membuat cerita sehari-hari. Ada beberapa cerita yang dibacakan Mbak Fira, sederhana tapi menyentuh. Salah satunya tulisan (lagi-lagi) Dani tentang cita-citanya menjadi ustadz. Di sela-sela acara, ada penampilan anak-anak; ada yang main rebana, dan yang paling heboh penampilan grup Rombeng. Berbagai peralatan rumah tangga dari plastik (ada ember, drum air, baskom, dll) dipukul serempak dan berirama mengiringi sholawatan.






Sebelum adzan maghrib, Mas Afilin memberikan kultum. Eh, belum 7 menit dah maghrib. Berhenti dulu, deh...Buka bersama dimulai dengan minum es buah buatan Mbak Anik dan takjil berupa kue manis dan asin. Dilanjut sholat maghrib. Kumpul lagi, baru makan bersama nasi kotak pesan di D’Cost. Dengan lauk sederhana, nasi, tumis baby buncis, dan ayam goreng tepung asam manis, kami semua makan dengan lahap.

Sesuai jadwal, jam 7 acara ditutup dengan doa. Tak lupa foto bersama untuk dokumentasi. Kami serombongan pulang naik Kopaja 02 sampai Stasiun Kota. Setelah itu semua berpencar, ada yang naik kereta, ada yang naik Trans Jakarta, ada pula yang pindah naik angkot. Alhamdulillah, Trans Jakarta malam itu tidak penuh, jadi saya bisa duduk dengan nyaman sampai PGC.






Terima kasih, ya, Allah, Kau beri kesempatan hamba untuk duduk bersama anak-anak yang kurang beruntung. Ada rasa haru dan bahagia saat melihat canda tawa mereka. Jangan patah semangat, ya, Nak. Kalian harus tetap menuntut ilmu di tengah himpitan ekonomi orang tua kalian. Sungguh, kami merasa berdosa bila meninggalkan generasi yang lemah baik lemah ilmu maupun lemah iman. Dan sungguh, Ibu rindu bertemu kalian lagi, Nak.


Jumat, 24 Mei 2013

Yang Tersisa dari Acara 40 Tahun Pipiet Senja Berkarya

08.26 0 Comments
Siapa sih yang nggak kenal Pipiet Senja? Penulis senior yang telah menghasilkan 100-an buku, aktivis FLP, sahabat para BMI di beberapa negara, dan satu lagi: penderita thalasemia. Tanggal 16 Mei 2013 lalu, Teh Pipiet genap berusia 57 tahun. Subhanalllah, hanya atas kuasa Allah seorang penderita berbagai penyakit masih survive, masih bisa merayakan milad ke 57 bersama keluarga dan teman-teman tercinta. Ternyata tahun ini juga Teh Pipiet sudah 40 tahun malang melintang di dunia kepenulisan.

Dalam rangka milad dan 40 tahun berkarya itulah digelar acara bertajuk “ 40 tahun Pipiet Senja Berkarya” di dua tempat. Yang hari Sabtu, 18 Mei berlangsung di PDS HB Jassin, TIM, sedang tanggal 19 Mei di Rumah Dunia, Serang, Banten. Karena saya hadir di PDS HB Jassin, maka tentu yang saya  tuliskan di bawah ini kegiatan yang berlangsung di PDS HB Jassin.



Saya dan sahabat saya, Mbak Nuke, tiba di TKP jam 11.40. Undangan di FB Teteh sih jam 11, tapi yang datang baru sekitar sepuluh orang. Sambil menunggu tamu lain, kami berdua melihat buku-buku yang dijual di meja resepsionis. Mbak Nuke membeli beberapa buku untuk dibaca sendiri dan untuk anaknya. Ya, selain novel, Teh Pipiet juga membuat picture book anak serial nama cucunya. Tak lama kemudian adzan Dzuhur terdengar. Teteh yang hari itu berpakaian warna favoritnya, serba ungu, mempersilakan tamu yang ada untuk sholat dulu.

Usai sholat, barulah acara dimulai. Acara dipandu duo MC kocak, Evatya Luna dan Hasan Al Bana. Sengaja dipilih MC yang konyol, karena format acaranya nggak resmi, cuma ngobrol santai tentang sepak terjang Teh Pipiet di dunia kepenulisan. Tapi begitu ditayangkan profil Teh Pipiet di layar, suasana haru mulai menyeruak ke seluruh ruangan. Apalagi sountrack yang dipilih pas banget “Muhasabah Cinta” milik Edcoustic. Usai penayangan profil, Teh Pipiet diminta maju untuk menerima kalungan bunga dan buket dari Butet, putri tercinta. Air mata Teh Pipiet pun jatuh juga.



Dalam sambutannya Teh Pipiet berkata, “Tuh kan saya nangis. Padahal hari ini penginnya kita kumpul, ngobrol santai aja.” Oke, deh, Teteh. Acara dilanjut dengan doa oleh Ustadz Bobby Herwibowo dan testimoni para tamu tentang sosok Teh Pipiet di mata mereka. Mau tau siapa aja yang kasih testimoni? Wow...banyak. Anak, menantu, penulis senior, sahabat, sampai mantan BMI yang jadi penulis. Komen mereka pun beragam ada yang mengharu biru, tapi lebih banyak yang menceritakan kekonyolan Teh Pipiet.

Yang memberi testimoni pertama adalah penulis senior K Usman yang dipanggil Teh Pipiet sebagai Ayah. Selanjutnya ada Ustadz Bobby Herwibowo, Linda Djalil, Dian Kelana, Fanny Jonathans Poyk, Darmadi, dan anak menantu Teh Pipiet. Ada juga Ibu Amalia dari Zikrul Hakim, Ida Rayhan, mantan BMI, dan Astry Anjani, penulis puisi. Tuh banyak banget, kan?

Saking banyaknya, nggak mungkin saya tuliskan semua testimoni itu. Ini hanya sebagian saja ya...

Linda Djalil (wartawati Tempo, penulis, kakak tiri Adjie Massaid), di sela memberi testimoni menyanyi lagu khusus yang diciptakan sendiri untuk Teh Pipiet

Dian Kelana (wartawan, penulis, dan fotografer), membacakan puisi yang ditulis khusus untuk Pipiet Senja yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri

Wati El Abdurrahman (dari VOI RRI), menyerahkan bingkisan sebagai tanda cinta kepada Teteh yang sukses menggelar acara Bilik Sastra, program siaran langsung RRI dari luar negeri. Siaran ini menampung karya sastra WNI (kebanyakan BMI) yang tinggal di luar negeri

Fanny Jonathans Poyk (penulis, putri sastrawan Gerson Poyk): meski kami berdua banyak perbedaan, tapi saya senang bersahabat dengan Pipiet Senja. Kami pernah jalan-jalan berdua keliling pelosok Indonesia dan saya merindukan saat-saat seperti itu

Ustadz Bobby Herwibowo : dulu ketika masih aktif di FLP saya pengin banget ketemu Teteh. Alhamdulillah kami dipertemukan di sebuah acara pengajian. Dan sejak itu, kami jadi dekat dan Teteh sering curhat pada saya. Suatu saat saya menderita migren berat dan harus berobat ke rumah sakit. Sambil menunggu antrian sang profesor, saya pasang status di FB intinya mohon doa dari teman-teman. Semua teman komen yang isinya semoga cepat sembuh atau meminta saya untuk bersabar. Sementara komen Teh Pipiet: selamat menikmati sakitnya, Ustadz. (Hahaha...dasar si Teteh)

Butet alias Adzimattinur Siregar : Mama sejak dulu mengajarkan saya untuk menjadi perempuan tangguh. Jangan selalu tergantung pada laki-laki. Saya pernah heran kenapa Mama nggak mau pisah sama Papa, padahal sudah disakiti lahir batin. Kata Mama, “Supaya kamu bisa sekolah. Gaji Papa buat bayar sekolah kamu sama Abang. Sementara hasil nulis buat makan kita semua.” (Butet banyak bercerita tentang perjuangan sang Mama demi kelangsungan hidup keluarganya. Hampir semua terharu mendengar cerita Butet. Misalnya setelah kakinya ditendang sang suami sampai patah, Teh Pipiet terseok-seok jalan ke Redaksi Femina untuk pinjam uang. Ya, pinjam uang dan berjanji akan mengirim tulisan setelah itu. Ya, Allah, kebayang nggak sih...)

Haekal Siregar : sejak dulu saya sebagai anak laki-laki pertama, ingin selalu melindungi Mama. Bahkan saya sampai belajar ilmu bela diri. Pernah, suatu saat pulang sekolah, saya diberitahu kalau Mama berada di klinik karena habis dianiaya Papa. Langsung saya tendang pintu kamar sampai roboh. Trus waktu saya keterima di UI, Mama sangat bahagia, sampai-sampai setiap ketemu orang selalu Mama bilang, " Anakku keterima di UI, loh." Hampir orang sekampung tahu berita bahagia itu. (Banyak sekali cerita Haekal yang membuat hadirin ingin menangis, tapi karena cara membawakan ceritanya sambil cengengesan, ya semua ikut senyum-senyum, termasuk Teteh."Bagi kami kesedihan dan kesusahan sudah jadi makanan sehari-hari." Buah dari kesabaran mereka bertiga sudah bisa dipetik sekarang. Kehidupan Butet dan Haekal sudah mapan, Teh Pipiet juga sudah bahagia setelah resmi bercerai dengan suaminya)

Ida Rayhan (mantan BMI, penulis buku Cintaku di Negeri Jacky Chan): bagi saya Bunda itu seperti bidadari bumi yang dikirimkan Allah tepat waktunya. Saat saya sedang berada di kubangan ombak yang dahsyat, Bunda datang mengulurkan tangannya. Saya mencintamu, Bunda, karena Allah

Astry Anjani (penulis buku kumpulan puisi Perempuan Pemintal Hujan), membacakan puisi yang ditulis Teteh sesaat setelah konsultasi dengan dokter kardiologi. Puisi itu ada di buku Dalam Semesta Cinta versi baru. Judul puisinya Jika Aku Pergi Jua, Cintaku. Duh...terharu mendengarnya

Evatya Luna: Bunda memang dikenal sebagai Teroris, suka meneror orang untuk menulis.
“Dah sampai mana nulisnya, Na?”
“Waduh, berhenti dulu, saya lagi sakit, Bun.”
“Wah, sakit apa, Na?”
“Iya, nih, Bun, meriang gara-gara kehujanan.”
“Yaudah, istirahat dulu aja. Ini Bunda lagi di RSCM, ditransfusi sambil ngetik.”
Tuinggg! Bunda aja yang sakitnya berat masih tetep nulis. Sementara saya yang cuma sakit karena kehujanan kok males-malesan

Hasan Al Bana: dulu saya membayangkan yang namanya Pipiet Senja itu cewek seksi. Dari namanya kan terbayang orangnya pasti kiyut. Apalagi ada tulisannya yang berjudul Mama Sedekahkan Papa Untuk Jablay. Ternyata eh ternyata...udah nenek-nenek. (MC satu ini memang hobi banget ngerjain Manini, panggilan kesayangan cucu-cucu Teh Pipiet)











Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 15.00, ketika jajan pasar dan nasi tumpeng di atas meja sudah tandas, saya dan Mbak Nuke pamit pulang. “Terima kasih, ya, sudah pada datang”, ucap Teh Pipiet setelah kami bercipika cipiki.



Hari ini rasanya luar biasa. Selain bisa bertemu dengan penulis senior, banyak hal tak terduga yang kami alami. Mbak Nuke bertemu dengan Bu Amalia dari Zikrul Hakim, yang ternyata mereka sangat akrab saat sama-sama tinggal di Australia. Lama lost contact, eh...malah ketemu di acara Teh Pipiet. Dan sewaktu di toilet, kami berkenalan dengan dengan Mbak Shabira Ika, dari Gema Insani. Wow, banyak orang-orang dari penerbit ternyata.


Sambil berjalan meninggalkan PDS HB Jassin, Mbak Nuke berkata, “Mbak, kapan-kapan main ke kantor Zikrul Hakim, yuk.” Ayuk, siapa yang takut. Oh, indahnya silaturrahim...