Selasa, 12 Desember 2017

Menikmati Makanan Tradisional di Tengah Kebun Karet

13.32 4 Comments
Waktu menunjukkan pukul 7 lebih. Jalanan dari Kaliwungu ke arah Boja lumayan lengang. Cuaca yang cerah pagi itu membuat perjalanan motoran kami terasa lebih asyik. Bisa menyaksikan pemandangan kiri kanan yang masih perawan dan udara yang sejuk segar.


Oh, ya, pagi itu empat perempuan perkasa niat banget mau ke Pasar Karetan, destinasi wisata yang baru diresmikan Bupati Kendal dan Kemenpar Semarang tanggal 5 November 2017. Lokasi wisata Radja Pendapa sebenarnya masih di wilayah Kendal, tepatnya Dusun Segrumung, Desa Meteseh, Kec. Boja. Tapi dikelola oleh Kemenpar Kota Semarang dibantu teman-teman GenPI.

Karena masih baru, petunjuk arah ke lokasi masih sederhana, berupa tampah dicat putih trus ditulisi, hihihi...Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di lokasi. Dari lapangan parkir mobil masih harus naik kereta mini melewati rumah penduduk menuju Pasar Karetan. Karena baru pertama kami nggak tau, ternyata ada penitipan motor yang dekat banget dengan TKP. Motor kami sudah terparkir di SD Meteseh 5 dengan uang parkir 2.000, standart lah.

Turun dari kereta mini, kita disuguhi pemandangan hutan karet, sebelum masuk loby. Dan begitu masuk ada tempat penukaran uang dengan girik. Jadi kalo mau menikmati makanan tradisional di dalam, kita pakai uang kayu dengan pecahan 2.500, 5.000, dan 10,000. Biar nggak tercecer, uangnya dimasukin ke dalam kantong belacu. Unik, ya?

dhuwit kayu dan wadhahnya




Kayaknya semua spot di sini instagramable, cucok banget buat foto-foto. Mulai dari pintu masuk sampai arena Pasar Karetan. Di dalam kita bisa menikmati sarapan pagi yang tradisional banget seperti  lontong pecel, gendar pecel, tahu gimbal, lontong opor,  bubur ayam, dan sego jagung. Sementara kalo pengin yang agak ringan ada aneka jenang (baca: bubur manis). Ada juga bakso yang mangkuknya bathok kelapa. Untuk minuman, bisa menikmati dawet atau minuman rempah yang wadahnya juga unik.

Karena anak-anak GenPI ikut mengelola, maka kami menyapa di tengah kesibukan mereka, seperti Agustina yang jadi bendahara, Zain yang hari itu jadi MC, dan yang lainnya. Dari salah satu dari mereka, yang bantu jualan pecel, kami dapat info kalo Pasar Karetan itu sangat membantu para pelaku UKM. Mereka tinggal menempati lapak yang sudah disediakan, tanpa uang sewa hanya dikenai fee 20%. Dari pengamatan kami, hampir semua dagangan yang digelar ludes, bahkan sebelum jam 11 saat penutupan.


aneka jenang

bakul pecelnya diajak ngobrol biar dikasih banyak



Oh, ya, tadi di pintu masuk, kami nukar uang 200 ribu. Maksudnya sekalian, biar nggak bolak-balik. Toh kalau sisa bisa diuangkan lagi. Dua dari kami makan lontong pecel yang dipatok 12.500/porsi, aneka gorengan seribuan. Trus es dawet, bubur, air mineral, dan singkong goreng. Ternyata masih sisa 100 ribu, lumayan irit nih emak-emak.

Puas makan-makan, jalan- jalan, tiduran di pendopo di tengah kolam, plus foto-foto, kami pun berniat pulang. Waktu menunjukkan pukul 11 lebih sedikit ketika MC menyatakan bahwa pasar akan ditutup. Eh, tapi ternyata anggota rombongan masih ada yang ngobrol saat ketemu temannya. Yaudah yang lain pun mencoba permainan tradisional dan foto-foto di panggung yang sudah kosong. Duh, tepok jidat tenan. Ayo, Mak, ingat anak-anak di rumah.

naik panggung tanpa penonton

nyoba maen bakiak

Hujan pun turun dengan derasnya. Semua menunggu di loby, ada juga yang nekat naik kereta mini menuju tempat parkir. Kita milih nunggu, maklum awak tuwo, bisa remuk kalo kehujanan. Akhirnya begitu hujan berhenti kita langsung cap cus. Sampai ketemu lagi ya, Mak, kapan-kapan kita jalan-jalan lagi.


Rabu, 29 November 2017

Duhai, Muslimah, Menulislah

22.58 26 Comments
Akhir-akhir ini banyak sahabat dunia maya saya yang curhat di FB tentang prahara rumah tangganya. Ada yang mengalami KDRT, ada pula yang diselingkuhi suaminya. Mungkin maksudnya agar hati jadi lega karena nggak tahu harus curhat pada siapa ( padahal curhat terbaik kan hanya sama Allah saja). Ada yang curhatnya enak dibaca dan bisa diambil hikmahnya. Ada pula yang curhatnya termehek-mehek, sudah tiap hari nyetatus, statusnya lebay, lagi, maklum mamah muda.

Jaman memang sudah berubah. Kehadiran internet dan media sosial tak bisa dihindari. Bagi Emak-emak seangkatan saya, mau tak mau, suka nggak suka ya harus menyesuaikan diri. Kalau nggak bisa ngikutin perkembangan jaman, siap-siap jadi dinosaurus....alias punah, hihihi. Itulah makanya saya bikin akun FB, Twitter,Instagram, dan WhatsApp, biar nggak punah.

Ingin rasanya saya memberitahu Saudari saya yang suka curhat di FB tentang kegalauan hatinya. Bahwa ada yang namanya Blog, tempat menuliskan isi hati layaknya kita ngisi diary * ups, ketahuan lagi deh umur saya. Banyak loh manfaat nulis di Blog, di antaranya:
1. Berbagi ilmu yang kita punya pada pembaca. Misalnya blog kita fokus berisi resep masakan, maka tentu sangat berguna bagi mereka yang lagi belajar masak, nyusun menu, atau sedang diet.
2. Melatih diri yang sebelumnya jarang nulis jadi semakin terampil. Tak jarang semakin lama tulisan jadi semakin lancar, mengalir, dan enak dibaca. Ada beberapa orang yang tulisan di blognya menjadi sebuah buku, bahkan diangkat ke layar lebar. Salah satunya Raditya Dika.
3. Menuliskan pengalaman pribadi kita yang bisa diambil ibrohnya bagi pembaca. Tuliskan yang baik-baik saja, agar tidak terjebak dalam ghibah atau menjelek-jelekkan orang lain. Kalau pesan orang bijak, simpan dulu cerita sedih atau buruk. Nanti ketika waktunya tepat, barulah kita tuliskan semuanya. Contohnya kisah orang-orang sukses, pada saat di puncak kesuksesan, orang pasti akan ternganga ketika tahu perjuangannya yang berdarah-darah.

Menulis hal-hal yang bersifat pribadi harus hati-hati. Jangan sampai ketika menceritakan tentang suami kita, seperti sedang membuka aib sendiri. Ingat, suami adalah pakaian untuk istri dan sebaliknya istri pakaian untuk suami. Pakaian kan fungsinya untuk menutup aurat, jadi jangan buka aib pasangan hidup kita. Karena itu luruskan niat, bahwa kita menuliskan kisah sedih yang kita alami agar bisa jadi pelajaran bagi pembacanya dan untuk membersihkan kerak hati.

Kerak hati? Ya. Setiap orang pasti punya kerak di dalam hatinya, terutama yang berhubungan dengan masa lalu. Entah rasa takut, malu, sedih, atau trauma. Tanpa disadari, kerak hati itu bisa muncul sebagai penyakit fisik seperti pusing, sakit perut, dan sakit kulit. Agar bisa menjadi pribadi yang positif dan sehat lahir batin, maka kerak itu harus dibersihkan. Nah, menulis bisa menjadi salah satu cara untuk membersihkan kerak hati.

Menurut pakar, menulis itu bermanfaat untuk kesehatan jiwa raga loh, di antaranya:
1. membantu memulihkan emosi
2. semangat hidup lebih meningkat
3. kualitas tidur lebih baik
4. membuat bicara lebih lancar
5. membuat beberapa penyakit hilang

Nah, tunggu apa lagi. Duhai Muslimah, apa pun kondisimu, menulislah. Kalau mengalami kepedihan, tulislah. Kalau punya ilmu, berbagilah dengan menuliskannya. Kalau punya pengalaman berharga, juga menulislah. Dari Blog bisa berubah menjadi Buku. Jadikan tulisan sebagai rekam jejak hidup kita di dunia. Biarkan teman, saudara, dan anak cucu kita tahu siapa kita. Buat mereka bangga punya teman, saudara, ibu, atau nenek yang hebat seperti kita.




#PostinganTematik
#BloggerMuslimahindonesia


"Tulisan ini diikutkan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia"

Senin, 25 September 2017

WS Jualan Via Sosmed oleh Orisinal Indonesia

20.30 0 Comments
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Saya dan solmed saya, Mbak Ismi nggak sadar kalau hari Ahad di seputar Simpang Lima Semarang ada Car Free Day. Kami lumayan bingung saat diturunkan BRT di Kampung Kali. Alhamdulillah, duo abang ojol yang ganteng aka dua ponakan kesayangan, segera datang. Maka diantarkanlah kami ke Noormans Hotel, tempat akan dilangsungkan acara workshop bertajuk “Sosmed Menggigit, Omzet Melejit” yang diadakan oleh Orisinal Indonesia.


Saat menikmati snack sambil ngobrol dengan teman semeja, panitia mengumumkan bahwa semua harus pake kaos hitam yang barusan dibagikan. Beruntung saya pake gamis hitam, jadi nggak perlu pake kaos pendek kayak Mbak Ismi. Satu round table ada 8 kursi dan di meja kami berisi 7 orang, 3 Emak2, yang 4 mahasiswa Unisula.

Jam 10 acara dimulai dengan pembicara pertama yang nggak lain Foundernya OI, Mas Ikhwan Saefulloh. Dengan gayanya yang khas, santai dan kocak, beliau membawakan materi tentang Branding. Nggak terasa, karena yang dibahas ringan dan lucu (haiyah...kok kayak tagline acara komedi jaman dulu), 2 jam nggak terasa. Hingga akhirnya tibalah saat ishoma.


Usai rehat 1 jam dilanjut Pak Firdaus Adinegoro, founder Komunitas Kuliner Semarang bercerita tentang komunitasnya. Eh, tapi sebelumnya ada founder dan owner Jamu Borobudur, yang bersedia hadir di meja peserta dan share sedikit ilmu. Beliau bercerita sejarah dan jatuh bangunnya perusahaan jamu yang terkenal dengan iklan”...kulit manggis kini ada ekstraknya...”


Usai coffebreak, materinya tentang fotografi. Keren dan asyik banget cara Mas Bayu Sakti Pamungkas ngasih materinya. Karena terbatasnya jumlah fotoboxnya, maka harus gantian foto produknya. Ditambah peserta bisa jalan-jalan, suasana jadi santai, nggak spaneng. Bisa liat cara Mas Bayu bikin foto intip goreng (cemilan dari nasi kering) jadi cakep dan menggiurkan.



Foto-foto hasil motret diupload ke IG Orisinal Indonesia, yang bagus dapet souvenir dari sponsor. Punya saya? Masih kurang memuaskan hasilnya, hehehe...Gapapa, masih harus banyak belajar berarti. Sebelum pulang, para peserta dikasih sertifikat dan mini photobox dari kardus. Tapi karena susah bawanya (maklum, saya dan Mbak Ismi kan ngangkot), kardus itu nggak kami ambil. Yang pasti saya jadi semakin yakin bahwa ini jaman medsos. Kalo mau sukses yang harus tau tips dan triknya jualan via medsos.



Rabu, 20 September 2017

Tahun Baru, Semangat Baru

12.50 0 Comments
Puji syukur kehadirat-Mu ya Robb. Saya dipertemukan dengan orang-orang baik, yang mengajak berhijrah. Saya jadi banyak belajar tentang Islam. Mulai belajar ngaji tajwid, belajar mengaenal angka Arab, bulan-bulan Islam, nama istri  dan anak Rasulullah, dan hal-hal lain yang saya belum tahu. Kadang malu, Hello ke mana aja Lu, Mbakbro? Kok baru jelang 50 tahun baru belajar mengenal agamamu. Segala sesuatu atau setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa diambil. Mungkin cobaan yang saya alami beberapa waktu lalu, inilah hikmahnya * ups, bikin kepo aja.

Jelang tahun Baru 1 Muharram 1439 H tiba-tiba ingat workbook Pak Jamil Azzaini yang berjudul "Tuhan, Inilah Prosposal Hidupku" dan pengin ngisi. Enaknya isinya diupload nggak ya? Tahun baru Masehi kemarin saya sudah buka kartu tentang Resolusi tahun 2017. Dan banyak resolusi yang terwujud. Sungguh Allah Maha Baik...

Bismillah, saya ingin memulai tahun baru ini dengan hal-hal yang baik dan positif. Saya ingin terus bertumbuh jadi pribadi yang sukses mulia. Hehehe...akhir-akhir ini suka liat video motivasi Pak Jamil jadi terpacu untuk jadi insan sukses mulia. Punya kelebihan 4 ta (harta, tahta, kata, dan cinta) dan mau berbagi pada sesama.


Pojok rumah, 20 September 2017



Rabu, 30 Agustus 2017

Belajar Dari Kisah Nabi Ibrahim

20.58 0 Comments
Setiap Hari Raya Idhul Adha, kisah Nabil Ibrahim dan Nabi Ismail selalu diulang-ulang oleh para khotib. Ya, kita memang harus selalu diingatkan agar meneladani kesholehan Nabi Ibrahim. Apa saja yang bisa kita teladani?
1. Berani menantang siapa pun yang tidak percaya pada Allah. Bahkan tidak takut saat dilemparkan ke kobaran api oleh Raja Namrud.
2. Rela berhijrah dari Irak ke Syam ketika keadaan tidak kondusif. Ini sebenarnya hijrah pertama para Nabi. Bagi kita, tinggalkan hal yang haram atau meragukan, pindah ke jalan yang diridhoi Allah.
3. Sebenarnya tidak mau ta’adud, tapi atas saran istrinya, Sarah akhirnya menikahi Hajar demi mendapatkan keturunan agar bisa meneruskan ajaran agama Islam.
4. Semakin tinggi iman, semakin besar cobaannya. Bertahun-tahun tidak punya anak, ketika istrinya, Hajar melahirkan, Allah memerintahkan untuk meninggalkan istri dan bayi yang baru dilahirkan di sebuah lembah yang gersang, tandus, dan jauh dari pemukiman.
5. Taat pada perintah Allah, apa pun itu. Bahkan perintah untuk menyembelih anak yang telah lama terpisahkan. Anaknya pun tak kalah taat. “Kalau memang itu perintah Allah, lakukanlah.”
6. Lebih mencintai Allah, dibandingkan orang tua, istri dan anaknya.
7. Punya istri sholehah dan anak yang sholeh. Di usia senja, Sarah akhirnya hamil dan melahirkan Nabi Luth. Karena punya keturunan yang menjadi Nabi, maka Nabi Ibrahim mendapat sebutan Bapaknya para Nabi. Anak yang sholeh terlahir dari ibu yang sholehah.

Belajar dari Nabi Ibrahim yang rela menyembelih anaknya, anak yang telah lama dinantikan kehadirannya. Dan ketika sudah lahir harus terpisah, bahkan ketika sudah dewasa harus disembelih. Ini mengajarkan kaum muslimin agar rela mengorbankan sedikit hartanya untuk membeli binatang sembelihan (unta, sapi, kambing) lalu dibagi-bagikan.

Lalu mengapa ada orang mampu yang tidak mau berqurban? Mungkin mereka belum tahu hadist ini: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Maka bagi yang mampu, beli dan sembelihlah sapi atau kambing selama hari tasyrik. Selamat Hari Raya Idhul Adha 1438 H.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Mengambil Hikmah Dari Kisah Siti Hajar

19.45 0 Comments
Banyak pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari kisah Siti Hajar. Yang pasti sikap sabar dan taat yang luar biasa. Hajar adalah istri kedua Nabi Ibrahim, yang menikah atas permintaan istri pertama Siti Sarah. Semua demi punya keturunan  agar bisa meneruskan ajaran Islam yang selam ini mereka perjuangkan.

Namun, ketika Hajar akhirnya hamil dan melahirkan, Sarah merasa cemburu dan meminta Nabi Ibrahim membuang Hajar dan bayinya menjauh dari kediaman mereka. Atas perintah Allah, Ibrahim meninggalkan Hajar dan Nabi Ismail yang masih bayi itu di sebuah lembah yang sangat sepi, jauh dari pemukiman. Suatu saat, ketika perbekalan habis, Hajar mencari air dengan berlari dari bukit Shafa ke bukit Marwa sebanyak 7 kali. Atas kuasa Allah, ternyata Allah malah memberi air di dekat kaki Ismail, yang kini dikenal dengan mata air zam zam.

Nah, kisah perjuangan Hajar itu bisa dianalogikan di jaman sekarang, saat kita sedang mengalami cobaan. Untuk mendapatkan solusi dari masalah yang kita hadapi, harus terus berusaha terus menerus semaksimal mungkin. Allah Maha Baik, tidak akan membiarkan hamba-Nya yang berusaha tanpa memberi balasan. Allah akan mengabulkan doa semua hamba-Nya yang meminta. Dan kadang Allah mengabulkan dengan cara yang sulit diterima nalar manusia.

Ini kisah Kang Dewa, seorang pengusaha, yang pernah punya hutang sekian milyard. Bisnis yang dibangun gagal, para investor mengerjar-ngejar uang yang mereka titipkan. Uang di kantong tinggal sekian ribu rupiah saja. Tapi Kang Dewa nggak putus asa, dia tetap berusaha jualan kaos dan makanan yang kalau dihitung dengan kalkulator, butuh waktu puluhan tahun untuk menutup hutangnya. Menurut Kang Dewa, dia harus tetap bergerak, sebagai bukti ikhtiar.

Dan, akhirnya Kang Dewa bertemu seorang teman yang meminta dia untuk menulis buku yang menceritakan tentang kegagalan usahanya. Ternyata di situlah Allah membuka pintu rejeki untuk Kang Dewa. Bukunya laku terjual, padahal ditawarkan dengan sistem PO, dicetak setelah orang pesan. Sekarang, Kang Dewa sudah menerbitkan beberapa buku dan hutangnya...lunas. Dia sering mengingatkan peserta seminar agar terus berusaha di saat diberi cobaan hutang yang menumpuk.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Senin, 28 Agustus 2017

Si Imut yang Rajin Nulis

10.01 0 Comments
“Barokallah laka wa baroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fil khoir”, artinya: mudah-mudahan Allah memberkahi engkau dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan. Itu doa yang diajarkan oleh Rasullullah kepada orang yang sedang menikah. Dan itu juga yang saya ucapkan pada sahabat saya, Nyi Penengah Dewanti yang hari ini menikah.

Saya belum begitu lama mengenalnya. Ketika masih di Jakarta saya pernah menyapa dia lewat FB, sekedar kenalan, karena tahu dia orang Kendal. Setelah balik ke Kendal pun saya nggak pernah ketemuan dengannya. Hingga akhirnya, suatu saat di pesen boneka flanel karakter untuk temannya yang ulang tahun. Nah, itulah pertama kalinya kita ketemuan di rumah saya.

Sejak itu kita sering chatting. Karena sama-sama blogger, kita sering ngobrol kalo ada kopdar di Semarang. Tolong dicatet, dia blogger aktif sementara saya blogger abal-abal. Sudah 3 kali saya dan dia datang bareng di acara kopdar blogger Semarang. Trus ketika tempat kerjanya Oemah Sedekah ngadain baksos, saya juga pernah ikutan.


Nyi itu fisiknya imut, nggak nyangka kalo umurnya dah kepala 3. Yang belum kenal pasti ngirain dia baru berumur 20 tahunan. Terlahir dari buah cinta lelaki Jawa dan perempuan Bali, sebagai anak tengah dari 3 bersaudara. Kakak dan adiknya cowok semua. Biar kecil tapi dia rajin banget nulis. Tiap habis jalan entah ke tempat wisata atau tempat makan, pasti nulis. Trus dia juga sudah menelurkan beberapa novel remaja. Keren, kan?

Di saat lagi banyak beban, kita sering chatting curhat malam-malam. Saya salut pada dia dan ibunya yang begitu tabah menghadapi cobaan hidup yang luar biasa kerasnya. Nyi pernah terpaksa harus bekerja jadi BMI di Hongkong demi membiayai sekolah adiknya. Ibunya tipe perempuan Bali yang penurut, sabar, dan pekerja keras. Pekerjaan apa pun rela dijalani demi bisa menghidupi keluarganya.

Hari ini, Ahad, 27 Agustus 2017, Nyi telah melabuhkan hatinya pada Mas Hadi, lelaki asal Pemalang yang ketemu di kopdar BukaLapak. Semoga kalian bahagia. Kamu berhak bahagia setelah diterpa badai yang luar biasa. Saya pribadi berdoa semoga Nyi diijinkan suaminya tetap jualan online. Dia kan marketer saya. Selama ini dah banyak bantu jualin dagangan saya loh. Semoga...

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia