Senin, 06 Oktober 2014

Ini Cerita Hari Inspirasiku!

10.48 1 Comments
Akhirnya yang ditunggu-tunggu dengan H2C datang juga. Tanggal 25 September 2014, ini saatnya saya jadi inspirator di Kelas Inspirasi 1 Semarang. Demi itu semua saya rela nginep di rumah kakak, karena rencana rombongan mau berangkat jam 05.30. Tau sendiri kan Kendal-Semarang naik angkutan umum bisa 1 jam lebih. Mana kendaraannya terbatas lagi.

Ternyata pas saya datang ke Bapelkes tepat jam 05.30 belum ada tanda-tanda pada ngumpul. Yang ada hanya Mas Farhan yang geleng-geleng karena para relawan yang nginep di Bapelkes belum keluar kamar. Kami pun naik ke lantai 7 mencoba mengetuk kamar mereka. Yaey…akhirnya ketemu Dinda dan Mbak Maria * salaman. Jam 06.30 rombongan (2 mobil) baru komplit dan langsung menuju TKP.

Anak-anak sudah banyak yang kumpul di halaman saat rombongan kami tiba. Mulai deg-degan nih. Kami langsung menuju ruangan yang khusus disediakan pihak sekolah untuk kami. Masing-masing inspirator sibuk mempersiapkan diri. Pake name tag, ambil kertas untuk name tag anak-anak, spidol, dan pin reward. Karena konsumsi juga sudah siap, saya ambil 1 donat untuk pengganjal perut sekaligus mengurangi nervous.

sesi perkenalan

Setelah berdoa bersama kami keluar ruangan dan berkumpul dengan para guru dan anak-anak di halaman. Upacara pembukaan yang dipandu Sovi, sang penyiar Radio Gajahmada FM itu berlangsung seru. Setelah satu persatu para inspirator memperkenalkan diri, dilanjutkan dengan Chicken Dance. Suasana pun meriah, anak-anak ikut berjoget meski dalam kondisi himpit-himpitan. Maklum lapangannya tak sebanding dengan jumlah siswa yang hampir 600 orang itu.

joget ayam dulu, yuk...

Pembukaan selesai, para siswa masuk kelas, kami pun masuk ruangan sebentar. Kenalan dengan Mas Dimas yang selama ini nggak pernah datang dan berdoa lagi karena tadi Mas Reza  belum ikut berdoa bersama. Dan tepat pukul 08.00 kami masuk ke kelas sesuai jadwal yang sudah ditetapkan seksi acara.

Jam pertama ini saya harus masuk ke kelas 5 B yang berada di lantai 2. Kalo guru-guru lain langsung keluar, Pak Guru Berewok itu masing memimpin para siswa berdzikir. Yah…terpaksa berdiri nunggu dulu sampai selesai. Para siswa terlihat khusyuk berdzikir. Wah, anak-anak ini pasti anteng dan penurut, itu pikiran saya. Namun semua berubah setelah saya menjadi “guru” mereka sekitar 10 menit kemudian.

Ketua kelasnya Putri, yang tadi pagi maju saat  Chicken Dance. Putri dan anak-anak tanggung itu mulai ribut, berdiri, dan berjalan ke sana ke mari. Mungkin mereka butuh perhatian atau memang nggak jelas dengan penjelasan saya. Padahal yang saya ajarkan sederhana: melipat kertas menjadi lipatan kecil-kecil.
Piye iki, Bu Sri?
Gimana sih, Bu Sri?
Kayak gini bener, Bu?
Setelah sempat ricuh beberapa saat, akhirnya semua bisa menyelesaikan tugas membuat kupu-kupu. Dan kami pun berfoto bersama memegang kupu-kupu buatan masing-masing. Ciiiis….! Terakhir, mereka berebut minta kawat bulu mercy * buat apaan coba. Mungkin mereka baru pertama kali melihat kawat ada bulu-bulunya kayak ulat gitu, hihihi...

Tugas pertama selesai, masuk basecamp bentar, lanjut ke kelas 4 B, masih di lantai 2. Beberapa anak tampak di luar kelas, minum dan makan jajanan. Masih sama dengan kelas sebelumnya, setelah memperkenalkan diri, saya mengajari anak-anak membuat kupu-kupu dari majalah bekas. Siswa kelas ini tampak lebih tertib dan penurut. Dan (lagi-lagi) semua bisa menyelesaikan tugasnya. Oh ya, saat saya tanya, “Siapa yang suka buang sampah sembarangan?” Beberapa anak laki-laki menjawab, “Jujur, saya suka buang sampah sembarangan, Bu.”

Hehehe…jujur amat, Nak. Saya berusaha menjelaskan bahwa ada barang bekas yang bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna. Hampir semua anak tak bisa menebak kreasi barang bekas yang saya tunjukkan. Padahal celengan itu terbuah dari bekas gulungan lakban yang disusun 2 trus dibungkus dengan kain flanel. Itulah salah satu syarat jadi crafter : kreatif!

Setelah ngajar dua kelas, jam ke-3 saya break bareng Mbak Inung dan Mbak Wuri. Kok bisa ya *jangan-jangan seksi acara tahu kalo kita satu komunitas. Ngobrol bentar, nengokin kelas 6 yang nanti bakalan saya masuki di jam terakhir, dan bikin testimony di depan kamera. Hore masuk Youtube *keluar noraknya. Tiba-tiba efek begadang (nglembur boneka profesi) muncul, rasa kantuk luar biasa mulai menyerang * ya, Allah, kuatkan hamba-Mu. Mas videographer sampe senyum-senyum waktu saya bilang lagi ngantuk berat.

Apa pun yang terjadi, tugas harus diselesaikan. Terakhir, saya masuk kelas 6 A yang ternyata gabungan kelas 6 A dan 6 C. Pantesan, kelas tampak penuh banget. Udah gitu anak-anaknya ada yang sudah berkumis dan terkesan cuek. Ya, beginilah ngedepin ABG. Karena di rumah sudah ada 2 ABG, saya santai aja ngadepin mereka, ajak ngobrol layaknya seorang teman. Saat terdengar adzan Dzuhur, semua sudah menyelesaikan tugas membuat kupu-kupu.  Sebelum meninggalkan kelas, di tengah suasana kelas yang udah semrawut, anak-anak saya minta menulis di kertas kecil ; nama dan cita-citanya.

Oh ya ada seorang gadis kecil yang mau minta kartu nama saya. Hmmm…kasih nggak ya? Maaf ya , Nak, nanti Ibu akan berikan pada Bapak Ibu Guru kalian saja. Saya lihat, keterampilan yang diajarkan di sini sepertinya masih terbatas dan sangat sederhana. Saya pernah lihat di dinding kelas 5 A, pajangannya berupa anyaman kertas. Trus, ketika saya tanya ke beberapa siswa, keterampilan apa yang sudah diajarkan. Katanya pernah membuat semacam majalah dinding gitu.

Melihat antusiasme anak-anak, saya ingin suatu saat ada kesempatan mengajari mereka keterampilan sederhana membuat kreasi dari barang bekas. Saya sadar tipikal orang pantai beda dengan orang gunung. Ini pengaruh alam, orang pantai tinggal ambil hasil laut, sementara orang gunung lebih sabar menjalani proses, mulai dari menyemai sampai panen. Walau anak pantai suka yang serba praktis, saya yakin ada beberapa yang suka dengan kerajinan tangan yang membutuhkan ketelatenan.


Oke, ini cerita hari inspirasi saya. Apa yang saya lakukan mungkin cuma seujung kuku pengaruhnya untuk kemajuan pendidikan anak-anak Indonesia. Tapi semoga dari hal yang kecil ini akan bisa menjadi inspirasi besar untuk anak-anak itu. Ayo, Anak-anak, bermimpilah setinggi langit. Biarkan Tuhan yang akan menggenggam mimpimu.


Minggu, 05 Oktober 2014

Tinggalkan Cara Lama, Berqurbanlah Dengan Smart

21.22 2 Comments
Beberapa tahun yang lalu umat muslim yang akan berqurban harus bersusah payah untuk bisa melaksanakan ibadah qurban. Bayangkan, mereka harus datang ke tempat penjualan ternak (sapi atau domba), memilih ternak yang sesuai syariat dan dana yang dimiliki, lalu membawanya pulang ke rumah atau ke masjid.  Sudah pasti mereka harus rela mencium bau tubuh dan kotoran ternak yang ‘semerbak’ itu. Dan sudah pasti juga banyak waktu yang tersita demi memilih binatang ternak yang sesuai.

Di jaman modern yang menuntut serba cepat dan praktis, tentu orang sudah enggan melakukan semua itu. Untunglah peluang ini dibaca oleh beberapa lembaga keislaman. Sekarang ini banyak lembaga yang menawarkan cara berqurban dengan cepat dan praktis. Kita tinggal transfer uang lalu konfirmasi. Maka beberapa hari kemudian, lembaga itu akan memberikan laporan pertanggungjawaban.

Bentuk laporan itu macam-macam, ada yang berupa pencantuman nama orang yang berqurban di media yang mereka kelola, ada juga yang berupa laporan tertulis ke masing-masing orang. Di laporan itu biasanya dilengkapi foto ternak yang dikalungi nama orang yang berqurban dan tanda tangan perwakilan penerima daging qurban. Bagi Anda yang akan melaksanakan qurban lewat lembaga, pastikan bahwa lembaga itu amanah dan terbukti keberadaannya.


Saat ini ada cara berqurban yang lebih smart yang ditawarkan lembaga non profit bernama Yatim Mandiri. Lembaga ini berkantor pusat di Surabaya dan sudah mempunya 40 kantor cabang di seluruh Indonesia. Program qurban itu mereka beri nama Super Gizi Qurban (SGQ). Kita tinggal transfer ke rekening Bank Mandiri nomor 1400003117703 dan konfirmasi ke pihak Yatim Mandiri.  Ada 2 pilihan harga yang ditawarkan, untuk seekor sapi Rp12.600.000, sementara 1/7 sapi harganya Rp1.800.000.



Mengapa sapi? Karena di program SGQ ini daging qurban yang diberikan pada yang berhak bukan dalam bentuk daging mentah. Melainkan daging sapi yang diolah menjadi sosis dan dikemas dalam kaleng. Ada beberapa kelebihan dari sosis sapi kemasan kaleng program SGQ, di antaranya:
1. Sesuai syariah, karena terbuat dari daging sapi pilihan sesuai ketentuan. Dan mengawetkan daging diperbolehkan, sebagaimana hadist Rasulullah SAW. Dari Aisyah RA, beliau berkata, “Dahulu kami biasa mengasinkan daging qurban sehingga kami bawa ke Madinah. Tiba-tiba beliau bersabda, “Janganlah kalian menghabiskan daging qurban hanya dalam waktu 3 hari.” (HR Bukhori-Muslim).
2. Praktis dan higienis, karena dikemas dalam kaleng dan diproses sesuai standar pabrik.
3. Bisa didistribusikan hingga ke pelosok tanah air, tak hanya di sekitar lingkungan yang melakukan ibadah qurban.
4. Tahan lama karena sosis itu bisa tahan sampai 2 tahun, meski dibuat tanpa bahan pengawet.
5. Sarana peningkatan gizi anak yatim dan kaum dhuafa.
6. Sarana optimalisasi Corporate Social Responbility (CSR) bagi masyarakat di sekitarnya.

Nah, sekarang pilihan ada di tangan Anda. Masih mau pakai cara lama atau cara praktis yang smart. Mau menyembelih sendiri atau lewat lembaga. Yang pasti, meski hukumnya sunnah, bagi Anda yang mampu berqurbanlah sebagai wujud cinta pada Illahi. Bahkan ada sebuah hadist yang mengatakan, “Barang siapa mendapatkan kelapangan dalam rizki namun tidak mau berqurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat shalat kami.”


Sabtu, 04 Oktober 2014

Saatnya Survey...(dan Membuktikan)

23.31 0 Comments
Sesuai kesepakatan bersama, tanggal 20 September kami (anggota KI Semarang kelompok 3) akan survey ke SD Islam Taqwiyatul Wathon di Tambak Lorok, Tanjung Mas. Janji ngumpul jam 8, berubah jadi jam 10. Wah…padahal saya dah ngebis dan sampai Semarang jam 8 tepat. Gara-gara WA nggak aktif, nggak tau info kalo acara mundur. Yaudah mampir ke rumah kakak dulu.

Jam 10 barulah disamperin Mbak Prima di Ada Swalayan, Bulu. Lanjut ke SPBU Anjasmoro ketemu rombongan lainnya, trus cap cus. Kami langsung disambut Pak Sugiman, Kepala Sekolah, dan wakilnya. Setelah berbincang mengenai rencana acara tanggal 25 nanti, Pak Wakasek mengajak kami keliling lingkungan sekolah. Banyak hal yang kami tanyakan dan semua dijawab tuntas oleh mereka berdua.

Dari perbincangan itu beberapa info penting kami dapatkan, diantaranya:
- Murid di SD ini hampir 600 (tepatnya 596 siswa) dengan 17 rombongan belajar (rombel). Wow…banyak banget.
- Banyak orang tua di sekitar daerah itu yang memilih menyekolahkan anak mereka di SD itu dibanding SD Negeri karena selain dapat ilmu umum juga dapat ilmu agama Islam.
- Tipikal anak-anak di situ sama dengan anak pantai lainnya, suka damai. Eh, itu mah syair lagu yak? Anak pantai biasanya keras dan kasar. Wow…ini yang membuat saya merinding, bisa nggak ya ngadepin mereka.

Ini dia sebagian gambar yang bisa saya ambil saat survey:
dari lantai 2

sisi kanan sekolah


kantin sederhana di antara bannguna lama dan baru

kamar mandi siswa

kelas lama di belakang masjid

foto sama Pak Kepsek dan Wakepsek dulu


liat anak2 latihan upacara

Mampukah Aku Jadi Inspirator?

16.31 0 Comments
Dulu saat Pak Anies Baswedan meluncurkan program Indonesia Mengajar, saya terkagum-kagum. Wow…luar biasa banget ide beliau. Sayang, saya jelas-jelas nggak bisa ikut berpartisipasi. Lha wong SMA aja saya nggak lulus * hehehe...just kidding. Kini, beliau meluncurkan progam baru lagi yang namanya Kelas Inspirasi (KI). Program ini bisa diikuti para profesional yang sudah 2 tahun bekerja di bidangnya. Syaratnya cuma mau cuti sehari untuk mengajar para anak SD di daerah pinggiran tentang mimpi dan cita-cita.

Karena itu, pas ada yang posting di FB Komunitas IIDN Semarang tentang KI Semarang yang pertama, saya langsung tertarik. Hari Inspirasi dijadwalkan tanggal 25 September 2014, pendaftaran ditutup tanggal 25 Agustus 2014. Sampai beberapa hari menjelang penutupan pendaftaran, saya ragu-ragu. Bisa nggak sih saya ikutan KI? Apa saya pantas jadi inspirator? Trus, apa yang harus saya sampaikan pada anak-anak nanti? Ya, saya galau, Pemirsa.

Akhirnya setelah berpikir keras selama 3 hari 3 malam, saya isi form pendaftaran. Saya memantapkan diri ikut program luar bisanya Pak Anies Baswedan ini. Di situ saya tulis profesi saya adalah crafter alias pengrajin. Ya iya lah, masak penulis. Kan masih penulis abal-abal.  Bismillah, akhirnya form pendaftaran terkirim. Awal September, dapat balasan email: saya diterima jadi inspirator. Huray!

Tanggal 13 September, semua inspirator dikumpulkan di lantai 10 Gedung Indosat, Jalan Pandanaran, Semarang. Wow….aura positif terpancar dari semua orang di ruangan itu. Semua tampak happy dan bersemangat. Keraguan akan kemampuan saya menjadi inspirator mulai terkikis, tsah… Di sana, kami diberi sedikit pembekalan dan gambaran tentang KI di tempat lain. Ini kan KI Semarang yang pertama, jadi sebagian besar para inspirator belum tahu banyak tentang apa yang harus dihadapi dan dilakukan.

narsis bareng emak2 IIDN Semarang
Usai belajar tentang aneka game dan ice breaking saat menghadapi situasi yang tiba-tiba krik krik alias blank di kelas nanti, kami dikumpulkan per kelompok. Saya tergabung di Kelompok 3 dari 13 kelompok yang ada. Kami duduk melingkar dan dipertemukan dengan Kepala Sekolah SD Islam Taqwiyatul Wathon, tempat kami mengajar nanti. Oh ya, di kelompok kami sebenarnya ada 20 inspirator dan 7 dokumentator. Tapi sampai di hari briefing ini ada beberapa yang mengundurkan diri.
seriusnya..kelompok 3

Demi kelancaran acara, kami menunjuk Pak Wawan sebagai ketua, Bu Prima sebagai wakilnya, Mbak Sovi sekretaris, Mbak Aini bendahara, Mbak Erma (yang dah pernah ikut KI Jakarta) sie acara, Mas Wido sie perlengkapan, dan Pak Ahsan sie konsumsi. Begitu acara briefing di Gedung Indosat berakhir, acara dilanjut ke Tea House Tong Tji di @HOM Hotel yang jaraknya selemparan batu. Deket sih cuma jalan kaki tapi panasnya kota Semarang, nggak nahan boo.

foto per kelompok sebelum bubaran

Baru kenal beberapa jam, rasanya sudah kayak keluarga nih, beneran. Makan, bahas rencana hari inspirasi, foto bareng, plus guyon-guyon. Hmm…indah sekali rasanya hari ini. Apalagi makan siang kali ini dibayari Pak Ahsan, sang nahkoda dan pegawai Bea Cukai itu, hahaha…Nggak salah tadi yang ngangkat beliau jadi sie konsumsi.

habis makan2, pasti foto2


Oke, bubaran dulu deh kumpul-kumpul dan ceritanya, entar disambung lagi pas survey ke SD Islam Taqwiyatul Wathon di Tanjung Mas, ya, Temans. To be continued…

Oh ya....ini foto keseruan lain di hari briefing yang saya ambil dari FB Kelas Inspirasi Semarang:

tari sipong pong

nggak boleh malu dan jaim

pijit2an yuk...





Kamis, 28 Agustus 2014

Jer Basuki Mawa Beya

20.47 6 Comments
Bapak mertua saya dulu seorang Lurah (Kepala Desa). Beliau lama sekali menduduki jabatan itu. Mungkin sekitar 20 tahunan. Sebelumnya beliau berprofesi sebagai guru SD. Nah, selama menjabat Lurah dalam waktu yang panjang itu, Bapak dan Ibu mampu berinvestasi berupa tanah dan sawah.

Ketika satu persatu dari ke-6 anaknya memasuki bangku kuliah, Bapak dan Ibu mulai menjual satu per satu tabungannya itu. Apalagi ketika anak pertama sampai keempat waktu itu kuliah semua dan salah satunya di fakultas Kedokteran. Wah…terbayang kan berapa biayanya. Akhirnya, dengan berat hati Bapak dan Ibu menjual semua tanah dan sawah yang beliau miliki. Habis…bis…tak bersisa.

Yang ada tentu saja rumah besar yang menjadi tempat tinggal sampai sekarang. Ditambah tanah yang juga masih luas di samping rumah. Banyak orang yang mencibir apa yang dilakukan Bapak Ibu. Maklum, waktu itu di desa mereka masih jarang orang tua yang menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Paling mentoknya ya sampai SMA.

Yang paling berani menegur terang-terangan adalah kakak kandung Bapak sendiri. Begini katanya, ”Buat apa nyekolahin anak tinggi-tinggi. Tuh, lihat anaknya si A, kuliah bertahun-tahun nggak lulus-lulus. Pulang malah dapat istri dan sekarang kerjanya serabutan. Mending nanti tanah dan sawahmu itu kamu bagi ke anakmu satu-satu.”

Tapi Bapak dan Ibu menanggapinya dengan senyuman. Mereka tak memperdulikan pendapat orang lain, yang penting keenam anaknya harus kuliah setinggi-tingginya. Bahkan ketika si bungsu lulus SMA dan tak ada lagi yang bisa dijual, Bapak Ibu mengumpulkan kelima anak lainnya.
“Nak, berhubung Bapak sudah tidak menjadi Lurah dan pensiun dari guru tidak seberapa, tolong bantu biaya kuliah adik bungsumu ini.”

Alhamdulillah, kini perjuangan Bapak Ibu sudah menunjukkan hasil yang nyata. Keenam anaknya sudah lulus kuliah dan semuanya bekerja. Saat berkumpul bersama, Bapak sering memberi wejangan pada kami. Kadang wejangan itu diberikan dalam bahasa Jawa, sampai cucu-cucunya melongo. Maklum Bapak kan pernah kursus jadi Pranatacara alias pembawa acara di acara pernikahan. Jadi bahasanya kayak orang main wayang atau ketoprak gitu.
“Anak-anak, tahu nggak, Mbah Kakung bicara tentang apa?”
“Nggak tahuuu….”

Itulah kondisi anak-anak sekarang, jarang yang berbahasa Jawa (apalagi kromo inggil) pada orang yang lebih tua. Sehari-hari menggunakan bahasa Jawa kasar campur bahasa Indonesia. Ya, mereka tidak bisa disalahkan. Orang tuanya sendiri jarang mengajarkan (tunjuk hidung sendiri), trus di sekolah pelajaran Bahasa Jawa hanya diberikan selama 2 jam pelajaran. Ditambah lagi teman-teman mereka juga menggunakan bahasa Jawa yang kasar. Ya, sudah lah, klop semua…

Kembali ke soal wejangan Bapak. Beliau tak bosan-bosannya meminta kepada kami agar nanti menyekolahkan anak-anak kami setingi-tingginya.
“Dalam bahasa Jawa ada pepatah ‘Jer basuki mawa beya’, kalau ingin hidup enak/sukses harus mau berkorban/ berusaha (Beya itu arti sebenarnya biaya, tapi bisa diartikan pula sebagai usaha). Coba kalian bayangkan kalau Bapak Ibu dulu mendengarkan kata saudara-saudara Bapak. Mungkin kalian nggak ada yang jadi Dokter, PNS, atau Perwira TNI. Mungkin kalian saat ini seperti sepupu kalian yang jadi petani atau pegawai pabrik. Karena itu, nanti cucu-cucuku juga harus sekolah yang tinggi.”

Suami sering menggoda Ibunya, ”Bu, sebenarnya Ibu gela (kecewa) nggak sih udah jual semua perhiasan, tanah, dan sawah untuk biaya kuliah. Lihat tuh, sekarang Ibu nggak pakai gelang dan kalung lagi. Dan tanah sawah dulu itu kalau dijual sekarang laku ratusan juta lho.”
“Ya, sebenarnya gela sih, Le, hehehe…Tapi kalau Ibu melihat anak-anak sudah jadi orang, ya Ibu ikhlas dan bangga. Nggak apa-apa nggak pakai perhiasan, lha wong sudah tua kok. Menyekolahkan anak itu kan sudah kewajiban dan tanggung jawab Bapak Ibu.”
Oh, so sweet…* peluk Ibu mertua dan sungkem sama Bapak mertua.





Minggu, 10 Agustus 2014

#LetterstoAubrey from Budhe Cicik

22.27 3 Comments
Dear Ubii,
Wah, Ubii barusan ulang tahun yang ke-2 ya. Happy birthday, Ubii cantik. Budhe doakan semoga Ubii selalu sehat, tambah pinter, dan jadi kebanggaan Mami dan Papi. Oh, ya, kenalin, ini Budhe Cicik, temen Mami Grace di dunia maya. Meski belum pernah bertemu muka, tapi Budhe kok rasanya kenal dekat dengan Mami, juga Ubii ya. Itu karena Mami rajin posting tentang Ubii di blog. Mami Grace emang keren, jago banget nulisnya. Perasaan Budhe campur aduk kayak naik jet coster waktu baca postingan Mami.

Ubii cantik,
Ubii harus bangga punya orang tua seperti Mami Grace dan Papi Adit. Begitu banyak anak yang terlahir spesial kayak Ubii, tapi diperlakukan tidak wajar oleh orang tuanya sendiri. Seperti dibuang dan diterlantarkan. Lihat, bagaimana Mami dan Papi melimpahkan perhatian dan kasih sayang pada Ubii. Di saat ada orang tua lain yang menyembunyikan atau menutupi kekurangan anaknya, Mami malah bercerita banyak tentang Ubii. Menurut Budhe itu luar biasa. Budhe yang tadinya awam soal apa itu penyakit campak Jerman, apa pengaruhnya terhadap janin, bagaimana menangani anak yang terkena virus Rubella, sekarang jadi lebih tahu.

Ubii sayang,
Tuhan menciptakan manusia sungguh sangat istimewa. Masing-masing dilengkapi dengan kelebihan dan kekurangan. Seperti contohnya Kak Rafi, yang tuna rungu. Dia diberi talenta pinter bikin gambar desain baju. Trus ada lagi, Kak Dewa, yang juga pernah tampil di acara “Kick Andy” kayak Ubii. Dia mengalami kelumpuhan pada tangan dan kaki tapi jago nulis loh. Itu bukunya Kak Dewa, Budhe foto di sebelah buku “Letters to Aubrey”. Tulisan Mami dan Kak Dewa sama kerennya. Eh, Ubii juga keren loh, kecil-kecil piala dari lomba fotonya sudah banyak.


Ubii imut,
Budhe yakin, Ubii bakal jadi anak yang hebat, karena punya orang tua yang hebat pula. Kalo sudah gedhe Ubii pengin jadi apa? Budhe doakan deh, semoga semua keinginan dan cita-cita Ubii bisa terwujud. Budhe juga mendoakan Mami dan Papi diberi kesehatan, dimudahkan segala urusannya, dan diberi kesabaran dalam merawat Ubii. Budhe berharap suatu saat kita bisa bertemu secara langsung. Budhe pengin cubit pipi Ubii dan Mami. Habis, kalian berdua sama-sama nggemesin, sih. Sekian dulu ya, coretan dari Budhe. Ubii, Mami dan Papi harus tetap semangat  menjalani hari-hari yang akan datang. Hadapi apa pun yang akan terjadi nanti dengan senyuman. Banyak sekali yang mencintai, mendoakan, dan mensupport kalian.

                                                                                                Salam sayang dari Kendal


                                                                                                Budhe Cicik














Kamis, 07 Agustus 2014

Andai Umurku Sama Seperti Umur Rasulullah

15.51 1 Comments
Seorang kerabat yang berumur 65 tahun pernah berujar, “Alhamdulillah, dapat bonus umur 2 tahun.” Maksudnya umur 63 (seperti umur Nabi Muhammad) plus 2 tahun. Ternyata, banyak orang yang menganggap bahwa usia Rasulullah adalah patokan umur normal manusia saat ini. Bukan seperti umur Nabi Adam atau Nabi Nuh yang mencapai ratusan tahun.

Hmmm…ini hanya berandai-andai, ya. Tahun ini saya genap berumur 43 tahun. Andai saya diberi umur 63 tahun seperti Rasulullah, itu artinya sisa umur saya tinggal 20 tahun lagi. Waktu yang lama bagi orang yang hidup di penjara, namun singkat bagi mereka yang asyik dengan apa yang dijalaninya.

Apa pun pendapat orang tentang lama tidaknya sisa waktu itu, ijinkan saya menuliskan 7 keinginan yang ingin bisa terwujud sebelum ajal menjemput saya.
1. Saya ingin melaksanakan ibadah haji bersama suami. Saya ingin menyempurnakan semua rukun Islam, setelah empat lainnya insya Allah sudah saya laksanakan.
2. Saya ingin melihat ketiga anak saya mandiri. Dalam arti ketiganya lulus kuliah, punya penghasilan, dan berumah tangga.
3. Saya ingin meninggalkan rekam jejak hidup berupa buku. Entah itu buku berisi penggalan kisah hidup saya, buku keterampilan, atau buku yang bermanfaat lainnya.
4. Saya ingin punya usaha di rumah. Tak perlu perusahaan besar, yang penting membuat saya punya kesibukan, tetap bisa beribadah, dan tidak mengganggu urusan rumah tangga.
5. Saya ingin semua keluarga besar saya terbebas dari hutang. Sedih rasanya bila di antara kami ada yang masih punya hutang pada pihak lain. Saya selalu ingat kisah Rasulullah yang tidak mau menyolati orang yang banyak hutang.
6. Saya ingin mengabdi pada suami dan anak-anak. Jujur saya juga tidak nyaman menjalani LDR alias hubungan jarak jauh dengan suami. Saya ingin tinggal serumah dan mengurus mereka semampu saya.
7. Saya ingin hidup saya bermanfaat untuk orang banyak. Tak perlu muluk-muluk, yang sederhana saja. Misalnya membagikan ilmu keterampilan yang saya miliki pada anak-anak dan para ibu di sekitar saya.

Semua keinginan itu memang tidak mudah, tapi saya yakin semua bisa terwujud asal saya bersungguh-sunguh mengusahakannya. Dan tentunya bila Allah menghendakinya. Trus, apa saja yang sudah saya lakukan untuk bisa mencapai semua itu?
- Mengumpulkan rupiah demi rupiah semampu saya. Uang, yang kata sebagian orang bukan segala-galanya, tapi sangat penting keberadaannya. Mau pergi haji, bayar hutang, atau membantu orang lain, semua harus pakai uang. Berbagai usaha sudah saya lakukan mulai dari jualan kerajinan dari kain flanel, menyusun buku masakan, sampai jualan buku online.
- Menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Saya sudah memulai pola hidup sehat akhir-akhir ini dengan cara rutin berolah raga dan menjaga pola makan. Saya sadar, itu adalah modal utama agar bisa merawat suami dan anak-anak, bahkan kalau mau bisa melihat cucu-cucu saya kelak. Beruntung putri sulung saya sering mengingatkan, saat nafsu makan saya sedang meningkat. Atau saat saya sedang malas berolah raga.
- Terus menerus menambah ilmu dan wawasan. Banyak membaca, banyak mencari berita, dan mengikuti perkembangan agar tidak ketinggalan. Saya harus tahu banyak hal, seperti trend buku apa yang diminati pembaca, model asesoris apa yang disukai penggemar mode, atau cara memaksimalkan penghasilan lewat gadget.
- Mulai menulis cerita tentang masa kecil saya, saat masih bekerja kantoran, dan saat tinggal di Jakarta. Semuanya saya simpan di file komputer. Suatu saat semua itu harus jadi buku.
- Berdoa pada Yang Maha Kuasa, agar diberi kesehatan, umur panjang, dan hidup berkah. Sekeras apa pun usaha yang kita lakukan, tak akan berhasil tanpa campur tangan-Nya.

Itulah 7 keinginan terbesar saya seandainya diberi umur sama seperti Rasulullah. Berbagai usaha juga sudah saya lakukan demi mewujudkan mimpi-mimpi saya. Tugas saya sebagai manusia hanya berusaha. Soal hasil saya serahkan sepenuhnya pada Allah, Sang Maha Penentu. Semoga keinginan saya itu bisa terwujud sebelum malaikat maut benar-benar datang menjemput. Amin.

Artikel ini diikutsertakan pada Giveaway Seminggu : Road To 64