Kamis, 28 Agustus 2014

Jer Basuki Mawa Beya

20.47 6 Comments
Bapak mertua saya dulu seorang Lurah (Kepala Desa). Beliau lama sekali menduduki jabatan itu. Mungkin sekitar 20 tahunan. Sebelumnya beliau berprofesi sebagai guru SD. Nah, selama menjabat Lurah dalam waktu yang panjang itu, Bapak dan Ibu mampu berinvestasi berupa tanah dan sawah.

Ketika satu persatu dari ke-6 anaknya memasuki bangku kuliah, Bapak dan Ibu mulai menjual satu per satu tabungannya itu. Apalagi ketika anak pertama sampai keempat waktu itu kuliah semua dan salah satunya di fakultas Kedokteran. Wah…terbayang kan berapa biayanya. Akhirnya, dengan berat hati Bapak dan Ibu menjual semua tanah dan sawah yang beliau miliki. Habis…bis…tak bersisa.

Yang ada tentu saja rumah besar yang menjadi tempat tinggal sampai sekarang. Ditambah tanah yang juga masih luas di samping rumah. Banyak orang yang mencibir apa yang dilakukan Bapak Ibu. Maklum, waktu itu di desa mereka masih jarang orang tua yang menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Paling mentoknya ya sampai SMA.

Yang paling berani menegur terang-terangan adalah kakak kandung Bapak sendiri. Begini katanya, ”Buat apa nyekolahin anak tinggi-tinggi. Tuh, lihat anaknya si A, kuliah bertahun-tahun nggak lulus-lulus. Pulang malah dapat istri dan sekarang kerjanya serabutan. Mending nanti tanah dan sawahmu itu kamu bagi ke anakmu satu-satu.”

Tapi Bapak dan Ibu menanggapinya dengan senyuman. Mereka tak memperdulikan pendapat orang lain, yang penting keenam anaknya harus kuliah setinggi-tingginya. Bahkan ketika si bungsu lulus SMA dan tak ada lagi yang bisa dijual, Bapak Ibu mengumpulkan kelima anak lainnya.
“Nak, berhubung Bapak sudah tidak menjadi Lurah dan pensiun dari guru tidak seberapa, tolong bantu biaya kuliah adik bungsumu ini.”

Alhamdulillah, kini perjuangan Bapak Ibu sudah menunjukkan hasil yang nyata. Keenam anaknya sudah lulus kuliah dan semuanya bekerja. Saat berkumpul bersama, Bapak sering memberi wejangan pada kami. Kadang wejangan itu diberikan dalam bahasa Jawa, sampai cucu-cucunya melongo. Maklum Bapak kan pernah kursus jadi Pranatacara alias pembawa acara di acara pernikahan. Jadi bahasanya kayak orang main wayang atau ketoprak gitu.
“Anak-anak, tahu nggak, Mbah Kakung bicara tentang apa?”
“Nggak tahuuu….”

Itulah kondisi anak-anak sekarang, jarang yang berbahasa Jawa (apalagi kromo inggil) pada orang yang lebih tua. Sehari-hari menggunakan bahasa Jawa kasar campur bahasa Indonesia. Ya, mereka tidak bisa disalahkan. Orang tuanya sendiri jarang mengajarkan (tunjuk hidung sendiri), trus di sekolah pelajaran Bahasa Jawa hanya diberikan selama 2 jam pelajaran. Ditambah lagi teman-teman mereka juga menggunakan bahasa Jawa yang kasar. Ya, sudah lah, klop semua…

Kembali ke soal wejangan Bapak. Beliau tak bosan-bosannya meminta kepada kami agar nanti menyekolahkan anak-anak kami setingi-tingginya.
“Dalam bahasa Jawa ada pepatah ‘Jer basuki mawa beya’, kalau ingin hidup enak/sukses harus mau berkorban/ berusaha (Beya itu arti sebenarnya biaya, tapi bisa diartikan pula sebagai usaha). Coba kalian bayangkan kalau Bapak Ibu dulu mendengarkan kata saudara-saudara Bapak. Mungkin kalian nggak ada yang jadi Dokter, PNS, atau Perwira TNI. Mungkin kalian saat ini seperti sepupu kalian yang jadi petani atau pegawai pabrik. Karena itu, nanti cucu-cucuku juga harus sekolah yang tinggi.”

Suami sering menggoda Ibunya, ”Bu, sebenarnya Ibu gela (kecewa) nggak sih udah jual semua perhiasan, tanah, dan sawah untuk biaya kuliah. Lihat tuh, sekarang Ibu nggak pakai gelang dan kalung lagi. Dan tanah sawah dulu itu kalau dijual sekarang laku ratusan juta lho.”
“Ya, sebenarnya gela sih, Le, hehehe…Tapi kalau Ibu melihat anak-anak sudah jadi orang, ya Ibu ikhlas dan bangga. Nggak apa-apa nggak pakai perhiasan, lha wong sudah tua kok. Menyekolahkan anak itu kan sudah kewajiban dan tanggung jawab Bapak Ibu.”
Oh, so sweet…* peluk Ibu mertua dan sungkem sama Bapak mertua.





Minggu, 10 Agustus 2014

#LetterstoAubrey from Budhe Cicik

22.27 3 Comments
Dear Ubii,
Wah, Ubii barusan ulang tahun yang ke-2 ya. Happy birthday, Ubii cantik. Budhe doakan semoga Ubii selalu sehat, tambah pinter, dan jadi kebanggaan Mami dan Papi. Oh, ya, kenalin, ini Budhe Cicik, temen Mami Grace di dunia maya. Meski belum pernah bertemu muka, tapi Budhe kok rasanya kenal dekat dengan Mami, juga Ubii ya. Itu karena Mami rajin posting tentang Ubii di blog. Mami Grace emang keren, jago banget nulisnya. Perasaan Budhe campur aduk kayak naik jet coster waktu baca postingan Mami.

Ubii cantik,
Ubii harus bangga punya orang tua seperti Mami Grace dan Papi Adit. Begitu banyak anak yang terlahir spesial kayak Ubii, tapi diperlakukan tidak wajar oleh orang tuanya sendiri. Seperti dibuang dan diterlantarkan. Lihat, bagaimana Mami dan Papi melimpahkan perhatian dan kasih sayang pada Ubii. Di saat ada orang tua lain yang menyembunyikan atau menutupi kekurangan anaknya, Mami malah bercerita banyak tentang Ubii. Menurut Budhe itu luar biasa. Budhe yang tadinya awam soal apa itu penyakit campak Jerman, apa pengaruhnya terhadap janin, bagaimana menangani anak yang terkena virus Rubella, sekarang jadi lebih tahu.

Ubii sayang,
Tuhan menciptakan manusia sungguh sangat istimewa. Masing-masing dilengkapi dengan kelebihan dan kekurangan. Seperti contohnya Kak Rafi, yang tuna rungu. Dia diberi talenta pinter bikin gambar desain baju. Trus ada lagi, Kak Dewa, yang juga pernah tampil di acara “Kick Andy” kayak Ubii. Dia mengalami kelumpuhan pada tangan dan kaki tapi jago nulis loh. Itu bukunya Kak Dewa, Budhe foto di sebelah buku “Letters to Aubrey”. Tulisan Mami dan Kak Dewa sama kerennya. Eh, Ubii juga keren loh, kecil-kecil piala dari lomba fotonya sudah banyak.


Ubii imut,
Budhe yakin, Ubii bakal jadi anak yang hebat, karena punya orang tua yang hebat pula. Kalo sudah gedhe Ubii pengin jadi apa? Budhe doakan deh, semoga semua keinginan dan cita-cita Ubii bisa terwujud. Budhe juga mendoakan Mami dan Papi diberi kesehatan, dimudahkan segala urusannya, dan diberi kesabaran dalam merawat Ubii. Budhe berharap suatu saat kita bisa bertemu secara langsung. Budhe pengin cubit pipi Ubii dan Mami. Habis, kalian berdua sama-sama nggemesin, sih. Sekian dulu ya, coretan dari Budhe. Ubii, Mami dan Papi harus tetap semangat  menjalani hari-hari yang akan datang. Hadapi apa pun yang akan terjadi nanti dengan senyuman. Banyak sekali yang mencintai, mendoakan, dan mensupport kalian.

                                                                                                Salam sayang dari Kendal


                                                                                                Budhe Cicik














Kamis, 07 Agustus 2014

Andai Umurku Sama Seperti Umur Rasulullah

15.51 1 Comments
Seorang kerabat yang berumur 65 tahun pernah berujar, “Alhamdulillah, dapat bonus umur 2 tahun.” Maksudnya umur 63 (seperti umur Nabi Muhammad) plus 2 tahun. Ternyata, banyak orang yang menganggap bahwa usia Rasulullah adalah patokan umur normal manusia saat ini. Bukan seperti umur Nabi Adam atau Nabi Nuh yang mencapai ratusan tahun.

Hmmm…ini hanya berandai-andai, ya. Tahun ini saya genap berumur 43 tahun. Andai saya diberi umur 63 tahun seperti Rasulullah, itu artinya sisa umur saya tinggal 20 tahun lagi. Waktu yang lama bagi orang yang hidup di penjara, namun singkat bagi mereka yang asyik dengan apa yang dijalaninya.

Apa pun pendapat orang tentang lama tidaknya sisa waktu itu, ijinkan saya menuliskan 7 keinginan yang ingin bisa terwujud sebelum ajal menjemput saya.
1. Saya ingin melaksanakan ibadah haji bersama suami. Saya ingin menyempurnakan semua rukun Islam, setelah empat lainnya insya Allah sudah saya laksanakan.
2. Saya ingin melihat ketiga anak saya mandiri. Dalam arti ketiganya lulus kuliah, punya penghasilan, dan berumah tangga.
3. Saya ingin meninggalkan rekam jejak hidup berupa buku. Entah itu buku berisi penggalan kisah hidup saya, buku keterampilan, atau buku yang bermanfaat lainnya.
4. Saya ingin punya usaha di rumah. Tak perlu perusahaan besar, yang penting membuat saya punya kesibukan, tetap bisa beribadah, dan tidak mengganggu urusan rumah tangga.
5. Saya ingin semua keluarga besar saya terbebas dari hutang. Sedih rasanya bila di antara kami ada yang masih punya hutang pada pihak lain. Saya selalu ingat kisah Rasulullah yang tidak mau menyolati orang yang banyak hutang.
6. Saya ingin mengabdi pada suami dan anak-anak. Jujur saya juga tidak nyaman menjalani LDR alias hubungan jarak jauh dengan suami. Saya ingin tinggal serumah dan mengurus mereka semampu saya.
7. Saya ingin hidup saya bermanfaat untuk orang banyak. Tak perlu muluk-muluk, yang sederhana saja. Misalnya membagikan ilmu keterampilan yang saya miliki pada anak-anak dan para ibu di sekitar saya.

Semua keinginan itu memang tidak mudah, tapi saya yakin semua bisa terwujud asal saya bersungguh-sunguh mengusahakannya. Dan tentunya bila Allah menghendakinya. Trus, apa saja yang sudah saya lakukan untuk bisa mencapai semua itu?
- Mengumpulkan rupiah demi rupiah semampu saya. Uang, yang kata sebagian orang bukan segala-galanya, tapi sangat penting keberadaannya. Mau pergi haji, bayar hutang, atau membantu orang lain, semua harus pakai uang. Berbagai usaha sudah saya lakukan mulai dari jualan kerajinan dari kain flanel, menyusun buku masakan, sampai jualan buku online.
- Menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Saya sudah memulai pola hidup sehat akhir-akhir ini dengan cara rutin berolah raga dan menjaga pola makan. Saya sadar, itu adalah modal utama agar bisa merawat suami dan anak-anak, bahkan kalau mau bisa melihat cucu-cucu saya kelak. Beruntung putri sulung saya sering mengingatkan, saat nafsu makan saya sedang meningkat. Atau saat saya sedang malas berolah raga.
- Terus menerus menambah ilmu dan wawasan. Banyak membaca, banyak mencari berita, dan mengikuti perkembangan agar tidak ketinggalan. Saya harus tahu banyak hal, seperti trend buku apa yang diminati pembaca, model asesoris apa yang disukai penggemar mode, atau cara memaksimalkan penghasilan lewat gadget.
- Mulai menulis cerita tentang masa kecil saya, saat masih bekerja kantoran, dan saat tinggal di Jakarta. Semuanya saya simpan di file komputer. Suatu saat semua itu harus jadi buku.
- Berdoa pada Yang Maha Kuasa, agar diberi kesehatan, umur panjang, dan hidup berkah. Sekeras apa pun usaha yang kita lakukan, tak akan berhasil tanpa campur tangan-Nya.

Itulah 7 keinginan terbesar saya seandainya diberi umur sama seperti Rasulullah. Berbagai usaha juga sudah saya lakukan demi mewujudkan mimpi-mimpi saya. Tugas saya sebagai manusia hanya berusaha. Soal hasil saya serahkan sepenuhnya pada Allah, Sang Maha Penentu. Semoga keinginan saya itu bisa terwujud sebelum malaikat maut benar-benar datang menjemput. Amin.

Artikel ini diikutsertakan pada Giveaway Seminggu : Road To 64




Senin, 14 Juli 2014

Nikmatnya Wedangan di Cafe Tiga Tjeret

00.33 0 Comments
Berkunjung ke Solo tanpa mengunjungi warung hik? Seperti Tom tanpa Jerry atau seperti Masha tanpa Bear. Ya, terasa ada yang kurang. Warung hik, atau ada juga yang menyebut wedangan khas Solo adalah tempat makan berupa gerobak di pinggir jalan. Menu utamanya adalah sebungkus kecil nasi dengan sedikit lauk. Pendampingnya aneka baceman, aneka sundukan (sate), dan aneka wedang. Di daerah lain seperti Semarang atau Jogja, orang mungkin menyebutnya kucingan atau warung sego kucing. Disebut sego kucing bukan nasi dengan lauk kucing lho, tapi karena porsinya sedikit mirip buat ngasih makan kucing.

Pengunjung bisa memilih duduk di kursi panjang atau lesehan di trotoar. Kalau datang serombongan biasanya memilih untuk duduk lesehan. Warung hik mudah sekali ditemui di seluruh penjuru kota Solo. Saat berkunjung ke Solo bersama teman-teman Komunitas IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) Semarang beberapa waktu lalu, Mak Winda, sang putri Solo asli, merekomendasikan warung hik yang oke banget. Namanya Café Tiga Ceret. Letaknya di daerah Ngarsopuro, berhadapan langsung dengan halaman Pura Mangkunegaran, tepatnya di jalan Ronggowarsito no. 97 Solo.

tampak luar

Wow, kalau ini sih bukan warung hik biasa. Lebih tepatnya warung hik dengan format café. Begitu memasuki halaman, tampak bangunan dengan 2 lantai.  Pilihan makanan dan minuman yang ada sangat variatif, sampai bingung saya milihnya. Tapi berhubung sedang menjalani FC (meski abal-abal), saya bisa mengerem keinginan untuk memasukkan semua makanan itu ke dalam perut * hahaha…emang muat.

Begitu masuk tempat penyajian makanan, yang pertama tampak adalah nasi bungkus. Ada nasi rica bebek, oseng kikil, oseng tempe, sapi lada hitam, terik daging, dll. Belok sedikit terhidang aneka lauk dan jajanan. Ada bothok telur asin, pepes ayam, aneka sate, aneka gorengan, lemper, macaroni schotel, dll. Waduh, yang mana ya yang harus dipilih, enak semua sih kelihatannya. Benar-benar menggoda!

aneka nasi bungkus

aneka lauk dan jajanan

Ya sudah, berhubung perut nggak begitu lapar, saya ambil pisang kismis sama pesen teh panas * irit banget? Biarin. Anak saya, Nabila, juga nggak kalah irit, macaroni schotel sama es coklat. Dia tadinya pengin es puter, tapi kata si Mbak Kasir lagi kosong. Selesai membayar, sambil menunggu datangnya minuman dan makanan yang sedang dibakar, kami duduk berempat di halaman, di bawah payung lebar. Selain di bawah payung, ada pilihan lain sebenarnya. Di depan display makanan dan kasir, ada meja panjang dengan banyak kursi. Tapi meja itu sudah dipenuhi emak-emak yang lain. Ada lagi tempat di lantai 2 yang didesain layaknya cafe. Kalau yang itu males naik turunnya * dasar emak-emak uzur.

pesenan saya

Tak perlu menunggu lama, makanan dan minuman sudah terhidang. Hmm…saatnya makan. Soal rasa menurut saya (juga teman yang duduk semeja) sama saja dengan warung hik lainnya, lezat dan nikmat. Bau khas bakaran arang dan daun pisang membuat nafsu makan semakin menjadi. Jaman memang sudah berubah. Orang makan di luar bukan hanya untuk menikmati makanan tapi juga menikmati suasananya. Seperti juga di sini, makanan sama enaknya dengan warung hik lain, tapi suasananya cozy banget.

Ada yang menarik di café ini. Ketika saya perhatikan, kap lampunya terbuat dari rangkaian gelas plastik bekas. Hiasan dinding di depan kamar mandi terbuat dari bekas kemasan telur. Wow, benar-benar sejalan dengan konsep go green. Sementara tempat cuci tangan menggunakan ceret aluminium sebagai kerannya. Unik banget, kan?

gelas plastik bekas

Bagi yang sedang jalan-jalan ke Solo, jangan lupa mampir ke Café Tiga Tjeret ya * eh, kok saya jadi promosi ya. Harga makanan di sana sangat terjangkau, nggak nguras kantong, pokoknya. Per porsi antara Rp2.500 sampai Rp15.000. Café ini buka dari jam 11.00 sampai jam 01.00 dan bisa menampung 100 orang. Nah, tunggu apa lagi, yuk, datang rame-rame ke Café Tiga Tjeret. Sumpah, saya nggak dibayar, tapi kalo saya promo itu karena tempat itu memang keren * angkat 2 jempol.

Ini sebagian penampakan Cafe Tiga Tjeret:

foto, ttd, dan testimoni para artis

satu gigitan emang nggak cukup

si Mas asyik bakar2

bagian minuman

beberapa emak2 IIDN





Minggu, 13 Juli 2014

Ketika Orang Labil Ikut FC

23.25 0 Comments
Status temen-temen soal Food Combining yang bersliweran tiap hari di wall, membuat saya penasaran. Apa sih Food Combining atau FC, kok banyak banget yang mengikuti program itu. Ngalahin OCD nya Oom Dedy Kokbunder *ups. Langsung saya menuju FB Food Combining Indonesia. Info di sana ternyata komplit plit plit. Jadi intinya CF itu program pengaturan pola makan yang disesuaikan dengan sistem pencernakan kita. Yaitu apa yang dimakan, kapan waktu makannya, dan bagaimana cara makannya.

Patokannya gini kira-kira:
1. Apa yang dimakan? Pati, protein, sayuran, dan buah
2.Kapan waktu makannya?
- jam 12 sampai 20 waktu cerna à boleh makan
- jam 20 sampai 04 waktu penyerapan à nggak boleh makan apa pun
- jam 04 sampai 12 waktu pembersihan à ekslusif buah-buahan
3. Bagaimana memakannya? Kunyah makanan sampai lumat 33 X kunyahan

Trus ada patokannya lagi nih:
- Bangun tidur langsung minum jeniper alias jeruk nipis peras. Siapkan air hangat ½ gelas trus kucuri deh dengan jeruk nipis atau lemon. Minum pelan-pelan sambil dimasukkan ke bawah lidah dan sekitarnya
-Untuk sabu alias sarapan buah bisa buah apa saja kecuali duren, nangka, dan cempedak. Kira-kira dari jam 6 sampai jam 11
- Untuk makan siang dan makan malam rumusnya:
Pati + sayuran à OK
Pati + protein hewani à NO
Protein hewani + sayuran à OK

Setelah mikir selama 3 hari 3 malam, akhirnya saya memutuskan untuk ikut program FC. Mulai 1 April 2014 saya memberanikan diri bergabung * jiah istilahnya itu loh. Iya, soalnya saya tipe pemakan segala dan kapan saja. Jadi awalnya pasti beraaat banget.

Akhirnya 1 bulan berlalu sudah. Penasaran dengan program FC yang saya jalani? Baiklah saya akan berkata eh…nulis dengan jujur. Jadi, Saudara-saudara, memang lumayan berat program ini. Saya acungi jempol buat mereka yang konsisten melakoni selama berbulan-bulan bahkan tahunan. Selama 1 bulan ini saya berkali-kali melanggar aturan, diantaranya:
- Makan bakso, itu kan pati + protein hewani. Ceritanyanya saya lagi belanja bahan craft di Toko Satria, Semarang. Karena sejak pagi perut hanya terisi 2 butir apel, saya kliyengan siang itu. Saya nyari warung makan di pasar Johar, nggak ada yang sreg. Lha kok yang rame malah warung bakso. Yaudah, saya pesen 1 mangkok. Hahaha…nggak usah protes, dalam keadaan lapar saya nggak bisa mikir panjang
- Pernah beberapa hari nggak makan lalapan sayur mentah. Gara-gara liat ulat keluar dari selada, lalapan favorit saya, hiii…

Saya bener-bener takjub dengan mereka yang konsisten menjalani FC. Bahkan saat cheating makan enak-enak, mereka langsung pusing dan mual-mual (beberapa sampai muntah). Misalnya makan gorengan, makan cemilan manis, atau makan sate kambing. Lha, kok saya biasa-biasa aja ya saat cheating * namanya juga masih pemula. Misalnya nyicip cemilan coklat Nabil, makan gorengan, makan bakso atau siomay .

Eh, tapi ada hal positif yang saya rasakan loh. Misalnya saat belanja ke warung atau mini market, saya jadi belanja seperlunya saja. Nggak lagi ngambil roti, cemilan, atau minuman ringan. Kalau niatnya mau beli sabun, shampoo, atau deterjen ya…cuma itu aja yang diambil trus dibayar. Minum kopi, teh, dan susu juga nggak pernah saya lakukan selama sebulan itu. Kecuali pernah sekali minum teh saat bertamu ke rumah teman *jitak Diana.


Yang harus dicatat nih, selama 1 bulan ikut FC, badan terasa segar dan ringan. Kalau biasanya pas PMS kepala pusing dan badan meriang, sekarang enggak lagi. Huray…ternyata asyik ya, ikut FC. Sayang, saya orangnya masih labil * jiakakaka. Masih suka makan ini itu, nyemil ini itu, dan kadang lupa nggak sedia buah-buahan. Kalau minum jeniper dan makan sayur sih masih rutin sampai sekarang. Jadi dengan ini saya umumkan bahwa saya belum bisa konsisten menjalani FC. Mudah-mudahan setelah Lebaran nanti, saya siap menjalaninya lagi. Mohon maaf lahir batin, eh…mohon doanya ya.

maksi tanpa nasi


yg setia menemani maksi

buah lokal yg nggak nguras kantong

yg ini buah favorit

Selasa, 08 Juli 2014

Merawat Orang Tua

21.42 0 Comments
Hari itu, saya dikejutkan suara telepon. Dari kakak perempuan saya yang tinggal di Semarang! Katanya, “Tolong kamu cek, aku dapat kabar kalo tetangga kita dulu, Pak M, meninggal. Katanya bla…bla…bla…”

Tanpa menunggu waktu, saya meluncur ke kampung tempat tinggal saya dulu. Nggak jauh sih dari rumah saya sekarang. Lho kok sepi. Nggak ada tenda, kursi, atau bendera kuning seperti layaknya rumah orang meninggal dunia. Hanya ada police line di bagian pintu belakang * tanda tanya.

Saya balik badan dan segera saya buka FB. Ternyata beritanya sudah masuk beritakendal.com. Judulnya: Tinggal Sendirian, Ditemukan Tewas Membusuk. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Ternyata benar, itu Pak M, tetangga persis sebelah rumah saya dulu. Menurut berita itu, sejak hari Senin, Pak M yang berumur 60 tahun, mengeluh nggak enak badan sama tetangganya. Hari Rabu pagi, seorang ART yang mau belanja kebutuhan sehari-hari (oh ya beliau punya warung kecil di rumah) mencoba memanggil-manggil. Tapi, penghuni rumah tak jua muncul. Dia curiga karena mencium bau tak sedap. Segera ART itu meminta tolong tetangga untuk mengecek. Karena kesulitan, mereka pun lapor polisi.

Maka polisi pun datang untuk mendobrak rumah Pak M. Dan ternyata Pak M ditemukan di kamarnya sudah tak bernyawa. Televisi di kamar itu juga masih menyala. Jenasah segera dibawa ke RSUD Kendal untuk didiperiksa. Setelah terbukti tak ada tanda-tanda penganiayaan, jenasah dikuburkan sore harinya.

Sekedar info, istri Pak M belum 100 hari meninggal. Anak perempuannya ikut suaminya tinggal di Cilacap. Jadi, sejak istrinya meninggal, Pak M tinggal sendirian di rumah. Ketika saya datang takziah esok harinya, saya kok merasa si anak ini santai saja. Dalam arti ketika dimintai pendapat kerabatnya, malah mengatakan, “Terserah, saya manut saja. Saya repot. Minta pendapat saja sama kakak Bapak saja.” Mudah-mudahan penilaian saya salah. Bisa saja dia kecapekan karena perjalanan yang jauh dengan membawa 3 anak yang masih kecil-kecil.

Saya jadi ingat Ibu. Setelah Bapak meninggal, Ibu tinggal di rumah sendirian. Ibu kekeuh nggak mau ikut salah satu dari ke-6 anaknya. “Ibu mau di sini saja, nanti kalo Bapakmu pulang, gimana?” Kami mengalah, tak bisa memaksa Ibu. Kami pun patungan membayar orang yang mau nemani Ibu. Kejadian paling dramatis adalah ketika Ibu sendirian karena pembantu berhenti bekerja, kondisi Ibu pas drop. Kakak ipar menemukan Ibu dalam keadaan tidak sadar dengan badan belepotan * maaf Ibu mengalami pendarahan lambung.

Sebagai satu-satunya anak yang tinggal sekota, saya shock dan merasa bersalah. Sepulang dari rumah sakit Ibu langsung saya boyong ke rumah. Sejak itu kondisi Ibu benar-benar turun drastis, tak pernah sekali pun turun dari tempat tidur. Meski tinggal serumah, saya tak bisa merawat Ibu dengan tangan saya. Ada orang yang khusus merawat Ibu. Saat itu selain masih kerja kantoran, saya baru punya bayi. Tapi paling tidak saya merasa tenang, bisa melihat dan berbincang dengan Ibu setiap hari. Saat beliau tiba-tiba mengalami koma, saya sempat membacakan surat Yaasin di telinganya.

Ya, Allah semoga saat saya tua nanti, anak-anak mau merawat saya. Saya tidak ingin mengalami kejadian tragis seperti tetangga saya itu.




Senin, 07 Juli 2014

Indonesia, Ini Bukti Cintaku

16.14 1 Comments
Beberapa waktu yang lalu saya sempat menyaksikan konserta bertajuk “Swarga di Khatulistiwa” di Taman Ismail Marjuki (TIM), Jakarta. Konserta ini menceritakan tentang sebuah negeri elok yang kaya raya bernama Nusantara. Keelokan dan kekayaannya membuat banyak negara lain ingin memilikinya. Dengan segala tipu daya akhirnya Nusantara secara berganti-ganti dikuasai oleh negara lain seperti Portugis, Belanda, dan Jepang.

Tapi berkat perjuangan dan kegigihan para pemuda, penguasa-penguasa jahat itu bisa diusir dari Nusantara. Konserta yang berlangsung hampir 2 jam itu ditutup dengan pembacaan teks proklamasi. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Indonesia Pusaka” oleh seluruh pendukung konserta. Saya merasakan gemuruh di dada mendengar lagu yang dinyanyikan dengan penuh khidmad itu.

"Indonesia Pusaka" memang dahsyat

Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan, begitu semua pendukung membungkukkan badan. Secara keseluruhan konserta itu bagus sekali. Baik pembacaan narasi, paduan suara yang membawakan aneka lagu daerah, tarian nusantara yang dibawakan para penari, maupun tata lampu. Bukan hanya itu, ada pesan yang saya tangkap seusai melihat konserta itu. Oh, ternyata untuk bisa menjadi Indonesia seperti sekarang ini diperlukan perjuangan yang luar biasa. Banyak darah yang tertumpah dan nyawa yang melayang demi merebut kembali Nusantara ini dari kaum penjajah.

Sebagai warga negara Indonesia, sudah sewajarnya kalau saya mencintai Indonesia, tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Agama saya juga mengajarkan bahwa mencintai negara itu wajib hukumnya. Tak peduli negara ini dicap negara lain sebagai sarang teroris, tingkat korupsinya tinggi, pengunggah situs porno terbanyak sedunia, dan mutu pendidikannya rendah. Apa pun komentar miring dunia tentang negara ini, saya tetap cinta Indonesia.

Kenapa? Karena di sini saya mendapatkan apa yang saya butuhkan. Tanah, air, udara, orang-orang yang ramah dan peduli, rezeki, kebebasan berpendapat, dan masih banyak lagi. Bandingkan dengan saudara-saudara kita yang tinggal di belahan dunia lain yang masih harus berjuang demi mendapatkan kemerdekaan.

Di era digital ini cinta tanah air tidak harus diwujudkan dengan memanggul senjata * mau perang sama siapa, Bro? Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan rasa cinta tanah air, diantaranya memakai produk dalam negeri, menjaga kelestarian alam, dan melestarikan budaya masing-masing daerah. Saya sendiri punya cara sederhana mencintai Indonesia, diantaranya:
1. Memakai kain batik di berbagai kesempatan. Ditetapkannya batik sebagai warisan budaya nasional menurut saya itu membanggakan. Agar tidak diklaim sebagai budaya Negara lain, ya orang Indonesia sendiri yang harus mempertahankannya. Apalagi batik sekarang ini tampil dengan berbagai variasi baik model dan warnanya. Nggak ada ceritanya pakai kain batik jadi kelihatan tua. Batik untuk balita pun sekarang ada. Dan mereka tetap kelihatan cute.

saat jadi model "jadi-jadian"

2. Mengelola sampah rumah tangga dengan efisien. Tak bisa dipungkiri, ibu rumah tangga adalah sumber sampah di rumahnya. Karena dialah yang menentukan apa saja yang harus dibeli untuk keperluan rumah. Prihatin dengan pengelolaan sampah dan meningkatnya pencemaran tanah dan air di negeri ini, saya memulai langkah mandiri dari rumah. Caranya?
- Meminimalkan penggunaaan plastik.
- Membiasakan diri membawa tas belanja dari rumah.
- Mengelola sampai organik dari sisa sayuran menjadi pupuk tanaman.
-Memanfaatkan barang tak terpakai menjadi barang yang lebih berguna
3. Mengajarkan pada anak-anak saya tentang perbedaan. Syukurlah, saya pernah tinggal di komplek militer yang penghuninya komplit dari Sabang sampai Merauke. Dari sana saya ajarkan, “Nak, kita harus menghargai mereka. Walaupun suku, agama, dan budayanya berbeda mereka tetap saudara kita, sama-sama orang Indonesia. Berbeda itu biasa, malah akan memperkaya wawasan kita.” Menurut saya, kalau sejak kecil sudah diajarkan menghargai perbedaan, kelak akan tertanam dalam ingatan mereka.


Mencintai tanah air tak lain adalah upaya kita semua dalam mempertahankan kemerdekaan yang sudah diperjuangkan para pendahulu kita. Simpel saja, kalau kita mau mentaati peraturan, hidup sesuai norma agama dan susila yang berlaku, insya Allah negeri tercinta ini akan menjadi negara yang besar dan bermartabat. Tak ada pejabat yang korupsi, tak ada pedagang yang curang, tak ada pegawai yang mangkir kerja, dan tak ada pelajar yang tawuran. Ayo, Guys, buktikan cintamu pada Indonesia!