Selasa, 21 April 2015

Ibu Mertuaku, Sang Ekonom Handal

22.29 0 Comments
Perempuan yang melahirkan suami saya bernama Ratidjah. Perempuan desa yang hanya lulus Sekolah Dasar. Tapi jangan ditanya kehebatannya dalam menjalani peran sebagai istri dan ibu bagi keenam anaknya. Sejak muda sudah harus mendampingi suami yang menjabat sebagai Kepala Desa. Aktif di berbagai kegiatan ibu-ibu di tingkat desa, kecamatan, bahkan kabupaten.

Keenam anaknya diasuh sambil tetap aktif berorganisasi. Karena itu bila tidak ada kegiatan keluar rumah, waktu dicurahkan untuk keluarga. Membuat masakan ala kampung yang super lezat, sampai-sampai keenam anaknya selalu merindukan masakan dari tangan Ibunya hingga dewasa. Ketika Lebaran atau pertemuan keluarga, pokoknya masakan Ibulah yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya.


Saat baru melahirkan anak pertama dan menumpang di rumah mertua, saya sempat merasakan kecerewetan beliau. Tidak boleh makan ini itu, tidak boleh melakukan ini itu, karena baru melahirkan. Sebagai ibu baru, saya sempat berpikir, “ Ih, cerewet banget sih, emang Ibu itu dokter. Tahu mana yang boleh dan tidak boleh untuk perempuan yang baru melahirkan.”

Tapi seiring berjalannya waktu, saya semakin menyadari bahwa itu adalah tanda kasih sayang dan perhatian beliau pada kami. Semakin lama saya semakin mengenal dan bisa memahami karakter Ibu. Beliau berbicara dengan suara keras, tapi hatinya lembut. Beliau juga sangat keras dalam mendidik anak, hingga keenam anaknya berhasil dalam pendidikan dan karier.


Satu hal yang saya perhatikan dari Ibu adalah kelebihan beliau dalam hal pembukuan dan hitung menghitung. Beliau punya buku batik kecil memanjang yang berisi catatan keuangan. Semua hal yang berhubungan dengan keuangan komplit tercatat di sana. Mulai dari pemasukan dan pengeluaran harian, biaya pengolahan sawah dan hasil panen, sampai hutang piutang dengan orang lain. Termasuk hutang saya kepada beliau, hahaha…

Dalam satu buku berisi catatan keuangan selama satu tahun. Dan buku-buku yang sudah terisi penuh beliau simpan dengan rapi. Jadi kalau ingin tahu tentang keuangan di tahun sekian, tinggal dibuka saja. Wow…saya terkagum-kagum dengan kelebihan beliau yang satu itu. Bahkan suami dan kakaknya sering bercanda, “ Ibu itu kalau dapat gelar sarjana pasti gelarnya Sarjana Ekonomi.” Hahaha…benar juga.

Ibu sering mengingatkan pada anak perempuan dan menantu perempuannya untuk selalu rajin mencatat pemasukan dan pengeluaran keluarga. Menurut beliau itu penting, karena manusia tempatnya salah dan lupa. Kadang ditegur suami, kok uang yang diberikan cepat habis. Nah, tinggal tunjukkan catatannya saja. Hmmm...pemikiran luar biasa dari perempuan yang tidak pernah merasakan bangku sekolah SMP.

Soal hitung menghitung, beliau juga canggih. Tanpa menggunakan kalkulator beliau bisa menghitung prosentase bunga bank dan harga-harga barang. Saat ngobrol dengan saya beliau sering bercerita sambil menantang kemampuan saya dalam berhitung. Misalnya, "Sawah yang di sana itu harganya sekian juta per rhu (itu satuan apa ya?), berarti semeternya berapa?" Tik...tok...tik...tok...*sunyi senyap. Itulah kerennya Ibu mertua saya.


Tulisan sederhana ini saya tulis khusus untuk orang yang sudah melahirkan, mendidik, dan membesarkan lelaki yang saya cintai. Saya sudah menganggap beliau seperti ibu kandung saya sendiri. Saya tidak pernah sungkan bercerita apa saja dengan beliau. Kepada suami, saya juga sering mengingatkan, bahwa seorang ibu adalah tanggung jawab anak lelakinya. Karena itu saya sering meminta suami untuk membantu di saat Ibu membutuhkan sesuatu. Semoga Ibu selalu sehat dan bisa terus beraktifitas mengurus kebun dan ternak-ternaknya.


Rabu, 15 April 2015

Nengok Ibu Kota

09.55 0 Comments
Setelah beberapa kali batal, akhirnya saya dan anak-anak jadi juga ke Jakarta. Lala…yey yey yey * kibas-kibas pom pom. Kalo Natal 2013 kami meninggalkan Jakarta pulkam ke Kendal, Natal 2014 kami dari Kendal nengok Jakarta. Tapi eits…pak sopir ganteng kok mengarahkan mobilnya ke arah selatan ya. Apa mau ikut-ikutan mencari kitab suci kayak Kera Sakti? Hmmm…ternyata beliau mau mampir dulu ke rumah adiknya di Yogya. Setelah menginap semalam barulah lanjut ke Jakarta lewat jalur selatan.

Wew…ternyata jalur selatan tuh sempit jalannya, nggak kayak pantura. Jadilah perjalanan Yogya-Jakarta memakan waktu lumayan lama. Ditambah hujan deras yang turun sepanjang perjalanan, membuat semua kendaraan nggak bisa ngebut alias padat merayap. Kami sih santai-santai aja sambil menikmati pemandangan kiri kanan. Yang stress tentu pak sopir ganteng di sebelah saya. Akhirnya beliau minta istirahat di Saung Desa, Jalan Raya Bandung-Tasik km 51, Garut. Hore…makan-makan! Apalagi buat saya yang asli Jawa tapi penggemar masakan Sunda, ini passsss banget.

menunya bikin ngiler
Sekitar 2-3 jam kami istirahat di sana, trus lanjut lagi. Akhirnya sampai juga di Halim, alhamdulillah. Yang jadi masalah sekarang, mess tempat tinggal suami cuma berukuran 3x3 m. Lha kalo buat beraktivitas berlima, apa nyaman? Kebayang kan, kami rebutan oksigen saat tidur atau berdesakan saat makan atau nonton TV. Untung si tengah mau disuruh nginep di rumah soulmatenya waktu SMP dulu, Gilang. Dan dua hari berikutnya si kecil diangkut Pakdhenya ke Bekasi. Yeay…lumayan lega kamar kalo ditempati bertiga.

Tapi rencana yang saya susun hancur berantakan berkeping-keping jadinya. Padahal dari Kendal sudah membayangkan jalan-jalan ke Blok M cari buku-buku bagus yang murah. Atau ke Asemka beli bahan-bahan craft. Ternyata oh ternyata…biaya hidup seminggu di Jakarta membengkak luar biasa. Salah satu contohnya, beli tiga porsi nasi goreng di pasar mini Angkasa, depan mess Manuhua aja 82.000. What? Saya dan Nabila sampe hampir pingsan liat angka di kuitansi si Mbak. Wew…ternyata porsinya jumbo dan rasanya biasa aja. Alhasil, malam itu usai makan kami berdua menggerutu sepanjang malam.

Yang senang tentu ketiga bocah itu. Memang sesuai rencana, mereka ke Jakarta karena kangen dengan teman-temannya. Jadilah liburan semesteran kali ini ajang reuni mereka. Si emak yang imut dan baik hati ini akhirnya rela ngendon di kamar mess sendirian. Oh, nasib…nasib…Ya, paling pol diajak suami ke Tamini Square cuci mata sambil bikin kacamata Nabila. Atau jalan sama Nabil ke Pondok Gede Mall beli ATK ke Gramedia dan Gunung Agung.

Eh, tapi saya juga sempat reuni dengan teman-teman SMA ding. Critanya, Upik, temen sebangku waktu kelas 1 SMA, tiba-tiba ngajak ketemuan. Karena malam tahun baru itu saya lagi di rumah Kakak di Bekasi, saya suruh dia main ke rumah Kakak. Nggak nyangka, dia main sambil bawa kerjaannya, yaitu wire brooch. Asyik…saya dan Kakak dapet kursus gratisan nih.

belajar bikin wire brooch
Dan sebelum balik ke Kendal, saya dan suami ngumpul di di rumah makan Kajojo, Delta Mas, Bekasi, untuk membahas reuni perak SMAN 1 Kendal yang rencananya tanggal 17 Juli 2015. Sip deh…anak-anak reunian sama teman-teman sekolahnya. Emak Bapaknya juga reunian dengan temen SMA-nya. Setelah seminggu di ibukota plus menguras seluruh isi tabungan, akhirnya kami balik ke home sweet home, Kendal tercintah. Tahun depan liburan ke mana lagi ya, Beb? * kabur ah, sebelum ditimpuk kartu ATM sama si Bebeb.

me, hubby,dan teman SMA
Nabila dan geng SMP-nya

Brian and the gank

Nabil dan sahabat TK-nya

Senin, 22 Desember 2014

Sosok Pengganti Ibuku

21.49 1 Comments
Alhamdulillah, saya terlahir sebagai anak bungsu dari 6 bersaudara. Itu membuat saya bisa belajar banyak dari kelimanya ketika memutuskan untuk menikah. Ya, jujur saya sering meniru gaya mereka dalam menjalani rumah tangga. Mulai dari cara berkomunikasi dalam keluarga, maupun cara membimbing anaknya hingga ada yang pinter ngaji, jago main musik, jago nyanyi, dan lulus sarjana.

Dari kelima kakak, saya merasa paling “dekat” dengan kakak kelima. Umur kami selisih 2 tahun. Mungkin karena sama-sama perempuan, jadi saya bisa leluasa curhat padanya. Sejak menikah, secara fisik jarak kami semakin jauh. Tapi komunikasi tetap lancar dan kami saling mengunjungi bila ada kesempatan.

Kadang saya kesal, kenapa sih bakat memasak almarhumah Ibu tidak menurun ke saya. Kedua kakak perempuan saya jago masak. Sementara saya hanya pinter menjahit pake tangan. Almarhumah Ibu itu multi talent, masak oke, menjahit pinter, bikin kreasi untuk seserahan jago. Makanya, kalo pas saya berkunjung ke rumah kakak, saya minta dimasakin ini itu. Nginep di Bekasi seminggu bisa naik berat badan saya.

Berhubung kakak kuliahnya di ilmu kependidikan, saya sering menirunya dalam mendidik ketiga anak saya. Misalnya tidak mengharuskan mereka jadi rangking 1 di kelasnya karena tiap anak punya kecerdasan masing-masing. Memberi reward sesuatu yang sederhana dan bermanfaat. Misalnya kalo dapat nilai 10 waktu ulangan di sekolah, dapat es krim. Sampai-sampai si sulung pernah berkomentar, “ Ih, Ummi kok niru-niru Budhe sih?”

Iya, saya memang sering meniru dia. Menurut Pak Jamil Azzaini dalam bukunya, “Tuhan, Inilah Proposal Hidupku”, harus ada mentor dalam hidup kita. Yaitu orang yang punya kelebihan 4 ta ( harta, tahta,kata, dan cinta) dibanding kita. Dan saya sudah mantap menjadikan kakak saya itu sebagai mentor hidup saya.

Di mata saya, kakak adalah sosok perempuan yang cantik, cerdas, lembut, penuh kasih sayang, dan selalu positif thinking. Persis seperti sosok Ibu kami. Sejak SD sampai kuliah selalu rangking 1. Dia multi talent, main gitar bisa, olah raga oke, masak juga jago. Selalu jadi kesayangan murid-murid di tempatnya mengajar karena sangat telaten. Di rumah, apalagi, selalu jadi primadona keluarga. Ketiga anaknya sering bilang, pengin home schooling sama Mamanya aja. 

Si bungsu saya ketika mau diajak pindah ke Jawa pernah berujar, "Aku nggak mau pindah, aku mau ikut Budhe aja di Bekasi." Pernah juga, si bungsu liburan di Bekasi, nggak mau diajak pulang ke Jakarta. Itu karena Budhenya sangat sabar mengurusnya. Di Hari Ibu tahun ini, saya ingin menuliskan sosoknya di blog saya. Saya ingin dia dan semua orang tahu, bahwa saya menyayangi dan menghormatinya.


Ditulis dengan penuh cinta dan kerinduan. I miss you, Mbak. Tunggu kami di Bekasi ya…

kenangan jalan-jalan di Kota Tua

Rabu, 17 Desember 2014

Blogging with Heart, Dear...

23.18 0 Comments
Alhamdulillah, akhirnya bisa ketemu dengan Mak Indah Julianti Sibarani. Siapa gerangan beliau? Kalau di IG ada selebgram, nha…di dunia perblogingan ada seleblog. Mak Injul ini termasuk seleblog dunia blog perempuan Indonesia. Beliau co-founder Komunitas Emak Blogger (KEB). Tahun ini beliau boyongan dari Bekasi ke Yogya, males dibully, katanya, hahaha…

Hari Minggu, 23 November 2014 lalu, lalu Mak Injul diundang khusus oleh Komunitas IIDN Semarang untuk berbagi tentang dunia perblogingan. Bertempat di Rumah Albi, lantai 2 Alfamart Telogorejo, Semarang, acara  baru dimulai jam 10 lebih (padahal undangan jam 9). Yang jadi MC Mak Hartari, teman ngobrol nunggu pembicara datang. Ya ampun, Mak, ternyata di balik wajah kalemmu tersimpan kekonyolan luar biasa. Besok daftar Stand Up Comedy, ya…

si MC kocak, Mak Hartari

Pagi itu Mak Injul cerita perjalanannnya di dunia blog. Ternyata beliau sudah ngeblog sejak tahun 2003, (wew…saya belum kenal internet jaman itu). Saat bekerja di Indosiar, ada kesempatan ngisi web berita Indosiar. Suatu saat beliau ada kesempatan membuat buku dan akhirnya buku itu terbit juga. Gilanya, ketika ada kesempatan membuat buku yang kedua, beliau memutuskan resign dari Indosiar.
Mak Injul in action
Waktu itu Mak Injul berpikir, mau di rumah nulis-nulis aja. Ternyata, tulisan nggak kelar-kelar, uang pribadi juga menipis. Alhamdulillah, pertolongan Allah datang. Seorang sahabat memperkenalkan beliau dengan seseorang yang sedang mencari penulis review produk Walls (ngiler denger kata Walls). Tawaran diterima. Mau tahu nilai kontraknya? 6 jeti untuk 2 bulan, setiap minggu kirim review tulisan cuma beberapa ratus kata. Wow…jungkir balik dulu ah.

Berita dukanya, ketiga putrinya mblenger tiap hari harus makan es krim yang dikirim gratis ke rumah oleh pihak Walls (hei…sini-sini, Nak, Tante bantu ngehabisin). Tapi si Emak langsung teriak, “Ayo, Nak, makan es krimya, demi 6 jeti.” Hahaha…ngakak sambil bayangin wajah tiga gadis kecil itu. Kontrak pertama kelar, dilanjut kontrak berikutnya. Kalo yang pertama sebangsa Magnum, yang kedua serial Padle Pop. “Jadi kita harus makan es krim lagi tiap hari? “ Hahaha…mules bayanginnya.

Pengin dapet uang dari ngeblog kayak Mak Injul? Hello…Beliau ngeblog dari tahun 2003 loh. Dari blog gratisan sampai yang sekarang www.indahjuli.com. Dan semua perlu perjuangan yang menguras tenaga dan air mata * haiyah. Ini tips sukses ngeblog ala Mak Injul:
1. Posting. Rajin-rajinlah posting di blog kalau bisa sih setiap hari. Ya, minim seminggu sekali. Ide kan ada di mana-mana, tinggal mungutin aja * sampah kali. Siapa yang postingnya sebulan sekali. Saya mengangkat tangan dengan ragu *ih, Mak, jadi pengin malu deh…
2. Blogwalking. Seringlah berkunjung ke blog teman dan tinggalkan jejak di sana. Kita bisa dapat tambahan ilmu, teman, dan kunjungan balik dari pemilik blog. Sudah jadi rahasia umum, kita harus kunjungi blog orang yang komen di blog kita.
3. Networking. Banyak sekali komunitas (penulis) yang bisa kita ikuti. Setelah posting, jangan dianggurin aja. Bagi link ke berbagai komunitas yang kita ikuti. Dari situ akan semakin banyak orang yang mengenal kita dan tentu semakin banyak tawaran kerjasama yang datang.

Jadi intinya, meski di blog pribadi itu kita boleh nulis apa saja sesuka hati, tetep ada yang harus diperhatikan. Kalau kata Mak Injul, menulislah dengan hati, sesuai banget dengan temanya Blogging with Heart. Bener, Mak, tulisan yang dibuat dengan hati akan sampai ke hati. Tambahan lagi, ini quotes dari Mak Injul, “Blogging with Heart, Money will Follow.” Lha trus kapan money will follow me? Hahaha...ngisi blog dulu sana! Acara ditutup dengan pantun sang MC " Kalo ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi. Kalo ada umur panjang, yuk kita ngintip orang mandi." Sampai ketemu bulan Desember ya, Mak dan Mbak semua. Mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi.

Mak Dian Nafi mewakili Mak Dedew, memberi buku dan plakat

serius denger cerita Mak Injul

kids corner, nyari ilmu sambil momong


wew...serunya! padahal beberapa batal datang

temen segeng KI Semarang


Senin, 27 Oktober 2014

Bukan Blogger Beneran alias Abal-abal

23.43 2 Comments
Hei, 27 Oktober itu ternyata Hari Blogger Nasional, ya? Baru tahu saya, hehehe…maklum blogger pemula. Pantesan sepanjang hari ini temen-temen blogger pada posting di FB link blog mereka yang kalimat penutupnya: Selamat Hari Blogger Nasional atau Happy National Blogger Day. Wah, saya juga mau nulis tentang blog saya ah. Kalau Pakdhe Cholik alias Guslix Galaxy judulnya: “Saya Blogger Beneran”, saya sebaliknya *biar dibilang anti mainstream, hihihi…

Saya mulai kenal dan akhirnya bikin blog di akhir tahun tahun 2012 *unyu kan? Ceritanya waktu ikut acara Nova Ladies Fair, saya ketemu dengan teman-teman dari komunitas KEB alias Kumpulan Emak Blogger. Di mata saya mereka itu semua cantik dan smart. Seusai acara, saya meluapkan rasa penasaran dengan membuka FB dan blog mereka. Wuih…ternyata kerena abis! Orangnya cantik-cantik, tulisannya enak dibaca, lagi.

Saya pun merengek-rengek pada anak saya untuk membuatkan blog * nasibmu, Nak, punya emak gaptek. Setelah merayu-rayu plus nyogok pake sebatang coklat, jadilah blog impian saya: catatanjengsri.blogspot.com. Huray! Berhubung gaptek parah (ditambah faktor U), hampir tiap hari saya dan putri saya adu mulut persis preman rebutan lahan parkir. Contohnya begini:
Saya     : cara naruh link itu gimana sih? Trus cara masang logo di side bar itu gimana?
Anak    : gini, blablabla bliblibli blublublu… (pokoknya merepet kayak petasan)
Saya     : aduk, Nduk, jangan cepet-cepet gitu, lah. Emakmu ini kan Pentium 1 yang jalannya kayak siput hamil lagi kelaparan (perumpamaan ngarang sendiri)
Anak    : ih, kemarin kan sudah diajari, masak lupa caranya?
Saya     : oh,ya? (garuk-garuk meja)

Perlahan namun juga tak pasti, saya mulai mengisi blog saya. Isinya curhatan cerita sehari-hari, laporan pandangan mata saat saya mengikuti berbagai acara, dan tulisan yang diikutkan GA alias giveaway. Oh, ya, saya beberapa kali mencoba mengikuti GA yang diadakan teman-teman blogger. Alhamdulillah, tak ada satu pun yang menang * nunduk menatap jempol kaki. Tapi jangan panggil saya jeng sri imut-imut kayak marmut kalo gampang menyerah.

flash disc hasil nulis di blog. itu pun gara2 jumlah hadiah lebih banyak daripada pesertanya

Sampai detik ini saya masih ngisi blog saya (meski nggak bisa rutin tiap hari). Kenapa?
1. karena ngeblog itu kayak ngisi diary jaman SMP/SMA dulu. Kita bebas ngomongin apa saja semau kita. Bedanya diary kita ini bisa dibaca banyak orang, jadi mikir kalo mau ngomong jorok * eh
2. menulis itu butuh skill bukan bakat, semakin sering nulis maka akan semakin terampil. Saya suka ngikik sendiri kalo baca tulisan di awal-awal ngeblog dulu * garing boo
3. kata teman saya, ngeblog itu bisa jadi sumber duit * hah…duit, mata langsung ijo. Beberapa orang teman blogger saya sudah sering nerima kerjaan dari blog. Biasanya diminta mereview suatu produk, setelah menulis testimony di blog, jadi duit deh tulisannya. Meski belum sampai ke level itu, boleh dong saya bermimpi dapat uang dari blog *lanjutin tidur
4. sarana berbagi ilmu dan pengalaman. Mungkin banyak orang yang nggak pernah mengalami sesuatu seperti yang saya alami. Nah, dengan membaca blog saya, orang jadi tahu. Atau mungkin pernah mengalami sesuatu yang sama dengan saya. Tapi saya yakin kalo ditulis pasti hasilnya berbeda
5. dengan ngeblog kita jadi semakin banyak teman. Saya sering terkaget-kaget saat baca email, inbox, atau sms dari seseorang yang belum saya kenal. Katanya sih mereka tahu saya karena membaca blog saya. What? *nyari posisi yang enak dulu buat pingsan.

Nah, akhir kata seperti teman-teman blogger lainnya: Selamat Hari Blogger Nasional. Yuk tetap ngeblog, kalo bisa setiap hari. Seperti kata Pakdhe Cholik, blog yang 6 bulan nggak pernah diisi bakalan didatangi PH buat syuting acara Dunia Lain. Jiakakaka…sindiranmu mak jleb banget, Pakdhe. Oh ya, di maya saya Pakdhe Cholik itu memang inspiratif banget loh. Pensiunan jendral bintang satu TNI AD, usia 64 tahun, ngeblog tiap hari, dan sudah nerbitin 11 buku. Trus, saya kapan seproduktif beliau *blogger abal-abal mau ngumpet dulu ah…




Sabtu, 25 Oktober 2014

Ih...Kecil-kecil Kok Kayak Preman

16.29 2 Comments
Beberapa waktu lalu di sosmed ramai berseliweran video bullying seorang anak SD oleh teman sekelasnya. Dalam video berdurasi 1 menit 52 detik itu, tampak seorang anak perempuan berjilbab berada di sudut ruangan dipukul dan ditendang oleh beberapa temannya. Hampir semua yang membully laki-laki, hanya tampak seorang teman perempuan yang ikut menendang.

Miris melihatnya. Beberapa teman blogger perempuan malah menangis melihat video itu. Membayangkan, seandainya anak mereka yang menjadi korban bullying temannya. Saat berdiskusi dengan teman sesama pengajar KI tentang bullying pada anak-anak, curhatan seorang teman cukup membuat saya terkejut.

Ternyata, putri teman saya ada yang pernah dibully teman-temannya. Sebut saja namanya Sasa, kelas 4 SD di sebuah SD swasta terkenal di Semarang. Suatu hari, seorang temannya mengajak ke kamar mandi. Sementara itu di dalam kelas teman lainnya memasukkan air cabe dan garam ke dalam botol minum Sasa. Sang Ibu yang seorang psikolog tentu tidak terima saat putrinya mengadu tentang bullying itu. Beliau menemui pihak sekolah dan meminta kasus ini diusut.

Yang membuat saya mengelus dada, tersangkanya ada 6 orang, semuanya perempuan. Mereka tidak suka dengan Sasa yang terlalu patuh dan taat peraturan. Dan ide memasukkan air cabe dan garam ke tempat minum itu mereka tiru dari sinetron. Yang membuat teman saya ingin menangis lagi, mereka ternyata juga menyiapkan tali. Untuk apa coba? Astaghfirullah hal adziim…

Melihat fenomena semakin maraknya anak SD yang suka melakukan kekerasan terhadap temannya, tentu membuat kita semua prihatin. Lalu salah siapa semua itu? Banyak orang yang menyalahkan gurunya. Sedang apa dan di mana sang guru saat bullying itu terjadi. Karena menurut beberapa sumber, kejadian itu berlangsung di mushola. Bapak Guru Agamanya ada, murid-murid lain juga tampak sedang mengerjakan tugas di lantai.

Ada lagi yang menyalahkan orang tuanya. Gimana sih cara mereka mendidik anak, kok jadi kayak preman gitu. Sebagian lainnya menyalahkan tayangan sinetron remaja yang isinya tidak mendidik sama sekali. Juga adanya game online yang sarat dengan unsur kekerasan. Oke, itu hasil pengamatan saya lewat komentar-komentar di bawah tayangan video itu.

Sementara di video lain yang judulnya Children See Children Do (https://www.youtube.com/watch?v=8AcWo3gbtBk), saya jadi mengangguk-anggukan kepala sendiri * seperti burung pelatuk. Ya, anak itu memang peniru ulung. Dia suka meniru apa saja yang dilihatnya. Di video itu tampak seorang anak kecil yang berjalan persisi di belakang orang tuanya. Saat si Bapak membuang sampah sembarangan, si Anak mengikuti. Saat si Ibu merokok, si Anak juga mengikuti. Ketika orang tuanya bertengkar sambil mengeluarkan kata-kata kasar, si Anak pun meniru. Ckckc...

Sudahlah, tidak usah saling tunjuk hidung mencari siapa yang salah. Jangan-jangan anak kita seperti preman karena kelakuan kita juga. Kita asyik nonton sinetron dan anak mengikutinya. Kita membiarkan anak mengakses game online yang isinya orang berkelahi hingga darah berceceran di mana-mana. Atau kita terlalu asyik dengan pekerjaan kita hingga tak peduli saat anak butuh perhatian dan bingung mencari solusi atas masalah yang dihadapinya.

Yuk, terus belajar agar jadi orang tua yang smart, panutan yang baik bagi anak-anak di rumah. Belajar dari pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain yang sukses mendidik anaknya. Tak ada sekolah formal untuk menjadi orang tua. Saat kita punya anak, saat itulah kita menjadi orang tua. Kalau ingin punya anak yang baik ya harus memulai dari diri sendiri menjadi orang baik. Jadi, yuk kita mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang paling kecil, dan mulai dari sekarang.


Selasa, 21 Oktober 2014

Surga Kecil di Kota Sebelah

09.49 0 Comments
Dulu saya sering banget membayangkan bisa jalan-jalan di perkebunan teh di kawasan Puncak atau di Bandung. Kayaknya kok dingiiin banget, trus pemandangannya juga bagus. Hamparan pohon teh terbentang luas di setiap penjuru. Pokoknya kayak yang di sinetron gitu lah.

yg ada dlm bayangan saya

Eh, ternyata nggak jauh dari kota Kendal tercinta, ada juga perkebunan teh. Tepatnya di Desa Keteleng, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang. Namanya perkebunan teh Pagilaran. Dari alun-alun kota Batang lurus ke arah selatan sepanjang 28 km. Jalannya cukup berliku tapi nggak seterjal jalan ke kawasan wisata Dieng.

pagilaran siang itu

Dari tempat parkir, jalan turun sedikit, tampak arena flying fox dan jembatan gantung yang di bawahnya ada sungai yang cukup curam. Sayang, karena lagi puncaknya musim kemarau, air sungainya mengering. Hanya ada aliran kecil yang sangat jernih airnya. Oh, ya, tarif naik flying fox 15.000, sedang jembatan gantung 2.500 rupiah saja.

jembatan gantung

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, saya dan rombongan segera gelar tikar di bawah pohon melinjo. Hahaha…makan-makan dulu. Makan pagi atau siang ini? Apalah…pokoknya makan bareng-bareng di tempat yang sejuk, titik. Tuh liat, ada yang bawa nasi dan lauk pauk, plonco, rujakan, dan krupuk usek (hihihi…khas Kendal banget). Yuk ah…makan dulu.

makan2 dulu

Setelah kenyang, baru deh jalan-jalan di kebun teh alias tea walk. Pemandangan memang bagus, sayang udaranya nggak sedingin yang dibilang teman-teman sebelumnya. Lagi-lagi, ini pasti karena lagi puncaknya musim kemarau. Jakarta dan Bekasi aja mencapai 40 derajat C. Kendal juga akhir-akhir ini bikin warganya kegerahan, saking panasnya. Jadi, di Pagilaran yang biasanya 21-25 derajat C, mungkin ini ya 27 derajat * sotoy.

kebayang kan panasnya?
saatnya tea walk

Usai ngos-ngosan naik turun bukit, kami balik ke tempat parkir. Di dekat tempat parkir ada bangunan yang dibuat seperti teko. Kata teman saya namanya tugu poci. Nah, di belakangnya ada tempat penjualan oleh-oleh khas Pagilaran dan Batang. Trus, pabrik, kantor, dan rumah karyawan juga ada di sekitar situ. Sayang, karena hari Minggu, maka pabrik tutup. Akses untuk ngintip pabrik pun nggak ada, pintu portal dijaga Pak Satpam.

tugu poci

Mungkin (mimpi boleh kan?), lain kali saya akan mengajak keluarga nginep di vila yang banyak tersebar di sekitar kebun teh. Jalan-jalan pagi, melihat petani memetik teh, lalu melihat proses produksi teh di dalam pabrik. Juga melihat matahari terbit dan tenggelam di bukit Sekupel dan gunung Kemulan/Kamulyan, atau menikmati dinginnya air terjun yang belum sempat saya lihat. Wow…ternyata ada surga kecil tak jauh dari kota saya.

view pagilaran