Rabu, 09 Mei 2018

Raudhah Malam itu

22.28 0 Comments
Usai sholat Maghrib dan makan malam, kami jamaah umroh perempuan berkumpul di lobi hotel. Sesuai jadwal, malam ini kami akan ke Raudhah didampingi muthowifah yang saya nggak sempat mengingat namanya. Yang pasti dia orang Sunda, terlihat banget dari logatnya. Sejak awal dia terlihat kurang ramah, soalnya ngomel sendiri karena ibu-ibu belum kumpul semua.

Akhirnya, kami berangkat juga begitu ibu yang paling sepuh muncul. Dengan berpakaian serba hitam, kami serombongan berjalan setengah berlari, mengikuti Teteh muthowifah. Kami masuk melalui pintu 25 dan langsung cari posisi karena sholat Isya’ akan segera dimulai.

Begitu sholat selesai, si Teteh langsung kasih instruksi kami untuk bergegas antri di tempat menuju Raudhah. Saya yang mendorong Ibuk sampai salah jalan saking paniknya. Dan...si Teteh langsung ngomel panjang. Sabar...sabar...Begitu tahu kalo yang mau mendorong kursi roda Ibuk adalah Mak Pik, si Teteh bilang sambil menunjuk saya,”Jangan...yang ndorong Mbak aja yang lebih muda.” Hmmm, saya? Baiklah, mungkin ini emang yang terbaik untuk saya.

Jalur untuk yang naik kursi roda terpisah. Saya harus ngantri bareng rombongan lain yang nggak saya kenal sama sekali, bahkan dari berbagai negara yang beda bahasanya. Perjuangan ini luar biasa...semua berdesak-desakan ingin cepat sampai tujuan. Kaki belakang saya entah berapa puluh kali tertabrak kursi roda di belakang. Duh, perih. Saya juga beberapa kali (tak sengaja) menabrak kaki orang di depan saya. Dengan bahasa tubuh, saya paham mereka berkata, “ Hei, woles, jangan tabrak gue dong!”

Melihat antrian yang seperti ular naga panjangnya, saya hanya bisa berbisik pada Ibuk, “Sabar nggih Buk, kita sudah terlanjur di tengah antrian panjang ini.” Untuk balik jelas nggak mungkin, ini kan kesempatan langka. Akhirnya, setelah sekitar 5 jam ngantri, sampai juga saya dan Ibuk di Raudhah. Masya Allah, inilah salah satu tempat yang katanya makbul untuk berdoa.

Tempat untuk yang naik kursi roda hanya sedikit. Yang mengantar disuruh nunggu tak jauh dari barisan kursi roda. Saking sempitnya ruangan yang dibatasi tirai-tirai itu, saya nggak dapat tempat sholat. Akhirnya hanya bisa pasrah, berdiri sambil merapal doa, “ Ya, Robb, hamba datang untuk memohon ampunan dari-Mu. Tunjukkan hal-hal terbaik menurut-Mu ya Allah. Apa pun itu, hamba ridho menerimanya.”

Ada sekitar setengah jam kami berada di Raudhah, sebelum akhirnya kembali balik ke pintu 25. Sungguh perjuangan yang luar biasa. Tengah malam saja antrian kursi roda masih panjaaaang. Mungkin Subuh baru kelar antrian itu. Begitu keluar dari pintu 25, beberapa orang meneriaki kami berdua. Ternyata ada Mas Tri ( tour leader), muthowif, muthowifah, dan Mas Bambang. Wajah mereka tampak cemas.

Kembali si Teteh nerocos, “ Ini gimana sih, yang lain dah balik ke hotel jam 10. Harusnya selisihnya 2 jam aja. Saya sampai harus balik ke sini lagi karena dikabari ada 3 orang yang belum balik.” Hah, 3 orang? Eh, ternyata Mak Pik belum balik hotel. Saya dan Ibuk langsung ke kamar, sementara yang lain nyari Mak Pik di halaman masjid Nabawi. Karena ketika saya nggak nemui beliau saat pulang tadi.

Akhirnya jam 2 dini hari, Mak Pik ditemukan, alhamdulillah. Beliau bingung dengan suasana masjid di malam hari. Padahal sudah sampai di pintu 15, eh...malah muter-muter sampai kuburan Baqi’. Ya, Allah, Mak Pik.

Apa pun yang terjadi malam itu saya ridho dan ikhlas. Saya maafkan si Teteh yang ngomelin saya, mungkin sudah terkontaminasi budaya Arab, hingga lupa budaya ramah tamah, hihihi...Semoga suatu saat saya diberi kesempatan ke Raudhah melewati jalur biasa, bukan jalur kursi roda. Kata teman-teman, suasana malam itu crowded. Untuk bisa sholat aja, si Teteh harus menghalangi orang lain. Tapi minimal antriannya tidak seperti yang di jalur kursi roda.

Ya, Allah, sampai detik ini hamba masih punya keinginan sholat di atas karpet hijau tuanya Raudhah. Memohon ampunan dosa dan meminta agar diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah. Semoga dimudahkan...aamiin...




#ceritaumrohku

Senin, 07 Mei 2018

Madinah, I’m Coming

23.17 0 Comments

Setelah 10 jam lebih duduk di pesawat (sudah plus isi bahan bakar di Aceh), akhirnya tibalah saya dan rombongan di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Saat itu adzan maghrib baru berkumandang. Begitu turun dari pesawat dan merasakan aura tanah haram, masih ragu antara percaya dan tidak...saya sudah sampai di Arab Saudi. Masya Allah...


Dari bandara, kami harus menempuh perjalanan lagi sekitar 5 jam dengan bus menuju Madinah. Di atas bus itulah kami berkenalan dengan muthowif kami, Mas Wildan, asal Lombok yang sudah tinggal di Arab sejak lulus SMA, sudah 10 tahun lebih pokoknya. Beliaulah nanti yang akan memandu perjalanan umroh ini, bersama TL kami, Mas Tri.

Setelah menikmati makan malam berupa nasi dan ayam bakar, kami singgah di masjid untuk sholat Maghrib dan Isya’. Perjalanan dilanjut hingga akhirnya tengah malam kami tiba di hotel tempat kami menginap. Namanya Hotel Concorde Dar Al Khair, letaknya hanya selemparan batu dengan pintu 15 Masjid Nabawi. Oh ya, saya menempati kamar berempat dengan 2 ibu-ibu dari Kendal, plus satu dari Jogja.


Esoknya kami bergantian mandi untuk segera melaksanakan sholat Subuh pertama di Masjid Nabawi. Puji syukur tak henti-henti saya ucapkan atas kemurahan-Nya membawa saya ke salah satu tempat yang diupayakan untuk dikunjungi muslim paling tidak sekali seumur hidupnya. Masya Allah, betapa nikmatnya sholat Subuh kali ini.

Sesuai jadwal, kami berada di Madinah selama 2 hari, yaitu Jumat dan Sabtu. Acara kami lebih ke ziarah, menelusuri jejak Nabi dan para shahabiyah, belum ke acara inti umroh. Detailnya nanti saya tulis tersendiri soal kami jalan-jalan ke mana saja.

Saya cuma ingin menceritakan sedikit tentang tempat penginapan kami. Benar apa yang sudah dipaparkan pihak travel tempo hari, bahwa pelayanan hotel di sini nggak ada ramah-ramahnya. Jauuuh banget dengan di Indonesia. Menurut Mas Wildan etos kerja orang Arab emang beda banget dengan bangsa lain. Negara mereka kaya dengan tambang minyaknya, hingga banyak yang ogah-ogahan kerjanya, karena hidupnya sudah dijamin negara.

Mereka dibayar lebih kalo mau kerja  jadi pegawai, tentara, atau polisi. Sudah bukan rahasia, gaji orang asing nggak boleh lebih dari gaji orang lokal. Padahal kemampuan mereka biasa-biasa saja. Kata Mas Wildan, liat aja petugas di bandara, mau ngetik aja masih nyari-nyari huruf di keyboard, hahaha...

Trus soal makan, kami makan seperti di tanah air, 3 kali sehari dengan menu ala Melayu. Karena memang tempat makan kami khusus untuk orang Indonesia dan Malaysia. Sementara untuk bule tempat makannya beda lantai. Tiap kali makan yang pasti ada itu sambal, irisan mentimun, dan buah. Sementara minuman air putih, jus jeruk instan, kopi, teh, dan krimer. Tinggal pilih sesuai selera.

abaikan foto yg bawah, hihihi...

Oh ya, teman sekamar saya, Ibu dari Kendal satu-satunya anggota rombongan yang pake kursi roda karena beliau stroke. Tubuh bagian kanan nggak bisa digerakkan, sehingga kalo makan harus pake tangan kiri. Ibu dari Kendal satunya adalah besannya. Dialah yang selalu membantu kebutuhan beliau seperti ganti baju, makein kaos kaki, nyuci baju, sampai mengambilkan makanan.

Dan sudah diingatkan dari awal oleh pihak biro travel, bahwa kita satu tim, harus kompak. Harus saling bantu dan mengingatkan sesuai jadwal yang sudah ditetapkan. Alhamdulillah, kita saling gantian dorong kursi roda si Ibu kalo lagi jalan. Nggak harus putranya, Mas Bambang, atau besannya. Ada cerita seru yang nggak bakal saya lupakan saat harus dorong kursi roda Ibu di Raudhah. Tunggu cerita lengkapnya ya...


Yang pasti saya takjub dengan keindahan Masjid Nabawi, apalagi di hari terakhir bisa menyaksikan payung itu terbuka usai sholat Subuh dan tertutup usai sholat Maghrib. Masya Allah, itu bikin kangen pengin ke sana lagi dan lagi.

#ceritaumrohku


Sabtu, 05 Mei 2018

Memilih Biro Perjalanan Umroh

11.05 0 Comments


Jujur saja, saya hanya mengandalkan feeling saat menentukan biro perjalanan umroh. Alasan utama jelas biayanya yang terjangkau kantong, karena budget saya pas-pasan. Hasil browsing sana sini ketemulah saya dengan Al Fajr, Solo. Segera saya hubungi CP yang tertera dan segera direspon. Setelah menentukan tanggal keberangkatan, saya diminta transfer uang muka sebesar 3 juta.

Beberapa hari setelah transfer DP saya dimasukkan ke grup WA yang isinya calon jama’ah Umroh tanggal 19 April. Dari situ saya tau kalo ada 3 jama’ah yang berasal dari Kendal. Segera saya hubungi beliau, Mas Bambang, untuk kenalan sekaligus numpang kalo harus ke Solo, hihihi...Hasil ngobrol beberapa kali saya akhirnya tau alasan beliau memilih biro travel Al Fajr.

Ternyata beliau sering ada urusan ke Solo. Dari sana beliau mencari info tentang biro travel yang terpercaya dan biayanya terjangkau. Di Solo ternyata ada banyak biro travel, bahkan di depan biro Al Fajr ada biro travel lain. Hasil tanya teman-temannya akhirnya beliau memutuskan memilih Al Fajr. Alhamdulillah, Allah ternyata memudahkan urusan saya ke tanah haram dengan memilihkan biro travel yang tepat.

Tapi ada patokan yang benar saat memilih biro travel umroh, yaitu:
1. Terdaftar di Kemenag, bisa dengan browsing di internet
2. Cek alamat kantornya, beneran ada atau fiktif
3. Perhatikan track record-nya. Kalo saya sih lihat dari komen di FB dan IG nya
4. Biaya sesuai standar Kemenag yaitu 25 juta. Kalo di bawah itu perlu dipertimbangkan lagi
5. Cari tahu fasilitas yang diberikan. Apa yang kita dapatkan dari biaya yang kita setorkan. Biasanya biaya pembuatan paspor dan suntik meningitis ditanggung sendiri.
6. Cek cara pembayaran, perlu curiga kalo nama rekening nama pribadi bukan nama perusahaan
7. Cari informasi dari berbagai pihak, misalnya dari mereka yang pernah menggunakan jasa biro travel tersebut.

Nah sudah jelas kan? Nggak boleh niru cara saya yang asal-asalan lho ya. Lha wong kondisi saya tuh pasrah banget. Kalo misalnya biro travel pilihan saya tuh abal-abal dan nggak jadi berangkat, berarti Allah belum mengijinkan saya umroh. Toh, biaya yang saya keluarkan bukan uang saya, tapi uang dari Allah. Tuh kan pasrah banget.


Oh, ya, saya pertama kali tau kantor Al Fajr, Solo, usai acara manasik di Komplek Donohudan, Boyolali. Itu juga sekalian ambil koper, tas, mukena, dan baju seragam (batik). Yang kepo berapa kira-kira biaya umroh saya, bisa dilihat di flyer yaitu 21, 7 juta. Ditambah biaya perlengkapan dan manasik ( 1 kali) 950 rb, bikin paspor 355 rb, suntik meningitis 310 rb. Nggak ada 25 juta kan? Tapi alhamdulillah, saya bisa berangkat tepat waktu, 19 April 2018. Yang mau tahu cerita umroh saya, besok saya tulis lagi ya, sambil mengumpulkan memori dan menyusun kata-kata.

#ceritaumrohku

Kamis, 03 Mei 2018

Ini Bukti Nyata The Power of Doa

23.42 0 Comments

Alhamdulillah, puji syukur tak terhingga saya ucapkan pada Allah Azza Wajalla yang akhirnya mengabulkan keinginan saya mengunjungi tanah haram. Iya, betul, Saudara-saudara, Allah ijinkan saya berangkat umroh. Apakah saya termasuk beruang eh, maksudnya orang yang banyak uang? Tidak. Bahkan awal Februari 2018 tabungan saya saldonya sangat minim sesuai selera saya yang minimalis, yaitu 50 ribu. Kok bisa?

Wah, ceritanya panjang, kalo dibuat sinetron bisa berjilid-jilid, bisa session 1 sampai 10. Baiklah, saya buat ringkasannya aja ya? Jadi begini, sejak awal tahun 2015, pokoknya sejak tahun baru itu, saya dikasih cobaan Allah secara bertubi-tubi. Nggak perlu saya ceritakan secara detail seperti apa cobaannya. Tapi saya yakin, kalo nggak kuat menghadapinya bisa gila. Alhamdulillah, saya nggak gila karena saya salurkan energi negatif itu ke kegiatan positif bersama teman-teman crafter saya.

Jangan tanya perasaan saya saat itu. Hampir tiap malam saya nangis dan curhat sama Allah. Waktu itu saya sempat bertanya,” Ya, Allah, kenapa hamba harus menghadapi cobaan seberat ini?” Ah, saya malu kalo inget waktu itu. Betapa ceteknya ilmu dan iman saya. Seiring berjalannya waktu, saya mulai berubah, mulai belajar tentang Islam, dengerin aneka ceramah di Youtube. Dan dari sekian ceramah itu ada salah satu yang menusuk jantung hati saya.

“Orang seperti Rasulullah yang sudah dijamin masuk surga, cobaan hidupnya berat. Lha Anda siapa? Sahabat Nabi bukan, belum ada jaminan masuk surga, amal sedikit, dosa menumpuk, siksa kubur sudah menanti. Lha dikasih cobaan kok nggak mau. Anda sehat?” Bener-bener mak jleb.

Sejak itu timbul rasa penyesalan yang luar biasa. Kalo malam saya masih tetap nangis dan curhat sama Allah, tapi isi curhatnya beda. “Ya, Allah, ampuni hamba yang berprasangka buruk pada-Mu. Ijinkan hamba datang ke rumah-Mu untuk memohon ampunan. Dan hamba ingin Kau tunjukkan jalan keluar dari permasalahan ini.” Hampir tiap hari saya meminta jalan keluar tapi belum juga ada jawaban. Mungkin kalo saya datang langsung ke rumah-Nya, Allah baru tunjukkan jalan terbaik.

Jadi, Saudara-saudara, saya berdoa minta dimudahkan untuk ke baitullah itu selama 2 tahunan. So, buat yang belum dikabulkan doanya, sabar ya. Yakinlah bahwa Allah selalu mendengarkan doa hamba-Nya. Soal kapan akan dikabulkan itu terserah Allah, bisa cepat, bisa lama, bisa juga ditangguhkan dan akan diberikan di surga kelak.

Dan, akhirnya berita baik itu datang. Rekening tabungan saya dapat kiriman dari perusahaan tempat saya bekerja dulu. Ada hak saya yang belum saya ambil. Jumlahnya? Cukuplah untuk berangkat Umroh. Dan inilah waktunya....waktu yang paling tepat. Eh, tapi begitu uang itu masuk ke tabungan pekan pertama Februari 2018, saya sempat galau dan mikir sebentar. Setan mulai mengganggu. Oh, tidaaaak, saya harus segera memutuskan. Selama 2 tahunan saya meminta pada Allah untuk dipanggil ke baitullah. Lha sekarang uang dah ada, masak mau dilewatkan.

Pekan kedua, saya langsung menghubungi pihak travel di Solo. Saya tanya, kursi yang masih tersisa untuk bulan Maret dan April tanggal berapa. Ternyata Maret dah full, adanya tanggal 1, 19, dam 30 April. Setelah mikir dan timbang sana sini, saya langsung memutuskan untuk berangkat yang tanggal 19 April. Salah satu pertimbangannya, kalo ambil yang tanggal 30, entar saya bisa dimarahin keluarga besar, karena kakak perempuan saya mantu tanggal 6 Mei.

Oh, ya, banyak yang kepo, saya berangkat pake biro travel apa, karena sekarang banyak kasus biro abal-abal. Trus apa pertimbangannya milih biro travel itu? Sabar...sabar...nanti saya tuliskan di postingan berikutnya ya...

Moral cerita dari postingan ini adalah jangan abaikan kekuatan doa. Bila kita menginginkan sesuatu mintalah langsung pada Allah. Dan berdoanya jangan setengah-setengah, mintalah dengan serius kalo perlu sambil nangis-nangis. Allah tuh senang dengar rintihan dan tangisan hamba-Nya di sepertiga malam. Bukankah sudah jelas hadistnya. “Siapa yang berdoa pada-Ku, akan Kukabulkan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni” (HR. Bukhari no. 6321 dan Muslim no. 758).

selfie di depan Ka'bah



#ceritaumrohku

Selasa, 01 Mei 2018

Al Qur'an itu Mukjizat

15.57 0 Comments

Ada seorang dosen UI bilang bahwa kitab suci itu fiksi. Publik pun heboh. Orang Islam jelas nggak terima kalo Al Qur’an disebut fiksi. Perang di medsos pun terjadi. Masing-masing mempertahankan pendapatnya, baik yang setuju maupun yang menentangnya. Sebagai orang yang fakir ilmu, saya memilih diam.

Sependek pengetahuan saya Al Qur’an itu luar biasa, ajaib, atau lebih tepatnya mukjizat. Mana ada buku atau tulisan yang kita nggak ngerti artinya tapi terus-terusan dibaca. Dan uniknya ketika dibaca bisa menimbulkan ketenangan. Mendengarkan orang membacanya juga bisa membuat orang lain terharu bahkan menangis.

Saya teringat kata Kang Abik alias Habiburrahman El Shirazy, penulis buku best seller “Ayat-ayat Cinta” di acara FLP Jakarta, bahwa Al Qur’an itu sumber ide tulisan yang nggak ada habisnya. Dalam “Ayat-ayat Cinta”, ada penggalan adegan Fahri yang dikejar-kejar 4 perempuan karena kesholehan dan kegantengannya. Salah satunya bahkan menfitnat telah diperkosa. Mirip kayak kisah Nabi Yusuf kan?

Kata Ustadz, yang berhubungan dengan Al Qur’an itu mulia. Diturunkan pada manusia termulia di dunia (Nabi Muhammad), di kota yang mulia (Mekah dan Madinah), pada hari yang mulia (Jum’at), bulan mulia (Ramadhan), pembawanya malaikat Jibril, pemimpin para malaikat. Manusia yang mengajarkan dan menghapalkan Al Qur’an akan dimuliakan Allah. Termasuk orang yang  memberi fasilitas pada mereka.

Akhir-akhir ini, entah kenapa ada dorongan dalam diri saya untuk mempelajari Al Qur’an. Mungkin karena faktor U ya, apalagi yang dikejar di dunia ini. Toh, dunia hanya sementara, akhirat itulah kehidupan yang kekal selamanya. Katanya yang akan menemani kita di alam kubur adalah amal dan Al Qur’an. Lha kalo nggak pernah berinteraksi dengan Al Qur’an, trus siapa yang akan menemani di alam yang katanya gelap gulita itu. Astaghfirullahal adziim...

Beberapa bulan ini saya mulai belajar tahsin di dekat rumah. Betapa kacaunya bacaan saya. Singkirkan rasa malu, toh ada Ibu yang lebih sepuh juga baru memulai Iqro 1 bareng saya. Saya juga mulai beli Al Qur’an yang ada terjemahannya, setidaknya biar tahu artinya. Anak saya juga jadi penyemangat untuk menghapal Al Qur’an. Si sulung bahkan bilang setelah selesai kuliah, mau mondok menghapalkan Al Qur’an selama 1 tahun. Saya sih seneng banget, bahkan terharu saat dia bilang ingin memberikan mahkota pada saya di akhirat nanti. Masya Allah, Nduk, semoga Allah memudahkan niat muliamu itu.

Kalo dia ingin hapal 30 juz, saya juga pengin, tapi sementara juz 30 aja dulu deh. Saat disungkemi ketiga anak saya, saya bilang, mau jadi apa pun nanti, Ummi pengin kalian jadi sholeh/sholehah dan jadi hafidz/hafidzah. Bismillah, semoga Allah memudahkan keinginan saya menjadi keluarga Allah di dunia.

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya” (HR. Ahmad).




Selasa, 27 Februari 2018

Klepto...Oh...Klepto...

09.17 2 Comments
Malam itu Nabila cerita kalo hampir semua teman di kontrakan pernah kehilangan uang, kecuali dia. Saya sih cuma komen, “ Lha iya lah, wong kamu nggak pernah punya uang.” Hahaha...kita berdua ngakak bareng. Waktu itu kami berdua ngobrol soal tuyul yang ternyata di jaman milenium ini masih ada. Soalnya banyak banget teman FB saya yang posting kalo isi celengannya nggak sesuai perkiraan. Terutama, banyak uang merah dan biru yang raib.

Sepekan kemudian, Nabila cerita, kalo dia telat pulang karena ada sebuah peristiwa unik dan langka di kontrakan. Jadi begini, malam sebelumnya, ada teman KKN Dea ( teman sekontrakan plus teman dekat Nabila), datang ke kontrakan. Mereka maksa untuk membongkar isi lemari Dea, karena curiga banyak barang yang hilang selama KKN.

Dan terjadilah kehebohan itu. Saat dibuka lemari Dea, banyak ditemukan barang-barang milik temannya yang hilang. Bahkan ada laci yang isinya aneka make up mahal. Wow...malam itu juga Dea langsung diinterogasi. Mau tau reaksinya? Ekspresinya tenang, diam, nggak ada penyesalan, bahkan nggak ada kata maaf. Yang bikin Nabila nyesek, selama ini dia paling dekat dengan Dea. Pernah dikasih lipstik dan dompet, bahkan sering ditraktir makan. Saya cuma bisa nasehatin,” Yaudah, buang aja lipstiknya. Soal traktiran, karena kamu nggak tau, istighfar aja. Semoga Allah mengampuni kesalahanmu.”

Selama di rumah, Nabila terus memantau grup WA teman kontrakan dan cerita sama Emaknya. Ternyata esok harinya Dea langsung hengkang dari kontrakan dan nggak mau ngasih tau pindah ke mana. Mau menenangkan diri, katanya. Trus, Ibunya Dea juga marah-marah sama Mbak Ketua kontrakan, karena dianggap sudah menfitnah anaknya. Mungkin beliau lebih percaya pada laporan anaknya yang diputar balik.

Selama 3 tahun kuliah di UGM, Nabila menempati 3 tempat tinggal berbeda. Dan baru kali ini mengalami hal menghebohkan seperti ini. Apalagi di tempat terakhir ini sebuah kontrakan muslimah yang aturan masuknya lumayan ketat. Kata Mbak Ketua kontrakan, “Berarti tahun depan harus dites psikologi dulu ya, Bil.” Hihihi...iya, kali, Mbak.

Bagi yang masih awam, Kleptomania itu sebuah gangguan ketidakmampuan diri untuk mengambil barang milik orang lain. Bisa di tempat ramai seperti mall, bisa juga di tempat sepi seperti asrama. Entah apa pemicunya, yang pasti kalo ingin sembuh ya harus berobat ke dokter atau psikolog. Oh ya, selama tinggal di situ Nabila pernah kehilangan kamera. Padahal tuh kamera dibeli suami untuk keperluan saya kalo bikin buku masakan dan craft, hiks...Tapi ketika diinterogasi, Dea nggak ngaku kalo dia yang ngambil. Entahlah, hanya Dea dan Allah yang tahu, ke mana raibnya tuh kamera.


Kabar terakhir, Dea ditemukan di sebuah gerai donat sama Mbak-mbak kontrakan. Dia mau tanda tangan perjanjian, kalo dia mau ngganti barang-barang yang sudah dia ambil. Entahlah, semoga nggak bohong. Yang pasti anak saya, Nabila, nyesek banget, nggak nyangka orang terdekat di kontrakan, yang sering nyuruh dia ini itu, ternyata pengidap Kleptomania. Saya cuma bisa menyuruh anak saya untuk mengikhlaskan, memaafkan, dan mendoakan semoga dia segera sembuh.

gambar diambil dari Google

Selasa, 12 Desember 2017

Menikmati Makanan Tradisional di Tengah Kebun Karet

13.32 4 Comments
Waktu menunjukkan pukul 7 lebih. Jalanan dari Kaliwungu ke arah Boja lumayan lengang. Cuaca yang cerah pagi itu membuat perjalanan motoran kami terasa lebih asyik. Bisa menyaksikan pemandangan kiri kanan yang masih perawan dan udara yang sejuk segar.


Oh, ya, pagi itu empat perempuan perkasa niat banget mau ke Pasar Karetan, destinasi wisata yang baru diresmikan Bupati Kendal dan Kemenpar Semarang tanggal 5 November 2017. Lokasi wisata Radja Pendapa sebenarnya masih di wilayah Kendal, tepatnya Dusun Segrumung, Desa Meteseh, Kec. Boja. Tapi dikelola oleh Kemenpar Kota Semarang dibantu teman-teman GenPI.

Karena masih baru, petunjuk arah ke lokasi masih sederhana, berupa tampah dicat putih trus ditulisi, hihihi...Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di lokasi. Dari lapangan parkir mobil masih harus naik kereta mini melewati rumah penduduk menuju Pasar Karetan. Karena baru pertama kami nggak tau, ternyata ada penitipan motor yang dekat banget dengan TKP. Motor kami sudah terparkir di SD Meteseh 5 dengan uang parkir 2.000, standart lah.

Turun dari kereta mini, kita disuguhi pemandangan hutan karet, sebelum masuk loby. Dan begitu masuk ada tempat penukaran uang dengan girik. Jadi kalo mau menikmati makanan tradisional di dalam, kita pakai uang kayu dengan pecahan 2.500, 5.000, dan 10,000. Biar nggak tercecer, uangnya dimasukin ke dalam kantong belacu. Unik, ya?

dhuwit kayu dan wadhahnya




Kayaknya semua spot di sini instagramable, cucok banget buat foto-foto. Mulai dari pintu masuk sampai arena Pasar Karetan. Di dalam kita bisa menikmati sarapan pagi yang tradisional banget seperti  lontong pecel, gendar pecel, tahu gimbal, lontong opor,  bubur ayam, dan sego jagung. Sementara kalo pengin yang agak ringan ada aneka jenang (baca: bubur manis). Ada juga bakso yang mangkuknya bathok kelapa. Untuk minuman, bisa menikmati dawet atau minuman rempah yang wadahnya juga unik.

Karena anak-anak GenPI ikut mengelola, maka kami menyapa di tengah kesibukan mereka, seperti Agustina yang jadi bendahara, Zain yang hari itu jadi MC, dan yang lainnya. Dari salah satu dari mereka, yang bantu jualan pecel, kami dapat info kalo Pasar Karetan itu sangat membantu para pelaku UKM. Mereka tinggal menempati lapak yang sudah disediakan, tanpa uang sewa hanya dikenai fee 20%. Dari pengamatan kami, hampir semua dagangan yang digelar ludes, bahkan sebelum jam 11 saat penutupan.


aneka jenang

bakul pecelnya diajak ngobrol biar dikasih banyak



Oh, ya, tadi di pintu masuk, kami nukar uang 200 ribu. Maksudnya sekalian, biar nggak bolak-balik. Toh kalau sisa bisa diuangkan lagi. Dua dari kami makan lontong pecel yang dipatok 12.500/porsi, aneka gorengan seribuan. Trus es dawet, bubur, air mineral, dan singkong goreng. Ternyata masih sisa 100 ribu, lumayan irit nih emak-emak.

Puas makan-makan, jalan- jalan, tiduran di pendopo di tengah kolam, plus foto-foto, kami pun berniat pulang. Waktu menunjukkan pukul 11 lebih sedikit ketika MC menyatakan bahwa pasar akan ditutup. Eh, tapi ternyata anggota rombongan masih ada yang ngobrol saat ketemu temannya. Yaudah yang lain pun mencoba permainan tradisional dan foto-foto di panggung yang sudah kosong. Duh, tepok jidat tenan. Ayo, Mak, ingat anak-anak di rumah.

naik panggung tanpa penonton

nyoba maen bakiak

Hujan pun turun dengan derasnya. Semua menunggu di loby, ada juga yang nekat naik kereta mini menuju tempat parkir. Kita milih nunggu, maklum awak tuwo, bisa remuk kalo kehujanan. Akhirnya begitu hujan berhenti kita langsung cap cus. Sampai ketemu lagi ya, Mak, kapan-kapan kita jalan-jalan lagi.


Rabu, 29 November 2017

Duhai, Muslimah, Menulislah

22.58 26 Comments
Akhir-akhir ini banyak sahabat dunia maya saya yang curhat di FB tentang prahara rumah tangganya. Ada yang mengalami KDRT, ada pula yang diselingkuhi suaminya. Mungkin maksudnya agar hati jadi lega karena nggak tahu harus curhat pada siapa ( padahal curhat terbaik kan hanya sama Allah saja). Ada yang curhatnya enak dibaca dan bisa diambil hikmahnya. Ada pula yang curhatnya termehek-mehek, sudah tiap hari nyetatus, statusnya lebay, lagi, maklum mamah muda.

Jaman memang sudah berubah. Kehadiran internet dan media sosial tak bisa dihindari. Bagi Emak-emak seangkatan saya, mau tak mau, suka nggak suka ya harus menyesuaikan diri. Kalau nggak bisa ngikutin perkembangan jaman, siap-siap jadi dinosaurus....alias punah, hihihi. Itulah makanya saya bikin akun FB, Twitter,Instagram, dan WhatsApp, biar nggak punah.

Ingin rasanya saya memberitahu Saudari saya yang suka curhat di FB tentang kegalauan hatinya. Bahwa ada yang namanya Blog, tempat menuliskan isi hati layaknya kita ngisi diary * ups, ketahuan lagi deh umur saya. Banyak loh manfaat nulis di Blog, di antaranya:
1. Berbagi ilmu yang kita punya pada pembaca. Misalnya blog kita fokus berisi resep masakan, maka tentu sangat berguna bagi mereka yang lagi belajar masak, nyusun menu, atau sedang diet.
2. Melatih diri yang sebelumnya jarang nulis jadi semakin terampil. Tak jarang semakin lama tulisan jadi semakin lancar, mengalir, dan enak dibaca. Ada beberapa orang yang tulisan di blognya menjadi sebuah buku, bahkan diangkat ke layar lebar. Salah satunya Raditya Dika.
3. Menuliskan pengalaman pribadi kita yang bisa diambil ibrohnya bagi pembaca. Tuliskan yang baik-baik saja, agar tidak terjebak dalam ghibah atau menjelek-jelekkan orang lain. Kalau pesan orang bijak, simpan dulu cerita sedih atau buruk. Nanti ketika waktunya tepat, barulah kita tuliskan semuanya. Contohnya kisah orang-orang sukses, pada saat di puncak kesuksesan, orang pasti akan ternganga ketika tahu perjuangannya yang berdarah-darah.

Menulis hal-hal yang bersifat pribadi harus hati-hati. Jangan sampai ketika menceritakan tentang suami kita, seperti sedang membuka aib sendiri. Ingat, suami adalah pakaian untuk istri dan sebaliknya istri pakaian untuk suami. Pakaian kan fungsinya untuk menutup aurat, jadi jangan buka aib pasangan hidup kita. Karena itu luruskan niat, bahwa kita menuliskan kisah sedih yang kita alami agar bisa jadi pelajaran bagi pembacanya dan untuk membersihkan kerak hati.

Kerak hati? Ya. Setiap orang pasti punya kerak di dalam hatinya, terutama yang berhubungan dengan masa lalu. Entah rasa takut, malu, sedih, atau trauma. Tanpa disadari, kerak hati itu bisa muncul sebagai penyakit fisik seperti pusing, sakit perut, dan sakit kulit. Agar bisa menjadi pribadi yang positif dan sehat lahir batin, maka kerak itu harus dibersihkan. Nah, menulis bisa menjadi salah satu cara untuk membersihkan kerak hati.

Menurut pakar, menulis itu bermanfaat untuk kesehatan jiwa raga loh, di antaranya:
1. membantu memulihkan emosi
2. semangat hidup lebih meningkat
3. kualitas tidur lebih baik
4. membuat bicara lebih lancar
5. membuat beberapa penyakit hilang

Nah, tunggu apa lagi. Duhai Muslimah, apa pun kondisimu, menulislah. Kalau mengalami kepedihan, tulislah. Kalau punya ilmu, berbagilah dengan menuliskannya. Kalau punya pengalaman berharga, juga menulislah. Dari Blog bisa berubah menjadi Buku. Jadikan tulisan sebagai rekam jejak hidup kita di dunia. Biarkan teman, saudara, dan anak cucu kita tahu siapa kita. Buat mereka bangga punya teman, saudara, ibu, atau nenek yang hebat seperti kita.




#PostinganTematik
#BloggerMuslimahindonesia


"Tulisan ini diikutkan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia"

Senin, 25 September 2017

WS Jualan Via Sosmed oleh Orisinal Indonesia

20.30 0 Comments
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Saya dan solmed saya, Mbak Ismi nggak sadar kalau hari Ahad di seputar Simpang Lima Semarang ada Car Free Day. Kami lumayan bingung saat diturunkan BRT di Kampung Kali. Alhamdulillah, duo abang ojol yang ganteng aka dua ponakan kesayangan, segera datang. Maka diantarkanlah kami ke Noormans Hotel, tempat akan dilangsungkan acara workshop bertajuk “Sosmed Menggigit, Omzet Melejit” yang diadakan oleh Orisinal Indonesia.


Saat menikmati snack sambil ngobrol dengan teman semeja, panitia mengumumkan bahwa semua harus pake kaos hitam yang barusan dibagikan. Beruntung saya pake gamis hitam, jadi nggak perlu pake kaos pendek kayak Mbak Ismi. Satu round table ada 8 kursi dan di meja kami berisi 7 orang, 3 Emak2, yang 4 mahasiswa Unisula.

Jam 10 acara dimulai dengan pembicara pertama yang nggak lain Foundernya OI, Mas Ikhwan Saefulloh. Dengan gayanya yang khas, santai dan kocak, beliau membawakan materi tentang Branding. Nggak terasa, karena yang dibahas ringan dan lucu (haiyah...kok kayak tagline acara komedi jaman dulu), 2 jam nggak terasa. Hingga akhirnya tibalah saat ishoma.


Usai rehat 1 jam dilanjut Pak Firdaus Adinegoro, founder Komunitas Kuliner Semarang bercerita tentang komunitasnya. Eh, tapi sebelumnya ada founder dan owner Jamu Borobudur, yang bersedia hadir di meja peserta dan share sedikit ilmu. Beliau bercerita sejarah dan jatuh bangunnya perusahaan jamu yang terkenal dengan iklan”...kulit manggis kini ada ekstraknya...”


Usai coffebreak, materinya tentang fotografi. Keren dan asyik banget cara Mas Bayu Sakti Pamungkas ngasih materinya. Karena terbatasnya jumlah fotoboxnya, maka harus gantian foto produknya. Ditambah peserta bisa jalan-jalan, suasana jadi santai, nggak spaneng. Bisa liat cara Mas Bayu bikin foto intip goreng (cemilan dari nasi kering) jadi cakep dan menggiurkan.



Foto-foto hasil motret diupload ke IG Orisinal Indonesia, yang bagus dapet souvenir dari sponsor. Punya saya? Masih kurang memuaskan hasilnya, hehehe...Gapapa, masih harus banyak belajar berarti. Sebelum pulang, para peserta dikasih sertifikat dan mini photobox dari kardus. Tapi karena susah bawanya (maklum, saya dan Mbak Ismi kan ngangkot), kardus itu nggak kami ambil. Yang pasti saya jadi semakin yakin bahwa ini jaman medsos. Kalo mau sukses yang harus tau tips dan triknya jualan via medsos.



Rabu, 20 September 2017

Tahun Baru, Semangat Baru

12.50 0 Comments
Puji syukur kehadirat-Mu ya Robb. Saya dipertemukan dengan orang-orang baik, yang mengajak berhijrah. Saya jadi banyak belajar tentang Islam. Mulai belajar ngaji tajwid, belajar mengaenal angka Arab, bulan-bulan Islam, nama istri  dan anak Rasulullah, dan hal-hal lain yang saya belum tahu. Kadang malu, Hello ke mana aja Lu, Mbakbro? Kok baru jelang 50 tahun baru belajar mengenal agamamu. Segala sesuatu atau setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa diambil. Mungkin cobaan yang saya alami beberapa waktu lalu, inilah hikmahnya * ups, bikin kepo aja.

Jelang tahun Baru 1 Muharram 1439 H tiba-tiba ingat workbook Pak Jamil Azzaini yang berjudul "Tuhan, Inilah Prosposal Hidupku" dan pengin ngisi. Enaknya isinya diupload nggak ya? Tahun baru Masehi kemarin saya sudah buka kartu tentang Resolusi tahun 2017. Dan banyak resolusi yang terwujud. Sungguh Allah Maha Baik...

Bismillah, saya ingin memulai tahun baru ini dengan hal-hal yang baik dan positif. Saya ingin terus bertumbuh jadi pribadi yang sukses mulia. Hehehe...akhir-akhir ini suka liat video motivasi Pak Jamil jadi terpacu untuk jadi insan sukses mulia. Punya kelebihan 4 ta (harta, tahta, kata, dan cinta) dan mau berbagi pada sesama.


Pojok rumah, 20 September 2017



Rabu, 30 Agustus 2017

Belajar Dari Kisah Nabi Ibrahim

20.58 0 Comments
Setiap Hari Raya Idhul Adha, kisah Nabil Ibrahim dan Nabi Ismail selalu diulang-ulang oleh para khotib. Ya, kita memang harus selalu diingatkan agar meneladani kesholehan Nabi Ibrahim. Apa saja yang bisa kita teladani?
1. Berani menantang siapa pun yang tidak percaya pada Allah. Bahkan tidak takut saat dilemparkan ke kobaran api oleh Raja Namrud.
2. Rela berhijrah dari Irak ke Syam ketika keadaan tidak kondusif. Ini sebenarnya hijrah pertama para Nabi. Bagi kita, tinggalkan hal yang haram atau meragukan, pindah ke jalan yang diridhoi Allah.
3. Sebenarnya tidak mau ta’adud, tapi atas saran istrinya, Sarah akhirnya menikahi Hajar demi mendapatkan keturunan agar bisa meneruskan ajaran agama Islam.
4. Semakin tinggi iman, semakin besar cobaannya. Bertahun-tahun tidak punya anak, ketika istrinya, Hajar melahirkan, Allah memerintahkan untuk meninggalkan istri dan bayi yang baru dilahirkan di sebuah lembah yang gersang, tandus, dan jauh dari pemukiman.
5. Taat pada perintah Allah, apa pun itu. Bahkan perintah untuk menyembelih anak yang telah lama terpisahkan. Anaknya pun tak kalah taat. “Kalau memang itu perintah Allah, lakukanlah.”
6. Lebih mencintai Allah, dibandingkan orang tua, istri dan anaknya.
7. Punya istri sholehah dan anak yang sholeh. Di usia senja, Sarah akhirnya hamil dan melahirkan Nabi Luth. Karena punya keturunan yang menjadi Nabi, maka Nabi Ibrahim mendapat sebutan Bapaknya para Nabi. Anak yang sholeh terlahir dari ibu yang sholehah.

Belajar dari Nabi Ibrahim yang rela menyembelih anaknya, anak yang telah lama dinantikan kehadirannya. Dan ketika sudah lahir harus terpisah, bahkan ketika sudah dewasa harus disembelih. Ini mengajarkan kaum muslimin agar rela mengorbankan sedikit hartanya untuk membeli binatang sembelihan (unta, sapi, kambing) lalu dibagi-bagikan.

Lalu mengapa ada orang mampu yang tidak mau berqurban? Mungkin mereka belum tahu hadist ini: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Maka bagi yang mampu, beli dan sembelihlah sapi atau kambing selama hari tasyrik. Selamat Hari Raya Idhul Adha 1438 H.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Mengambil Hikmah Dari Kisah Siti Hajar

19.45 0 Comments
Banyak pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari kisah Siti Hajar. Yang pasti sikap sabar dan taat yang luar biasa. Hajar adalah istri kedua Nabi Ibrahim, yang menikah atas permintaan istri pertama Siti Sarah. Semua demi punya keturunan  agar bisa meneruskan ajaran Islam yang selam ini mereka perjuangkan.

Namun, ketika Hajar akhirnya hamil dan melahirkan, Sarah merasa cemburu dan meminta Nabi Ibrahim membuang Hajar dan bayinya menjauh dari kediaman mereka. Atas perintah Allah, Ibrahim meninggalkan Hajar dan Nabi Ismail yang masih bayi itu di sebuah lembah yang sangat sepi, jauh dari pemukiman. Suatu saat, ketika perbekalan habis, Hajar mencari air dengan berlari dari bukit Shafa ke bukit Marwa sebanyak 7 kali. Atas kuasa Allah, ternyata Allah malah memberi air di dekat kaki Ismail, yang kini dikenal dengan mata air zam zam.

Nah, kisah perjuangan Hajar itu bisa dianalogikan di jaman sekarang, saat kita sedang mengalami cobaan. Untuk mendapatkan solusi dari masalah yang kita hadapi, harus terus berusaha terus menerus semaksimal mungkin. Allah Maha Baik, tidak akan membiarkan hamba-Nya yang berusaha tanpa memberi balasan. Allah akan mengabulkan doa semua hamba-Nya yang meminta. Dan kadang Allah mengabulkan dengan cara yang sulit diterima nalar manusia.

Ini kisah Kang Dewa, seorang pengusaha, yang pernah punya hutang sekian milyard. Bisnis yang dibangun gagal, para investor mengerjar-ngejar uang yang mereka titipkan. Uang di kantong tinggal sekian ribu rupiah saja. Tapi Kang Dewa nggak putus asa, dia tetap berusaha jualan kaos dan makanan yang kalau dihitung dengan kalkulator, butuh waktu puluhan tahun untuk menutup hutangnya. Menurut Kang Dewa, dia harus tetap bergerak, sebagai bukti ikhtiar.

Dan, akhirnya Kang Dewa bertemu seorang teman yang meminta dia untuk menulis buku yang menceritakan tentang kegagalan usahanya. Ternyata di situlah Allah membuka pintu rejeki untuk Kang Dewa. Bukunya laku terjual, padahal ditawarkan dengan sistem PO, dicetak setelah orang pesan. Sekarang, Kang Dewa sudah menerbitkan beberapa buku dan hutangnya...lunas. Dia sering mengingatkan peserta seminar agar terus berusaha di saat diberi cobaan hutang yang menumpuk.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Senin, 28 Agustus 2017

Si Imut yang Rajin Nulis

10.01 0 Comments
“Barokallah laka wa baroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fil khoir”, artinya: mudah-mudahan Allah memberkahi engkau dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan. Itu doa yang diajarkan oleh Rasullullah kepada orang yang sedang menikah. Dan itu juga yang saya ucapkan pada sahabat saya, Nyi Penengah Dewanti yang hari ini menikah.

Saya belum begitu lama mengenalnya. Ketika masih di Jakarta saya pernah menyapa dia lewat FB, sekedar kenalan, karena tahu dia orang Kendal. Setelah balik ke Kendal pun saya nggak pernah ketemuan dengannya. Hingga akhirnya, suatu saat di pesen boneka flanel karakter untuk temannya yang ulang tahun. Nah, itulah pertama kalinya kita ketemuan di rumah saya.

Sejak itu kita sering chatting. Karena sama-sama blogger, kita sering ngobrol kalo ada kopdar di Semarang. Tolong dicatet, dia blogger aktif sementara saya blogger abal-abal. Sudah 3 kali saya dan dia datang bareng di acara kopdar blogger Semarang. Trus ketika tempat kerjanya Oemah Sedekah ngadain baksos, saya juga pernah ikutan.


Nyi itu fisiknya imut, nggak nyangka kalo umurnya dah kepala 3. Yang belum kenal pasti ngirain dia baru berumur 20 tahunan. Terlahir dari buah cinta lelaki Jawa dan perempuan Bali, sebagai anak tengah dari 3 bersaudara. Kakak dan adiknya cowok semua. Biar kecil tapi dia rajin banget nulis. Tiap habis jalan entah ke tempat wisata atau tempat makan, pasti nulis. Trus dia juga sudah menelurkan beberapa novel remaja. Keren, kan?

Di saat lagi banyak beban, kita sering chatting curhat malam-malam. Saya salut pada dia dan ibunya yang begitu tabah menghadapi cobaan hidup yang luar biasa kerasnya. Nyi pernah terpaksa harus bekerja jadi BMI di Hongkong demi membiayai sekolah adiknya. Ibunya tipe perempuan Bali yang penurut, sabar, dan pekerja keras. Pekerjaan apa pun rela dijalani demi bisa menghidupi keluarganya.

Hari ini, Ahad, 27 Agustus 2017, Nyi telah melabuhkan hatinya pada Mas Hadi, lelaki asal Pemalang yang ketemu di kopdar BukaLapak. Semoga kalian bahagia. Kamu berhak bahagia setelah diterpa badai yang luar biasa. Saya pribadi berdoa semoga Nyi diijinkan suaminya tetap jualan online. Dia kan marketer saya. Selama ini dah banyak bantu jualin dagangan saya loh. Semoga...

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Sabtu, 26 Agustus 2017

Poligami ala Nabi Ibrahim

07.47 2 Comments
Poligami ramai dibicarakan lagi. Dulu ketika Aa Gym menikah lagi, masyarakat heboh. Kini, ketika istri penyanyi religi Opick membuat status di medsos tentang kepedihan hatinya karena suaminya menikah lagi secara diam-diam, masyarakat heboh lagi. Inilah resiko hidup di era medsos, satu tulisan bisa jadi viral dan diketahui banyak orang.

Islam memperbolehkan laki-laki ta’adud alias berpoligami. Kita sebagai muslim/muslimah tidak boleh menentangnya. Ajaran Islam itu benar dan kita harus yakin. Eits, tapi bukan berarti saya siap dipoligami loh. Poligami harus didasari ketaqwaan yang tinggi. Kalo sepasang suami istri punya tingkat ketaqwaan yang tinggi, insya Allah jalan menuju ta’adud itu mudah saja.

Coba kita lihat kisah poligami Nabi Ibrahim. Beliau punya istri yang sangat cantik dan sholehah, Siti Sarah. Pada suatu masa, karena rasa malu, Raja Mesir memberi hadiah pada Sarah seorang budak bernama Siti Hajar. Kalo bukan karena tingkat ketaqwaan yang tinggi, nggak mungkin Sarah menyuruh suaminya menikah lagi demi melanjutkan ajaran Islam yang mereka perjuangkan.

Jadi, Sarah lah yang meminta Nabi Ibrahim menikahi Hajar demi mendapatkan keturunan. Nah, kalo poligami yang terjadi di jaman ini banyak yang terjadi tingkat ketaqwaan suami istri masih rendah. Laki-laki menikah lagi karena melihat kecantikan dan kemolekan tubuh, jauh berbeda dengan yang dilakukan para nabi. Sudah gitu nikahnya diam-diam. Maka ketika istri pertama tahu, terjadilah pertikain.

Eh tapi, jaman sekarang ada juga loh ta’adud yang jalannya mulus. Syaratnya ya itu...tingkat ketaqwaan yang tinggi. Saya sering baca postingan mereka di FB loh. Ada istri yang meminta suami menikah lagi karena dia nggak bisa hamil. Dia ingin merawat anak yang nantinya dilahirkan istri muda suaminya. Tapi sayang, yang ini suaminya yang nggak mau.

Yang lainnya, ada perempuan yang sejak sebelum menikah sudah memikirkan ingin punya rumah yang luas. Di bagian belakang nanti ada halaman luas dikelilingi kamar-kamar yang akan ditempati suami bersama istri-istri dan anak-anaknya. Wow...amazing ya, pemikiran yang langka. Dan saat ini memang suaminya punya 2 istri yang tinggal serumah. Mereka semua sibuk berdakwah dan tarbiyah ke mana-mana.

Nah, bagi yang mau ta’adud, coba tanyakan pada diri sendiri, sudah seberapa tingkat ketaqwaan Anda? Kalo masih rendah perbaiki diri dulu. Istiqomahlah sholat fardhu di masjid, sholat tahajud, puasa Senin Kamis, dan belajar ilmu agama agar bisa mendidik anak istri Anda. Kalo masih berat, ya terimalah istri Anda apa adanya. Harta melimpah bukan jaminan poligami sukses lho Pak.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Jumat, 25 Agustus 2017

Baju Nggak Disetrika, Bisa Nggak Ya?

08.03 2 Comments
Kalo ditanya apa pekerjaan yang paling nggak disukai, maka saya akan menjawab : nyetrika! Kalo nyuci baju sih masih mending, tinggal dikucek trus masukin deh ke mesin cuci. Sambil nunggu mesin cuci bekerja, kita bisa buka-buka medsos dulu. Sementara kalo nyetrika itu nggak bisa disambi ngerjain yang lain.

Nah, tiba-tiba saya ingat ada loh Gerakan Tanpa Setrika(GTS) yang 2 tahun lalu pernah jadi bahan rumpi para emak-emak blogger. Ternyata banyak ya emak-emak yang memutuskan nggak  nyetrika baju-baju harian mereka. Yang wajib disetrika hanya baju seragam suami, anak, dan baju kondangan. Lha iya lah, baju kerja yang kusut menunjukkan cara kerja si pemakainya. Nha kalo kondangan pake baju kusut, itu nggak menghormati yang ngundang dong.

Jadi tekniknya menurut mereka begini: dicuci kayak biasa. Nah, pas proses pengeringan, baju dilipat rapi trus masukin mesin deh. Setelah dijemur sampe kering, lipat baju yang rapi trus masukin lemari. Masalahnya, bisa nggak ya saya ikut gerakan macam itu? Sejak lahir saya terbiasa make baju yang disetrika. Risih aja kalo make baju yang nggak disetrika. Kalo keluarga suami kayaknya udah lama deh ikut GTS, hehehe...

Sudah setahun lebih saya hidup tanpa ART, karena di rumah hanya ada 2 orang, saya dan si bungsu. Suami dan kedua anak saya tinggal di luar kota. Waktu awal-awal tanpa ART sering make jasa laundry dekat rumah untuk nyetrikain baju. Tapi kini, seiring makin besarnya biaya hidup (tsaahh), saya harus benar-benar mengencangkan ikat pinggang. Belum lagi ditambah dengan kenaikan TDL, wow!

Critanya, seminggu lalu pas silaturrahim ke rumah mertua, saya perhatikan kakak ipar dan ponakan sedang melipat baju yang sudah kering dijemur. Oh, ternyata kalo ngelipatnya rapi, nggak keliatan kalo nggak disetrika ya. Hmm...pulang dari sana saya coba praktekkan di rumah. Saya lipat rapi jali baju-baju anak lanang kedua yang berserakan di tikar ruang setrika. Saya memang nggak mau nyetrika bajunya. Bukan apa-apa, dia kan udah dewasa. Lagian dia kan lagi libur semesteran, daripada maen terus kan mending nyetrika bajunya sendiri.



Hasilnya? Setelah dilipat dan disusun, ternyata lumayan rapi ya ruang setrikanya, hehehe...Oke, deh, kayaknya saya harus ikut GTS nih. Selain hemat listrik, kan hemat waktu juga. Eh tapi kadang saya masih nyetrika baju harian saya, pas nyetrika seragam sekolah si kecil. Ya namanya juga masih masa peralihan.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia