Jumat, 25 Agustus 2017

Baju Nggak Disetrika, Bisa Nggak Ya?

08.03 2 Comments
Kalo ditanya apa pekerjaan yang paling nggak disukai, maka saya akan menjawab : nyetrika! Kalo nyuci baju sih masih mending, tinggal dikucek trus masukin deh ke mesin cuci. Sambil nunggu mesin cuci bekerja, kita bisa buka-buka medsos dulu. Sementara kalo nyetrika itu nggak bisa disambi ngerjain yang lain.

Nah, tiba-tiba saya ingat ada loh Gerakan Tanpa Setrika(GTS) yang 2 tahun lalu pernah jadi bahan rumpi para emak-emak blogger. Ternyata banyak ya emak-emak yang memutuskan nggak  nyetrika baju-baju harian mereka. Yang wajib disetrika hanya baju seragam suami, anak, dan baju kondangan. Lha iya lah, baju kerja yang kusut menunjukkan cara kerja si pemakainya. Nha kalo kondangan pake baju kusut, itu nggak menghormati yang ngundang dong.

Jadi tekniknya menurut mereka begini: dicuci kayak biasa. Nah, pas proses pengeringan, baju dilipat rapi trus masukin mesin deh. Setelah dijemur sampe kering, lipat baju yang rapi trus masukin lemari. Masalahnya, bisa nggak ya saya ikut gerakan macam itu? Sejak lahir saya terbiasa make baju yang disetrika. Risih aja kalo make baju yang nggak disetrika. Kalo keluarga suami kayaknya udah lama deh ikut GTS, hehehe...

Sudah setahun lebih saya hidup tanpa ART, karena di rumah hanya ada 2 orang, saya dan si bungsu. Suami dan kedua anak saya tinggal di luar kota. Waktu awal-awal tanpa ART sering make jasa laundry dekat rumah untuk nyetrikain baju. Tapi kini, seiring makin besarnya biaya hidup (tsaahh), saya harus benar-benar mengencangkan ikat pinggang. Belum lagi ditambah dengan kenaikan TDL, wow!

Critanya, seminggu lalu pas silaturrahim ke rumah mertua, saya perhatikan kakak ipar dan ponakan sedang melipat baju yang sudah kering dijemur. Oh, ternyata kalo ngelipatnya rapi, nggak keliatan kalo nggak disetrika ya. Hmm...pulang dari sana saya coba praktekkan di rumah. Saya lipat rapi jali baju-baju anak lanang kedua yang berserakan di tikar ruang setrika. Saya memang nggak mau nyetrika bajunya. Bukan apa-apa, dia kan udah dewasa. Lagian dia kan lagi libur semesteran, daripada maen terus kan mending nyetrika bajunya sendiri.



Hasilnya? Setelah dilipat dan disusun, ternyata lumayan rapi ya ruang setrikanya, hehehe...Oke, deh, kayaknya saya harus ikut GTS nih. Selain hemat listrik, kan hemat waktu juga. Eh tapi kadang saya masih nyetrika baju harian saya, pas nyetrika seragam sekolah si kecil. Ya namanya juga masih masa peralihan.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Rabu, 23 Agustus 2017

Hijrah Itu Berat, Bro

20.04 1 Comments
Caisar YKS kembali berjoget! Sebagian masyarakat Indonesia heboh. Banyak yang menyayangkan keputusan Caisar kembali muncul di televisi untuk berjoget seperti dulu. Padahal sejak tahun 2015 lalu sudah memutuskan turun panggung, meninggalkan dunia artis yang penuh maksiat. Beberapa kali menjadi bintang tamu dalam pengajian, bercerita tentang masa lalu dan kondisinya sekarang.

Dua tahun terakhir, Caisar sudah berubah. Penampilan berjenggot dan bercelana cingkrang. Untuk menghidupi keluarga berjualan kaos dan makanan. Tapi tiba-tiba masyarakat dikejutkan dengan kemunculan Caisar di sebuah acara dan...kembali berjoget! Disusul dengan isu perceraiannnya dengan sang istri, mantan hijab stylist yang kini bercadar. Mungkin hasil jualannya nggak sebesar saat jadi artis dulu. Mana dia harus membiayai keluarga orangtuanya, selain keluarga kecilnya. Wallahu a’lam.


Sungguh, saya nggak bermaksud ghibah. Ini hanya salah satu contoh di depan mata dan pelajaran hidup bagi saya, bahwa Hijrah itu berat. Jangan dikira setelah hijrah kita tidak diuji. Allah ingin tahu hijrah kita serius atau tidak. Maka banyak orang yang setelah hijrah diberi penyakit, susah cari kerja, nggak punya uang, atau mengalami cobaan yang belum pernah dialami sebelumnya.

Walaupun berat, hijrah harus tetap dilakukan. Manusia itu tempatnya salah dan dosa. Dan Allah Maha Pengampun, maka sebesar apapun dosa kita Allah akan mengampuni kalau kita mau bertobat. Hijrah adalah bagian dari tobat. Karena itu kalau kita ingin mengurangi dosa dan menambah timbangan amal di akhirat, ya segera berhijrah.

Lihat bagaimana para Nabi dan orang beriman jaman dulu berhijrah dan mendapat cobaan. Nabi Ibrahim diperintahkan memindahkan istri dan anaknya, Ismail, yang masih bayi ke sebuah lembah yang gersang. Jauh dari pemukiman dan tidak ada air. Atau kisah Abdurrahman bin Auf, pebisnis ulung yang kaya raya, ketika peristiwa hijrah dari Mekah ke Madinah. Harta bendanya di Mekah sudah habis disedekahkan dan untuk jihad. Ini adalah hijrah yang sempurna.

Ada 4 syarat untuk berhijrah menurut Ustadz Sallim A Fillah:
1. At Tadhiyah, berani berkorban
2. At Tawakkal, berani bersandar hanya pada Allah
3. At Ta’allum, berani terus belajar
4. At Tawadhu’, berani untuk selalu rendah hati

Terakhir, nggak usah menghujat saudara kita yang memilih kembali ke jalan maksiat. Iman seseorang itu bisa naik bisa turun. Lebih baik kita doakan agar kembali ke jalan yang diridhai Allah. Ini juga peringatan buat diri sendiri, agar istiqomah dalam kebaikan, kembalikan semua pada Alquran dan hadist.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Selasa, 22 Agustus 2017

Emak Unik

22.24 1 Comments
Banyak yang menganggap saya orang aneh. Bahkan melihat saya seperti makhluk luar planet. Itu terjadi saat saya tinggal di sebuah lingkungan militer di Jakarta. Kebanyakan Ibu-ibu di sana keras sekali mendidik anaknya. Kegiatan anak-anak tuh tiap hari belajar di sekolah, sore les ngaji, malam les pelajaran. Sementara saya? Ketiga anak itu saya biarkan sesuka hatinya. Nggak ada yang les pelajaran. Paling setiap hari Ahad ke lapangan tenis dengan Bapaknya.

sabar ya, Nak, punya Emak unik

Saya memang begitu orangnya. Membiarkan anak menikmati masa kecilnya. Saat TK saya nggak memaksa mereka harus bisa baca dan tulis. Mulai SD boleh ikut les, asal jangan les pelajaran. Mending yang sesuai dengan hobi dan minat. Makanya, ketika putri sulung saya pengin les gitar, saya turuti. Bahkan saya tungguin dia belajar di dalam studio, karena yang ngajar laki-laki dan muridnya hanya anak saya.

Ketiga anak saya hanya les pelajaran ketika mereka akan menghadapi ujian, yaitu kelas 6, 9, dan 12. Si sulung saya juga unik. Saat kelas 12 dia nggak mau ikut les, maunya beli program belajar online. Udah gitu, nggak mau berangkat sekolah, maunya belajar sendiri di rumah pake program itu. Saya turuti aja kemauan dia. Karena dia bilang lebih jelas diterangkan komputer daripada dijelaskan gurunya.

Alhamdulillah, si sulung dan si tengah sekarang sudah masuk bangku kuliah. Mereka menuntut ilmu di universitas negeri. Sejak dulu saya selalu ngomong, sukses itu bukan milik orang yang sekolah dan kuliahnya di tempat elit. Bukan milik mereka yang les ini itu. Yang penting ikuti aja semua pelajaran di sekolah. Saya nggak pernah menuntut mereka harus rangking 1. Hasilnya? Dua anak lelaki saya pernah rangking 3 dari bawah di kelasnya, hehehe...

Saya cuek saja bila ada Ibu-ibu yang tanya, anaknya rangking berapa. Saya lihat Ibu-ibu itu seperti kebakaran jenggot bila rangking anaknya jelek. Mereka sering menatap aneh pada saya. Ini Emak kok unik banget, anaknya rangking terakhir kok santai aja. Nggak pernah diikutkan les di guru sekolahnya atau les di tempat lain. Di sana tuh yang ikut les hubungannya akrab banget antara guru, orang tua, dan murid. Bahkan sering dikasih bocoran soal yang bakal keluar saat ulangan nanti.

Ah, tapi itu cerita masa lalu. Sekarang saya sudah balik ke kampung. Di sini kehidupannya nggak sekeras di Jakarta. Dan yang penting, nggak ada yang menatap saya dengan pandangan aneh. Ya, inilah saya, Emak unik yang terbatas sekali ilmunya.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Senin, 21 Agustus 2017

Bahagia Di Usia Senja

21.30 1 Comments
Saya kenal dengat dengan dua perempuan itu. Tapi keduanya tidak saling kenal dan tinggal di kota yang berbeda. Kedua perempuan itu sering curhat pada saya tentang kondisi rumah tangganya. Yang membuat saya heran, kok bisa mirip ya. Si perempuan masih bekerja di instansi pemerintah. Suaminya sudah pensiun, penderita diabetes, dan sudah bisa menjalankan “tugas” sebagai suami.

Yang jadi masalah, sejak pensiun suami jadi sensitif banget, gampang cemburu. Istri telat pulang kerja atau pergi keluar rumah kelamaan, langsung dimarahi habis-habisan. Bahkan yang bikin saya kaget, ada yang menuduh nyari laki-laki lain, saat pergi lama. Atau ketika ngobrol dengan tukang bangunan sebelah, dituduh selingkuh. Waduh, segitunya.

Saya kenal juga dengan suami kedua perempuan itu. Saat muda dan masih dinas, mereka lelaki yang baik dan sayang anak istri. Makanya saya heran kok sekarang jadi begini ya? Sayangnya saya fakir ilmu tentang penyakit kejiwaan seperti itu. Jadi saya hanya bisa jadi pendengar curhat mereka tanpa bisa memberi solusi. Sabar, ya, Ukhti, ini cobaan hidup kalian.

Kedua perempuan itu masih aktif, termasuk bermedia sosial. Mereka kadang ingin datang reuni dengan teman-teman sekolah. Tapi apa daya, sang suami tidak pernah memberi ijin. Padahal menghadapi kelakuan suami membuat keduanya stress dan ingin keluar sejenak dari urusan rumah. Akhirnya me timenya ya hanya di rumah saja. “Ya, Allah, kenapa cobaanku kok datang di usia senja ya”, keluh mereka.

Keduanya pernah mengalami juga, suaminya marah hingga ingin menceraikan istrinya. Tapi anak-anak mereka yang sudah dewasa langsung melerai. “ Ibu yang sabar ya menghadapi Bapak.”
Saya hanya bisa mengambil pelajaran dari kejadian di depan mata saya itu. Suatu saat kalau ada umur, saya dan suami juga akan menjadi tua. Tapi saya nggak mau mengalami hal seperti itu.


Ada beberapa tips dari para ahli agar kita bisa bahagia di usia senja, diantaranya:
~ sabar, menerima kondisi diri yang berbeda dengan masa muda dulu
~ jaga pola makan
~ tetap berolah raga walau ringan
~ cari kesibukan yang menyenangkan
~ jangan lupa untuk mendekatkan diri pada Allah, perbanyak ibadah sebagai bekal ke kampung akhirat
Doa saya, semoga saat tua nanti, saya bisa menjalaninya dengan tetap bahagia.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Minggu, 20 Agustus 2017

Belajar Nekat dari Nekaters

20.19 0 Comments
Oke, setelah kisah nekat Pak Ahmad Sahroni, saya akan lanjutkan kisah orang-orang nekat selanjutnya. Namanya Mas Agung Nekatzz, pendiri Komunitas Harapan. Lahir dan besar di sebuah kawasan hitam di pinggiran sungai Semarang, menjadikan Agung muda jadi orang keras dan nakal. Suatu ketika Allah menegurnya dengan diberi sakit diabetes yang mengharuskan salah satu kakinya diamputasi. Titik balik terjadi, Agung berubah ingin jadi orang yang bermanfaat untuk orang di sekitarnya.

Bersama para Nekaters, beliau mengadakan kegiatan rutin setiap Jumat sampai Ahad berupa pendidikan dan ketrampilan untuk anak-anak di sekitar rumahnya. Mulai dari belajar mengaji, menghafal surat pendek, menggambar, menari, dan kegiatan positif lainnya. Mas Agung juga berprofesi pengrajin daur ulang. Kadang juga diminta mengisi aneka workshop.

Sebulan lalu, Mas Agung bertemu dengan Mas Budi Santoso, seorang anak muda yang kakinya diamputasi karena kecelakaan. Mas Budi beli kaki palsu seharga 20 juta tapi nggak nyaman dipakai. Akhirnya mencoba bikin sendiri dari barang-barang bekas. Wow! Sampai saat ini sudah mencoba bikin sebanyak 12 biji. Salah satunya dipakai Mas Agung.

Dua pemakai kaki palsu ini berencana membuat kaki palsu untuk para penyandang difabel. Bagi yang mampu berbayar, bagi yang tidak mampu akan diberikan secara free. Ya, Rob, mereka bukan orang kaya. Meleleh hati saya ketika Mas Agung bilang, tak harus kaya untuk bisa berbagi kepada sesama. Oh ya, komunitas mas Agung ini pernah dapat award dan sering mendapat bantuan dari orang-orang luar negeri yang peduli dengan orang pinggiran.


Beralih ke narasumber satu-satunya perempuan. Seorang anak muda lulusan D3 Akutansi UGM tapi melek IT. Saat memutuskan kuliah, kondisi ekonomi orang tuanya sedang jatuh. Hanya dengan uang kiriman 200 ribu per bulan, ia harus bertahan hidup. Maka setiap ada waktu luang dia bekerja sebagai penjaga warnet. Dia owner 3 perusahaan yaitu Callind, Ontreez, dan PT. Wahyu Global Abadi.

Lulus kuliah gadis asal Kebumen ini bekerja di sebuah perusahaan di Malaysia. Hasil kerja mencapai 2 M ditinggalkan, demi pulang ke kampung halaman dan menjadi caleg. Meski gagal nyaleg, dia banyak belajar politik di tanah kelahirannya. Akhirnya balik kerja lagi di Malaysia sambil belajar IT. Satu tahun kemudian balik ke tanah air membuat usaha sendiri.


Pesan Novi untuk anak muda yang punya rintisan usaha/startup, pertama tentukan produk, lalu bentuk tim yang solid. Baru kemudian cari dana. Wah, keren banget pokoknya sosok Pemenang Perempuan Inspiratif Nova 2016 di bidang Teknologi ini. Muda, cantik, cerdas, tajir lagi.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia


Belajar Dari Orang-orang Nekat

10.01 0 Comments
Hari ini luar biasa! Saya diberi kesempatan bertemu orang-orang yang sukses dengan modal nekat. Mereka adalah narasumber di acara yang diadakan Orisinal Indonesia. Bertempat di Hotel Pesonna, Jl.Depok 33 Semarang, acara bertajuk “Nekat Kejar Sukses” dihadiri 100 pengusaha muda yang diseleksi. Wah, beruntungnya saya sudah nggak pantes disebut muda lagi, hehehe...


Narasumber utama acara ini adalah Bapak Ahmad Sahroni, pengusaha sukses di bidang suplai bahan bakar kapal. Beliau adalah owner sekaligus Presiden Direktur dari PT. Ekasamudra Lima, PT. Ruwanda Satya Abadi, dan PT. Sagacos Intec. Dalam kesempatan ini, beliau hadir sebagai narasumber pertama, karena kesibukan dan keterbatasan waktu, jam 12 harus segera balik ke Jakarta.

Pak Roni hanya sedikit menceritakan tentang kisah hidupnya yang kayak jet coster. Kalau diceritakan semua bisa makan waktu 3 hari 3 malam, hehehe...Jadi Pak Roni itu lahir di Tanjung Priok, dari pasangan Batak dan Minang, yang nggak jelas siapa Bapaknya. Dibesarkan oleh Ibu dan Neneknya dengan ajaran agama yang keras. Itulah yang membuatnya jadi pribadi yang lurus.

Lulus SMA bekerja di kapal yang berlayar di di Eropa. Tak tahan bekerja di sana, nekat turun di Florida dan bekerja di restoran Chinatown, Atlanta. Hanya bertahan setahun lalu pulang ke tanah air.  Profesi yang dijalani selanjutnya adalah sopir dari Boss perusahaan pensuplai bahan bakar kapal. Dari sana beliau belajar banyak seluk beluk bisnis beromset milyaran ini. Kok bisa?

Jadi walaupun sopir, tapi sering diajak  para Direktur terjun ke lapangan, sementara Bossnya (Dirut) sedang bermaksiat dari hotel ke hotel. Hingga akhirnya suatu saat Pak Roni dituduh mencuri uang hasil penjualan. Betapa sakit hati beliau, sudah bekerja mati-matian diperlakukan seperti itu. Atas saran beberapa orang, Pak Roni mendirikan usaha sendiri. Beliau menuruti saran temannya dan menyebutnya perusahaan dalam perusahaan. Iya, karena beliau masih tetap menjadi sopir di sana.

Qodarullah, usaha pribadinya dapat klien pertama yang memberinya keuntungan 500 juta. Suatu saat terjadi perselisihan antar para Direktur yang merupakan kakak beradik, yang berujung keluarnya para Direktur. Oleh Boss-nya Pak Roni diangkat menjadi Manager dengan gaji yang kecil. Bertahan beberapa tahun akhirnya Pak Roni keluar dan membesarkan usahanya sendiri yang sudah punya banyak klien.

Kini usaha Pak Roni omzetnya sudah ratusan milyar. Beliau yang tetep memilih tinggal di Tanjung Priok ini suka melakukan kegiatan sosial. Mungkin karena jiwa sosialnya itulah, beliau dipilih menjadi wakil rakyat dari Partai Nasdem. Ada nasehat Pak Roni untuk para pengusaha muda:
~ Teruslah bermimpi
~ Keluarga yang tidak utuh bukan halangan untuk sukses
~ Hormati selalu orang tua, terutama Ibu. Jangan sakiti hatinya, minta doa restunya, dan bila sudah sukses dialah orang pertama yang harus kita bahagiakan
~ Jangan takut, mudah menyerah, dan berkata tidak bisa
~ Pengusaha itu harus Jujur

Pak Roni in action

foto bareng

goody bag dan sertifikat


Setelah Pak Roni, masih ada 4 narasumber lain yang nggak kalah keren. Saya tulis nanti ya kelanjutannya. Acara dimulai jam 9 sampai jam 16, sementara saya harus naik bus 1 jam untuk sampai rumah. Jadi tunggu lanjutannya, jangan ke mana-mana...

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Melihat Kekuatan TNI AU di Museum Dirgantara Mandala

08.05 0 Comments
Mau tau banyak tentang kekuatan TNI Angkatan Udara kita dari masa ke masa? Datang aja ke Museum Dirgantara Mandala. Lokasinya di dalam Komplek TNI AU Adi Soetjipto, Jogjakarta. Tiketnya juga terjangkau, 4 ribu rupiah per orang.

halaman museum

patung dekat pintu masuk

Apa saja yang bisa dilihat di sana? Banyak...yang pasti kita bisa melihat sejarah TNI AU, lengkap dengan pesawat yang dimiliki. Bahkan potongan pesawat Dakota VT-CLA yang ditembak Belanda disimpan di sana lho. Kalo datang berombongan, bisa dipandu oleh petugas museum. Nanti sambil berjalan mengelilingi museum akan dijelaskan satu per satu apa yang dilihat.

Begitu masuk museum, ada penjaga loket di sebelah kiri. Setelah itu kita akan menjumpai aula yang bisa buat foto bareng satu robongan. Nah, setelah itu barulah terlihat isi museum sebenarnya. Ada manekin seragam TNI AU, diorama peristiwa sejarah, dan dibagian akhir kita bisa melihat aneka pesawat milik TNI AU. Oh ya di sebelah pintu keluar ada toko yang menjual pernak-pernik, mulai kaos doreng, celana doreng, sampai miniatur pesawat. Buat yang nyari souvenir barang berbau militer, cocok nih.

aula depan




salah satu dalamnya pesawat

Hampir tiap akhir pekan, museum itu selalu ramai. Biasanya sih rombongan para siswa, entah dari wilayah Jogja sendiri maupun dari berbagai daerah se-Jawa. Dari luar pulau ada sih, tapi rombongannya nggak sebanyak dari Jawa yang biasanya 2-3 bus. Yang datang sekeluarga pake mobil pribadi juga banyak.

Saya sendiri sudah beberapa kali mengunjungi museum itu. Dulu, kebetulan Rumah Sakit tempat suami bertugas, posisinya persis di belakang museum. Kalo pas anak-anak libur sekolah, saya ajak mereka berjalan-jalan ke sana, sementara suami bertugas. Sekarang Rumah Sakit Pusat TNI AU sudah pindah lokasi di pinggir jalan raya Janti.

Kayaknya hampir selalu ada perubahan setiap saya mengunjungi museum itu. Tata letak, tata ruang, dan lainnya yang tentunya semakin membuat pengunjung nyaman. Bulan Mei 2017, saya sempat mampir, pas nganter ponakan tes ujian mandiri UGM. Di depan museum sekarang ada mini bunker. Tapi saya nggak mau masuk, desak-desakan sama anak muda sih. Takut nggak bisa nafas juga. Akhirnya keponakan saya yang masuk, hehehe...Buat yang mau jalan-jalan ke Jogja, Museum Dirgantara Mandala bisa jadi alternatif pilihan, terutama buat yang suka yang berbau militer.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia