Selasa, 20 Agustus 2013

Cerita Mudik (Terakhir) Kami...bagian 2

14.03 0 Comments
Rabu, 7 Agustus 2013

Sesuai kesepakatan bersama, sore sehabis sholat Ashar, saya dan kedua kakak saya yang tinggal di Semarang ketemuan di bawah pohon kamboja. Ya, kami mengunjungi makam kedua orang tua kami. Ketika rombongan keluarga kami datang, Mas Win, kakak pertama saya sudah berada di makam dengan istri dan ketiga anaknya. Tampak pula Bulik Mamik, adik Bapak satu-satunya yang masih ada, berada di makam suaminya. Kami berdoa bersama dipimpin Mas Win. Tak lama kemudian rombongan keluarga kakak kedua datang.

Saat melihat pusara Bapak dan (terutama) Ibu, air mata rasanya sulit dibendung. Kangen dan sedih jadi satu. Apalagi saat ramadhan kemarin, saya pernah mimpi bertemu dengan mereka berdua. Rasanya seperti nyata, kami sekeluarga berbincang hangat, entah apa yang sedang kami bincangkan. Bapak, Ibu, maafkan kesalahan anakmu, maafkan kalau anakmu tak sempat membuatmu bahagia. Semoga kalian berdua tenang di sisi-Nya, mudah-mudahan kita nanti dipertemukan di surga-Nya. Amin.

makam Bapak

makam Ibu


Pulang dari makam, kami langsung menuju rumah Bulik Mamik untuk sungkeman. Suasana haru menyeruak saat kami (kakak pertama, kakak kedua, dan saya) bersimpuh di kaki Bulik kami satu-satunya itu. Sebelum pulang kami berfoto bersama di depan rumah. Oh, ya, Bulik tampak senang saat suami mengatakan kalau kami akan balik lagi tinggal di Kendal.

tiga saudara


Kami tiba lagi di rumah mertua pas adzan Maghrib. Alhamdulillah, menu buka puasa terakhir ini sangat....istimewa * Cherrybell mode on. Mbak Tri dan Mas Bayu membuatkan lontong tahu campur pesanan suami. Beberapa hari ini suami memang pengin banget makan tahu campur buatan Pak Amin, favoritnya. Tapi kami nggak tau lagi keberadaan Pak Amin, warungnya sudah tutup. Rasa sambal kacang buatan Mbah Kakung nggak kalah lezatnya dengan buatan Pak Amin kan, Beib...

Mbak Tri dan Mas Bayu juga bikin rica-rica menthok pesenan Dik Bambang, adik iparnya. Hihihi...dasar adik-adik tak tau diri, sukanya ngerjain kakaknya. Salah sendiri sang kakak pinter masak, baik hati, dan penurut. Maaf ya, Mbak, Mas *sungkem.

Tiba-tiba Mas Budi, kakak kedua suami mengabarkan kalo mau sungkeman malam ini. Tumben...biasanya, dia kan ke rumah keluarga istrinya dulu, baru pagi hari setelah sholat Ied sungkeman sama Bapak Ibu. Ya, sudah, kami nurut saja. Mas Budi kan yang paling sibuk, pasiennya mengalir nggak pernah berhenti.

Jam 8 lebih, barulah pasukan dalam formasi lengkap. Acara sungkeman pun dimulai. Satu per satu dari anak pertama sampai ke-5 (yang ke-6 nggak mudik), sungkem pada Bapak Ibu. Acara berikutnya, yang paling ditunggu anak-anak: bagi-bagi angpao. Hore...! Untuk mendapatkan angpao dari Mbak Tri dan Dik Tutik ternyata nggak mudah, perlu perjuangan. Bayangkan, anak-anak ditanya: siapa nama asli Mbah Kakung, Mbah Putri, bapaknya Mbah Kakung, bapaknya Mbah Putri, sampai siapa pacar Kak Shelvi. Hahaha...ada-ada saja.

sungkeman

lima saudara



Kamis, 8 Agustus 2013

Masjid di samping rumah, kalau sholat Ied, jamaahnya hanya untuk laki-laki. Yasudah...lagipula saya dan Nabila sedang berhalangan. Jadi acaranya hari ini hanya makan, tidur, dan menemui tamu yang masih kerabat dan saudara. Bapak kan dulu mantan Kepala Desa yang lama berkuasa. Saudara dari Bapak dan Ibu juga banyak, jadi tamu yang datang juga banyak.

Malam hari, suami mengajak saya mengunjungi teman seperjuangannya saat datang ke rimba Jakarta dulu, Mas Dayat. Kebetulan adik Mas Dayat, Imron, adalah teman SMA kami. Jadi kami berbincang hangat bersama malam itu. Tiba-tiba, suami ngajak pulang karena ada sms dari rumah, kalau Ibu ngajak silaturrahim ke rumah saudara-saudaranya.

Sempat bete karena harus menunggu Ibu yang masih nyiapin ini itu dulu. Saya pikir ketika sampai di rumah, Ibu sudah siap berangkat ke rumah saudaranya. Tapi kata suami, “Aku pulang kan ingin menyenangkan Bapak Ibu. Jadi ya nurut saja, apa mau mereka. Sabar, ya.” Sudah bisa ditebak, karena sudah jam 9, beberapa rumah yang kami kunjungi sepi, penghuninya sudah tidur. Beberapa, masih ada yang belum tidur, jadi kami sempat berbincang-bincang sebentar.

Jumat, 9 Agustus 2013

Rencana reuni dengan teman-teman SMA batal, koordinatornya masih berada di luar kota, di rumah mertua masing-masing. Jadilah suami tidur aja seharian. Saya sih, ngerjain kain felt dan katun yang saya bawa dari Jakarta. Alhamdulillah, jadi beberapa bros dan boneka felt karakter.

Menjelang Maghrib, Ibu mengajak kami ke rumah saudara-saudara Bapak. Dilanjut, setelah sholat Maghrib, ke rumah Kakak Ibu yang tinggal terpencar dari saudara lainnya. Anak-anak biasa memanggilnya Mbah Mami. Dia merupakan favorit anak-anak karena selalu memberi angpao paling banyak dibandingkan saudara Bapak Ibu lainnya, hahaha...

Pulang dari Mbah Mami, kami mampir ke alun-alun kota Kendal tercinta. Menikmati bakso dan mie ayam di pojokan, dilanjut ngajak para balita naik odong-odong berbentuk angsa yang menyala karena ada lampu di sepanjang rangka besinya.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Pagi, lagi asyik-asyik jahit kain, tiba-tiba Siti (teman SD sampai SMA saya), mengabarkan kalau di sedang berada di rumah Mas Budi. Anak sulungnya dikhitan. Saya dan suami segera menemuinya. Ngobrol-ngobrol sebentar, kami pun berpisah.

Tiba-tiba, datang kabar lagi kalau anaknya Yuni (keponakan yang pernah bekerja di rumah saya dulu), anaknya juga dikhitan. Uniknya lagi, ketika kami bersama Ibu mengunjungi rumah mertua Yuni, saya bertemu Siti. Oh, ternyata suami Yuni dan Siti saudara kandung. Anak mereka berdua dikhitan bareng, yang mengkhitan ya Mas Budi. Jadi....? Bingung, kan? Pokoknya, sekarang saya dan Siti ada hubungan saudara, meski jauuuuh. Titik.

Sebelum Maghrib, kami pamitan pada Bapak Ibu untuk balik ke Jakarta. Kami mampir dulu ke RSS, ke rumah Pak Dadang dan Pak Suko. Pada keduanya, kami mengutarakan niat kami untuk tinggal lagi di rumah kami. Alhamdulillah, sambutannya baik. Pak Dadang mau membantu kami mengecat dan memperbaiki bagian rumah yang rusak. Pak Suko yang sekarang bukan Pak RT lagi, tak sabar menunggu suami kembali ngumpul di gardu RT. Kalo cuma ngumpul boleh, kalo main kartu jangaaaan, Pak.

Usai sholat Maghrib di Masjid Agung Kendal dan makan mie ayam di pojokan, kami balik ke Jakarta. Selamat tinggal, Kendal tercinta, beberapa bulan lagi kami akan kembali ke sini. Seperti kata Pak Bibit Waluyo, bali deso, mbangun deso *halah.




Rabu, 14 Agustus 2013

Cerita Mudik (Terakhir) Kami...bagian 1

07.19 0 Comments
Sabtu, 3 Agustus 2013

Ini adalah mudik ke-5 yang mungkin juga mudik terakhir saya ke kampung halaman. Kenapa mudik terakhir? Karena saya dan suami berencana awal tahun 2014 akan balik lagi tinggal di kampung. Ups...nggak usah dibahas dulu, tunggu cerita pastinya aja nanti.

Mudik kali benar-benar seperti berada di Lost World* hihihi...lebay. Bayangin, saat berusaha lewat jalur pantura, selalu dialihkan petugas ke jalur alternatif. Awas kau, Pak Polisi, bikin kami nyasar nggak karuan. Kami harus melewati Sumedang dan Majalengka, sebelum akhirnya ketemu tol Palimanan. Mending kalo tengah kota, ini seperti lewat di sisi bukit atau gunung. Jalannya berkelok-kelok, naik turun, kanan kiri cuma ada sawah, ladang, dan hutan. Untung ada GPS di mobil, kami percaya aja meski medannya sulit. Bayangin, jalannya sempit dan rusak, nggak ada petunjuk jalan, lagi. Bahkan di GPS kadang terlihat posisi mobil di tengah lapangan hijau, bukan di jalan yang warnanya merah. Sampai saya berkomentar, ”Jangan-jangan, jalan ini sebenarnya nggak ada alias jalan horor.” Bukannya takut, Nabila malah ngakak mendengar komentar saya.

Alhamdulillah, pas adzan Maghrib, kami pas tiba di kota Tegal. Dan itu artinya, kami bisa mampir ke rumah Mbak Tri, kakak kandung suami yang tinggal di sana. Asyik...makan gratis. Mana Mbak Tri dan Mas Bayu, suaminya, sama-sama jago masak lagi. Maka dalam hitungan menit, es teh, sup jagung, bakwan jagung, dan tahu asin, tandas tak bersisa karena pindah posisi ke perut kami.

Kami sholat Maghrib dan istirahat sebentar, sebelum berlanjut ke kota Kendal tercinta. Sampai di rumah mertua tepat jam 12 teng! Dibanding tahun kemarin yang 30 jam, mudik kali ini lebih lancar. Kami berangkat dari Jakarta usai sholat Subuh. Coba hitung sendiri berapa jam?

Senin, 5 Agustus 2013

Nabila minta dianterin bukber sama teman SD-nya di Taman Garuda. Saya dan suami sih oke-oke aja, sekalian menikmati suasana alun-alun kota tercinta. Jam 5 menuju TKP dan ketemulah Nabila sama 4 temannya. Waktu lulus SD, ceweknya memang cuma 4 orang, jadi sampai sekarang mereka kompak banget, meski beda sekolah. Satu orang lagi, Wardah, hanya sempat setahun sekolah di SDIT Robbani saat bapaknya tugas belajar di Semarang. Setelah itu dia balik lagi ke Makasar.

Kami nungguin kelima ABG buka bersama, sementara saya, suami, dan Sakroni ( bapaknya Wardah), buka tak jauh dari mereka. Oh ya Sakroni itu teman SMA sekaligus teman suami kuliah di APRO dulu. Jadi mereka berdua asyik banget ngobrolnya. Saya mah ngobrol aja sama si kecil, Nabil.

Usai makan takjil, sholat Maghrib di masjid Agung Kendal, dilanjut foto-foto di alun-alun. Karena Nabil teriak-teriak minta makan, kami bertiga lanjut makan nasi kucing di seputar alun-alun. Sementara kelima ABG masih ingin reuni mengenang masa lalu dengan ngobrol-ngobrol di lapangan. Ya sudah, lanjut aja, Gals...

5 muslimah keren



me & Nabil


Selasa, 6 Agustus 2013

Kali ini, Dik Tutik, adik suami, yang ngajak kami semua buka bersama. Berhubung tahun ini liburnya lebih banyak sebelum Lebaran, ya...makan-makannya menyesuaikan, sebelum Lebaran juga. Setelah berdiskusi sana sini dipilihlah Rumah Makan Lik Di yang letaknya di jalan tembus sebelum perempatan Patebon, sebagai tempat reuni keluarga. Jam 5 teng, pasukan dengan 2 mobil menuju TKP. Berhubung pasukannya banyak, sengaja pesan tempat yang lesehan, biar bebas dan leluasa.

Ketika sirine tanda buka puasa berbunyi, pasukan kami terutama anak-anak langsung berdoa dengan keras, “Allahumma lakasumtu....” Sampai pengunjung lain menatap kami dan mungkin dalam hati mereka teriak, “Woi...ini rumah makan, bukan TK atau play group.” Hahaha...yuk ah, buka puasa dulu. Aneka sea food sudah menanti untuk disantap.


Pasukan udah segini banyak ternyata belum formasi lengkap. Rombongan kedua datang, 4 ABG naik sepeda motor menyusul. Tak lama kemudian Mbak Tri dan Mas Bayu, dari Tegal langsung menuju tempat bukber juga. Maka Mbak Kakung (bapak mertua saya) pun segera memberi ular-ular alias wejangan alias nasehat kepada istri, anak, menantu, dan cucu-cucunya. Intinya, anak harus berbakti kepada orang tua, agar hidupnya berkah dan sukses. Tuh, dengerin, Nak, betul nasehat Mbah Kakung, keenam anak Mbah Kakung dan Mbah Putri sukses karena mereka taat dan berbakti pada orang tuanya.

nunggu formasi lengkap

cucu-cucu Simbah

trio ABG galau

Nabila & emaknya

nah...ini formasi lengkap

Ceritanya belum kelar ya, to be continued, gitu. Tunggu, jangan ke mana-mana, saya akan kembali setelah pesan 4 mangkuk bubur ayam buat sarapan.

Jumat, 02 Agustus 2013

Satu Pohon Seribu Komentar

14.21 5 Comments
Saat menempati rumah dinas di kawasan Halim tahun 2009 silam, saya benar-benar surprise. Bayangkan, di sebelah rumah ada kelebihan tanah yang lumayan luas. Bisa dibuat satu rumah lagi, sepertinya. Tapi karena letaknya di tikungan, oleh yang berwenang dibiarkan kosong. Teman anak saya jadi sering main ke rumah untuk bersepeda di sana. Maklum halaman rumah mereka tak seluas halaman rumah kami.



Dan pepatah “Siapa menanam, akan menuai” sepertinya tidak pas dengan kondisi saya. Karena penghuni lama yang menanam aneka buah, saya yang memetik hasilnya, hehehe...Ada banyak tanaman di kebun samping rumah saya. Pepaya, pisang, rambutan, durian, kelapa, belimbing, dan sirkaya. Ada juga pandan dan jeruk purut yang daunnya bisa  membuat masakan jadi tambah harum.

Ah, ada satu pohon lagi yang belum saya sebutkan. Pohon inilah yang akan saya ceritakan di episode kali ini. Beberapa hari setelah menempati rumah, saya curhat pada kakak perempuan saya yang tinggal di Bekasi.
“Mbak, di rumahku ada pohon duwet loh.”
“Oh, ya. Wah, kapan-kapan aku mau ngajak muridmu main ke rumahmu ah.”
“Lha, emangnya kenapa?”
“Kemarin, ada seorang muridku yang bertanya tentang pohon itu. Aku jawab saja, nanti kalo ada Ibu tunjukkan pohon atau buahnya.”

Hehehe...pohon duwet memang termasuk tanaman langka di wilayah Jabodetabek. Bagi yang bukan orang Jawa, mungkin penasaran apa sih buah duwet itu. Duwet itu nama Latinnya: Syzygium cumini. Pohonnya tinggi, bisa mencapai 20 meter. Diameter batang pokoknya antara 10-30 cm. Buahnya berwarna hitam keunguan, rasanya sepat masam. Orang Betawi dan Sunda menyebutnya buah jamblang. Di daerah lain ada yang menyebutnya jambu keling, jambu juwad, atau jambulan. Nah, sekarang sudah tahu, kan, apa yang saya maksud dengan duwet?



 Ternyata oh ternyata, saat saya menceritakan tentang pohon duwet alias jamblang di rumah saya, banyak reaksi tak terduga dari orang-orang di sekitar saya. Ini dia komentar dari mereka yang sempat saya catat.
- Saat berkumpul dengan ibu-ibu istri rekan kerja suami, sebagai pendatang baru, saya memperkenalkan diri.
“Saya tinggal di tikungan jalan Hercules, yang halaman sampingnya luas itu. Ada pohon rambutan, pohon durian,...dan pohon jamblang.”
Seorang ibu berbisik pada saya, “Ada pohon jamblangnya? Nggak takut, Bu?”
“Emangnya kenapa?”
“Pohon jamblang biasanya ada penghuninya loh.”
- Saat kakak ipar saya yang tinggal di Semarang mampir ke rumah, dia juga berkomentar, “Itu pohon jamblang, ya? Hati-hati ya, biasanya ada penunggunya loh. Temanku pernah anaknya hilang pas waktu Maghrib. Eh, ketemunya di atas pohon jamblang.”
Waduh, sudah dua orang yang berkomentar horor. Saya jadi merinding juga. Padahal pohon itu letaknya persis di depan kamar tidur saya. Jadi setiap membuka jendela di pagi hari, pohon jamblanglah yang pertama kali saya lihat.

- Kakak lelaki saya yang tinggal di Pontianak, lain lagi komentarnya. Karena bekerja di Dinas Perkebunan, dia memenuhi halaman rumah dinasnya dengan beraneka tanaman. Saat tahu saya punya pohon jamblang, dia berkata, “Nah, ini dia yang aku belum punya. Besok aku mau minta biji atau pohon anakannya, mau aku tanam di Pontianak.”
- Sementara seorang kerabat dan seorang teman yang usianya di atas saya, saat tahu kalau saya punya pohon jamblang berkomentar, “Dik, kalau lagi berbuah, kirim ke rumah ya buahnya.” Hehehe...buah itu memang terasa enak bagi orang-orang seangkatan dengan saya atau di atasnya. Saat masih kanak-kanak, Ibu saya sering membeli buah jamblang di pasar. Sebelum dimakan, buah dicuci dan diberi garam dan gula pasir. Dikocok-kocok di mangkuk sebentar, lalu dimakan. Rasa sepatnya jadi berkurang. Sementara anak sekarang, karena begitu banyak mengenal buah-buahan manis, pasti mengatakan nggak enak alias sepat. Suami saya bahkan sampai harus memaksa ketiga anak saya untuk  mencicipinya, “Ini dicoba, rasanya enak loh, namanya anggur Jawa.” Hehehe...ada-ada saja nih si Bapak.

Sampai saat ini, pohon jamblang masih berdiri kokoh di samping rumah. Tukang rumput yang rajin memangkas ranting-rantingnya setiap bulan. Kalau dulu bisa dipetik langsung, sekarang harus memakai galah untuk mengambil buahnya. Ya, karena pohonnya semakin tinggi menjulang. Dibandingkan buah jamblang di rumah mertua, rasa buah jamblang di rumah saya lebih manis. Jadi saat berbuah, saya dan suami bisa makan buah jamblang setiap hari.

Alhamdulillah, saya juga belum pernah mengalami hal-hal aneh atau mistis seperti yang diceritakan orang tentang pohon jamblang. Menurut saya, Allah menciptakan sesuatu pasti ada manfaatnya, termasuk pohon jamblang. Beberapa penelitian menunjukkan, buah jamblang bisa menjadi obat tradisional. Bisa mengobati penyakit diare, diabetes, batuk rejan, sariawan, dan sebagai penawar racun.

Jadi intinya, apa pun komentar orang tentang pohon jamblang, saya akan tetap membiarkannya tumbuh di halaman. Selain membuat halaman jadi adem, bisa jadi sarana pembelajaran bagi anak-anak di sekitar rumah. Dalam buku PLBJ anak saya tertulis, salah satu tanaman langka di Jakarta adalah pohon jamblang. Jadi, bagi yang belum pernah melihat pohon atau buah jamblang, datang saja ke rumah saya, hehehe...

Ini dia penampakan si penunggu pohon jamblang plus sapu (nggak bisa) terbangnya. Bila pagi-pagi terdengar suara srek...srek...srek..., jangan takut. Itu berarti si penunggu sedang membersihkan daun-daun pohon jamblang yang berguguran.



 Tulisan ini diikutkan "Give Away Aku dan Pohon"-nya Mbak Arin Murtiyarini.


Senin, 29 Juli 2013

Bukan Tetangga Yang Baik

10.30 0 Comments
Berita duka itu saya terima jam 9 malam. Karena kebetulan sedang memakai gamis hitam, saya langsung berangkat ke rumah tetangga, tanpa ganti baju lagi. Kami bertiga (saya, mbak Novi, dan Mbak Dini) segera menuju ke ruang ICU rumah sakit, tempat jenasah disemayamkan.

Di sana telah berkumpul banyak orang mulai dari keluarga, kerabat, tetangga, dan sahabat dari yang berduka. Hampir dua jam kami berada di sana, karena kebetulan Mbak Dini adalah Bu RT, jadi dia sibuk telpon sana sini mencari perempuan yang bisa memandikan jenasah. Usaha yang dilakukan sudah maksimal, tapi ternyata tidak berhasil. Petugas yang biasa memandikan jenasah semua berhalangan, ada yang sudah mudik, ada yang sedang tidak di rumah.

Akhirnya jenasah, tanpa dimandikan, dibawa ke kampung halamannya di Brebes. Saat bertemu dengan saudara-saudara almarhumah, Mbak Dini bilang, “Yang ini wajahnya mirip dengan almarhumah, ya?” Bu Novi mengangguk. Sementara saya hanya bilang,” Ohhh...”

Tahukah, Teman, selama tinggal di rumah dinas itu (empat tahunan lah), saya belum pernah sekali pun bertatap muka dengan almarhumah. Padahal rumah kami hanya berjarak 3 rumah. Duh, tetangga macam apa saya ini. Bulan-bulan pertama, saya masih sering melihat beliau setiap pagi berangkat mengajar. Hanya sosoknya, bukan wajahnya. Karena beliau berjalan dari rumah masuk ke mobil, yang waktunya hanya beberapa detik.

Beberapa bulan berikutnya, tukang sayur yang mangkal di depan rumah bercerita kalau beliau sakit kanker payudara dan sedang menjalani pengobatan. Sejak itulah beliau benar-benar mengurung diri. Tak pernah datang di acara arisan atau halal bihalal. Tak pernah mau ditengok oleh kami, tetangganya. Beberapa tetangga (pengurus RT) pernah menengok beliau saat dirawat di rumah sakit Dharmais. Saat itu kondisinya masih bisa berbicara dan tertawa, menurut Mbak Dini yang ikut bezuk.


Astaghfirullah, ampuni hamba ya, Allah. Hamba memang bukan tetangga yang baik. Yang tak pernah bisa menunaikan kewajiban hamba terhadap tetangga. Saat tetangga sakit, harusnya hamba menengoknya. Tapi hamba tak pernah melakukan itu. Dan hari ini saat beliau meninggal, untuk pertama kalinya hamba melihat wajahnya. Meski wajah itu kini sudah dingin dan sebagian tertutup kapas. Maafkan saya, ya. Selamat jalan, Ibu, Allah telah mengangkat penyakit kanker yang telah menggerogoti tubuhmu selama hampir empat tahun. Beristirahatlah dengan tenang di sisi-Nya.


Jumat, 26 Juli 2013

Tips Mendapatkan Buku Murah Berkualitas

22.03 1 Comments
Bagi seorang penulis atau seorang kutu buku, mendapatkan buku yang diinginkan dengan harga lebih murah dari harga toko seperti mendapat durian runtuh. Ya, karena bagi mereka buku adalah sumber referensi, sumber inspirasi, dan sarana rekreasi.

Berikut adalah tips mendapatkan buku dengan harga lebih murah tapi berkualitas:
1.  Rajin-rajinlah mencari info diskon di toko-toko besar seperti Gramedia atau Gunung Agung. Saya biasanya tahu adanya diskon dari jejaring sosial, karena saya berteman dengan mereka. Kadang juga info dari teman atau pas kebetulan lewat di depan toko yang sedang diskon.
2. Datanglah ke acara pameran buku atau book fair. Hampir semua peserta pameran selalu memberikan diskon pada buku-buku yang mereka jual. Di Jakarta yang rutin setiap tahun adalah Islamic Book Fair, Jakarta Book Fair, dan Indonesia Book Fair. Tempatnya biasanya di daerah Gelora Bung Karno, Senayan.
3. Cari info tentang buku murah di toko buku online. Lewat website dan jejaring sosial kita bisa mendapatkan info tentang buku apa saja yang sedang diskon di toko buku online. Selain buku baru, banyak juga toko buku online yang menjual buku bekas. Keuntungan membeli lewat online, kita tidak perlu bersusah payah mencari-cari di rak buku. Soal ongkos kirim usahalan cari yang setara dengan ongkos bensin yang kita keluarkan bila kita pergi ke toko buku. Kekurangan membeli lewat online, kita tidak tahu pasti kondisi buku, apakah semua halamannya masih bagus dan tak ada lipatan. Kita juga tidak tahu keaslian buku itu. Jangan salah, di negara kita bukan cuma ada VCD/DVD bajakan, buku bajakan juga banyak beredar.
4. Datanglah ke acara launching buku. Meski tidak semua, ada beberapa penulis yang mau membagikan buku yang baru dilaunchingnya. Contohnya saat launching buku Cerita di Balik Noda karya Fira Basuki yang disponsori Rinso. Semua yang hadir mendapatkan buku cantik itu. Wah, ngiri saya pada teman-teman saya yang hadir di acara itu.
5. Jangan gengsi mencari buku bekas di kaki lima. Di Jakarta ada beberapa tempat yang menjual buku-buku bekas. Soal kualitas, kita harus pandai-pandai memilihnya. Kalau beruntung, kita bisa mendapatkan buku yang masih bagus dengan harga miring. Contohnya di daerah Kwitang, kawasan Pasar Senen, dan lantai dasar Blok M Square. Saya biasanya mencari komik dan buku bekas di Blok M. Tempatnya nyaman; bersih dan ber-AC.

Dalam satu bulan terakhir saya beruntung mendapatkan buku-buku murah dan berkualitas.
- Saat berbelanja ATK di Pasar Jatinegara, saya menemukan buku crafting ini. Di toko harganya 45 ribu, ini cuma separohnya( maklum buku bekas).


- Saat mengantar suami dan anak mencari buku untuk keperluan sekolah mereka di Blok M, saya mendapatkan buku-buku ini. Di tobuk yang Edutoys harganya 65 ribu, ini hanya 20 ribu, trus Cookie-nya Jaqueline Wilson hanya dihargai 10 ribu. Wua...coba ada lagi, mau banget buku anak keren kayak gitu.


- Yang ini dapat dari Tobuk Gramedia Matraman saat ada obral buku murah. Harganya 15 ribu.

- Sementara yang ini beli dari online shop (OS) teman saya yang jualan bahan-bahan crafting. Di tobuk 45 ribu, dia jual 25 ribu.



Mendapatkan buku-buku murah itu sesuatu banget, serasa menemukan harta karun. Itu karena saya lebih suka beli buku (bacanya kapan-kapan, hehehe...) daripada baju dan tas seperti teman-teman saya. Ya, iyalah, buku murah kok dibandingkan dengan baju dan tas yang harganya jutaan, nggak nyambung...

Kamis, 25 Juli 2013

Meriahnya Gelar Jepang UI 19

02.11 1 Comments
Saat Nabila meminta suami untuk nganter ke UI lihat Gelar Jepang, nggak nyangka suami kok mau. Tumben...Biasanya kan beliau malah ceramah, “Kalo nggak penting nggak usah. Buat apa jalan-jalan nghabisin uang, emang kita orang kaya?” Alhamdulillah, soalnya saya juga mau ikutan, pengin tahu kayak apa sih acara Gelar Jepang-nya UI. Saya juga pengin beli kertas washi di guru washi ningyou saya, Mbak Dwi.

Tanggal 7 bulan 7, kami berempat plus 2 teman Nabila, Nina dan Riska, berangkat menuju UI. Seperti biasa, sempat salah jalan dikit, tapi akhirnya nyampe juga. Wow...ternyata, suasananya ruame banget. Di mana-mana berselirewan orang-orang dengan cosply alias kostum ala Jepang, pokoknya semua karakter komplit...plit! Ini hari ketiga alias terakhir, dan sepertinya menjadi puncak acara GJ 19.

Ada yang beda di acara GJ 19 tahun ini. Untuk mengetahui jumlah pengunjung, panitia meminta pengunjung mengisi blangko sebagai boarding pass alias tiket masuk. Bisa didownload dari website, bisa juga ambil formulir di TKP. Kita mah dah nyetak dari rumah, jadi ya...langsung masuk aja.



Begitu datang langsung ke stand Mbak Dwi. Lihat aneka kertas washi, mupeng...pengin borong semua. Tapi karena ingat pesan suami, belinya ya seratus ribu aja. Aslinya dapat 4, tapi karena saya nawar, sama Mbak Dwi dikasih 5 lembar. Hore...!



Saat melewati stand permainan tradisional, Nabil penasaran dengan ikan kecil-kecil di kolam plastik. Dengan membayar goceng, Nabil mencoba menangkap ikan-ikan itu dengan alat mirip saringan tapi datar. Sayang, tak satu pun ikan didapatnya. Belum tahu tekniknya, sih.



Setelah muter-muter melihat aneka stand, danau di belakang kampus, dan nonton acara musik di layar LCD, kami bertiga duduk santai di sebuah gazebo. Capek, euy...Sementara 3 ABG menuntaskan rasa penasarannya dengan berkeliling arena, entah berapa kali. Menurut pengamatan saya, yang laris manis di sana adalah: bando telinga kucing. Banyak banget cewek-cewek yang beli dan memakainya Wah, jadi penasaran dengan polanya dan pengin bikin sendiri.

Semakin siang pengunjung semakin membludak. Saat pengin beli takoyaki dan minuman, antriannya puanjaaang banget. Batal deh. Padahal waktu kami datang, antrinya nggak kayak gitu. Akhirnya beli makanan dan minuman seadanya. Yang penting nggak pake ngantri.

Setelah sholat Ashar, barulah kami meninggalkan kampus UI menuju Halim. Sekali-kali membuat anak senang. Anggap aja, ritual jalan-jalan sebelum Ramadhan *apa seh, nggak jelas. Biasanya menjelang Ramadhan kan ada ritual makan-makan bareng atau mandi ramai-ramai di pemandian umum. Nah, kita bikin ritual baru: jalan-jalan menjelang Ramadhan, hehehe...






Rabu, 24 Juli 2013

Indahnya Ramadhan Tahun Ini

17.35 0 Comments
Sudah jadi agenda tahunan anak FLP Jakarta, setiap Ramadhan mengadakan ifthar jama’i alias buka bersama. Biasanya bertempat di panti asuhan atau rumah singgah di seputar Jakarta. Tahun ini saya berkesempatan mengikuti acara itu, meski belum resmi menjadi anggota FLP Jakarta (kan belum mengikuti inagurasi).

Jadilah hari Minggu, 21 Juli 2013, saya diantar suami berangkat ke Yayasan Sekar (Setia Kawan Raharja) di Jl. Pakin no.1 Penjaringan, Jakarta Utara. Sebelumnya mampir dulu ke Museum Mandiri, karena udah janjian sama beberapa teman FLP Pramuda 17. Bersama Mbak Nuke, Mbak Mimi, Nanis, dan Purwanto, jam 3-an mobil menuju ke TKP.

Ternyata, Yayasan itu berada di sebuah ruko berlantai 3, tepatnya Komplek Ruko Mitra Bahari 2 Blok E no.23. Mereka menampung anak yatim dan anak jalanan usia SD dan SMP. Lantai bawah tempat belajar dan administrasi, lantai 2 asrama putri, lantai 3 asrama putra. Sampai di TKP kami langsung sholat ashar di asrama putri diimami Mbak Yusi, ketua FLP Jakarta. Benar-benar seperti yang pernah saya lihat di sinetron, kamar itu penuh berisi tempat tidur susun dua.

Usai sholat, kami sempat berbincang sejenak dengan Mbak Sri, pengurus yayasan itu. Ternyata, yayasan mendapat bantuan dari Dinas Sosial, juga dari pihak lain seperti Artha Graha, dll. Artha Graha? Tiba-tiba muncul celetukan, “Punya Arthalita kan itu? Punya Bakri juga, kan? Ah, gapapa, buat mereka itu mah kecil nggak ada 2,5 % penghasilan mereka.” Hehehe...itulah reaksi spontan perempuan FLP.

Sementara di aula belajar semuanya sudah berkumpul. Usai sholat ashar, saya bantu-bantu petugas konsumsi, jadi nggak begitu tahu apa saja yang terjadi di aula. Kadang terdengar tenang, kadang terdengar rame dan heboh. Dipandu oleh Mas Ervan, acara dimulai dengan pembacaan kalam Illahi oleh Dani Achmad Ramadhan. Dilanjutkan dengan pelatihan menulis oleh Mas Sokat Rachman, Mbak Fira, dan mendongeng/ story telling. Sebagai tugas dan latihan, anak-anak diminta membuat cerita sehari-hari. Ada beberapa cerita yang dibacakan Mbak Fira, sederhana tapi menyentuh. Salah satunya tulisan (lagi-lagi) Dani tentang cita-citanya menjadi ustadz. Di sela-sela acara, ada penampilan anak-anak; ada yang main rebana, dan yang paling heboh penampilan grup Rombeng. Berbagai peralatan rumah tangga dari plastik (ada ember, drum air, baskom, dll) dipukul serempak dan berirama mengiringi sholawatan.






Sebelum adzan maghrib, Mas Afilin memberikan kultum. Eh, belum 7 menit dah maghrib. Berhenti dulu, deh...Buka bersama dimulai dengan minum es buah buatan Mbak Anik dan takjil berupa kue manis dan asin. Dilanjut sholat maghrib. Kumpul lagi, baru makan bersama nasi kotak pesan di D’Cost. Dengan lauk sederhana, nasi, tumis baby buncis, dan ayam goreng tepung asam manis, kami semua makan dengan lahap.

Sesuai jadwal, jam 7 acara ditutup dengan doa. Tak lupa foto bersama untuk dokumentasi. Kami serombongan pulang naik Kopaja 02 sampai Stasiun Kota. Setelah itu semua berpencar, ada yang naik kereta, ada yang naik Trans Jakarta, ada pula yang pindah naik angkot. Alhamdulillah, Trans Jakarta malam itu tidak penuh, jadi saya bisa duduk dengan nyaman sampai PGC.






Terima kasih, ya, Allah, Kau beri kesempatan hamba untuk duduk bersama anak-anak yang kurang beruntung. Ada rasa haru dan bahagia saat melihat canda tawa mereka. Jangan patah semangat, ya, Nak. Kalian harus tetap menuntut ilmu di tengah himpitan ekonomi orang tua kalian. Sungguh, kami merasa berdosa bila meninggalkan generasi yang lemah baik lemah ilmu maupun lemah iman. Dan sungguh, Ibu rindu bertemu kalian lagi, Nak.