Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Desember 2017

Menikmati Makanan Tradisional di Tengah Kebun Karet

13.32 4 Comments
Waktu menunjukkan pukul 7 lebih. Jalanan dari Kaliwungu ke arah Boja lumayan lengang. Cuaca yang cerah pagi itu membuat perjalanan motoran kami terasa lebih asyik. Bisa menyaksikan pemandangan kiri kanan yang masih perawan dan udara yang sejuk segar.


Oh, ya, pagi itu empat perempuan perkasa niat banget mau ke Pasar Karetan, destinasi wisata yang baru diresmikan Bupati Kendal dan Kemenpar Semarang tanggal 5 November 2017. Lokasi wisata Radja Pendapa sebenarnya masih di wilayah Kendal, tepatnya Dusun Segrumung, Desa Meteseh, Kec. Boja. Tapi dikelola oleh Kemenpar Kota Semarang dibantu teman-teman GenPI.

Karena masih baru, petunjuk arah ke lokasi masih sederhana, berupa tampah dicat putih trus ditulisi, hihihi...Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di lokasi. Dari lapangan parkir mobil masih harus naik kereta mini melewati rumah penduduk menuju Pasar Karetan. Karena baru pertama kami nggak tau, ternyata ada penitipan motor yang dekat banget dengan TKP. Motor kami sudah terparkir di SD Meteseh 5 dengan uang parkir 2.000, standart lah.

Turun dari kereta mini, kita disuguhi pemandangan hutan karet, sebelum masuk loby. Dan begitu masuk ada tempat penukaran uang dengan girik. Jadi kalo mau menikmati makanan tradisional di dalam, kita pakai uang kayu dengan pecahan 2.500, 5.000, dan 10,000. Biar nggak tercecer, uangnya dimasukin ke dalam kantong belacu. Unik, ya?

dhuwit kayu dan wadhahnya




Kayaknya semua spot di sini instagramable, cucok banget buat foto-foto. Mulai dari pintu masuk sampai arena Pasar Karetan. Di dalam kita bisa menikmati sarapan pagi yang tradisional banget seperti  lontong pecel, gendar pecel, tahu gimbal, lontong opor,  bubur ayam, dan sego jagung. Sementara kalo pengin yang agak ringan ada aneka jenang (baca: bubur manis). Ada juga bakso yang mangkuknya bathok kelapa. Untuk minuman, bisa menikmati dawet atau minuman rempah yang wadahnya juga unik.

Karena anak-anak GenPI ikut mengelola, maka kami menyapa di tengah kesibukan mereka, seperti Agustina yang jadi bendahara, Zain yang hari itu jadi MC, dan yang lainnya. Dari salah satu dari mereka, yang bantu jualan pecel, kami dapat info kalo Pasar Karetan itu sangat membantu para pelaku UKM. Mereka tinggal menempati lapak yang sudah disediakan, tanpa uang sewa hanya dikenai fee 20%. Dari pengamatan kami, hampir semua dagangan yang digelar ludes, bahkan sebelum jam 11 saat penutupan.


aneka jenang

bakul pecelnya diajak ngobrol biar dikasih banyak



Oh, ya, tadi di pintu masuk, kami nukar uang 200 ribu. Maksudnya sekalian, biar nggak bolak-balik. Toh kalau sisa bisa diuangkan lagi. Dua dari kami makan lontong pecel yang dipatok 12.500/porsi, aneka gorengan seribuan. Trus es dawet, bubur, air mineral, dan singkong goreng. Ternyata masih sisa 100 ribu, lumayan irit nih emak-emak.

Puas makan-makan, jalan- jalan, tiduran di pendopo di tengah kolam, plus foto-foto, kami pun berniat pulang. Waktu menunjukkan pukul 11 lebih sedikit ketika MC menyatakan bahwa pasar akan ditutup. Eh, tapi ternyata anggota rombongan masih ada yang ngobrol saat ketemu temannya. Yaudah yang lain pun mencoba permainan tradisional dan foto-foto di panggung yang sudah kosong. Duh, tepok jidat tenan. Ayo, Mak, ingat anak-anak di rumah.

naik panggung tanpa penonton

nyoba maen bakiak

Hujan pun turun dengan derasnya. Semua menunggu di loby, ada juga yang nekat naik kereta mini menuju tempat parkir. Kita milih nunggu, maklum awak tuwo, bisa remuk kalo kehujanan. Akhirnya begitu hujan berhenti kita langsung cap cus. Sampai ketemu lagi ya, Mak, kapan-kapan kita jalan-jalan lagi.


Rabu, 09 Agustus 2017

Sehari di Wisata Tirta Nusantara

03.53 1 Comments
Pagi-pagi, sahabat saya nelpon, “ Yuk, ikut. Suami dan anak-anakku ngajak renang dan mancing di Boja.” Oke, deh, kebetulan Nabil dari kemarin pengin renang. Sejam kemudian cap cus lah kita 10 orang ke arah Semarang. Lewat Pasar Jrakah, naik ke arah Ngaliyan, teruuus akhirnya nyampe lah di TKP.


Anak-anak langsung girang begitu melihat air. Lima bocah itu langsung nyemplung ke kolam renang. Sementara kita ber-5 orangtuanya duduk manis di saung sambil pesen makan siang dan para Bapak mancing di empang yang terhampar di depan saung.

Oh, ya, Wisata Tirta Nusantara itu lokasinya di Ngabean, Boja, dekat dengan Cangkiran, Semarang. Begitu masuk kita akan bertemu dengan saung-saung mengitari empang. Nama saungnya seperti nama kepulauan nusantara seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Lombok, Sumba, dan seterusnya. Selain saung/gazebo ada pendopo, gazebo pendopo, dan ruang pertemuan pendopo. Tinggal pesan tempat sesuai kebutuhan dan jumlah rombongan.




Setelah puas berenang, anak-anak pun menyusul ke saung. Sayang, hari ini kata petugas, banyak pegawai yang libur, jadi pelayanan agak lama. Padahal anak-anak sudah kelaparan. Sambil menunggu makanan datang, anak-anak mancing dulu. Mereka gembira luar biasa saat satu per satu ikan-ikan itu makan umpan di kail. Happss...

Dan, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Nasi hangat 2 bakul, gurami asam manis 2 piring besar, lele goreng 1 piring, dan mie goreng 1 piring. Ya, Allah kok banyak banget pesennya. Kata sahabat saya, gapapa, entar kalo nggak habis dibawa pulang aja. Kami pun makan siang bareng dengan lahap.


Usai makan siang, anak-anak masih mau mancing lagi. Kata sahabat saya, suami dan anak-anaknya biasa mancing di sini sampai sore. Baiklah, sekali-sekali, saya ikuti kebiasaan mereka. Apalagi Nabil juga tampak senang dan nggak bete. Biasanya dia gampang bosen kalo kelamaan di suatu tempat yang bukan rumahnya.


Kami pun sempat sholat Dzuhur dan Ashar di mushola kecil di sana. Ketika matahari sudah mulai redup, rombongan kami pun meninggalkan TKP. Ada tentengan yang kami bawa pulang, ikan segar hasil mancing dan gurame asam manis sisa makan siang yang masih banyak. Makasih banget ya, Sob, udah diajak jalan-jalan, dibayarin, lagi. Gapapa, katanya, mumpung suaminya yang pelaut lagi mendarat. Yaudah, sering-sering aja ngajak jalan-jalan * ngelunjak.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Jumat, 14 Juli 2017

Menikmat Ikan Bakar di Kampoeng Rawa

08.43 0 Comments
Bila melewati jalan arteri Ambarawa menuju Jogja, kita akan menjumpai plang yang menunjukkan kawasan wisata apung Kampoeng Rawa. Tepatnya di Jalan Lingkar Ambarawa KM 03 Kec. Ambarawa, Kabupaten Semarang. Untuk mencapai lokasi kita harus melewati jalan beberapa meter dulu dari jalan raya. Dan dengan membayar uang parkir 15 ribu/ mobil, kita akan dipersilakan masuk.


Apa saja sih yang bisa nikmati di sana? Banyak...mancing ikan, terapi ikan, permainan anak-anak, atau mau naik perahu menikmati Rawa Pening juga bisa. Itu yang saya lakukan sesaat setelah tiba di lokasi. Cukup bayar 100 ribu untuk sewa satu perahu, yang bisa dinaiki 8 orang dewasa. Lumayan lama lho perjalanannya, sekitar 15 menit. Di tengah rawa kita bisa melihat karamba, orang sedang memanen ikan, juga tanaman eceng gondok. Kawasan itu merupakan daerah OVOP ( one village one product), dengan produk andalan ikan nila.




pemandangan di tengah rawa

Oh ya, kunjungan saya hari itu dalam rangka Halal Bihalal RT tempat tinggal saya. Jadi saya datang bersama rombongan orang sekomplek. Panitia memesan pendopo ageng Dewi Tara yang bisa menampung 200 orang untuk acara itu. Dengan uang sewa 750 ribu selama 4 jam dari jam 10 sampai jam 14. Padahal kami tiba di sana jam 8, jadi sambil menunggu waktu, kami naik perahu dan menikmati pemandangan yang ada.

Saya sempat meninjau rumah makan apung. Untuk mencapainya harus naik semacam perahu tambang yang dijalankan petugas. Semua ruang makan berada di atas air, di bawahnya dipasang drum-drum plastik, dan jalan antar dangau ada jembatan kayu. Saya menyebutnya jembatan goyang, karena kalo ada yang melewati di atasnya (apalagi orangnya padat berisi) jembatannya jadi goyang-goyang, rada ngeri euy...

fokus ke hiasan kukusannya ya...

jembatan goyang

jembatan tambang

Oh ya , ada beberapa meeting room yang bisa kita pesan bila ingin mengadakan acara di sana. Selain Pendopo Ageng Dewi Tara, ada Hall Apung ( muat 250 orang, sewa 500 ribu), Joglo Alit Kumambang (lesehan 70 orang, sewa 400 ribu), Lesehan Arjuna dan Semar ( lesehan 25 orang, sewa200 ribu). Info komplit tentang menu dan lain-lain, silakan dilihat di www.kampoengrawa.com aja ya...

Tepat jam 10, acara halal bihalal dimulai. Semua warga duduk lesehan di pendopo khusyuk mengikuti acara sambil menikmati bekal yang disiapkan ibu-ibu. Ada rujak, kerupuk goreng pasir, dan cemilan ringan seperti keripik. Usai mendengar tausiyah, tibalah saat makan siang. Wow...menunya nasi, ayam bakar, ikan bakar, oseng genjer, trancam, tempe tahu, sambel lalapan, dan kerupuk. Minumannya ada teh dan air mineral botol. Nikmat sekali makan bareng-bareng kayak gini. Saya pilih ikan bakar dan trancam...saat mo nambah trancam dan oseng genjer, wah...sudah habis tak bersisa. Kata ibu-ibu, oseng genjernya enak. Duh, jadi tambah penasaran...

Jangan komen no photo= hoax ya, maklum udara di sana dingin, bikin perut cepet empty. Jadi begitu tutup makanan dibuka oleh Mas-mas pramusaji, dalam hitungan menit meja prasmanan bersih tak bersisa. Hehehe...nggak ding, masih ada sisa ikan bakar jatah yang batal hadir, termasuk anak-anak saya. Adzan Dhuhur terdengar sesaat setelah kami usia santap siang. Sebagian warga ada yang pamit pulang duluan karena ada acara lain. Sebagian lainnya langsung menuju mushola, yang lagi-lagi melewati jembatan goyang, hehehe...Saya pilih duduk-duduk sebentar, biar makanannya turun * alasan nggak mutu.


Nah, setelah sholat Dhuhur, barulah saya dan rombongan semobil pulang. Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang kau dustakan? Alhamdulillah, untuk keseruan hari ini, semoga ada kesempatan jalan-jalan lagi bareng tetangga komplek, biar menambah kerukunan dan keharmonisan.

para lelaki

para emak2

sambutan ketua panitia

salam2an dulu yuk

maaf lahir batin ya...

trio macan (emak cantik), mekso...

Minggu, 04 Juni 2017

Wisata Edutrip di Omah Herborist

16.14 0 Comments
Bus melaju dari Museum Ronggo Warsito Semarang sekitar jam 9 pagi. Di dalam bus ini hanya ada 6 penumpang, Mbak Wuri dan baby Arkan, saya, Nyi PD, dan 2 teman Nyi. Sementara di bus satunya, yang berangkat dari Gedung Indosat Simpang Lima, full Emak-emak dari Komunitas Blogger Gandjel Rel. Walau sudah beberapa kali mendengar cerita teman yang berkunjung ke Omah Herborist tapi saya belum tahu lokasinya. Ternyata bus menuju pertigaan Krapyak ke arah selatan. Baru tahu kalo itulah Kawasan Industri Candi.





Hanya beberapa menit perjalanan, akhirnya sampai juga di TKP, Kawasan Industri Candi Blok 5A/8 Ngaliyan. Begitu turun dari bus, Emak-emak narsis langsung foto-foto dulu di depan pintu masuk. Mas Agata, salah satu pegawai bagian Marketing, memberi sedikit arahan di halaman sambil menunggu rombongan sebelumnya keluar.

Kami pun dipersilakan masuk gedung. Acara pertama adalah kunjungan ke bagian laboratorium. Di sinilah proses pertama pembuatan kosmetik dilakukan. Mulai dari penimbangan bahan baku, pencampuran, dan proses uji coba seberapa lama proses kadaluwarsa kosmetik yang dibuat.

Usai berjalan menjelajahi laborat, kami dibawa ke bagian produksi. Kami diharuskan memakai jas putih (mirip dengan dokter), memakai penutup kepala, dan plastik penutup sepatu. Tas dan hape harus dimasukkan loker khusus untuk pengunjung. Wah, Emak-emak langsung heboh, gimana mau selfi-selfi kalo hape disimpan di loker. Ternyata pihak Omah Herboris menyediakan jasa foto khusus untuk yang ingin foto dengan baju yang mirip Dokter yang mau mengoperasi pasien itu. Eits, tapi ada uang jasanya loh, 10 ribu per lembar.

Sekitar 20 menit kami keliling pabrik, mulai dari ruang mixing bahan sampai ruang packing produk jadi. Setelah melepas jas putih dan plastik di kepala dan kaki, baru dipersilakan duduk di ruang tunggu. Telah tersedia air mineral dan snack untuk kami nikmati. Selanjutnya kami diajak menggerakkan anggota badan sambil meneriakkan yel-yel. Ada hadiah berupa produk kosmetik untuk peserta yang paling semangat gerakannya.

Selanjutnya kami masuk ke meeting room. Kami diperlihatkan video profil perusahaan, mulai dari awal usaha sampai bisa punya pabrik seluas 3 ha ini. Dilanjutkan dengan demo produk oleh Mbak Cindy. Mbak Ninik yang maju jadi model harus rela tangan dan wajahnya jadi korban percobaan, hehehe...

Sesi terakhir, nha...ini dia yang ditunggu Emak-emak : belanja! Begitu show room produk dibuka, Emak-emak langsung menghambur masuk. Lihat-lihat, pilih-pilih, foto-foto, dan...bayar di kasir deh. Selama proses belanja, Mbak-mbak bagian marketing mendampingi kami sambil menerangkan keunggulan produk. Saya hanya beli BB cream aja, sesuai dengan kepribadian saya yang males pake make up. Simpel : pelembab, alas bedak, dan bedak dijadikan satu. Praktis kan?


Bagi yang mau jalan-jalan ke Semarang jangan lupa mampir ke Omah Herborist ya. Ini salah satu destinasi wisata unggulan Semarang lho. Kita bisa menemukan sejarah herbal warisan nenek moyang kita. Bagi yang datang perorangan bisa naik Taxi Blue Bird, karena ada kerjasama dengan Omah Herborist. Sementara yang rombongan ada persayaratan khusus. Peserta maksimal 50 orang dengan fasilitas dijemput bus perusahaan di tempat yang ditentukan. Setiap orang harus bayar 15 ribu yang nantinya diganti dengan produk kosmetik. Jangan lupa hubungi bagian Marketing untuk menentukan jadwal kunjungan. Bisa dengan Mbak Widi 08118173203.




Selasa, 18 Oktober 2016

Karena Setiap Anak Terlahir Sempurna

04.09 3 Comments

Tidak ada produk Allah yang gagal. Segala sesuatu Allah ciptakan di dunia ini pasti ada maksud dan hikmahnya. Di mata manusia umumnya anak yang tidak seperti anak normal lainnya sering dibilang anak cacat atau istilah yang lebih halus anak berkebutuhan khusus (ABK). Banyak orang tua yang stress menghadapi kenyataan bahwa putra atau putrinya ABK.

Ini juga yang dialami oleh Amalia Wibowo, seorang CEO perusahaan periklanan, ketika mengetahui putra sulungnya, Aqil, mengalami disleksia. Apa itu disleksia? Gangguan otak yang membuat penderitanya susah mengenali huruf, angka, dan simbol. Tentu penderita disleksia susah membaca tulisan, bahkan ada yang ngomongnya terbolak-balik. Di mata orang awam, anak umur 8 tahun yang tidak lancar membaca, dianggap anak bodoh. Dan itu juga dialami Aqil, dicap bodoh oleh teman-teman sekelasnya, bahkan oleh kakeknya.

Cerita sehari-hari, perjuangan Amalia mendidik Aqil ditulis dalam buku berjudul Wonderful Life. Kisahnya menarik perhatian Rio Dewanto, aktor sekaligus suami Atiqah Hasiholan, dan mengangkatnya ke layar lebar dengan judul yang sama. Rio bertindak sebagai produser film, sementara Atiqah memerankan Amalia.

Film Wonderful Life menggambarkan perjuangan seorang single parent, CEO perusahaan periklanan, dalam menghadapi putra sulungnya yang mengalami disleksia. Demi kesembuhan sang putra Amalia rela cuti beberapa saat untuk berobat ke Jawa. Padahal di saat yang sama, perusahaan sedang ada proyek besar yang menuntut keberadaan Amalia. Di sinilah emosi penonton seperti diaduk-aduk.

Di akhir perjuangan mencari obat, Amalia sadar bahwa Aqil perlu banyak perhatian darinya dan sang Ibu harus berdamai dengan keadaan putranya. Kondisi Aqil berbeda, jadi tak usah dituntut untuk bisa seperti teman-teman sekelasnya. Akhirnya Aqil berhenti belajar di sekolah umum dan fokus belajar menggambar di rumah.

Menurut saya yang orang awam dan belum membaca buku Wonderful Life, ada plus minus dari film ini. Plusnya, penonton jadi tahu apa dan bagaimana anak disleksia itu. Film ini juga sarat adegan yang menyentuh dan adegan lucu. Hingga pas untuk hiburan dan edukasi keluarga. Minusnya, menurut saya kok banyak adegan yang absurd ya. Masak wanita cerdas, CEO perusahaan besar, mengobatkan anaknya yang disleksia ke orang pintar alias dukun.

Atau itu hanya sekedar variasi agar bisa lebih banyak adegan lucu yang bisa ditampilkan. Atau juga mewakili banyak orang Indonesia yang kadang tidak percaya dengan medis dan ingin mencari pengobatan alternatif. Entahlah...

Film ini juga semakin membuat saya yakin bahwa Allah menciptakan setiap anak manusia itu dalam kondisi paling sempurna. Setiap anak diberi paket komplit, punya kelebihan dan punya kekurangan. Contohnya Aqil yang mengalami disleksia punya kelebihan dalam bidang menggambar. Dan karena kecerdasan masing-masing orang berbeda, maka janganlah nilai akademis di sekolah yang jadi patokan seorang anak itu pintar atau tidak pintar. Ada 7 macam kecerdasan yang dimiliki setiap anak. Jadi kalau nilai raportnya biasa saja, santai saja. Pasti dia punya kelebihan selain di bidang akademik.


Bagi yang belum nonton, buruan nonton deh...Saya aja udah nonton, hehehe...rame-rame, lagi. Inilah enaknya punya teman blogger. Ada yang ngajak nobar di pemutaran perdana film ini tanggal 13 Oktober 2016 lalu. Serentak di beberapa kota di Indonesia loh. Saya sih nontonnya di Cinema XXI Mall Ciputra Semarang bareng teman-teman Blogger Gandjel Rel.




sama Nyi PD, blogger Kendal

foto sebelum bubar

Sabtu, 09 Januari 2016

Piknik Seru IIDN Semarang ke Jogja

14.27 5 Comments
Saat IIDN Semarang dan Komunitas Blogger Perempuan Gandjel Rel bikin pengumuman mau ngadain piknik ke Jogja, saya langsung tunjuk tangan. Ikuuut, Mak. Niat saya ingin mengembalikan mood nulis yang sudah hampir 2 tahun ini menguar entah ke mana * halah. Seperti kata pepatah kumpul tukang minyak wangi, ikut wangi. Kumpul tukang ikan ikut amis. Kumpul Emak-emak penulis dan blogger, siapa tahu jadi produktif nulis.

Alhamdulillah, akhirnya Kamis, 7 Januari jam 6 tepat saya sudah nangkring di atas bus yang diparkir di depan Masjid Baiturrahman. Perjalanan Semarang-Jogja selama 3,5 jam terasa sekejap karena diisi dengan sesuatu yang bikin melek * eh, tapi saya sempat merem ding, ngantuk, habis nglembur orderan semalam. Pertama, semua peserta diminta memperkenalkan diri, maklum ada beberapa yang baru sekali ikut kopdar. Kedua, ada yang sharing tentang tulisannya yang lolos 3 besar lomba Gado-gado Femina. Itu tuh artisnya IIDN Semarang, kembarannya Ashanti * hai, Mbak.

Sasaran pertama kita adalah Penerbit Bentang Pustaka, Jl. Pleburan 1, Pogung Lor RT 11 RW 48 Mlati, Sleman. Kehadiran para mahmud disambut hangat oleh CEO Bentang Pustaka, Mas Salman Faridi, dua editor Mas Imam dan Mbak Intan, dan bagian promosi, Mas Udin. Kita bincang-bincang santai, Mas Salman menerangkan sejarah singkat Bentang Pustaka yang dulu bernama Bentang Budaya. Dilanjut tanya jawab, yang tentu saja seputar naskah yang dicari oleh Bentang. Siapa tahu ada naskah Emak2 yang bisa diterbitin di sana.

Tepat pukul 12 teng, acara ditutup dengan tukar menukar cinderamata. Dari IIDN dan Gandjel Rel, ada pigura berisi tulisan dan makanan khas Semarang (wingko babat dan roti ganjel rel). Sementara dari pihak Bentang ngasih buku 20 biji serial Supernova-nya Dewi Lestari (Dee). Hua....mupeng, mudah-mudahan nanti saya dapet atu * komat-kamit merapal mantra .

Setelah ishoma dan belanja buku di bagian depan yang semua harganya didiskon, lanjut ke Penerbit Stiletto, Jl. Melati no.171 Sambilegi Baru Kidul, Maguwoharjo, Sleman. Benar kata teman saya, sesuatu itu kalo sudah udah punya nama walau tempatnya mblusuk pun tetep dicari. Letak dua penerbit yang kami kunjungi itu benar-benar di tengah perkampungan padat penduduk. Cuma jalan kampungnya lebar, jadi bisa dilewati bus. Itulah uniknya Jogja citymewa.

Saking luasnya kantor Stiletto Book, kami diterima Mbak Herlina di rumah sebelah yang merupakan kantor IKAPI Jogja. Di rumah sederhana itu kami berbincang-bincang santai lagi-lagi soal naskah yang dibutuhkan, simbiosis mutualisme lah. Oh ya Stiletto Book itu spesialis penerbit untuk perempuan, baik penulis maupun tema-tema yang diangkat. Jadi klop kan, nggak salah kita menyambangi penerbit satu ini.

Usai bincang-bincang plus ada kuis dadakan yang berhadiah buku, kami menuju kantor asli Stiletto Book. Wua...ini tempat mungil tapi fungsional banget. Bagian depan tempat mendisplay barang jualan (buku dan pernak-pernik dari kain kanvas), bagian belakang baru ruang kerja. Design ruangannya girly banget deh pokoknya.

Puas banget deh dolan ke dua penerbit hari ini. Sebelum balik ke Semarang, kami makan malam dulu di ujung Jalan Malioboro. Ada yang memilih dinner di Raminten, lantai 3 Hamzah Batik, ada yang memilih makan bakso di kaki lima kayak saya. Di atas bus tinggal capeknya, bobok cantik, dan bermimpi penerbit mana lagi yang akan kami kunjungi selanjutnya.

Ini dia foto-foto piknik seru itu:

Mak Irits jadi MC dadakan
jejeran pigura cover buku, keren banget...

tangga menuju ruang editor

sisi yg lain, hommy pokoknya

tukar menukar cinderamata

foto bareng di Bentang Pustaka

kantor IKAPI Jogja

Mbak Herlina kasih sambutan

bincang santai

kubikel kantor Stiletto, girly abis..

sisi kanan buku2

sisi kiri aneka kreasi kain kanvas

di depan kantor Stiletto yg mungil

cuma belanja ini, ngirit, hihihi...

alhamdulillah dapat ini dari Bentang Pustaka