Senin, 14 Juli 2014

Nikmatnya Wedangan di Cafe Tiga Tjeret

00.33 0 Comments
Berkunjung ke Solo tanpa mengunjungi warung hik? Seperti Tom tanpa Jerry atau seperti Masha tanpa Bear. Ya, terasa ada yang kurang. Warung hik, atau ada juga yang menyebut wedangan khas Solo adalah tempat makan berupa gerobak di pinggir jalan. Menu utamanya adalah sebungkus kecil nasi dengan sedikit lauk. Pendampingnya aneka baceman, aneka sundukan (sate), dan aneka wedang. Di daerah lain seperti Semarang atau Jogja, orang mungkin menyebutnya kucingan atau warung sego kucing. Disebut sego kucing bukan nasi dengan lauk kucing lho, tapi karena porsinya sedikit mirip buat ngasih makan kucing.

Pengunjung bisa memilih duduk di kursi panjang atau lesehan di trotoar. Kalau datang serombongan biasanya memilih untuk duduk lesehan. Warung hik mudah sekali ditemui di seluruh penjuru kota Solo. Saat berkunjung ke Solo bersama teman-teman Komunitas IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) Semarang beberapa waktu lalu, Mak Winda, sang putri Solo asli, merekomendasikan warung hik yang oke banget. Namanya Café Tiga Ceret. Letaknya di daerah Ngarsopuro, berhadapan langsung dengan halaman Pura Mangkunegaran, tepatnya di jalan Ronggowarsito no. 97 Solo.

tampak luar

Wow, kalau ini sih bukan warung hik biasa. Lebih tepatnya warung hik dengan format café. Begitu memasuki halaman, tampak bangunan dengan 2 lantai.  Pilihan makanan dan minuman yang ada sangat variatif, sampai bingung saya milihnya. Tapi berhubung sedang menjalani FC (meski abal-abal), saya bisa mengerem keinginan untuk memasukkan semua makanan itu ke dalam perut * hahaha…emang muat.

Begitu masuk tempat penyajian makanan, yang pertama tampak adalah nasi bungkus. Ada nasi rica bebek, oseng kikil, oseng tempe, sapi lada hitam, terik daging, dll. Belok sedikit terhidang aneka lauk dan jajanan. Ada bothok telur asin, pepes ayam, aneka sate, aneka gorengan, lemper, macaroni schotel, dll. Waduh, yang mana ya yang harus dipilih, enak semua sih kelihatannya. Benar-benar menggoda!

aneka nasi bungkus

aneka lauk dan jajanan

Ya sudah, berhubung perut nggak begitu lapar, saya ambil pisang kismis sama pesen teh panas * irit banget? Biarin. Anak saya, Nabila, juga nggak kalah irit, macaroni schotel sama es coklat. Dia tadinya pengin es puter, tapi kata si Mbak Kasir lagi kosong. Selesai membayar, sambil menunggu datangnya minuman dan makanan yang sedang dibakar, kami duduk berempat di halaman, di bawah payung lebar. Selain di bawah payung, ada pilihan lain sebenarnya. Di depan display makanan dan kasir, ada meja panjang dengan banyak kursi. Tapi meja itu sudah dipenuhi emak-emak yang lain. Ada lagi tempat di lantai 2 yang didesain layaknya cafe. Kalau yang itu males naik turunnya * dasar emak-emak uzur.

pesenan saya

Tak perlu menunggu lama, makanan dan minuman sudah terhidang. Hmm…saatnya makan. Soal rasa menurut saya (juga teman yang duduk semeja) sama saja dengan warung hik lainnya, lezat dan nikmat. Bau khas bakaran arang dan daun pisang membuat nafsu makan semakin menjadi. Jaman memang sudah berubah. Orang makan di luar bukan hanya untuk menikmati makanan tapi juga menikmati suasananya. Seperti juga di sini, makanan sama enaknya dengan warung hik lain, tapi suasananya cozy banget.

Ada yang menarik di café ini. Ketika saya perhatikan, kap lampunya terbuat dari rangkaian gelas plastik bekas. Hiasan dinding di depan kamar mandi terbuat dari bekas kemasan telur. Wow, benar-benar sejalan dengan konsep go green. Sementara tempat cuci tangan menggunakan ceret aluminium sebagai kerannya. Unik banget, kan?

gelas plastik bekas

Bagi yang sedang jalan-jalan ke Solo, jangan lupa mampir ke Café Tiga Tjeret ya * eh, kok saya jadi promosi ya. Harga makanan di sana sangat terjangkau, nggak nguras kantong, pokoknya. Per porsi antara Rp2.500 sampai Rp15.000. Café ini buka dari jam 11.00 sampai jam 01.00 dan bisa menampung 100 orang. Nah, tunggu apa lagi, yuk, datang rame-rame ke Café Tiga Tjeret. Sumpah, saya nggak dibayar, tapi kalo saya promo itu karena tempat itu memang keren * angkat 2 jempol.

Ini sebagian penampakan Cafe Tiga Tjeret:

foto, ttd, dan testimoni para artis

satu gigitan emang nggak cukup

si Mas asyik bakar2

bagian minuman

beberapa emak2 IIDN





Minggu, 13 Juli 2014

Ketika Orang Labil Ikut FC

23.25 0 Comments
Status temen-temen soal Food Combining yang bersliweran tiap hari di wall, membuat saya penasaran. Apa sih Food Combining atau FC, kok banyak banget yang mengikuti program itu. Ngalahin OCD nya Oom Dedy Kokbunder *ups. Langsung saya menuju FB Food Combining Indonesia. Info di sana ternyata komplit plit plit. Jadi intinya CF itu program pengaturan pola makan yang disesuaikan dengan sistem pencernakan kita. Yaitu apa yang dimakan, kapan waktu makannya, dan bagaimana cara makannya.

Patokannya gini kira-kira:
1. Apa yang dimakan? Pati, protein, sayuran, dan buah
2.Kapan waktu makannya?
- jam 12 sampai 20 waktu cerna à boleh makan
- jam 20 sampai 04 waktu penyerapan à nggak boleh makan apa pun
- jam 04 sampai 12 waktu pembersihan à ekslusif buah-buahan
3. Bagaimana memakannya? Kunyah makanan sampai lumat 33 X kunyahan

Trus ada patokannya lagi nih:
- Bangun tidur langsung minum jeniper alias jeruk nipis peras. Siapkan air hangat ½ gelas trus kucuri deh dengan jeruk nipis atau lemon. Minum pelan-pelan sambil dimasukkan ke bawah lidah dan sekitarnya
-Untuk sabu alias sarapan buah bisa buah apa saja kecuali duren, nangka, dan cempedak. Kira-kira dari jam 6 sampai jam 11
- Untuk makan siang dan makan malam rumusnya:
Pati + sayuran à OK
Pati + protein hewani à NO
Protein hewani + sayuran à OK

Setelah mikir selama 3 hari 3 malam, akhirnya saya memutuskan untuk ikut program FC. Mulai 1 April 2014 saya memberanikan diri bergabung * jiah istilahnya itu loh. Iya, soalnya saya tipe pemakan segala dan kapan saja. Jadi awalnya pasti beraaat banget.

Akhirnya 1 bulan berlalu sudah. Penasaran dengan program FC yang saya jalani? Baiklah saya akan berkata eh…nulis dengan jujur. Jadi, Saudara-saudara, memang lumayan berat program ini. Saya acungi jempol buat mereka yang konsisten melakoni selama berbulan-bulan bahkan tahunan. Selama 1 bulan ini saya berkali-kali melanggar aturan, diantaranya:
- Makan bakso, itu kan pati + protein hewani. Ceritanyanya saya lagi belanja bahan craft di Toko Satria, Semarang. Karena sejak pagi perut hanya terisi 2 butir apel, saya kliyengan siang itu. Saya nyari warung makan di pasar Johar, nggak ada yang sreg. Lha kok yang rame malah warung bakso. Yaudah, saya pesen 1 mangkok. Hahaha…nggak usah protes, dalam keadaan lapar saya nggak bisa mikir panjang
- Pernah beberapa hari nggak makan lalapan sayur mentah. Gara-gara liat ulat keluar dari selada, lalapan favorit saya, hiii…

Saya bener-bener takjub dengan mereka yang konsisten menjalani FC. Bahkan saat cheating makan enak-enak, mereka langsung pusing dan mual-mual (beberapa sampai muntah). Misalnya makan gorengan, makan cemilan manis, atau makan sate kambing. Lha, kok saya biasa-biasa aja ya saat cheating * namanya juga masih pemula. Misalnya nyicip cemilan coklat Nabil, makan gorengan, makan bakso atau siomay .

Eh, tapi ada hal positif yang saya rasakan loh. Misalnya saat belanja ke warung atau mini market, saya jadi belanja seperlunya saja. Nggak lagi ngambil roti, cemilan, atau minuman ringan. Kalau niatnya mau beli sabun, shampoo, atau deterjen ya…cuma itu aja yang diambil trus dibayar. Minum kopi, teh, dan susu juga nggak pernah saya lakukan selama sebulan itu. Kecuali pernah sekali minum teh saat bertamu ke rumah teman *jitak Diana.


Yang harus dicatat nih, selama 1 bulan ikut FC, badan terasa segar dan ringan. Kalau biasanya pas PMS kepala pusing dan badan meriang, sekarang enggak lagi. Huray…ternyata asyik ya, ikut FC. Sayang, saya orangnya masih labil * jiakakaka. Masih suka makan ini itu, nyemil ini itu, dan kadang lupa nggak sedia buah-buahan. Kalau minum jeniper dan makan sayur sih masih rutin sampai sekarang. Jadi dengan ini saya umumkan bahwa saya belum bisa konsisten menjalani FC. Mudah-mudahan setelah Lebaran nanti, saya siap menjalaninya lagi. Mohon maaf lahir batin, eh…mohon doanya ya.

maksi tanpa nasi


yg setia menemani maksi

buah lokal yg nggak nguras kantong

yg ini buah favorit

Selasa, 08 Juli 2014

Merawat Orang Tua

21.42 0 Comments
Hari itu, saya dikejutkan suara telepon. Dari kakak perempuan saya yang tinggal di Semarang! Katanya, “Tolong kamu cek, aku dapat kabar kalo tetangga kita dulu, Pak M, meninggal. Katanya bla…bla…bla…”

Tanpa menunggu waktu, saya meluncur ke kampung tempat tinggal saya dulu. Nggak jauh sih dari rumah saya sekarang. Lho kok sepi. Nggak ada tenda, kursi, atau bendera kuning seperti layaknya rumah orang meninggal dunia. Hanya ada police line di bagian pintu belakang * tanda tanya.

Saya balik badan dan segera saya buka FB. Ternyata beritanya sudah masuk beritakendal.com. Judulnya: Tinggal Sendirian, Ditemukan Tewas Membusuk. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Ternyata benar, itu Pak M, tetangga persis sebelah rumah saya dulu. Menurut berita itu, sejak hari Senin, Pak M yang berumur 60 tahun, mengeluh nggak enak badan sama tetangganya. Hari Rabu pagi, seorang ART yang mau belanja kebutuhan sehari-hari (oh ya beliau punya warung kecil di rumah) mencoba memanggil-manggil. Tapi, penghuni rumah tak jua muncul. Dia curiga karena mencium bau tak sedap. Segera ART itu meminta tolong tetangga untuk mengecek. Karena kesulitan, mereka pun lapor polisi.

Maka polisi pun datang untuk mendobrak rumah Pak M. Dan ternyata Pak M ditemukan di kamarnya sudah tak bernyawa. Televisi di kamar itu juga masih menyala. Jenasah segera dibawa ke RSUD Kendal untuk didiperiksa. Setelah terbukti tak ada tanda-tanda penganiayaan, jenasah dikuburkan sore harinya.

Sekedar info, istri Pak M belum 100 hari meninggal. Anak perempuannya ikut suaminya tinggal di Cilacap. Jadi, sejak istrinya meninggal, Pak M tinggal sendirian di rumah. Ketika saya datang takziah esok harinya, saya kok merasa si anak ini santai saja. Dalam arti ketika dimintai pendapat kerabatnya, malah mengatakan, “Terserah, saya manut saja. Saya repot. Minta pendapat saja sama kakak Bapak saja.” Mudah-mudahan penilaian saya salah. Bisa saja dia kecapekan karena perjalanan yang jauh dengan membawa 3 anak yang masih kecil-kecil.

Saya jadi ingat Ibu. Setelah Bapak meninggal, Ibu tinggal di rumah sendirian. Ibu kekeuh nggak mau ikut salah satu dari ke-6 anaknya. “Ibu mau di sini saja, nanti kalo Bapakmu pulang, gimana?” Kami mengalah, tak bisa memaksa Ibu. Kami pun patungan membayar orang yang mau nemani Ibu. Kejadian paling dramatis adalah ketika Ibu sendirian karena pembantu berhenti bekerja, kondisi Ibu pas drop. Kakak ipar menemukan Ibu dalam keadaan tidak sadar dengan badan belepotan * maaf Ibu mengalami pendarahan lambung.

Sebagai satu-satunya anak yang tinggal sekota, saya shock dan merasa bersalah. Sepulang dari rumah sakit Ibu langsung saya boyong ke rumah. Sejak itu kondisi Ibu benar-benar turun drastis, tak pernah sekali pun turun dari tempat tidur. Meski tinggal serumah, saya tak bisa merawat Ibu dengan tangan saya. Ada orang yang khusus merawat Ibu. Saat itu selain masih kerja kantoran, saya baru punya bayi. Tapi paling tidak saya merasa tenang, bisa melihat dan berbincang dengan Ibu setiap hari. Saat beliau tiba-tiba mengalami koma, saya sempat membacakan surat Yaasin di telinganya.

Ya, Allah semoga saat saya tua nanti, anak-anak mau merawat saya. Saya tidak ingin mengalami kejadian tragis seperti tetangga saya itu.




Senin, 07 Juli 2014

Indonesia, Ini Bukti Cintaku

16.14 1 Comments
Beberapa waktu yang lalu saya sempat menyaksikan konserta bertajuk “Swarga di Khatulistiwa” di Taman Ismail Marjuki (TIM), Jakarta. Konserta ini menceritakan tentang sebuah negeri elok yang kaya raya bernama Nusantara. Keelokan dan kekayaannya membuat banyak negara lain ingin memilikinya. Dengan segala tipu daya akhirnya Nusantara secara berganti-ganti dikuasai oleh negara lain seperti Portugis, Belanda, dan Jepang.

Tapi berkat perjuangan dan kegigihan para pemuda, penguasa-penguasa jahat itu bisa diusir dari Nusantara. Konserta yang berlangsung hampir 2 jam itu ditutup dengan pembacaan teks proklamasi. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Indonesia Pusaka” oleh seluruh pendukung konserta. Saya merasakan gemuruh di dada mendengar lagu yang dinyanyikan dengan penuh khidmad itu.

"Indonesia Pusaka" memang dahsyat

Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan, begitu semua pendukung membungkukkan badan. Secara keseluruhan konserta itu bagus sekali. Baik pembacaan narasi, paduan suara yang membawakan aneka lagu daerah, tarian nusantara yang dibawakan para penari, maupun tata lampu. Bukan hanya itu, ada pesan yang saya tangkap seusai melihat konserta itu. Oh, ternyata untuk bisa menjadi Indonesia seperti sekarang ini diperlukan perjuangan yang luar biasa. Banyak darah yang tertumpah dan nyawa yang melayang demi merebut kembali Nusantara ini dari kaum penjajah.

Sebagai warga negara Indonesia, sudah sewajarnya kalau saya mencintai Indonesia, tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Agama saya juga mengajarkan bahwa mencintai negara itu wajib hukumnya. Tak peduli negara ini dicap negara lain sebagai sarang teroris, tingkat korupsinya tinggi, pengunggah situs porno terbanyak sedunia, dan mutu pendidikannya rendah. Apa pun komentar miring dunia tentang negara ini, saya tetap cinta Indonesia.

Kenapa? Karena di sini saya mendapatkan apa yang saya butuhkan. Tanah, air, udara, orang-orang yang ramah dan peduli, rezeki, kebebasan berpendapat, dan masih banyak lagi. Bandingkan dengan saudara-saudara kita yang tinggal di belahan dunia lain yang masih harus berjuang demi mendapatkan kemerdekaan.

Di era digital ini cinta tanah air tidak harus diwujudkan dengan memanggul senjata * mau perang sama siapa, Bro? Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan rasa cinta tanah air, diantaranya memakai produk dalam negeri, menjaga kelestarian alam, dan melestarikan budaya masing-masing daerah. Saya sendiri punya cara sederhana mencintai Indonesia, diantaranya:
1. Memakai kain batik di berbagai kesempatan. Ditetapkannya batik sebagai warisan budaya nasional menurut saya itu membanggakan. Agar tidak diklaim sebagai budaya Negara lain, ya orang Indonesia sendiri yang harus mempertahankannya. Apalagi batik sekarang ini tampil dengan berbagai variasi baik model dan warnanya. Nggak ada ceritanya pakai kain batik jadi kelihatan tua. Batik untuk balita pun sekarang ada. Dan mereka tetap kelihatan cute.

saat jadi model "jadi-jadian"

2. Mengelola sampah rumah tangga dengan efisien. Tak bisa dipungkiri, ibu rumah tangga adalah sumber sampah di rumahnya. Karena dialah yang menentukan apa saja yang harus dibeli untuk keperluan rumah. Prihatin dengan pengelolaan sampah dan meningkatnya pencemaran tanah dan air di negeri ini, saya memulai langkah mandiri dari rumah. Caranya?
- Meminimalkan penggunaaan plastik.
- Membiasakan diri membawa tas belanja dari rumah.
- Mengelola sampai organik dari sisa sayuran menjadi pupuk tanaman.
-Memanfaatkan barang tak terpakai menjadi barang yang lebih berguna
3. Mengajarkan pada anak-anak saya tentang perbedaan. Syukurlah, saya pernah tinggal di komplek militer yang penghuninya komplit dari Sabang sampai Merauke. Dari sana saya ajarkan, “Nak, kita harus menghargai mereka. Walaupun suku, agama, dan budayanya berbeda mereka tetap saudara kita, sama-sama orang Indonesia. Berbeda itu biasa, malah akan memperkaya wawasan kita.” Menurut saya, kalau sejak kecil sudah diajarkan menghargai perbedaan, kelak akan tertanam dalam ingatan mereka.


Mencintai tanah air tak lain adalah upaya kita semua dalam mempertahankan kemerdekaan yang sudah diperjuangkan para pendahulu kita. Simpel saja, kalau kita mau mentaati peraturan, hidup sesuai norma agama dan susila yang berlaku, insya Allah negeri tercinta ini akan menjadi negara yang besar dan bermartabat. Tak ada pejabat yang korupsi, tak ada pedagang yang curang, tak ada pegawai yang mangkir kerja, dan tak ada pelajar yang tawuran. Ayo, Guys, buktikan cintamu pada Indonesia!


Senin, 30 Juni 2014

Antara Aku, Kain Flanel, dan Keluarga

14.59 1 Comments
Sejak memutuskan pensiun dini dari sebuah BUMN, saya mulai mencari kesibukan di rumah. Soal hobi? Hmm…sepertinya saya nggak punya. Maksud saya, dulu waktu masih kerja, waktu dan pikiran habis untuk memikirkan pekerjaan * jiah…kayak yang punya perusahaan aja. Akhir pekan, paling hanya ngurus anak dan baca majalah atau buku.

Nah, setelah punya banyak waktu di rumah, saya mulai ikut pelatihan menulis. Saya juga mulai iseng-iseng membuat kerajinan dari bahan kain flanel. Kalau yang terakhir ini, modalnya cuma bisa tusuk feston (pelajaran waktu SMP) dan browsing sana sini. Maka sejak tahun 2010, saya punya dua hobi baru, yaitu menulis dan membuat kerajinan dari kain flanel. Kalau disuruh milih mana yang paling menyenangkan? Jawabannya adalah: dua-duanya.

Ngomong-ngomong soal kerajinan flanel, saya memang memulainya secara iseng-iseng. Beli kain 24 warna di sebuah online shop, trus bingung mau diapain. Hasil tanya-tanya Mbah Google…akhirnya kres…kres…kres… Abrakadabra! Jadilah aneka gantungan kunci dan kaleng tempat pensil. Karya perdana saya itu laku terjual. Yang beli teman-teman sekolah Nabila, putri sulung saya. Beruntung saya punya anak yang nggak malu jualan di kelas.

Suami yang kadang suka protes. Bukan nggak suka dengan hobi saya itu, tapi nggak suka dengan kebiasaan saya menyimpan peralatan “perang” di kamar tidur. Maklum lah namanya juga rumah dinas tentara, mana ada yang luas. Kecuali rumah dinas para Jendral, kali, hehehe…

Syukur alhamdulillah, akhirnya kami pulang kampung dan menempati rumah sendiri. Saya meminta suami agar diberi satu kamar khusus untuk “kantor” saya. Di ruangan seluas 3 x 3 meter inilah saya menyimpan koleksi buku-buku dan peralatan menjahit saya. Di sana pula saya menghabiskan waktu setiap hari. Kadang asyik di depan komputer, kadang asyik menjahit kain flanel. Saya dan ketiga anak saya biasa ngobrol di ruangan itu, bahkan sampai larut malam.

Sejak menempati “kantor” baru, saya mulai membuat boneka flanel. Berhari-hari saya membuat beraneka macam boneka anak-anak. Niatnya sih buat stok, siapa tahu ada yang ngajakin bazar, gitu * hehehe…mimpi boleh, kan. Apa daya, baru diupload di Facebook, sudah ada yang beli. Begitu juga dengan saudara dan teman-teman lama. Saat main ke rumah, begitu tahu saya bikin boneka flanel, langsung main ambil aja, “Sini, aku jualin bonekanya.” Alhamdulillah, ternyata laku. Menjelang bulan Ramadhan, saya sudah membuat toples flanel untuk persiapan Lebaran.

salah satu sisi ruang kerja saya

 Meski hobi ini mulai menghasilkan uang, saya belum ingin menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian. Suami selalu mengingatkan, bahwa saya dulu resign karena ingin konsen mengurus keluarga. Jadi, saat suami atau anak-anak membutuhkan, saya harus selalu siap untuk mereka. Itulah sebabnya, kalau ada yang minta dibuatkan boneka, saya minta pengertian mereka, “Sabar, ya, nanti kalau sudah jadi dikabari.”

sebagian hasil kreasi saya

 Bagaimana pun, bagi saya urusan keluarga tetap nomor satu. Mini “kantor” ini adalah bukti cinta suami dan anak-anak pada saya. Artinya mereka mengijinkan saya tetap melakoni hobi saya. Dan saya harus membalas cinta mereka dengan cara mengutamakan mereka dibanding hobi saya. Walau kadang ketika sibuk mengutak-atik flanel atau dikejar deadline tulisan, tiba-tiba ada panggilan dari ke-4 bos saya itu, saya harus rela meninggalkan “dunia” saya yang mengasyikkan itu. Hiks… 

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti "3rd Giveaway : Tanakita - Hobi dan Keluarga "

Jumat, 20 Juni 2014

Lima Jam Bersama Raeni

10.10 7 Comments
Siapa yang tak mengenal nama Raeni? Hhmm, ketahuan, pasti nggak pernah baca atau dengar berita dalam seminggu belakangan ini. Oke, bagi yang belum tahu, saya kasih sedikit bocoran tentang gadis manis 21 tahun itu. Raeni adalah mahasiswi Unnes (Universitas Negeri Semarang) yang diwisuda tanggal 10 Juni 2014 dengan IPK 3,96. Yang membuatnya jadi headline news, pada saat acara wisuda, lulusan terbaik Unnes itu, datang diantar sang ayah dengan mengendarai becak.

ini foto di sebuah media

Ya, Pak Mugiyono, ayah Raeni memang berprofesi sebagai tukang becak sejak tahun 2010. Malam harinya beliau menjadi penjaga malam di SMKN 1 Kendal, di mana Raeni pernah menuntut ilmu di sana. Sebelumnya, Pak Mugiyono, bekerja sebagai karyawan PT.KLI (Kayu Lapis Indonesia). Demi membeli laptop yang merupakan kebutuhan utama anaknya, beliau memutuskan mengundurkan diri agar dapat uang pesangon.

Raeni sendiri masuk ke Unnes dengan program Bidikmisi, di mana biaya kuliah selama 8 semester ditanggung pemerintah. Tentu Pak Mugiyono harus tetap memikirkan biaya makan dan bayar kos untuk putri bungsunya itu. Alhamdulillah, Raeni adalah tipe anak yang tekun, aktif, dan punya prinsip hidup yang kuat. Dia pun mampu menyelesaikan kuliahnya selama 3 tahun 6 bulan 10 hari.

Saat pertama kali membaca berita itu, perasaan takjub dan terharu langsung menyergap diri saya. Sebagai ibu dari 3 anak, saya dapat merasakan betapa bangganya orang tua Raeni. Anak yang dididik dan diasuh dengan kondisi ekonomi yang bisa dibilang pas-pasan, bisa mendapat predikat Wisudawan Terbaik Unnes Tahun 2014. Apalagi saat tahu, dia tinggal di Desa Langenharjo yang notabene masih satu satu desa dengan saya, membuat saya ingin bertemu dengan dia.

Saya ungkapkan keinginan saya itu pada Nabila, putri saya. Dia malah nanya,” Ummi kenapa sih pengin ketemu Mbak Raeni?” Jujur, saya ingin sekali membuat tulisan tentang dia, sekaligus berfoto dengannya. Hari gini, nulis tanpa disertai foto = hoax * itu kata teman-teman saya loh. Sebagai sesama warga Kendal, saya bangga dengan prestasinya di tengah berbagai masalah yang terjadi di daerah saya ini. Ya, banyak yang bilang Kendal miskin prestasi, hanya kaya sensasi. Dan kehadiran Raeni, setidaknya mematahkan anggapan itu.

Subhanallah, tak pernah saya duga, keinginan itu akhirnya terwujud. Hari Minggu pagi, 15 Juni, tiba-tiba Raeni muncul di rumah saya. Hari itu, ada acara penanaman pohon mangrove dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Desa Kartika Jaya, Patebon, Kendal. Paguyuban Keluarga Kendal (Pakken) meminta suami saya, Raeni dan Mas Haris (seorang mahasiswa IPB) untuk datang mewakili. Saya tak mau melewatkan kesempatan emas itu. Bersama dua anak saya, saya mengikuti perjalanan mereka. Dan inilah yang bisa saya tulis tentang Raeni, selama 5 jam kebersamaan itu.

Santun dan sederhana, itulah kesan pertama yang saya tangkap dari seorang Raeni. Dia juga ramah menyapa kedua anak saya dan tak canggung saat ngobrol berenam di dalam mobil maupun saat di tempat acara. Raeni sering memberi masukan pada Nabila yang masih galau dengan rencana kuliahnya. “Tulis semua keinginanmu. Saya terbiasa menulis mimpi-mimpi saya di kertas. Dan kemarin ketika saya buka lagi tulisan itu, saya terkejut, kok semua sesuai ya dengan apa yang saya tulis.” Bukan hanya ditulis, tentu harus diperjuangkan.

Raeni juga pesan sama Nabila, “Kalo sudah kuliah nanti, kamu harus aktif di berbagai kegiatan kampus. Banyak manfaatnya kalo kamu aktif ini itu. Di antaranya saat ingin mengajukan program beasiswa atau pertukaran pelajar ke luar negeri, pasti ditanyakan tentang aktifitas di luar kampus.” Raeni sendiri, selain sibuk kuliah, ternyata aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan dan rajin mengikuti berbagai lomba.

Raeni juga cerita kalau dia sudah beberapa kali mencoba mengirim aplikasi beasiswa S2 di dalam negeri. Semuanya ditolak, padahal nilai yang dia peroleh cukup tinggi. Itulah yang membuat dia akhirnya bilang ingin kuliah S2 ke Inggris, saat ditanya oleh wartawan seusai wisuda. Jawaban itu spontan, karena dia pikir di dalam negeri aja ditolak, ya mending sekalian aja kuliah di luar negeri.

Tentang Inggris, dia memang sudah lama tertarik dengan negara itu. Saat jadi asisten lab, dia dan dosennya sering add orang-orang di FB yang kuliah di Inggris. Membaca pengalaman mereka, membuat Raeni sering ngomong sama dosennya itu, “ Kapan ya, Bu, kita bisa kuliah di Inggris. Ayo ah kita berusaha.” Dan, insha Allah mimpi Raeni untuk kuliah di Inggris akan segera terwujud, karena pemerintah memberi perhatia khusus padanya.

Saat pihak Unnes meminta Raeni mengurus beasiswa ke Kemendiknas, Jakarta, keajaiban demi keajaiban datang. Tak disangka Pak SBY dan Bu Ani berkenan menemui Raeni di bandara Halim Perdanakusuma. Beliau juga menawarkan Beasiswa Presiden, di mana Raeni berhak kuliah di salah satu dari 50 universitas terbaik sedunia. Momen itu tentu sangat mengharukan dan membahagiakan buat Raeni dan keluarganya * lihat ekspresi sang Bapak di foto. Mereka benar-benar nggak nyangka bertemu Presiden dan beberapa menteri (termasuk Mendikbud, Muhammad Nuh). Sesuatu yang mungkin tak pernah dibayangkan orang awam seperti mereka.
saat bertemu Pak SBY dan Bu Ani

Selama 2 hari di Jakarta, Raeni nggak sempat jalan-jalan. Di luar Favehotel Gatot Subroto, tempat dia menginap, puluhan wartawan selalu siap memburunya. Dia sempat diundang ke studio Net.TV dan bertemu dengan beberapa artis ibu kota. Bahkan Arumi Bachsin, memberikan nomor hapenya, karena suaminya kuliah di Amrik. Siapa tahu nanti Raeni memilih kuliah di Amrik, Arumi siap membantu.

Saya bersyukur bisa bertemu dengan Raeni saat ini. Jadwalnya sangat padat. Banyak pihak yang ingin menemuinya, mulai stasiun TV, media cetak, perusahaan nasional, sampai tim sukses capres kedua kubu (wow, yang terakhir ini belum dia tanggapi). Kantor Depdikbud Kendal sendiri juga membuat agenda agar Raeni bisa bertemu dengan Ibu Bupati dan beberapa pejabat di Propinsi Jawa Tengah.

Belum lagi, pekan depan, Raeni harus ke Puspitek, Tangerang untuk mengikuti persiapan program pertukaran pelajar di Jepang selama 9 hari. Pengajuan program itu sudah lama dia ajukan, tapi baru di-acc beberapa bulan lalu.

Subhanallah, akhirnya, satu demi satu mimpi Raeni pergi ke luar negeri bisa terlaksana. Sebelumnya, Raeni pernah praktek mengajar di Malaysia selama beberapa bulan. Sebentar lagi ke Jepang. Dan setelah itu, mungkin Inggris. Raeni belum menentukan pilihan mau kuliah di negara mana dan di universitas mana. Yang pasti dia harus belajar bahasa Inggris lebih intensif lagi, karena nilai TOEFL-nya belum mencapai 500.

Selamat berjuang, Raeni. Jalan yang harus kau tempuh masih panjang. Semoga Allah memudahkan semua urusanmu, hingga tercapai cita-cita muliamu menjadi dosen. Walau sekarang sedang jadi pusat perhatian (dia nggak mau disebut selebritis, loh), tetap sederhana dan rendah hati, ya. Jangan lupa, bahagiakan kedua orang tuamu yang sudah bersusah payah mendidik dan membimbingmu.

Itulah catatan singkat saya. Belum banyak sih info yang bisa saya gali tentang dia, termasuk masa-masa kuliah yang tentu mangharu biru.  Tapi, lima jam bersama Raeni membuat saya semakin yakin, bahwa tak ada kesuksesan yang instan. Semua harus diperjuangkan dengan tetesan darah, keringat, dan air mata. Betul kata Pak SBY, “Siapa pun bisa berprestasi, dari kalangan yang punya atau pun yang kurang punya.” Dan Raeni sudah membuktikan itu.

di camp acara

Raeni, me, and Nabila

saat nanam mangrove

Raeni, Nabila, dan peserta lainnya








Senin, 02 Juni 2014

Cerita di Balik Buku Resep Saya

17.46 2 Comments
Hura…hura…(kok kayak Masha), akhirnya buku solo pertama saya terbit juga. Rasanya seperti terbang ke awang-awang saat menerima bukti terbitnya. Pas ngliat di rak toko buku Gramedia, malah pengin pingsan *lebay pisan euy. Asal tau aja, Saudara-saudara, buku saya itu buku masakan. What? Dilihat dari tampangnya, pasti banyak yang nggak percaya kalo saya bisa masak. Lha wong saya sendiri aja juga nggak percaya * lho pie jal?

ini bukti terbit

penampakan di Gramedia Semarang Pandanaran

 Oke, daripada bingung, mari kita liat kronologinya *haish. Jadi begini, sekitar bulan Mei 2013, saya nglamar alias ngajukan outline ke sebuah agensi naskah, sebut saja namanya re! *itu mah bukan inisial, dodol. Waktu itu modal saya cuma nekat, karena kepepet nggak punya pemasukan,  yang ada pengeluaran besar-besaran. Karena peluang yang ada resep masakan, saya coba ikutan.

Nggak disangka-sangka, pagi saya kirim outline, sore dapat balasan email. Kira-kira isinya begini: oke, silakan dibuat 3 contoh resep masakan plus fotonya. Waktunya 1 minggu, lewat dari itu batal. Eh, nggak ding, orang-orang di agensi itu baik dan sabar semua.

Mulailah, saya browsing tentang aneka masakan yang dibungkus daun. Otak-atik dikit, jadilah. Masalah berikutnya: foto. Lha, saya kan nggak punya kamera. Telpon sana sini, akhirnya dapet pinjaman temen suami, syaratnya cuma 2 hari. Okelah, saya siapin masakannya, suami dan Nabila yang bagian foto-fotonya. Begitu selesai, saya kirim sampel resep dan fotonya. Sekitar 2 hari kemudian, saya dapat jawaban: oke, silakan dilanjutkan, Mbak, 20 resep waktunya 1 bulan. Mbak Ifah, sang editor, juga melampirkan tips membuat foto makanan yang menarik. Hmmm…1 bulan ya, trus minjem kamera siapa lagi?

 Tiba-tiba inget kakak tercinta yang tinggal di Bekasi. Dia kan punya kamera SLR. Segera saya hubungi dia. Dan akhirnya: deal.Di hari yang sudah disepakati, saya berangkat sendirian naik taxi ke Bekasi, suami nggak mau nganter sih * sibuk tenis. Dari pagi kami berdua masak-masak sampai siang. Barulah acara foto-fotonya sore hari. Sang fotografer  aka ponakan tercinta, Muthia, malah tidur saat masakan siap difoto. Kelamaan nunggu masaknya, kali, hehehe…Akhirnya sang pahlawan alias suami tercinta datang menjemput. Dialah yang akhirnya jadi fotografer masakan kami. Makasih my hubby, dah mau njemput, mau jadi tukang foto, lagi.

FYI, masakan yang kami masak di hari itu nggak sampai 20 resep lah. Jadi masih ada PR banyak nih. Dan untuk menyelesaikannya, saya harus pontang-panting. Mulai dari nyari peralatan untuk penyajian, pinjem foto kakak lagi, sampai foto-foto lagi. Berkat bantuan keluarga tercinta, akhirnya naskah terkirim tepat waktu. Alhamdulillah…

Dua bulan kemudian, uang hasil jerih payah itu cair. Nambah deh rekening saya yang tinggal saldo minimal. Kalo buku masakan gitu sistemnya jual putus, nggak pake royalty. Kecuali kalo ntar saya sudah kayak Bu Sisca Soewitomo, hahaha…*ngimpi! Dan buku solo pertama saya itu terbit setahun kemudian.

Nah…akhir Februari 2014, saat saya dah pindah rumah ke tanah Jawa, tiba-tiba Mbak Ifah muncul di kotak chatting FB.
If : selamat sore, Mbak, lagi sibuk apa nih?
Sy : lagi selingkuh nih…ngerjain flanel
If : kalo ngerjain buku masakan lagi mau?
Sy : saya coba dulu deh (gaya cool, sok nggak butuh uang)
If : silakan buat outline 20 soto nusantara, saya tunggu ya…
Sy : oke
Esoknya saya membuat sampel 3 macam soto berikut foto-fotonya. Kameranya? Pinjem punya temen dari keponakan saya * haish, rempong amat. Begitu saya kirim, esoknya dapat jawaban : oke, lanjut. Untuk buku kali ini disertai foto langkah pembuatan step by step. Waduh...

Nah, mulailah kehebohan terjadi hampir tiap hari di rumah. Saya yang bikin soto, Nabila yang bagian bikin fotonya. Yang namanya berselisih pendapat dan bertengkar sering terjadi. Biasalah…kadang saya kelamaan utak-atik, tau-tau dah sore. Matahari yang sudah mau tenggelam tidak bagus untuk pencahayaan foto. Nabila ngambek, saya yang teriak-teriak, “Ayo, difoto lagi.”

Lain waktu, saya yang patah semangat, “Kok riweuh banget ya, pake foto step by step. Rasanya capek, pengin berhenti.” Kalo sudah begini, Nabila yang menyemangati dengan joget-joget pake pom-pom,  “ Ayo, jangan putus asa. Ummi pasti bisa.” Melihat tingkah anak tercinta, semangat saya biasanya bangkit lagi. Saya harus mengajari dia untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah menjadi tanggung jawabnya, meski berat sekali pun.

proses masak dan fotonya di teras rumah loh
Demikianlah proses membuat buku kedua yang berdarah-darah, bahkan sempat terucap kata kapok ngerjain buku resep masakan * ups… Jujur, saya nggak stress soal proses masaknya, tapi soal penampilan makanan agar terlihat bagus di kamera. Kayaknya saya emang harus kursus fotografi nih. Saya dan Nabila sedang ngerayu si bebeb agar mau beliin kami kamera. Tapi jawaban beliau pasti gini, “ Bisa aja Abi beliin kalian kamera tapi kita puasa dulu 1 tahun, nggak usah jalan-jalan, makan-makan, atau beli buku.” Huaaaa….itu impossible, Beib!