Selasa, 24 September 2013

Seru-seruan Bareng Zae Hanan

08.57 0 Comments
Kemampuan berbicara di depan umum alias public speaking sangat diperlukan oleh semua orang termasuk para ibu (ibu-ibu pejabat, tentunya). Mungkin karena pertimbangan itulah, dalam rangka HUT PIA Ardhya Garini ke 54, seksi sosial budaya mengundang Zae Hanan di Gedung Puri Ardhya Garini, tanggal 19 September 2013.

Siapa sih Zae Hanan? Saya juga baru dengar namanya. Kata lelaki kelahiran Cirebon tahun 1972 ini, dia adalah seorang Dream Planner dan Motivator. Kegiatannya seabreg, mengajar di John Robert Powers, ngisi acara on air di radio, kontributor Majalah Genie, dan ngisi seminar di mana-mana. Katanya dia pernah ngajar Mario Teguh dan siapa lagi ya…pokoknya orang-orang terkenal lainnya deh.

Zae memasuki ruangan dengan muncul tiba-tiba dari belakang. Katanya itu tips untuk mengurangi grogi. Menjadi public speaking memang tidak mudah, perlu latihan teratur. Yang tak kalah penting untuk dilakukan adalah latihan otak. Ada sekitar 70-an senam otak. Nah, pagi itu, kita diajarkan beberapa saja. Seperti tangan kanan menggambar segi empat di udara, sementara tangan kiri menggambar segi tiga. Tangan kanan maju mundur, tangan kiri naik turun. Ketika dipraktekkan bersama-sama, ruangan langsung menggema dengan tawa para ibu. Hahaha…ternyata susah bagi yang belum terbiasa.

Berikutnya, Zae mengajarkan tentang cara mengubah image dan kebiasaan. Misalnya, gajah kecil, semut besar, kucing petok, ayam meong, dll. Satu= jari kelingking yang diangkat, dua=jari manis dan tengah, tiga=ibu jari, telunjuk, dan jari tengah, empat= semua jari kecuali jari tengah. Dan kalau bisa saat menekan pin ATM, jangan selalu menggunakan jari telunjuk, pakai jari yang lain secara bergantian.

Tips menguatkan otak ala Zae Hanan:
- sesekali pakailah baju yang tidak disukai warnanya
- hitung mundur sebelum tidur, sambil ucapkan hal-hal positif
- hafalkan 10 nomor telpon/ hari
- bila ada yang diingat, segera lakukan
- banyak makan makanan yang mengandung cholin (ikan, telur, dll)
- matikan lampu saat tidur
- lakukan kreatifitas atau hal baru
- senam otak / brain gym

 Zae juga mengajarkan cara mengatur suara agar enak didengar. Ingat, lihat siapa audience kita. Dewasa, remaja, atau anak-anak? Harus dibedakan cara membawakan suara, dewasa lebih rendah, remaja lebih tinggi, anak-anak lebih tinggi lagi (lebih cempreng). Nafas juga harus diatur, latihan yang bisa dilakukan misalnya dengan berkata:
Satu satu, mereka menyanyi
Satu satu dua dua, mereka menyanyi
Satu satu dua dua tiga tiga, mereka menyanyi
Lakukan sampai angka sepuluh.
“Coba hitung dalam satu kali nafas sampai angka berapa Anda mampu bertahan. Dan angka  itulah umur Anda.” Huaaa…(jitak Zae), lha wong saya cuma mampu sampai angka 30, padahal umur sudah kepala 4, hahaha…Ngaku deh, nafas saya memang pendek, akibat malas olah raga.

Sedikit tambahan, tips Sukses ala Zae Hanan: Do the BEST ( Berani Bermimpi, Enyahkan Malas, Selalu Semangat, Terus Berdoa). Dan ketika presentasi masing-masing ada lagunya loh. B= apa ya, lupa…, E= Diamond-nya Rihana, S=We Are  the Champion (bukan Begadang-nya Bang Haji loh ya), T= Insha Allah-nya Maher Zain. Terakhir, kita berpelukan dengan sejumlah teman di sebelah kita, sesuai angka yang disebutkan Zae. Berpelukan…*ala Telletubies.

Saat keluar gedung, seorang teman berbisik,” Eh, acara tadi kayaknya nggak nyambung ya. Katanya judulnya Public Speaking, kok ada foto aura, susut perut, dll?” Saya langsung komen, “Itu namanya sambil menyelam ngeteh, makan gorengan, dan baca koran, hehehe…ngisi acara sekalian promo usahanya, lah.” Memang benar, selama acara Zae Hanan sesekali promo tentang apa itu foto aura dan manfaatnya, cara mengecilkan perut, dan konsultasi masalah hidup.


Ah, apalah itu, pokoknya menurut saya hari ini seru banget ketemu Zae Hanan. Banyak ilmu yang dia bagikan secara gratis pada kami (termasuk video operasi Caesar yang baru pertama kali saya lihat, hiiii…). Kalau konsultasi pribadi kan bayarnya mahal. Belum lagi dia bilang kalau jadi MC atau ngisi seminar, bayarannya katanya 500 ribu/ menit. Alamaaak…mehong (dan mudah-mudahan nggak bohong).

salah satu buku karya Zae Hanan

Kamis, 19 September 2013

Happy Parenting ala Novita Tandry

23.00 0 Comments
Alhamdulillah, hari ini bisa bertatap muka dan menimba ilmu dengan Novita Tandry, pemilik preschool Tumble Tots, di Puri Ardhya Garini. Sarjana Psikologi lulusan University of New South Wales itu sudah cantik, badannya ramping, multy talent lagi. Kegiatannya seabreg, tapi pintar mengatur waktu untuk diri dan keluarga. Waktu hampir dua jam mendengar sharing ilmunya serasa dua menit saja.

Di awal pertemuan Novita bertanya, “Siapa yang mau menjual anaknya? Saya beli 1,5 M, deh." Tak ada yang mengangkat tangan. Kemudian, "Siapa ibu-ibu di sini yang suka membelikan baju atau sepatu anaknya dengan ukuran satu nomor di atas ukuran aslinya?” Wah, ternyata banyak juga yang mengangkat tangannya. Menurut Novita, jangan memberikan anak sesuatu yang bukan ukurannya. Sebenarnya si anak tidak nyaman, tapi kadang dia tidak berani protes, takut diomelin ibunya. Demikian analogi dalam hal pengasuhan anak.

Dan ini dia secret happy parenting versi Novita Tandry yang sudah beliau praktekkan bertahun-tahun dalam mendidik kedua anaknya maupun murid-muridnya.

Secret 1 : Enjoy each other. Ciptakan suasana nyaman di dalam rumah.
Secret 2 : Swap Stores. Saling berbagi atau bertukar cerita.
Secret 3 : Put the Marriage First. Berikan contoh nyata tentang cinta. Jangan jadikan anak sebagai penyuplai kasih sayang.
Secret 4 : Break Bread Together. Membiasakan sebuah hubungan. Makan bersama minim 4 x seminggu.
Secret 5 : Play Together. Lakukan satu atau dua kegiatan di malam hari. Dongeng atau baca novel.
Secret 6 : Put Family Before Friends. Keluarga lebih diprioritaskan disbanding teman-teman.
Secret 7 : Limit Children’s After Scholl Activities. Batasi aktivitas setelah pulang sekolah. Ganti dengan kegiatan yang memiliki tujuan, misalnya bermain sepatu roda, bersepeda, lari, jogging, berlatih gym, atau berenang.
Secret 8 : Build and Honor Rituals. Ritual bisa yang bersifat religious, nasional, atau acara keluarga yang lebih spesifik.
Secret 9 : Keep Your Voice Down. Ciptakan lingkungan yang nyaman agar tumbuh kembang anak bisa optimal. Bicara- buat aturan yang jelas- beri hukuman yang sepantasnya. Jangan sampai kehilangan kontrol atau memarahi mereka sambil berteriak.
Secret 10 : Never Fight in Front of Kids. Terkadang perkelahian atau pertengkaran mungkin saja bisa terjadi. Segera minta maaf dan katakan bahwa Ayah Ibu hanya berbeda pendapat, tapi sekarang semuanya baik-baik saja.
Secret 11 : Don’t Work Too Much. Terus bekerja dan tidak punya waktu luang bisa membuat hubungan dengan anak menjauh.
Secret 12 : Encourage Sibling Harmony. Buatlah anak akrab dengan anggota keluarga lainnya.
Secret 13 : Have Private Jokes. Ada gurauan dan canda tawa.  Panggil dengan nama julukan atau panggilan sayang.
Secret 14 : Be Flexible. Akan ada perubahan dalam keluarga baik dari usia maupun jumlah anggota keluarga. Ada yang menikah, meninggal, yang remaja akan tumbuh dewasa.
Secret 15 : Communicate. Selalu berkomunikasi satu sama lain.

 Di akhir acara diputarkan 2 tayangan singkat (salah satunya saya pernah lihat, iklan tahun baru Cina) tentang keluarga yang bikin mewek sebagian ibu-ibu (termasuk saya), hiks…Habis, mengena banget. Saat orang yang kita cintai tidak ada, baru terasa betapa kita merindukan hal-hal tentang dia, termasuk hal yang kita tidak sukai sebelumnya.


Apa yang disampaikan Novita Tandry hari ini membuat saya ingin segera pulang dan berlari memeluk ketiga buah hati saya. Maafkan Ummi yang ilmu pengasuhan anaknya sangat terbatas ini ya, Nak. Masih banyak kesalahan yang sering Ummi lakukan. Ummi berjanji akan terus belajar dan berusaha agar menjadi ibu yang baik buat kalian bertiga * peluk dan cium satu-satu.

harta paling berharga yang saya miliki

Selasa, 10 September 2013

(Akhirnya) Ketemu Bang Boim

20.46 0 Comments
Sudah lama saya pengin ketemu Bang Boim Lebon, penulis komedi senior yang baik hati dan imut (dibaca: item mutlak) itu. Alasannya simple aja, pengin menimba ilmu dari beliau. Saya tuh pengin banget punya buku bergenre komedi. Entah, apa motivasinya. Pokoknya pengin dan suka aja. Pernah sekali bikin novel komedi. Dikirim ke Penerbit Bukune, setahun kemudian baru dikasih jawaban: naskah ditolak! Hiks…* maklum masih garing, krik…krik…

Dan, ternyata Allah mendengar suara hati saya terdalam itu. Dijembatani oleh IIDN Jabodetabek, akhirnya saya bisa bertemu dengan beliau. Hore…! * joget-joget pake pom-pom. Hari Sabtu, 7 September 2013, jam 9 pagi (kurang dikit) dengan semangat membara saya naik Kopaja 57 ke Gedung KINDO, Jalan Duren Tiga Raya. Nyampe di TKP ternyata masih sepi, karena masih jam 9 lebih dikit. Di luar perkiraan, ternyata wilayah Kalibata nggak macet kayak biasanya.

Langsung nyari kantornya IIDN di lantai 3 nomer 303. Eh, ketemu Teh Lygia dengan pakaian serba ungu, seperti biasanya. Tak lama kemudian datang Tia Marty, Mbak Etty Budiharjo, Mbak Erma, dan Mbak Irhayati Harun. Walau yang datang cuma 6 ibu-ibu, acara tetap berlangsung. Kalau sampai batal, beneran saya mau nangis guling-guling di situ, hehehe…*lebay.

Kira-kira jam 11-an, Bang Boim datang berdua dengan istrinya. Saya dah pernah dengar sebelumnya dari teman-teman FLP Jakarta, kalau ngundang Bang Boim pasti satu paket. Ternyata benar juga. Begitu datang Bang Boim langsung memperkenalkan diri dengan membacakan biodata beliau di layar LCD. Dilanjut dengan sharing ilmu kepenulisan cerpen, novel, dan drama komedi. Ini dia yang saya tunggu-tunggu.

Menurut Bang Boim, ide menulis cerita komedi bisa datang dari mana saja. Bisa dari pengalaman lucu masa kecil, bisa juga dari memotret kejadian sehari-hari. Nah, kalo judul Bang Boim suka mlesetin judul film atau novel yang sedang booming saat itu. Lihat saja judul bukunya, ada Suster Ngepot, Cemburu Berdarah Dingin, dan Ayat Amat Cinta. Tahu, kan, itu plesetan film atau novel apa?

Karena itu, pasang mata dan telinga, cari tahu apa yang sedang trend saat ini. Mulai dari film, novel, atau berita yang sedang ramai dibicarakan orang saat ini. Cari sesuatu yang mirip dengan hal itu. Misal saat booming film Badman Begins, Bang Boim bikin novel Badman Bidin. Pokoknya cari yang kedengarannya mirip, gitu.

Hampir semua ibu-ibu yang datang mengeluh soal sulitnya membuat cerita komedi. Bang Boim sendiri mengakui, teman seruangannya saja sampai berkeringat sebiji jagung kalo disuruh membuat cerita komedi. Tips dari beliau, buat aja dulu ceritanya, nanti kita cari celah di mana dimasuki unsur komedi. Misal tokoh utama ganteng tapi oon kayak novel Sotoy, atau cerita percintaan, orang tua si cewek pendengarannya terganggu kayak Bolot, atau tokoh utama berbadan kekar tapi takut pada sesuatu yang kecil seperti kecoak.


Terakhir Bang Boim cerita, kalau beliau punya jam biologis menulis, yaitu setelah sholat Subuh dan sebelum berangkat kerja. Kira-kira 2 jam-an lah, setiap pagi. Rutin! Makasih banyak ya, Bang, sharing ilmunya. Bermanfaat banget. Dan mudah-mudahan setelah pertemuan ini saya jadi semangat membuat novel komedi lagi. Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin saya utarakan langsung, tapi saya nggak enak sama Mbak Ade, istrinya, hehehe…*apa seeeh? Saya cuma pengin bilang, “Bang Boim, maukah kau menjadi mentorku?”



Selasa, 03 September 2013

Anggota Tertua Yang Paling Eksis dan Narsis

22.11 0 Comments
Alhamdulillah, akhirnya saya diberi kesempatan bergabung di komunitas penulis paling populer di negeri ini yaitu Forum Lingkar Pena (FLP). Sudah lama saya memang ingin bergabung di komunitas ini. Saya takutnya di akhirat nanti, ada pertanyaan dari malaikat, “Dulu di dunia pernah gabung dengan FLP apa belum?” Hehehe…just kidding!

Di FLP Jakarta syarat menjadi anggota lebih mudah daripada di FLP Cabang lain. Tinggal bayar Rp350.000, ikut studium generale, datang di pertemuan rutin 12 kali, trus terakhir, ikut inaugurasi. Di FLP lain malah harus menyertakan karya sastra seperti cerpen atau puisi. Studium generale dilaksanakan pada tanggal 13 Januari 2013, jam 13.00 dengan pembicara Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik di Aula Besar Museum Mandiri, Kota Tua.

Sebulan dua kali, hari Minggu jam 10.00, kami para Pramuda FLP Jakarta Angkatan 17, mendengarkan kajian sastra dari para pakar di serambi masjid Amir Hamzah, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta. Saya merasa seperti emak-emak di tengah ABG. Memang iya…rata-rata teman saya masih kuliah atau baru lulus kuliah. Sementara saya dan Mbak Nuke sudah menikah dan punya anak masing-masing 3 dan 5.

Eits…jangan salah, biarpun sudah berumur, kami berdua dinyatakan sebagai peserta terbaik kedua dan ketiga, loh. Kalau terbaik pertama, Isti memang hebat. Bahasa Inggrisnya cas cis cus, pernah jadi nominator lomba menulis internasional, jago bikin puisi, jago story telling, dan apa lagi ya…pokoknya hebat deh. Lha, saya sama Mbak Nuke? Nggak salah tuh panitia milih kita berdua?

Apa karena saya dan Mbak Nuke pernah nraktir para senior makan siang di kantin TIM waktu itu ya? Hehehe…Tapi yang pasti kita berdua memang rajin datang di pertemuan rutin. Saya kayaknya cuma bolos satu kali deh, waktu pertemuan di Taman Ayodya, sekitar Blok M. Habis, jauh sih *ngeles. Kalau Mbak Nuke nggak pernah bolos kayaknya, kalau datang telat pernah sih * itu mah biasa.

Ya, sudah lah, apapun keputusan para pengajar, saya terima saja. Tapi cukup jadi beban buat saya, karena itu artinya saya harus membuktikan kelebihan saya dalam bentuk karya sastra. Padahal ilmu saya masih cetek, belum ada apa-apanya dibandingkan para senior. Bahkan di kalangan teman Pramuda 17, saya juga termasuk pas-pasan. Dan, mudah-mudahan saya dipilih sebagai salah satu peserta terbaik bukan karena usia saya yang sudah tidak muda, jadi mereka sungkan dengan saya, hehehe…


Mau lihat bukti kenarsisan saya? Ini dia penampakan saya di acara inaugurasi di Kebun Raya Bogor, 25 Agustus 2013…

si manis jembatan merah

7 bidadari di tengah hutan

persiapan sebelum pentas

sertifikat plus hadiah berupa novel

liat kamera langsung pada bergaya


Selasa, 20 Agustus 2013

Cerita Mudik (Terakhir) Kami...bagian 2

14.03 0 Comments
Rabu, 7 Agustus 2013

Sesuai kesepakatan bersama, sore sehabis sholat Ashar, saya dan kedua kakak saya yang tinggal di Semarang ketemuan di bawah pohon kamboja. Ya, kami mengunjungi makam kedua orang tua kami. Ketika rombongan keluarga kami datang, Mas Win, kakak pertama saya sudah berada di makam dengan istri dan ketiga anaknya. Tampak pula Bulik Mamik, adik Bapak satu-satunya yang masih ada, berada di makam suaminya. Kami berdoa bersama dipimpin Mas Win. Tak lama kemudian rombongan keluarga kakak kedua datang.

Saat melihat pusara Bapak dan (terutama) Ibu, air mata rasanya sulit dibendung. Kangen dan sedih jadi satu. Apalagi saat ramadhan kemarin, saya pernah mimpi bertemu dengan mereka berdua. Rasanya seperti nyata, kami sekeluarga berbincang hangat, entah apa yang sedang kami bincangkan. Bapak, Ibu, maafkan kesalahan anakmu, maafkan kalau anakmu tak sempat membuatmu bahagia. Semoga kalian berdua tenang di sisi-Nya, mudah-mudahan kita nanti dipertemukan di surga-Nya. Amin.

makam Bapak

makam Ibu


Pulang dari makam, kami langsung menuju rumah Bulik Mamik untuk sungkeman. Suasana haru menyeruak saat kami (kakak pertama, kakak kedua, dan saya) bersimpuh di kaki Bulik kami satu-satunya itu. Sebelum pulang kami berfoto bersama di depan rumah. Oh, ya, Bulik tampak senang saat suami mengatakan kalau kami akan balik lagi tinggal di Kendal.

tiga saudara


Kami tiba lagi di rumah mertua pas adzan Maghrib. Alhamdulillah, menu buka puasa terakhir ini sangat....istimewa * Cherrybell mode on. Mbak Tri dan Mas Bayu membuatkan lontong tahu campur pesanan suami. Beberapa hari ini suami memang pengin banget makan tahu campur buatan Pak Amin, favoritnya. Tapi kami nggak tau lagi keberadaan Pak Amin, warungnya sudah tutup. Rasa sambal kacang buatan Mbah Kakung nggak kalah lezatnya dengan buatan Pak Amin kan, Beib...

Mbak Tri dan Mas Bayu juga bikin rica-rica menthok pesenan Dik Bambang, adik iparnya. Hihihi...dasar adik-adik tak tau diri, sukanya ngerjain kakaknya. Salah sendiri sang kakak pinter masak, baik hati, dan penurut. Maaf ya, Mbak, Mas *sungkem.

Tiba-tiba Mas Budi, kakak kedua suami mengabarkan kalo mau sungkeman malam ini. Tumben...biasanya, dia kan ke rumah keluarga istrinya dulu, baru pagi hari setelah sholat Ied sungkeman sama Bapak Ibu. Ya, sudah, kami nurut saja. Mas Budi kan yang paling sibuk, pasiennya mengalir nggak pernah berhenti.

Jam 8 lebih, barulah pasukan dalam formasi lengkap. Acara sungkeman pun dimulai. Satu per satu dari anak pertama sampai ke-5 (yang ke-6 nggak mudik), sungkem pada Bapak Ibu. Acara berikutnya, yang paling ditunggu anak-anak: bagi-bagi angpao. Hore...! Untuk mendapatkan angpao dari Mbak Tri dan Dik Tutik ternyata nggak mudah, perlu perjuangan. Bayangkan, anak-anak ditanya: siapa nama asli Mbah Kakung, Mbah Putri, bapaknya Mbah Kakung, bapaknya Mbah Putri, sampai siapa pacar Kak Shelvi. Hahaha...ada-ada saja.

sungkeman

lima saudara



Kamis, 8 Agustus 2013

Masjid di samping rumah, kalau sholat Ied, jamaahnya hanya untuk laki-laki. Yasudah...lagipula saya dan Nabila sedang berhalangan. Jadi acaranya hari ini hanya makan, tidur, dan menemui tamu yang masih kerabat dan saudara. Bapak kan dulu mantan Kepala Desa yang lama berkuasa. Saudara dari Bapak dan Ibu juga banyak, jadi tamu yang datang juga banyak.

Malam hari, suami mengajak saya mengunjungi teman seperjuangannya saat datang ke rimba Jakarta dulu, Mas Dayat. Kebetulan adik Mas Dayat, Imron, adalah teman SMA kami. Jadi kami berbincang hangat bersama malam itu. Tiba-tiba, suami ngajak pulang karena ada sms dari rumah, kalau Ibu ngajak silaturrahim ke rumah saudara-saudaranya.

Sempat bete karena harus menunggu Ibu yang masih nyiapin ini itu dulu. Saya pikir ketika sampai di rumah, Ibu sudah siap berangkat ke rumah saudaranya. Tapi kata suami, “Aku pulang kan ingin menyenangkan Bapak Ibu. Jadi ya nurut saja, apa mau mereka. Sabar, ya.” Sudah bisa ditebak, karena sudah jam 9, beberapa rumah yang kami kunjungi sepi, penghuninya sudah tidur. Beberapa, masih ada yang belum tidur, jadi kami sempat berbincang-bincang sebentar.

Jumat, 9 Agustus 2013

Rencana reuni dengan teman-teman SMA batal, koordinatornya masih berada di luar kota, di rumah mertua masing-masing. Jadilah suami tidur aja seharian. Saya sih, ngerjain kain felt dan katun yang saya bawa dari Jakarta. Alhamdulillah, jadi beberapa bros dan boneka felt karakter.

Menjelang Maghrib, Ibu mengajak kami ke rumah saudara-saudara Bapak. Dilanjut, setelah sholat Maghrib, ke rumah Kakak Ibu yang tinggal terpencar dari saudara lainnya. Anak-anak biasa memanggilnya Mbah Mami. Dia merupakan favorit anak-anak karena selalu memberi angpao paling banyak dibandingkan saudara Bapak Ibu lainnya, hahaha...

Pulang dari Mbah Mami, kami mampir ke alun-alun kota Kendal tercinta. Menikmati bakso dan mie ayam di pojokan, dilanjut ngajak para balita naik odong-odong berbentuk angsa yang menyala karena ada lampu di sepanjang rangka besinya.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Pagi, lagi asyik-asyik jahit kain, tiba-tiba Siti (teman SD sampai SMA saya), mengabarkan kalau di sedang berada di rumah Mas Budi. Anak sulungnya dikhitan. Saya dan suami segera menemuinya. Ngobrol-ngobrol sebentar, kami pun berpisah.

Tiba-tiba, datang kabar lagi kalau anaknya Yuni (keponakan yang pernah bekerja di rumah saya dulu), anaknya juga dikhitan. Uniknya lagi, ketika kami bersama Ibu mengunjungi rumah mertua Yuni, saya bertemu Siti. Oh, ternyata suami Yuni dan Siti saudara kandung. Anak mereka berdua dikhitan bareng, yang mengkhitan ya Mas Budi. Jadi....? Bingung, kan? Pokoknya, sekarang saya dan Siti ada hubungan saudara, meski jauuuuh. Titik.

Sebelum Maghrib, kami pamitan pada Bapak Ibu untuk balik ke Jakarta. Kami mampir dulu ke RSS, ke rumah Pak Dadang dan Pak Suko. Pada keduanya, kami mengutarakan niat kami untuk tinggal lagi di rumah kami. Alhamdulillah, sambutannya baik. Pak Dadang mau membantu kami mengecat dan memperbaiki bagian rumah yang rusak. Pak Suko yang sekarang bukan Pak RT lagi, tak sabar menunggu suami kembali ngumpul di gardu RT. Kalo cuma ngumpul boleh, kalo main kartu jangaaaan, Pak.

Usai sholat Maghrib di Masjid Agung Kendal dan makan mie ayam di pojokan, kami balik ke Jakarta. Selamat tinggal, Kendal tercinta, beberapa bulan lagi kami akan kembali ke sini. Seperti kata Pak Bibit Waluyo, bali deso, mbangun deso *halah.




Rabu, 14 Agustus 2013

Cerita Mudik (Terakhir) Kami...bagian 1

07.19 0 Comments
Sabtu, 3 Agustus 2013

Ini adalah mudik ke-5 yang mungkin juga mudik terakhir saya ke kampung halaman. Kenapa mudik terakhir? Karena saya dan suami berencana awal tahun 2014 akan balik lagi tinggal di kampung. Ups...nggak usah dibahas dulu, tunggu cerita pastinya aja nanti.

Mudik kali benar-benar seperti berada di Lost World* hihihi...lebay. Bayangin, saat berusaha lewat jalur pantura, selalu dialihkan petugas ke jalur alternatif. Awas kau, Pak Polisi, bikin kami nyasar nggak karuan. Kami harus melewati Sumedang dan Majalengka, sebelum akhirnya ketemu tol Palimanan. Mending kalo tengah kota, ini seperti lewat di sisi bukit atau gunung. Jalannya berkelok-kelok, naik turun, kanan kiri cuma ada sawah, ladang, dan hutan. Untung ada GPS di mobil, kami percaya aja meski medannya sulit. Bayangin, jalannya sempit dan rusak, nggak ada petunjuk jalan, lagi. Bahkan di GPS kadang terlihat posisi mobil di tengah lapangan hijau, bukan di jalan yang warnanya merah. Sampai saya berkomentar, ”Jangan-jangan, jalan ini sebenarnya nggak ada alias jalan horor.” Bukannya takut, Nabila malah ngakak mendengar komentar saya.

Alhamdulillah, pas adzan Maghrib, kami pas tiba di kota Tegal. Dan itu artinya, kami bisa mampir ke rumah Mbak Tri, kakak kandung suami yang tinggal di sana. Asyik...makan gratis. Mana Mbak Tri dan Mas Bayu, suaminya, sama-sama jago masak lagi. Maka dalam hitungan menit, es teh, sup jagung, bakwan jagung, dan tahu asin, tandas tak bersisa karena pindah posisi ke perut kami.

Kami sholat Maghrib dan istirahat sebentar, sebelum berlanjut ke kota Kendal tercinta. Sampai di rumah mertua tepat jam 12 teng! Dibanding tahun kemarin yang 30 jam, mudik kali ini lebih lancar. Kami berangkat dari Jakarta usai sholat Subuh. Coba hitung sendiri berapa jam?

Senin, 5 Agustus 2013

Nabila minta dianterin bukber sama teman SD-nya di Taman Garuda. Saya dan suami sih oke-oke aja, sekalian menikmati suasana alun-alun kota tercinta. Jam 5 menuju TKP dan ketemulah Nabila sama 4 temannya. Waktu lulus SD, ceweknya memang cuma 4 orang, jadi sampai sekarang mereka kompak banget, meski beda sekolah. Satu orang lagi, Wardah, hanya sempat setahun sekolah di SDIT Robbani saat bapaknya tugas belajar di Semarang. Setelah itu dia balik lagi ke Makasar.

Kami nungguin kelima ABG buka bersama, sementara saya, suami, dan Sakroni ( bapaknya Wardah), buka tak jauh dari mereka. Oh ya Sakroni itu teman SMA sekaligus teman suami kuliah di APRO dulu. Jadi mereka berdua asyik banget ngobrolnya. Saya mah ngobrol aja sama si kecil, Nabil.

Usai makan takjil, sholat Maghrib di masjid Agung Kendal, dilanjut foto-foto di alun-alun. Karena Nabil teriak-teriak minta makan, kami bertiga lanjut makan nasi kucing di seputar alun-alun. Sementara kelima ABG masih ingin reuni mengenang masa lalu dengan ngobrol-ngobrol di lapangan. Ya sudah, lanjut aja, Gals...

5 muslimah keren



me & Nabil


Selasa, 6 Agustus 2013

Kali ini, Dik Tutik, adik suami, yang ngajak kami semua buka bersama. Berhubung tahun ini liburnya lebih banyak sebelum Lebaran, ya...makan-makannya menyesuaikan, sebelum Lebaran juga. Setelah berdiskusi sana sini dipilihlah Rumah Makan Lik Di yang letaknya di jalan tembus sebelum perempatan Patebon, sebagai tempat reuni keluarga. Jam 5 teng, pasukan dengan 2 mobil menuju TKP. Berhubung pasukannya banyak, sengaja pesan tempat yang lesehan, biar bebas dan leluasa.

Ketika sirine tanda buka puasa berbunyi, pasukan kami terutama anak-anak langsung berdoa dengan keras, “Allahumma lakasumtu....” Sampai pengunjung lain menatap kami dan mungkin dalam hati mereka teriak, “Woi...ini rumah makan, bukan TK atau play group.” Hahaha...yuk ah, buka puasa dulu. Aneka sea food sudah menanti untuk disantap.


Pasukan udah segini banyak ternyata belum formasi lengkap. Rombongan kedua datang, 4 ABG naik sepeda motor menyusul. Tak lama kemudian Mbak Tri dan Mas Bayu, dari Tegal langsung menuju tempat bukber juga. Maka Mbak Kakung (bapak mertua saya) pun segera memberi ular-ular alias wejangan alias nasehat kepada istri, anak, menantu, dan cucu-cucunya. Intinya, anak harus berbakti kepada orang tua, agar hidupnya berkah dan sukses. Tuh, dengerin, Nak, betul nasehat Mbah Kakung, keenam anak Mbah Kakung dan Mbah Putri sukses karena mereka taat dan berbakti pada orang tuanya.

nunggu formasi lengkap

cucu-cucu Simbah

trio ABG galau

Nabila & emaknya

nah...ini formasi lengkap

Ceritanya belum kelar ya, to be continued, gitu. Tunggu, jangan ke mana-mana, saya akan kembali setelah pesan 4 mangkuk bubur ayam buat sarapan.

Jumat, 02 Agustus 2013

Satu Pohon Seribu Komentar

14.21 5 Comments
Saat menempati rumah dinas di kawasan Halim tahun 2009 silam, saya benar-benar surprise. Bayangkan, di sebelah rumah ada kelebihan tanah yang lumayan luas. Bisa dibuat satu rumah lagi, sepertinya. Tapi karena letaknya di tikungan, oleh yang berwenang dibiarkan kosong. Teman anak saya jadi sering main ke rumah untuk bersepeda di sana. Maklum halaman rumah mereka tak seluas halaman rumah kami.



Dan pepatah “Siapa menanam, akan menuai” sepertinya tidak pas dengan kondisi saya. Karena penghuni lama yang menanam aneka buah, saya yang memetik hasilnya, hehehe...Ada banyak tanaman di kebun samping rumah saya. Pepaya, pisang, rambutan, durian, kelapa, belimbing, dan sirkaya. Ada juga pandan dan jeruk purut yang daunnya bisa  membuat masakan jadi tambah harum.

Ah, ada satu pohon lagi yang belum saya sebutkan. Pohon inilah yang akan saya ceritakan di episode kali ini. Beberapa hari setelah menempati rumah, saya curhat pada kakak perempuan saya yang tinggal di Bekasi.
“Mbak, di rumahku ada pohon duwet loh.”
“Oh, ya. Wah, kapan-kapan aku mau ngajak muridmu main ke rumahmu ah.”
“Lha, emangnya kenapa?”
“Kemarin, ada seorang muridku yang bertanya tentang pohon itu. Aku jawab saja, nanti kalo ada Ibu tunjukkan pohon atau buahnya.”

Hehehe...pohon duwet memang termasuk tanaman langka di wilayah Jabodetabek. Bagi yang bukan orang Jawa, mungkin penasaran apa sih buah duwet itu. Duwet itu nama Latinnya: Syzygium cumini. Pohonnya tinggi, bisa mencapai 20 meter. Diameter batang pokoknya antara 10-30 cm. Buahnya berwarna hitam keunguan, rasanya sepat masam. Orang Betawi dan Sunda menyebutnya buah jamblang. Di daerah lain ada yang menyebutnya jambu keling, jambu juwad, atau jambulan. Nah, sekarang sudah tahu, kan, apa yang saya maksud dengan duwet?



 Ternyata oh ternyata, saat saya menceritakan tentang pohon duwet alias jamblang di rumah saya, banyak reaksi tak terduga dari orang-orang di sekitar saya. Ini dia komentar dari mereka yang sempat saya catat.
- Saat berkumpul dengan ibu-ibu istri rekan kerja suami, sebagai pendatang baru, saya memperkenalkan diri.
“Saya tinggal di tikungan jalan Hercules, yang halaman sampingnya luas itu. Ada pohon rambutan, pohon durian,...dan pohon jamblang.”
Seorang ibu berbisik pada saya, “Ada pohon jamblangnya? Nggak takut, Bu?”
“Emangnya kenapa?”
“Pohon jamblang biasanya ada penghuninya loh.”
- Saat kakak ipar saya yang tinggal di Semarang mampir ke rumah, dia juga berkomentar, “Itu pohon jamblang, ya? Hati-hati ya, biasanya ada penunggunya loh. Temanku pernah anaknya hilang pas waktu Maghrib. Eh, ketemunya di atas pohon jamblang.”
Waduh, sudah dua orang yang berkomentar horor. Saya jadi merinding juga. Padahal pohon itu letaknya persis di depan kamar tidur saya. Jadi setiap membuka jendela di pagi hari, pohon jamblanglah yang pertama kali saya lihat.

- Kakak lelaki saya yang tinggal di Pontianak, lain lagi komentarnya. Karena bekerja di Dinas Perkebunan, dia memenuhi halaman rumah dinasnya dengan beraneka tanaman. Saat tahu saya punya pohon jamblang, dia berkata, “Nah, ini dia yang aku belum punya. Besok aku mau minta biji atau pohon anakannya, mau aku tanam di Pontianak.”
- Sementara seorang kerabat dan seorang teman yang usianya di atas saya, saat tahu kalau saya punya pohon jamblang berkomentar, “Dik, kalau lagi berbuah, kirim ke rumah ya buahnya.” Hehehe...buah itu memang terasa enak bagi orang-orang seangkatan dengan saya atau di atasnya. Saat masih kanak-kanak, Ibu saya sering membeli buah jamblang di pasar. Sebelum dimakan, buah dicuci dan diberi garam dan gula pasir. Dikocok-kocok di mangkuk sebentar, lalu dimakan. Rasa sepatnya jadi berkurang. Sementara anak sekarang, karena begitu banyak mengenal buah-buahan manis, pasti mengatakan nggak enak alias sepat. Suami saya bahkan sampai harus memaksa ketiga anak saya untuk  mencicipinya, “Ini dicoba, rasanya enak loh, namanya anggur Jawa.” Hehehe...ada-ada saja nih si Bapak.

Sampai saat ini, pohon jamblang masih berdiri kokoh di samping rumah. Tukang rumput yang rajin memangkas ranting-rantingnya setiap bulan. Kalau dulu bisa dipetik langsung, sekarang harus memakai galah untuk mengambil buahnya. Ya, karena pohonnya semakin tinggi menjulang. Dibandingkan buah jamblang di rumah mertua, rasa buah jamblang di rumah saya lebih manis. Jadi saat berbuah, saya dan suami bisa makan buah jamblang setiap hari.

Alhamdulillah, saya juga belum pernah mengalami hal-hal aneh atau mistis seperti yang diceritakan orang tentang pohon jamblang. Menurut saya, Allah menciptakan sesuatu pasti ada manfaatnya, termasuk pohon jamblang. Beberapa penelitian menunjukkan, buah jamblang bisa menjadi obat tradisional. Bisa mengobati penyakit diare, diabetes, batuk rejan, sariawan, dan sebagai penawar racun.

Jadi intinya, apa pun komentar orang tentang pohon jamblang, saya akan tetap membiarkannya tumbuh di halaman. Selain membuat halaman jadi adem, bisa jadi sarana pembelajaran bagi anak-anak di sekitar rumah. Dalam buku PLBJ anak saya tertulis, salah satu tanaman langka di Jakarta adalah pohon jamblang. Jadi, bagi yang belum pernah melihat pohon atau buah jamblang, datang saja ke rumah saya, hehehe...

Ini dia penampakan si penunggu pohon jamblang plus sapu (nggak bisa) terbangnya. Bila pagi-pagi terdengar suara srek...srek...srek..., jangan takut. Itu berarti si penunggu sedang membersihkan daun-daun pohon jamblang yang berguguran.



 Tulisan ini diikutkan "Give Away Aku dan Pohon"-nya Mbak Arin Murtiyarini.